
"Tuan Hansa, apa yang kamu lakukan?" tanyanya terkejut mendapati dirinya dan Hansa yang melayang bebas di udara.
"Terbang." Sahut Hansa santai. Benar saja. Tak sampai dua menit, mereka telah tiba di lantai teratas di bangunan bersejarah.
"Turunkan aku!" pinta Kiara memukul dada Hansa pelan. Hansa menatapnya sejenak sebelum menurunkan gadis itu dari gendongannya.
Kiara memegang dadanya. Menghela napas lega. "Gimana?" Hansa meminta pendapat setelah menunjukkan jurus peringankan tubuh alias jurus terbang miliknya.
"Deg-degan, sih. Tapi keren ... " puji Kiara mengacungkan kedua jempol. Hansa tersenyum tanda terima kasih.
"Wah, pemandangannya bagus banget kalau dilihat dari atas." Kiara takjub melijat pemandangan dari lantai tertinggi di gedung itu.
"Tapi lebih indah lagi kalau kita melihatnya di malam hari." Kiara berandai.
Hansa menoleh pada gadis itu yang seperti memberi kode. "Kalau kamu mau ... kita bisa pergi ke tempat ini kapan pun kamu mau." Ucap pria itu membuat Kiara menoleh takjub padanya.
"Sejak kapan kamu sebaik ini?" sindirnya. Hansa membuang muka cemberut. "Ya sudah kalau nggak mau." Kesalnya.
"Eh, jangan seperti itu. Kamu udah janji. Seorang pria sejati tidak boleh menarik kembali apa yang sudah dikatakannya." Nasihat Kiara sok bijak.
"Kamu sendiri yang nggak mau. Malah saya yang disalahin." Hansa mendumel. "Siapa bilang aku nggak mau?" Kiara berkacak pinggang. "Ya udah jangan cemberut gitu." Godanya.
"Tuan Hansa lucu juga ya kalau cemberut gini. Kayak anak kecil. Jadi pengen ku cubit pipinya." Ia mencubit pipi Hansa meledek.
"Lepas! jauhkan tanganmu!" Hansa menepis tangan Kiara kasar dan membuat gadis itu nyaris terjatuh ke belakang. Hansa dengan sigap menahan kedua tangan gadis itu hingga wajah mereka berjarak sangat dekat.
Baik Kiara mau pun Hansa saling tenggelam dalam tatapan masing-masing. Setelah hampir satu menit, Hansa yang tersadar dengan cepat menormalkan kembali posisi Kiara.
Kiara yang gugup masih meliriknya dengan kepala menunduk. Hansa berdeham sejenak.
"Eh, itu bintangnya bagus banget ... lihat, tuh!" ia mengarahkan telunjuknya ke arah depan. Mencoba mengalihkan kegugupan dan kecanggungannya.
Kiara mengikuti arah telunjuk Hansa. "Kamu nunjuk apa?" tanyanya mengerutkan kening. "Sekarang kan masih siang. Mana ada bintang." Kiara menyadarkan Hansa yang mulai ngaco.
"Oh iya." Hansa menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Udahlah. Mending kita duduk dulu. Capek habis jalan-jalan." Kiara yang risih dengan situasi canggung itu memutuskan duduk melihat pemadangan jalanan di bawah.
__ADS_1
"Kamu ngapain masih berdiri?" Kiara menarik tangan Hansa untuk mengajak pria itu duduk di sampingnya.
Hansa menuruti gadis itu dan mendudukkan diri di sampingnya.
Lama keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga, Kiara memutuskan untuk memecah keheningan ini. Ia melirik pria di sampingnya yang kelihatan santai sambil memandang jalanan di bawah.
"Tuan Hansa, besok aku akan pergi." Ujarnya tiba-tiba. Hansa menoleh dan menatapnya. "O ... oh. I ... iya. Bagus." Balasnya mengangguk-angguk tidak jelas.
Kiara menatapnya cemberut. "Apa kamu ... tidak merasa sedih sedikit pun?" protesnya.
"Hah, sedih? maksudmu?" Hansa pura-pura tidak mengerti karena tak tahu harus menjawab apa.
"Ck." Kiara kesal sendiri jadinya. "Tuan Hansa, aku serius." Omelnya. "Iya, saya juga serius." Lagi-lagi Hansa manggut-manggut tidak jelas.
"Tuan Hansa!" teriak Kiara. "Sini!" Ia menggeser tubuh Hansa sedikit menghadapnya.
"Besok aku sudah mau pergi. Apa nggak ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Kiara pelan namun pasti.
Sejenak, Hansa tenggelam dalam kedua bola mata gadis di hadapannya tersebut. Namun, ia dengan cepat kembali membuang muka.
