Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kiara sad girl


__ADS_3

Kiara berjalan sendirian saat langit bahkan sudah mulai gelap. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tak berniat mendongakkan kepalanya yang terus menunduk.


Meski tak lagi menangis, kekecewaan dan penyesalan masih memnuhi hatinya. Ia tiba di sebuah gang sempit dan sepi.


"Nona manis, mau ke mana?" sekelompok pria yang tampak sedang mabuk berdiri menghadang jalannya. Kiara mendongak menatap mereka.


"Cih, sudah mabuk begitu masih berani menghalangi jalanku." Batinnya.


"Hai Nona manis, ikut dengan kami, yuk!" ajak salah seorang pria di antara tiga pria yang menghadangnya.


"Apa yang kalian mau?" tanya Kiara acuh. Ketiga pria pemabuk itu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Kiara. Kiara tetap menatap mereka datar.


"Dasar sekelompok orang menjijikan." Hinanya pelan.


"Nona, jangan bertanya seperti itu." Balas mereka dengan wajah dan berdiri yang sudah sempoyongan.


Kiara menatap mereka muak. Ia memasang tatapan tajamnya. Seluruh jari tangannya mulai ia rilekskan. Kepalanya ia bunyikan ke kanan dan ke kiri.


Ia menunjuk ketiga pria itu dengan tatapan datar. "Kalian bertiga, majulah! lawan aku! kalau kalian berhasil menang, kalian boleh bawa dan perlakukan aku sesuka hati." Tantangnya.


"Hahaha. Nona, kami tidak biasa menyerang seorang gadis. Tapi, nggak apa-apa lah. Karena Nona sudah menantang, dan ini kali pertamanya ada seorang gadis yang berani menantang kami, maka jangan salahkan kami karena nggak sungkan lagi padamu." Ketiga pria itu meledek dan meremehkannya.


"Baik, majulah!" pinta Kiara. Ketiga pria itu saling pandang sejenak, sebelum akhirnya mereka maju bersama.


"Kemarilah, pengecut!" hina Kiara santai namun penuh penekanan.


Dengan tangannya yang lincah, ia mampu menumbangkan dua pria dalam hitungan detik. Ia langsung berbalik menatap pria ketiga yang belum terkena pukulannya dengan tajam.


Tampak sekali bahwa pria itu mulai terlihat takut memandangi kedua temannya yang sudah tumbang tak sadarkan diri.


Ia masih memasang kuda-kuda, namun kakinya perlahan mundur ke belakang. Kiara tersenyum miring.


"Hmph, pengecut sekali!" tekannya dengan kaki yang melangkah maju mendekati pria ketiga yang terus melangkah mundur.


Tangan Kiara sudah terangkat untuk menyerang pria itu. Namun, pria itu seketika tumbang bahkan sebelum Kiara sempat menyentuhnya.


Kiara menatap wajah pria itu datar. "Mana mungkin pria menjijikan seperti kalian bisa mengalahkan anggota kakak-beradik Fayes." Sahutnya.

__ADS_1


Ia mencabut sebuah anak panah kecil yang tertancap di leher pria itu. Matanya langsung mencari ke segala arah.


"Siapa yang menyelamatkanku?" gumamnya kembali melihat anak panah itu. Ia membuang anak panah ke tanah di bawahnya.


"Aku bahkan nggak membutuhkan pertolongan. Kalau hanya pria pemabuk begini, aku bisa dengan sangat mudah mengalahkan mereka." Gumamnya tak berniat berterima kasih.


Sementara, seorang pria yang tak lain adalah Hansa yang bersembunyi di balik tembok bernapas lega. Ia memakai jurus melompatnya, dan melompat ke atas atap untuk segera pergi sebelum gadis itu menyadari keberadaannya.


...----------------...


Beberapa Pengawal dan penjaga gerbang menyambut Kiara yang pulang di malam hari. Namun, Kiara melewati mereka begitu saja.


Meski bingung, mereka memilih tak bersuara dan membiarkan gadis itu masuk dengan wajah murung.


Hansa memperhatikan Kiara yang masuk ke kamarnya dengan bersembunyi di balik pohon.


~


Esok paginya, Kiara terbangun dan duduk di ranjang sembari meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Terutama kepalanya yang semalam selalu ia tundukkan.


"Masuk!" pinta Kiara kala mendengar ketukan di pintu. Weni datang dengan wajah kalem namun cerianya.


Jika dijelaskan, gadis itu memang memiliki wajah dan sifat yang kalem. Namun, jika sudah berkumpul bersama gadis seumurannya, kepribadiannya jadi berbanding terbalik.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Kiara tanpa menoleh, disebabkan kepalanya yang masih terasa amat pegal.


Weni duduk di tepi ranjang milik Kiara tanpa izin. "Kamu tau tidak, aku datang membawa kabar baik." Ujarnya dengan wajah gembira.


