Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Demi Weni


__ADS_3

"Kamu bukan lagi seorang Pendekar karena kamu tidak pantas dijuluki sebagai Pendekar." Ia menyemprotkan cairan di botol kecil pada kedua mata si jubah hitam hingga membuat penjahat itu mengerang kesakitan. Ia dapat memastikan bahwa cairan itu juga yang digunakan oleh si jubah hitam untuk melukai mata Weni.


Dari awal Sima sudah tahu bahwa penyebab Weni tidak bisa melihat bukan karena benturan yang keras, melainkan karena racun keras yang dicampurkan di cairan itu. Namun ia tidak ingin memberitahu Weni terlebih dahulu karena tak ingin membuat gadis itu berpikir bahwa Sima tak bisa menyembuhkan matanya.


Sima melangkah keluar dari kawasan hutan lumut membiarkan si jubah hitam yang masih sibuk mengerang kesakitan.


Ia memang memilih tak membunuhnya karena menghargai julukannya sebagai seorang Pendekar. Ia tidak akan membuat Pendekar itu malu karena mati di tangan orang yang bukan sesama Pendekar sepertinya.



"Dasar bodoh. Bagaimana kau bisa tidak berguna? masa seorang Pendekar bisa kalah dari orang yang bukan seorang Pendekar sepertinya." Amarah seorang pria pada bawahannya.



"Saya minta maaf, Tuan. Tapi ... dia adalah keluarga Fayes. Saya ... bisa saja kalah darinya." Si jubah hitam menunduk merasa bersalah sembari masih mengobati lukanya.



"Tapi dia bukan seorang Pendekar sepertimu. Kalau yang bertarung denganmu tadi adalah Rubby Fayes, aku masih bisa memaklumi kalau kau kalah. Tapi tadi Sima Fayes." Bantah atasan si jubah hitam tidak mau tahu.



"Saya memang seorang Pendekar. Dan tidak ada yang bisa menyaingi seorang Pendekar kecuali keluarga Fayes."



"Kakak ke-empat dari mana?" Kiara datang dengan tergesa melihat Sima yang baru pulang setelah beberapa jam ia tak melihatnya.


"Weni di mana?" tanya Sima buru-buru.


"Dia ada di kamarnya." Jawab Kiara yang masih ingin tahu ke mana sebenarnya kakaknya itu pergi. Namun Sima malah berlari terburu-buru menuju kamar Weni. Meninggalkannya dengan rasa penasarannya.


...----------------...


"Weni! ini aku Weni." Sima mengetuk pintu kamar Weni beberapa kali. Sudah ia duga. Tidak ada jawaban dari dalam.

__ADS_1


Sima mengetuk sekali lagi. Kali ini lebih sedikit keras. "Weni, tolong buka pintunya. Aku mau ngomong sama kamu,Weni." Serunya dengan suara keras. Tetap tak ada jawaban dari dalam. Sima jadi khawatir sendiri.


"Kalau kamu nggak buka pintunya, aku akan mendobraknya sampai terbuka." Ancamnya mencoba memancing agar Weni mau membuka pintunya.


"Aku hitung sampai tiga, ya. Satu, dua, tiga!" kakinya langsung menendang pintu itu dengan kencang. Matanya menelusuri keberadaan Weni di kamarnya.


Sima membulatkan matanya terkejut melihat Weni yang tergeletak di lantai di samping ranjangnya dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Weni!" ia berlari menghampiri gadis itu dan membaringkannya di ranjang. "Weni, bangun, Weni! Weni ku mohon." Ia mengusap-usap tangan Weni berharap gadis itu segera membuka mata.


"Weni! Weni kenapa, kak?" Kiara yang tadinya berniat menjenguk Weni, sontak berlari masuk ke kamar itu melihat keadaan gadis itu yang sepertinya tidak sedang baik-baik saja.


"Nggak tau. Aku menemukannya pingsan tadi." Jawab Sima terlihat panik dan khawatir.


"Wajahnya pucat banget, kak." Ujar Kiara yang ikutan panik. Ia memijat-mijat kaki Weni supaya gadis itu sadarkan diri. Entahlah ada hubungannya atau tidak. "Kakak ke-empat periksa saja keadaannya. Aku takut dia kenapa-napa." Pintanya.


Sima memeriksa kondisi Weni. Ia dapat mengetahui dari denyut nadi Weni bahwa gadis itu sangat lemah. Sepertinya ia belum makan seharian.


