Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Misi di kota B


__ADS_3

Kiara yang hilang keseimbangan, terjatuh di tangkapan seseorang. Ia membulatkan mata menatap orang yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh itu.


Wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti. Detak jantung Kiara berderu. Sesaat, waktu terasa berhenti. Fokus mereka hanya untuk saling bertatapan.


Hansa mengembalikan keseimbangan Kiara. Ia menatap Bari sedikit marah. "Bari, jangan terlalu kasar! bagaimanapun, Nona Kiara ini seorang gadis." Nasihatnya.


"Maaf, Tuan Hansa. Saya minta maaf Nona Kiara." Ucap Bari tak ingin masalah berkepanjangan. "Kalau begitu saya pamit dulu." Ia undur diri.


Kini hanya tinggal mereka berdua yang masih berusaha menstabilkan detak jantung masing-masing.


Hansa melirik Kiara. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pelan. Kiara tersenyum tanda terimakasih. "Syukurlah, ada kamu yang menolongku." Ia menepuk pucuk kepala Hansa singkat dan langsung melangkah pergi tanpa menghiraukan ekspresi Hansa yang kaget karena aksinya yang tiba-tiba tadi.


"Gadis itu ... sepertinya harus diajari bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh terlalu dekat." Gumamnya. Seutas senyum tipis terukir di sudut bibirnya.


Sementara, Kiara melangkah masuk ke kamarnya dengan senyum yang tak kunjung pudar.


Ia mendapati Weni yang duduk di kursi terlihat sedang menunggu kedatangannya. "Weni, kamu ngapain di sini?" tanyanya merubah ekspresinya dengan cepat. Tak ingin Weni menanyakan alasan dirinya tersenyum seperti orang gila.


"Nih." Weni menggeser maju kotak makan pada Kiara yang langsung berbinar. "Makasih Weni sayang." Ucapnya. Ia bergegas duduk dan membuka kotak makan itu.


Ia meghentikan aktifitasnya dan menatap Weni. "Kenapa melihatku begitu?" tanya Weni bingung.


"Kamu ... nggak kasih racun kan di makanan ini?" tuduh Kiara konyol. Weni terkejut. "Ya nggak lah. Ngapain aku kasih racun?" timpalnya.


Kiara memicingkan mata. "Aku pikir kamu mau racunin aku karena kamu lihat kedekatan aku dan Bari tadi." Ia masih menuduh seenaknya.


"Helooo, saat aku melihat kalian tadi, aku udah terlanjur bawa kotak makan ini di tanganku. Jadi, aku nggak punya waktu untuk menaruh racunnya." Bantah Weni masuk akal.


"Palingan besok sebelum aku antar kotak makan untukmu, aku akan menaruh racun dulu di makanannya." Gumamnya yang masih terdengar jelas oleh Kiara.


"Kamu ... " ujarnya tertahan. Weni tertawa kecil. "Aku bercanda."


Kiara memcingkan mata kemudian mengangguk-angguk. "Aku makan, ya." Izinnya. Ia mulai menyendokkan makanan ke mulutnya dengan lahap.


"Tapi, apa kamu nggak cemburu pas lihat aku dekat-dekat dengan Bari tadi?" Kiara mulai menginterogasi.


Weni menghela napas. Ia tampak berpikir sejenak. "Mm, sejujurnya ... nggak." Jawabnya. Kiara memukul meja pelan. "Mana boleh begitu? masa kamu nggak ada rasa cemburu sedikitpun?" ia tak terima.

__ADS_1


"Kenapa nggak boleh?" Weni heran. "Kalau nggak cemburu, berarti kamu nggak punya perasaan untuknya." Jawab Kiara. "Emang nggak." Celetuk Weni yang langsung tertawa. Kiara pun ikut tertawa meski hatinya merasa kasihan terhadap Bari yang cintanya masih bertepuk sebelah tangan.


"Nggak usah bahas soal itu lagi lah." Pinta Kiara akhirnya. Oh iya, kamu ... udah makan?" tanyanya kemudian. "Udah." Jawab Weni. "Nggak mau makan lagi?" tawar Kiara merasa tak enak jika tidak menawarkan makanan. Weni menggeleng, menolak. "Aku udah kenyang."


Selesai makan, Kiara berjalan seperti yang selalu ia lakukan. Ia tak sengaja melewati ruang diskusi yang pintunya tertutup. Tapi ia masih bisa mendengar jelas bahwa Master Nick sedang membicarakan masalah serius di dalamnya dengan seorang pemuda yang ia yakini Hansa.


Ia membuka pintu sedikit dan mengintip dari celahnya. Ia melihat Hansa yang berdiri membelakangi posisinya, dan Master Nick yang berdiri menghadap Hansa.


"Siapa?" tanya Hansa tiba-tiba mengejutkannya. Ia terjatuh ke lantai saking terkejutnya.


"Aw!" Kiara bergegas duduk dan meringis sembari mengusap-usap tangannya yang perih. Ia menatap Hansa dan Master Nick yang juga menatapnya datar.


