
Setelah lama berdiam diri di depan jendela, Rubby memutuskan berjalan keluar. Ia memang jarang tidur biasanya. Malamnya selalu ia habiskan untuk terjaga. Saat duduk di kursi di halaman itu, kakinya tak sengaja menyentuh sesuatu. Ia meraba benda yang hampir tak sengaja ia tendang itu.
"Gadis bodoh."
Ia tak habis pikir kenapa Sera lupa membawa pedang miliknya yang pernah ia dan Rubby beli tempo hari. Dengan bela diri yang buruk dan pedang yang tak dibawanya, Rubby khawatir gadis itu kenapa-napa. Oleh karena itu, ia memutuskan bergegas dari sana dan menyusul gadis itu.
Setelah sedikit lama mencari dengan mengandalkan indranya, ia berhasil menemukan Sera. Gadis itu tampak terbaring di semak-semak. Entah apa yang terjadi padanya. Bahkan Rubby baru pertama kali merasakan jantungnya berdegup kencang karena orang lain.
Ia memapah Sera dan menyandarkan gadis itu di pangkuannya. "Kamu kenapa?" desak Rubby. Ia tahu ada bahaya yang baru saja terjadi pada gadis itu karena beberapa kali pun ia bertanya, gadis itu menolak untuk menjawab. Jangankan bersuara, bergerak sedikit pun saja tidak. Sera benar-benar seperti mayat hidup. Ia hanya membuka mata tanpa berbicara sepatah kata pun.
Dengan kondisinya yang seperti itu, Rubby menutup tubuh bagian tubuh Sera yang terbuka. Ia lalu memapah tubuh gadis itu dan membawanya kembali ke kediaman.
Sesampainya di sana, ia mendudukkan Sera di ranjangnya. "Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Rubby menyentuh pipi Sera. Ingin tahu siapa sebenarnya yang berani melakukannya pada muridnya.
Sera hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia masih menolak berbicara. Rubby enggan memaksanya lagi. Ia tahu gadis itu pasti mengalami trauma berat. Ia memilih membiarkannya sendirian. Sedangkan ia mempersiapkan makanan untuk Sera, mengingat gadis itu belum makan apa pun sampai malam ini.
Sera menghabiskan waktu merenung dan melamun di kamar. Wajahnya kotor dan pucat. Penampilannya juga berantakan. Tapi ia tak peduli lagi. Diperlakukan semena-mena oleh para bandit sudah pernah ia alami beberapa kali sewaktu kecil. Tapi ia tidak pernah menceritakannya pada siapa pun. Ia benar-benar tidak punya tempat mengadu. Bahkan orang yang dipercayanya menganggapnya beban dan mengusirnya.
Sera menitikkan air mata tanpa ekspresi. Ia benar-benar lelah dengan hidup ini.
...----------------...
Keesokan paginya, Rubby yang mempunyai firasat buruk tentang Sera, memutuskan untuk mendobrak pintu kamar gadis itu setelah semalaman gadis itu tak ingin dirinya masuk. Bahkan gadis itu menolak makanan yang dibawanya semalam.
Ia memutuskan mengikuti firasatnya. Kakinya menendang dan segera mencari Sera di ranjang. Benar saja. Gadis itu tidak ada di sana. Ia melangkah terburu-buru keluar dari kamar itu.
Sudah sekitar lima belas menit Sera menyusuri jalanan itu tak tentu arah. Ia memang sudah memutuskan untuk pergi. Rubby juga sudah mengusirnya. Ia tak lagi punya tempat tinggal.
__ADS_1
Ia berhenti di depan sebuah danau. Kakinya menapak di rerumputan basah. Ia bahkan tak memakai alas kaki.
Ia menatap permukaan danau dengan tatapan danau. Dari kecil, ia selalu paling takut air. Karena dulu teman-teman masa kecilnya selalu mengerjainya dengan mendorongnya ke danau. Beruntungnya, tetangga yang sudah ia anggap ayah sendirin selalu menyelamatkannya.
Melihat permukaan danau itu, Sera kembali teringat kata-kata Rubby dan semua hal buruk yang terjadi padanya dari ia bahkan masih sangat kecil.
"Aku nggak akan mengajakmu. Kamu boleh pergi malam ini." Ucapan Rubby menghancurkan imajinasi Sera. Gadis itu menghampiri gurunya dan bersimpuh lutut di hadapan Rubby yang sedang duduk di kursi.
