Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kekhawatiran dan perhatian


__ADS_3

"Manusia."


"Kucing."


Hansa dan Bari berhenti berdebat saat pintu kamar Kiara terbuka. Kiara dan Weni mengernyit melihat kedua insan di depan mereka.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Kiara bingung melihat Hansa dan Bari di depan pintu kamarnya. "Kalian ngintip kamarku, ya?" tuduh Kiara.


"Enak aja. Asal nuduh kamu." Timpal Bari tak terima. "Kalau gitu kalian ngapain?" tanya Kiara yang tak dapat dijawab oleh Bari.


"Salam Tuan Hansa, Tuan Bari." Salam Weni. "Saya pamit ke belakang dulu." Pamit Weni membiarkan ketiga insan itu melanjutkan perdebatan mereka.


"Eh, Weni!" panggil Bari pelan. Hansa menepuk pundak Bari sebelum melewatinya. "Kalau suka bilang." Ucapnya berbisik.


"Yuk, Nona Kiara." Ajak Hansa. Kiara berjalan melewati Bari. "Ingat, tuh. Kalau suka bilang. Keburu diambil nanti tuh cewek." Ujarnya cepat dan langung berjalan mengikuti Hansa dari belakang.


Hansa berhenti di taman. Ia berbalik ingin menyampaikan sesuatu pada Kiara. "Nggak usah bilang. Aku udah tau. Oke, aku pulang sekarang." Potong Kiara. Ia membungkuk pada Hansa dan berpamitan.


Hansa balas membungkukkan tubuhnya memberi salam perpisahan.


Kiara tersenyum sejenak. Hansa membalasnya dengan anggukan. Kiara membalikkan tubuh dan terbang melewati atap Kantor Pengadilan.


"Ehem, gadis cilik itu ... sebenarnya kecerdasannya sudah pantas untuk bergabung di sini." Master Nick tiba-tiba muncul di belakang Hansa. Hansa membungkukkan badan hormat.


"Saya kurang setuju." Balasnya. "Loh, kenapa?" tanya Master Nick. Hansa menghela napas sejenak. "Menurut saya, gadis seperti dia nggak cocok menghabiskan sisa umurnya di tempat seperti Kantor Pengadilan ini. Apa lagi, dia gadis yang sangat berambisi. Takut ambisinya akan membahayakan dirinya sendiri nanti." Balas Hansa panjang.


Master Nick menatapnya misterius. "Saya cuman ngomong. Kamu udah pintar mengoreksi saya, ya. Kamu nggak merasa kalau kamu terlalu perhatian padanya? apa jangan-jangan kamu ... "


Hansa langsung undur diri sebelum Master Nick menyelesaikan ucapannya. "Ini pertama kalinya saya lihat dia perhatian dengan cewek.


Baguslah! mungkin Kantor Pengadilan akan mulai dibumbui sedikit keromantisan. Nggak akan terlalu kaku lagi." Master Nick bergumam dengan bibir tersenyum.


...----------------...

__ADS_1


Hyra berlari ke taman dengan tidak sabar. Wajah mungilnya selalu dihiasi dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.


"Hai, Fian. Udah lama di sini?" sapa Hyra. "Salam, Tuan Putri Hyra." Sapa seorang pria berjubah putih membungkuk hormat.


Hyra menahan tangan Fian yang ingin membungkuk salam padanya. "Kita kan udah bertunangan. Nggak usah formal kalau ketemu aku lain kali." Pinta Hyra. "Ah, mana boleh begitu. Bagaimana pun Anda tetap seorang Putri. Statusmu lebih tinggi dibandingku." Tolak Fian merasa tak enak.


"Ya udah, aku duduk dulu, ya. Capek habis lari-lari." Hyra duduk sambil bersandar di pundak Fian. Fian mengipas-ngipasi Hyra dengan kedua tangannya.


"Aku nggak butuh kamu begitu. Aku butuhnya begini." Hyra menggapai tangan Fian dan ia letakkan di pundaknya. "Oh, minta dirangkul ternyata." Fian tertawa dan mencubit hidung Hyra gemas.


Setelah lima menit menghabiskan waktu kebersamaan mereka,


"Aku pulang sekarang, ya. Nggak enak kalau sering ke sini. Kita kan belum sah jadi suami-istri." Pamit Fian.


"Yaah, sekarang ya pulangnya?" Hyra menggoyangkan lengan Fian dengan manja. Fian membelai rambutnya. "Aku pamit dulu, Tuan Putri." Fian membungkukkan badan.


Hyra memajukan bibirnya. "Panggil apa tadi?" tanyanya menyuruh Fian mengulangi panggilan untuknya. "Saya pamit, Tuan Putri." Fian mengulangi kalimatnya.


Hyra membuang muka berpura-pura tak mendengar. "Saya pamit, sayang." Ucap Fian akhirnya, dengan suara pelan. "Nah, gitu dong. Gitu aja susah." Hyra terlihat senang.


'Cup'


Ia mengecup pipi Hyra cepat. Senyum lebar terlukis di wajah Hyra. "Aku antar ke depan, ya." Ia menggandeng lengan Fian hendak mengantarnya sampai ke depan sebagai tuan rumah dan juga calon istri yang baik.


