
Pagi ini, Kiara kembali berdiskusi bersama Master Nick dan Hansa. Ia tidak percaya bahwa ia adalah satu-satunya orang yang dipercaya oleh Master Nick untuk berdiskusi selain Hansa. Padahal, ia hanyalah anggota Kantor Pengadilan. Bahkan ia belum termasuk Anggota Tim Penyelidik.
"Beberapa waktu lalu, kasus tentang kotak yang terkunci itu diberi waktu tiga hari oleh Yang Mulia Kaisar. Tapi sampai sekarang, Yang Mulia Kaisar bahkan belum berkomentar apa-apa. Padahal ini sudah lewat jauh dari waktu yang ditentukan." Master Nick membuka topik diskusi.
"Hansa telah melaporkan pelaku dari kasus kotak yang terkunci itu pada Yang Mulia Kaisar segera setelah kami pulang dari kota B." Lapor Hansa.
"Itu tepatnya. Yang Mulia Kaisar hanya ingin mengetahui siapa pelakunya. Ia tidak peduli tentang kotak yang masih terkunci itu. Jadi, tugas yang diberikan oleh beliau adalah untuk mengetahui siapa pelakunya. Bukan barang apa yang ada di dalam kotak itu." Jelas Master Nick.
Kiara manggut-manggut. "Benar juga. Yang Mulia Kaisar bahkan tidak peduli identitas pelakunya. Beliau sudah puas dengan kita yang menjelaskan tentang ciri-ciri pelakunya tanpa mau mengetahui detail mengenai identitas si pelaku." Kiara juga ikut menyuarakan kebingungannya.
"Benar. Yang Mulia Kaisar berusaha terlihat menyepelekan kasus itu. Walau kenyataannya kasus itu tidak se sepele itu." Sambung Master Nick tidak lupa memainkan jenggotnya.
"Meski Yang Mulia Kaisar tidak memberi perintah untuk melanjutkan misi itu, kita tetap harus mencari cara untuk membuka kotak itu. Karena kita harus mengetahui isinya." Master Nick menjeda ucapannya sejenak.
"Misi ini adalah misi langsung dariku. Makanya hanya kalian berdua yang ku panggil ke sini. Lanjut selidiki misi ini diam-diam." Perintah Master Nick.
Kiara sebetulnya penasaran kenapa Master Nick terlihat begitu antusias dan penasaran tentang kasus itu. Ia bahkan kehilangan wibawanya sebagai seorang Hakim. Harusnya ia bertindak di bawah perintah Kaisar. Bukan bertindak atas keinginannya sendiri. Kiara tahu bahwa tidak biasanya Master Nick melakukan ini.
Tapi ya sudahlah. Toh, ia juga penasaran sebenarnya tentang isi dari kotak terkunci itu. Dan penasaran mengenai alasan mengapa Kaisar tidak menindak lanjuti kasus yang sau ini dan hanya menggantungkan kelanjutan dari kasus itu.
Siang harinya setelah berdiskusi dengan Master Nick, Kiara memutuskan untuk mengunjungi Kediaman Menteri Waze. Tapi kali ini, ia tidak mengunjungi Menteri Waze bukan sebagai murid yang mengunjungi gurunya. Melainkan sebagai seorang penyusup. Karena ia merasa hatinya menaruh kecurigaan yang besar pada guru bimbingnya itu.
Kiara mengenakan pakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan kain agar wajahnya tidak mudah dikenali jika dirinya tertangkap.
Ia tahu bahwa gurunya itu bukan orang sembaranga. Jadi jika hanya gadis kecil sepertinya tentu sangat mudah ditangani oleh gurunya.
Kiara ingin memastikan sesuatu. Ia masih penasaran tentang sebuah benda yang dulu disimpan di sebuah kotak di Perpustakaan Menteri Waze. Masalahnya adalah benda itu hilang begitu saja berganti dengan sebuah kalung kristal yang tak ada artinya itu.
__ADS_1
Kiara memasuki pintu rahasia yang hanya ia dan Menteri Waze yang tahu. Ya, pria tua misterius seperti Menteri Waze memang harus selalu mempunyai jalan rahasia di Kediamannya atau di tempat-tempat lain miliknya.
Kiara menaiki tangga dari ruang bawah tanah yang menghubungkan ruangan rahasia milik Menteri Waze. Kiara tahu bahwa ia sudah melewati batas. Karena siapapun dilarang memasuki ruang rahasia milik Menteri Waze termasuk dirinya.