"Apa?" tanya Kiara. "Mm ... coba tebak!" pinta Weni misteri. Kiara berpikir sejenak. "Kamu jadian dengan Bari?" tebaknya langsung.


Weni memukul tangan Kiara pelan. "Ngasal aja." Sewotnya. "Aku serius." Ia kesal karena Kiara yang asal menebak.


"Aku juga serius." Balas Kiara. "Memang kenala, sih? kamu jadian dengan siapa?" tanya Kiara salah paham. Weni mentowel jidat Kiara yang sedari tadi hanya asal menebak.


"Bukan." Ia muak sendiri jadinya. "Udahlah, nggak usah sok misteri. Kasih tau aja kenapa?" Pinta Kiara akhirnya.


Weni tersenyum kecil. "Dengar, ya. Master Nick baru saja mengatakan kalau kamu resmi menjadi anggota Kantor Pengadilan." Ujarnya dengan senyum lebar.

__ADS_1


Kiara memasang wajah datar. Weni menatapnya heran. "Kamu nggak senang? bukannya ini yang selalu kamu inginkan?" nadanya berubah.


Kiara menunduk dan menggeleng. "Aku bukannya nggak senang. Tapi ... hari ini aku bahkan akan pulang. Apa Master Nick nggak tau?"


Ungkapnya dengan nada sedih dan kepala menunduk. "Maksud kamu? pergi ke mana? kok mendadak gini? kenapa baru kasih tau aku sekarang?" protesnya dengan memberikan pertanyaan beruntun.


Kiara bingung menjelaskan bagaimana. Bahu Weni melesak dalam-dalam. "Pantas saja, aku dengar-dengar dari Bari, Tuan Hansa sempat menolak usulan itu." Tuturnya.


"Tuan Hansa menolak? menolak bagaimana?" Kiara kembali mendongakkan kepala. "Awalnya Master Nick mau melantikmu sebagai Anggota Tim Penyelidik. Tapi Tuan Hansa menolaknya. Master Nick mungkin belum tau tentang kamu yang mau pulang hari ini. Karena Tuan Hansa menolak, dia akhirnya hanya menjadikanmu anggota Kantor Pengadilan." Lanjutnya menceritakan informasi yang ia dapat dari Bari.


"Apa alasan Tuan Hansa menolak?" tanya Kiara penasara. Pasalnya, pria itu selalu menghalanginya bergabung dengan Kantor Pengadilan.


"Mungkin karena dia tau kamu mau pulang." Duga Weni. Kiara menyayukan mata. "Aku juga tau kalau itu." Ia kembali menatap lurus ke depan. Mengingat momen di mana ia mengungkapkan perasaannya pada pria yang ia cintai itu.


"Ngomong-ngomong, kamu bilang kamu mau pulang. Tapi aku barusan lihat kalau Pendekar Rubby sudah pergi bersama Sera." Ujar Weni mengejutkan Kiara.


"Hah? kakak pertama udah pergi? kok nggak ngajak aku?" protesnya. Weni mengedikkan bahu tidak tahu. Kiara mengenakan baju luarnya dan lanjut memakai sepatu dengan gerakan cepat.


"Nggak bisa. Aku harus memastikan sendiri." Ia berlari keluar kamarnya meninggalkan Weni untuk mengetahui apakah benar kakak pertamanya telah pergi.


Kiara menuju ke halaman Kantor Pengadilan. Ia tak sengaja bertemu Hansa di sana.


"Kamu pasti ke sini mencari kakak pertamamu, kan?" tebak Hansa. Sejujurnya, Kiara masih belum memiliki keberanian untuk menatap wajah pria itu. Mengingat momen memalukan kemarin.


Ia hanya mengangguk membenarkan.


"Dia sedang mengantar Nona Sera pulang. Setelah itu, baru dia akan kembali ke sini dan mengajakmu pulang." Papar Hansa.


Kiara lagi-lagi hanya mengangguk. Beberapa detik mereka sama-sama berdiri tanpa ada yang bersuara.


Kiara memberanikan diri mendongak menatap Hansa yang juga sedang menatapnya.


"Tuan Hansa, aku ... " ia menghela napas sejenak. Mengumpulkan keberaniannya. "Aku minta maaf soal yang kemarin." Ucapnya.


"Aku mengerti." Balasnya mengangguk paham. Kiara tersenyum tipis. "Kita ... masih berteman, kan?" tanyanya pelan. Hansa mengangguk mengiyakan. "Tenang saja. Aku bukan hanya menganggapmu teman. Tapi aku sudah menganggapmu seperti seorang sahabat." Akunya.


Kiara menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia sedih sekaligus senang. Sedih karena Hansa hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tapi juga senang karena Hansa tidak risih padanya setelah kejadian kemarin.

__ADS_1


__ADS_2