"Aku menyukaimu. Apa kamu tidak menyukaiku?" tanya Kiara mengungkapkan isi hatinya. Hansa terdiam menatap gadis tersebut. Ia jelas tak menyangka bahwa gadis itu akan mengungkapkan isi hatinya padanya.
Hansa menurunkan kedua tangan Kiara dari pipinya dan membuang muka. Ia jelas menghindari tatapan gadis itu.
"Tuan Hansa, jawab, dong!" pinta Kiara geregetan. "Apa aku ... pernah ada di hatimu?" tanyanya gugup namum memberanikan diri.
"Kiara, aku ... " Hansa tak melanjutkan ucapannya. Pikirannya justru terlempar ke tempat lain.
"*Saudara Hansa, aku harap kamu mengerti maksudku. Sebagai kakak pertama, aku akan selalu melindungi Kiara. Aku nggak akan membiarkan dia hidup di lingkungan yang telah menyebabkan kakak ke-tiganya mati." Percakapan ini semakin dalam*.
"*Aku mengajakmu kembali agar aku bisa segera menjauhkanmu dari Kiara. Gadis nakal itu nggak boleh lagi berhubungan dengan kalian." Rubby menjelaskan maksudnya*.
__ADS_1
"*Lagi pula, kamu juga tau kan, kalau gadis itu ... hatinya sudah kacau olehmu." Ucap Rubby dalam. Ia melangkah mendekati Hansa dan menepuk pundak pria itu. "Saudara Hansa, seperti yang kamu bilang, Kantor Pengadilan adalah tempat yang nggak cocok untuk Kiara*."
"*Kamu nggak akan menarik kata-katamu kembali, kan? kamu nggak mau melihatnya dalam bahaya jika terus tinggal di Kantor Pengadilan, kan*?"
Hansa menatap Kiara bingung. Ia takut salah menjawab dan membuat gadis itu tersinggung.
"Apa kamu hanya menganggapku sebagai partner, atau ... ada sesuatu yang lain tentangku di hatimu?" Kiara menunggu respon dari Hansa yang bahkan tak berani menatapnya.
"Tuan Hansa, aku ingin kamu jawab yang jujur. Apa ... " ucapan Kiara terpotong karena Hansa yang tiba-tiba menoleh padanya.
"Kiara, sebentar lagi sudah hampir sore. Mari kita pulang!" ajaknya segera berdiri membelakangi Kiara yang masih duduk.
Kiara bangkit dari duduknya dan menatap punggung pria itu kecewa. "Aku pikir ... karena kamu begitu baik padaku, jadi aku mungkin punya tempat yang spesial di hatimu." Ucapnya dengan suara yang mulai bergetar kecewa.
"Sudahlah. Mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan dengan sikapmu padaku." Lanjutnya menunduk. Ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Nyatanya ... ini hanya cinta sepihak." Suaranya sudah mulai hilang bersamaan dengan sesak yang ia rasakan di dada. Kecewa karena ternyata cintanya tak terbalaskan.
"Lupakan! mari kita pulang, dan anggap kejadian ini tak pernah terjadi." Pintanya kemudian. "Maafkan aku yang telah lancang mengungkapkan cinta padamu, Tuan Hansa." Ucapnya berjalan melewati Hansa yang masih berdiri mematung.
"Kiara, tunggu!" Hansa mencoba mengejar gadis itu yang berjalan dengan cepat di depannya. Ia menarik tangan Kiara dan membuat gadis itu berbalik menghadapnya.
"Apa lagi sih, Hansa? aku mau pulang." Tangisnya pecah seketika itu juga. Ia menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar dan membuat orang-orang yang berlalu-lalang menatap mereka dengan tatapan heran.
Kiara menggeleng sekuat tenaga. "Kamu pergilah duluan! aku ingin sendiri dulu." Pinta Kiara dengan suara pelan. Ia berjalan meninggalkan Hansa yang masih mencoba menahannya.
"Kiara!" seru Hansa tak ingin membiarkan gadis itu berjalan sendirian. Ia hendak mengejar Kiara. Namun, seseorang menahan dan menepuk pundaknya. Hansa menoleh dan menepis tangan orang itu.
"Bari? sedang apa kau di sini?" tanyanya. Takut Bari memergoki kedekatan dirinya dengan Kiara.
"Aku sedang mengawasi pengawal yang berpatroli." Jawab Bari santai. "Tenang saja. Aku sudah tau apa yang terjadi di antara kalian berdua." Akunya.
__ADS_1
Hansa memutar bola mata tak ingin menggubris pria itu. Ia memilih mengejar dan menyusul Kiara yang telah berjalan jauh.