"Bagaimana, kak?" tanya Kiara. "Dia sangat lemah. Denyut nadinya sangat lemah. Sepertinya ia belum makan apa pun." Jawab Sima menatap gadis yang terbaring dengan mata terpejam itu khawatir.


Sima menghembuskan nafas kasar menunggu gadis itu sadar. Ia menundukkan kepala putus asa. Namun tak lama, ia merasa tangan Weni bergerak-gerak di genggamannya.


Sima mendongak. Benar saja. Weni tampak mengerjapkan mata beberapa kali. Gadis itu tampak terkejut merasa ada seseorang yang duduk di tepi ranjangnya.


"Weni, syukurlah kamu sadar." Kiara tersenyum senang. "Jangan nakal, dong, Weni. Kalau waktunya makan, kamu harus tetap makan. Jangan malah mengurung diri di kamar seharian." Kiara langsung menyuguhi omelannya.


Ia langsung tersadar mengetahui Weni tidak menghiraukannya karena perhatian gadis itu justru tertuju pada Sima yang masih menggenggam tangannya dan menatapnya lekat.


Kiara berdecak. Ia beranjak dari tepi ranjang Weni dan menepuk pundak kakak ke-empatnya. "Aku tunggu di depan ya, kak." Ujarnya sebelum keluar untuk membiarkan dua insan yang sedang jadi patung itu.


Kiara menunggu lama sembari kedua tangan dilipat di dada dan kaki menendang kerikil-kerikil untuk menghilangkan rasa bosannya. Karena menunggu merupakan hal paling tak ingin ia lakukan.


Ia langsung menoleh mendengar pintu kamar dibuka. "Bagaimana keadaan Weni?" Kiara mengarahkan kepala ke dalam kamar.


"Dia sudah baik-baik saja. Aku akan membawakannya makanan." Jawab Sima.

__ADS_1


"Adik ke-lima, aku akan membawa Weni ke tempat yang sangat indah di kota C. Apa menurutmu itu ide yang bagus?" tanyanya menatap Kiara dan berbicara dengan suara dipelankan.


"Kalau Weni setuju sih oke oke saja. Tapi kakak ke-empat sudah memberitahunya?" Kiara memastikan.


Sima menggeleng sebagai balasan. "Kan aku ingin memberinya surprise. Jadi aku tidak akan memberitahunya sekarang."


Kiara menarik napas berkali-kali. Kesal sendiri menghadapi kebodohan kakak ke-empatnya ini. Ia menjewer telinga Sima untuk menyadarkan kakaknya itu.


"Aduh, kok dijewer, sih? kalau idenya jelek, kamu cukup bilang saja. Tidak usah menjewerku sepeti ini. Sakit tau." Protes Sima mengaduh kesakitan.


Kiara justru mengencangkan jewerannya tak peduli dengan Sima yang makin mengaduh minta dilepaskan.


"Lepas dulu!" pinta Sima memohon berkali-kali. Kiara akhirnya membebaskan telinganya dari jeweran perih itu. Sima langsung mengusap-usap telinganya dan menatap Kiara kesal. "Kenapa kamu malah menjewerku? aku kan hanya bertanya." Protesnya.


"Kakak ke-empat, coba pikirkan baik-baik idemu itu." Pinta Kiara. Ia semakin merasa kesal saat kakak ke-empatnya menggeleng karena merasa tidak ada yang salah dengan idenya itu.


Kiara menepuk kening sendiri. "Kakak ke-empat coba pikirkan. Weni sedang tak bisa melihat apa pun. Kalau kakak ke-empat mengajaknya ke tempat yang sangat indah, itu malah akan semakin membuatnya merasa sedih, bukan terhibur." Ujar Kiara masuk akal.


Sima memikirkan pendapat adiknya itu. Benar juga. Tujuannya memang ingin menghibur Weni, bukan malah membuat gadis itu semakin sedih.


Matanya mengarah ke atas, menciptakan bayangan di kepalanya.



"*Bagaimana, Weni? kamu suka dengan kejutanku?" tanya Sima dengan senyum lebar. Mengira Weni akan sangat senang dan bersedia membalikkan hubungan mereka yang telah putus*.



"*Sima, kamu mau meledekku, ya?" Weni justru memarahinya. "Kamu kan tau aku tak bisa melihat. Percuma kamu membawaku ke tempat yang indah kalau aku tak bisa melihat keindahan tempatnya." Omelnya*.



"*Aku benci kamu, Sima. Jangan harap aku akan memaafkanmu. Aku tidak akan memaafkanmu*."


__ADS_1


__ADS_2