"Guru mengusirku? guru tidak mau membawaku bersamamu?" tanyanya dengan raut wajah sedih.
Sera menggeleng cepat. "Sera dari lahir hanya dibesarkan oleh tetangga yang sekarang sudah tiada. Sera nggak punya keluarga lagi selain guru sekarang." Akunya.
"Apa pun alasannya, pergilah ke mana pun ke tempat yang aman. Asal jangan berada di dekatku." Desak Rubby.
Ia mengerjapkan mata berkali-kali, dan pandangannya kembali berpusat pada permukaan danau. Dengan niat yang kuat dan pasti, ia memejamkan mata dan menceburkan diri ke danau itu. Berharap danau akan menghanyutkan tubuhnya bersama pikirannya. Berharap air akan membawanya lari dari masalah-masalah yang selalu mengganggu pikirannya selama ini.
"Berguna? selama aku mengajarimu bela diri, emang kamu pernah berguna untukku? malah aku yang selalu kerepotan menjagamu. Sedangkan kamu, melawan murid-murid dewi aja nggak bisa."
__ADS_1
"*Nggak ada seorang pun yang menginginkanku*."
Batin Sera dengan air mata yang menyatu dengan air danau. Seluruh air yang masuk ke hidungnya dan mungkin masuk ke perutnya dan seluruh tubuhnya membuatnya pusing dan mual. Ia mulai kehabisan napas. Sampai kesadarannya menghilang. Ia tak lagi mengingat apa pun.
Sera membuka mata perlahan. Pemandangan indah yang pertama kali ia lihat adalah wajah Rubby. Pria itu meletakkan kepala Sera di dekapannya.
Sera berusaha menyunggingkan senyum sebisanya. Meski bibirnya terasa kaku. "Rubby. Kamu datang?" ia bahkan mengganti panggilannya untuk Rubby. Padahal biasanya ia memanggil 'guru' atau 'Tuan Rubby'.
Rubby mengangguk menyatakan bahwa ia benar-benar ada di sini. "Apa aku bermimpi? seingatku aku udah tenggelam di danau. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Sera sekuat tenaga berusaha berbicara.
"Jangan banyak bicara." Pinta Rubby tegas. "Aku pikir kamu nggak mau melihatku lagi. Aku pikir semua orang di dunia ini nggak ada yang menginginkanku." Gumam Sera tak memedulikan perintah Rubby yang melarangnya berbicara.
"Meskipun aku akan pergi, aku mau ngomong sesuatu sebelum aku mati. Setidaknya aku bisa mati tanpa penyesalan." Sera terus bergumam tanpa henti. Rubby memilih mendengarkan karena tahu gadis itu akan menyampaikan sesuatu yang penting.
"Aku nggak kuat ngomong. Kamu boleh mendekat, nggak?" pinta Sera. Rubby mengangguk dan mendekatkan telinganya lebih dekat dengan bibir Sera untuk mendengar dengan jelas apa yang akan disampaikan oleh gadis itu.
Sera tersenyum simpul. Ia mengecup pipi Rubby cepat. Ini adalah keberanian terbesar yang pernah ia lakukan pada pria itu. Ia tersenyum senang karen berhasil menipu Rubby untuk mendekatkan wajah pria itu. Nyatanya ia ingin agar lebih mudah untuk bisa mengecup pipi pria itu. Sedangkan Rubby tampak tak begitu terkejut dengan kecupan tiba-tiba itu.
"Aku mencintaimu." Ucap Sera mengungkapkan isi hatinya. Ia lega karena bisa mengungkapkan perasaannya sebelum mati.
Sera menyentuh pipi Rubby lembut. "Aku sangat mencintaimu." Ucapnya sekali lagi. Rubby mengangguk sebagai respon.
Sera senang akhirnya ia memiliki momen dan kesempatan untuk mengungkapkan cintanya pada pria yang menjadi cinta pertamanya, meskipun di momen yang tidak ia harapkan. Tapi setidaknya ia bisa mati tanpa penyesalan.
__ADS_1
Perlahan, senyumnya memudar. Matanya terpejam. Tangan yang masih berada di pipi Rubby perlahan terjatuh. Namun Rubby menahan tangan Sera dan kembali menempelkan tangan gadis itu di pipinya. Enggan membiarkan tangan gadis itu terjatuh ke tanah.