Namun, lihatlah gadis itu. Ia sudah melewati batasnya. Batasnya sebenarnya hanya sampai di ruang bawah tanah.
Kiara sudah pasrah dengan segala resiko dan kemungkinan bahaya yang akan terjadi padanya.
Kiara membuka penutup dari keramik yang berada di ujung tangga itu. Dan sampailah ia di ruangan yang rapi dan lumayan luas itu.
Kiara mengobrak-abrik ruangan itu hampir dua jam. Ruangannya memang lumayan luas. Tapi tidak mungkin selama itu ia mencari sesuatu. Sayangnya, Kiara tahu betul bahwa gurunya yang satu itu memang sangat teliti terhadap segala sesuatu miliknya. Termasuk barang yang disimpannya.
Karena tidak menemukan apapun, Kiara memutuskan untuk keluar dari sana. Saking buru-burunya, tangannya tidak sengaja menyikut sebuah laci.
Kiara berbalik meneliti laci itu baik-baik. Tangannya mengetuk-ngetuk laci itu beberapa kali. Segera ia membuka laci itu yang tidak dikunci.
Kiara menghancurkan kayu itu untuk memeriksa apa yang ada di balik laci itu. Benar saja. Di balik laci itu ternyata masih ada sebuah ruangan kecil yang lebih sempit dari laci itu sendiri.
Kiara mengambil sebuah bungkusan yang sepertinya berisi bubuk itu. "Rumput liar?" mata Kiara membulat saat membaca tulisan di bungkusan itu.
Kakinya mendadak lemas. Matanya berkunang-kunang. Dunia seakan berputar-putar di kepalanya.
Tangannya meremas bungkusan itu. Setitik air mata berhasil jatuh dari pelupuk matanya.
Flashback:
Kiara mengobrol dengan kakak ke-empatnya segera setelah ia sadar dari koma. Ia perlu tahu tentang racun yang menguasai tubuhnya dan penawar dari racun itu.
__ADS_1
"Aku tidak yakin kamu siap mendengar ini." Sahut Sima dengan wajah ragu.
Kiara mengerutkan kening. "Kakak ke-empat harus memberitahuku atau aku sendiri yang akan mencari tau. Kakak ke-empat tau kan bagaimana nekatnya aku kalau mencari tau sesuatu?" ia malah memberikan ancaman untuk memancing Sima memberitahukan soal racun itu.
Sima menghel napas. "Tidak semudah itu. Aku takut kamu tidak akan siap mendengarnya. Tapi karena kamu memaksa, ya sudah aku akan kasih tau." Ia menjeda kalimatnya sebelum meneruskan.
"Kamu terkena racun peredam saraf." Sahut Sima pelan. Ia menunggu reaksi dari Kiara. Benar saja. Tubuh gadis itu bahkan sempat terlonjak.
"Maksudmu, aku terkena racun yang sama dengan racun yang menyerang mendiang Guru sampai menyebabkan beliau meninggal?" Kiara memastikan dengan wajah tak percaya.
Sima mengangguk sedih. Awalnya, ia dan Rubby tak ingin membiarkan Kiara tahu masalah ini. Tapi mau bagaimana lagi? adiknya ini sangat keras kepala.
"Ya. Dan kamu juga tau kan kalau penawar dari racun itu hanya ada satu di dunia." Sima mengingatkan.
Kiara mengangguk sedih. Ia kembali mendongak. "Tunggu. Itu berarti, orang yang meracuniku adalah orang yang sama yang meracuni mendiang Guru?" tanya Kiara yang dibalas dengan anggukan oleh Sima.
"Sangat disayangkan karena saat itu kita tidak berhasil menemukan penawarnya untuk menyembuhkan mendiang Guru." Sima menunduk sedih ketika mengingat momen itu.
"Tapi ya sudahlah. Mungkin kamu dan mendiang Guru ditakdirkan untuk terkena racun yang sama. Dan mungkin di antara kalian berdua, kamu yang akan ditakdirkan untuk selamat. Semoga." Harapnya.
Kiara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Aku pasti tidak akan melepaskan orang yang itu."
"Apa nama penawarnya?" tanya Kiara.
"Rumput liar." Jawab Sima.
Flashback off
__ADS_1