"Kok si lalat busuk itu tau aku ada di sini?"


Ia berdiri dan mengebas pakaiannya. "Mm ... kalian jangan salah paham. Aku tidak menguping kok." Ujarnya cepat. Takut kedua pria itu tau bahwa dirinya menguping pembicaraan mereka.


"Oke. Sekarang, silahkan keluar!" pinta Hansa. "Eits, bentar-bentar." Kiara menatap keduanya. "Aku ... boleh tau apa yang sedang kalian diskusikan? si ... siapa tau aku bisa membantu." tanyanya memberanikan diri.


"Nggak boleh. Ini masalah serius. Jangan main-main." Larang Hansa. "Eh, aku mohon ... ." Pintanya.


"Tetap nggak boleh. Masalah ini bukan untuk seorang gadis." Hansa menarik lengan Kiara hendak membawanya keluar.


Master Nick hanya bisa menghela napas melihat kelakuan kedua muda-mudi itu. Ia memainkan jenggotnya dan kembali ke mode serius.


"Jadi, kamu saya tugaskan pergi ke kota B untuk menjalankan misi." Pinta Master Nick pada Hansa.


"Misi apa, Tuan?" tanya Hansa ingin tahu. "Cari pelaku pencurian barang berharga. Si pelaku yang juga mengunci kotak itu." Jelas Master Nick.


Hansa mengangguk paham. "Baik, akan Hansa laksanakan dengan baik." Patuhnya.


Kiara yang mendengar hal itu langsung antusias. "Tunggu. Misi? aku juga mau ikut." Usulnya.


Hansa menatapnya kaget. "Nona Kiara, masalah ini bukan masalah main-main." Ujar Hansa kesal.


"Aku tau. Aku pun nggak berniat main-main. Aku serius mau ikut." Kesal Kiara karena ucapannya selalu dianggap main-main oleh pemuda sok pintar itu.


"Saya nggak setuju." Sahut Hansa cepat. Kiara memelotot. "Hey, siapa kamu berhak mengaturku? lagi pula, Tuan Nick belum memutuskan." Serunya tak terima.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Soal masalah ini ... akan didiskusikan lagi nanti tentang siapa saja yang akan dikirim untuk menjalankan misi di kota B nanti." Putus Master Nick mendengar perdebatan muda-mudi itu yang seolah tak ada habisnya.


"Kalian boleh kelur!" pinta Master Nick.


Kiara dan Hansa membungkuk pamit dan bergegas keluar. Kiara menatap Hansa sinis.


"Mau mengatur hidupku seenaknya. Dia pikir dia siapa?" batinnya.


...----------------...


Hari ini, Hyra kembali bertemu dengan Fian di taman. Ia memeluk tubuh Fian seakan menumpahkan rasa rindunya. "Mm, Tuan Putri, kita masih di Istana. Ada banyak pelayan yang lihat." Tegur Fian.


Hyra menatapnya cemberut. "Kamu tidak suka aku peluk begini?" cemburutnya. Fian menggeleng cepat. "Bukan begitu." Akhirnya, ia hanya pasrah dipeluk erat oleh Hyra.


"Kita ngobrol sambil jalan, yuk!" usul Hyra. "Baik." Fian menggenggam tangan Hyra sembari berjalan. "Mm ... Tuan Putri, saya sudah menghukum orang yang ingin mencelakai Anda tempo hari." Tutur Fian membuka pembicaraan.


"Baguslah." Sahut Hyra. Ia menghentikan langkah. Ia seketika mengingat kejadian tempo hari.



*Hyra terkejut saat tiba-tiba ada sebuah panah yang meluncur ke arahnya. Hyra pasrah. Ia bahkan tak sempat menghindar. Tapi tiba-tiba, ada sebuah batu yang entah dilemparkan oleh siapa, terlempar ke anak panah itu sehingga membuatnya berubah arah dan berakhir menancap di tanah*.



*Hyra menghembuskan napas lega. Semua pengawal yang berada di seantaro taman mulai heboh. "Ada yang mau mencelakai Tuan Putri. Kejar orang itu." Pinta salah seorang Pengawal. Mereka mengejar si penjahat yang telah kabur*.


*Hyra memegang dadanya masih merasa ngeri. "Tuan Putri baik-baik saja? ayo kita pergi dari sini." Ajak Fian. Ia melihat ke pohon di mana penjahat tadi bersembunyi dengan tatapan tajam*.



*Hyra menggeleng tanda baik-baik saja. Ia menatap batu yang menjadi penghalang anak panah yang meluncur ke arahnya tadi. Ia kemudian beralih pada arah tempat di mana batu itu muncul*.



"*Aku seperti melihat seseorang di sana." Batin Hyra*.


__ADS_1


"*Siapapun orangnya, dia telah menyelamatkanku. Aku harus cari tau tentangnya." Batinnya lagi*.



__ADS_2