Namun, ia terkejut saat tiba-tiba ada sebuah panah yang meluncur ke arahnya. Hyra pasrah. Ia bahkan tak sempat menghindar. Tapi tiba-tiba, ada sebuah batu yang entah dilemparkan oleh siapa, terlempar ke anak panah itu sehingga membuatnya berubah arah dan berakhir menancap di tanah.


Hyra menghembuskan napas lega. Semua pengawal yang berada di seantaro taman mulai heboh. "Ada yang mau mencelakai Tuan Putri. Kejar orang itu." Pinta salah seorang Pengawal. Mereka mengejar si penjahat yang telah kabur.


Hyra memegang dadanya masih merasa ngeri. "Tuan Putri baik-baik saja? ayo kita pergi dari sini." Ajak Fian. Ia melihat ke pohon di mana penjahat tadi bersembunyi dengan tatapan tajam.


Hyra menggeleng tanda baik-baik saja. Ia menatap batu yang menjadi penghalang anak panah yang meluncur ke arahnya tadi. Ia kemudian beralih pada arah tempat di mana batu itu muncul.


"Aku seperti melihat seseorang di sana." Batin Hyra.

__ADS_1


"Siapapun orangnya, dia telah menyelamatkanku. Aku harus cari tau tentangnya." Batinnya lagi.


Si jubah hitam berjalan cepat meninggalkan taman itu. Tak ingin identitasnya diketahui. Terlebih, ia tak ingin sampai Tuan Putri melihatnya.


...----------------...


Kiara membuka pintu ruangan megah di depannya dengan perasaan campur aduk. "Salam, Guru." Ia membungkuk memberi salam pada pria tua seumuran Master Nick yang terlihat sedang meneliti sebuah buku di tangannya.


"Kamu masih ingat pulang?" sahutnya tanpa menoleh. Kiara menghela napas. Mencoba menahan rasa kesalnya. "Tentu saja Kiara tidak akan melupakan rumah sendiri. Terlebih, tidak akan melupakan orang berjasa yang sudah bersedia menampung Kiara seperti Anda, Guru Waze."


Menteri Waze menatapnya sejenak. "Bagus kalau begitu." Ia berdiri menatap Kiara dengan mata memicing. "Tapi boleh saya tau, apa urusanmu datang ke Kantor Pengadilan?" tanyanya dengan intonasi serius.


"Aku ... nggak ngapa-ngapain. Cuman penasaran dengan tempat itu." Elak Kiara. Ia tak mungkin memberitahu alasan sebenarnya ia datang ke sana.


"Kamu nggak lupa kan, kalau kamu adalah murid yang saya siapkan untuk jadi mata-mata rahasia? kamu nggak lupa kan, kalau kamu adalah orang andalan saya?" Menteri Waze mengingatkan murid terpercayanya itu.


"Kiara tidak akan melupakan tentang itu." Ujar Kiara langsung berlutut. "Bagus. Tapi bagaimana pun, kamu telah melanggar aturan. Sana terima hukumanmu!" pinta Menteri Waze kembali meneliti buku di tangannya.


"Kiara siap menerima hukuman." Kiara menunduk hormat dan pergi ke sebuah ruangan untuk menerima hukumannya. Ia bahkan sudah hafal hukuman apa yang akan ia dapatkan.


...----------------...


Fian menampar bawahannya untuk menegur kesalahan yang bawahannya itu lakukan. "Kau gila! kalau sampai tadi Tuan Putri kenapa-napa bagaimana?" amarahnya.


"Maaf, Tuan. Tapi saya yakin tadi jika Tuan Putri pasti akan baik-baik saja." Lapor bawahan Fian.


"Bagaimana mungkin kau tau dia akan baik-baik saja? jelas-jelas aku lihat, anak panah itu memang sengaja kau arahkan ke dadanya. Kalau aku nggak ada di sana, anak panah itu pasti telah membunuhnya." Amuk Fian.


"Tenang, Tuan. Saya tau Tuan Putri nggak akan kenapa-napa. Karena sebelum saya mengarahkan anak panah, saya yang berada di atas pohon, sempat melihat dengan jelas bahwa ada seseorang yang selalu memperhatikan kalian. Lebih tepatnya, memperhatikan Tuan Putri." Tutur bawahan itu. Fian mulai penasaran.


"Saya yakin dia di sana untuk melindungi Tuan Putri. Kalau tadi nggak ada dia, saya juga nggak berani mengarahkan anak panah ke arah dada Tuan Putri. Tapi saya tau orang itu pasti akan menyelamatkan Tuan Putri. Makanya saya berani mengarahkan anak panah ke Tuan Putri." Jelas si bawahan panjang lebar.


"Saya siap dihukum kalau Tuan mau menghukum saya." Si bawahan bersukarela. Fian mengusap-usap dagunya.

__ADS_1


"Nggak usah pikirkan tentang hukuman. Sekarang saya tugaskan kau untuk mencari tau tentang orang yang menyelamatkan Tuan Putri diam-diam tadi." Pinta Fian.


"Terimakasih, Tuan. Akan saya laksanakan." Pamit si bawahan.


__ADS_2