
"Aku dan Dewi ke-enam ... "
"Kiara, kalian ... " ucapan Hansa terpaksa terhenti saat Weni datang dari arah belakang. Gadis itu sepertinya juga baru selesai dengan makan siangnya.
"Maaf. Aku ganggu, ya?" tanya Weni takut dirinya malah menjadi pengganggu di antara keduanya yang terlihat begitu serius itu.
Kiara menggeleng cepat. "Kenapa? kamu terlihat buru-buru gitu?" giliran ia yang bertanya karena melihat Weni yang tadi berjalan dengan langkah terburu-buru ke arahnya.
"Aku khawatir aja sama kamu. Aku pikir kamu sakit atau apa. Jadi aku berniat menyusulmu tadi." Ia memberi jeda pada kalimatnya sejenak. "Tapi sepertinya kamu udah lebih aman sekarang. Aku duluan, ya." Pamitnya menyempatkan dirinya melirik Hansa yang mejadi sasaran sindirannya.
Kiara hanya tersenyum dan kembali mengalihkan perhatian pada Hansa yang juga belum bergeming dari tempatnya. "Tadi kamu mau ngomong apa? kamu dan Dewi ke-enam ... " tanyanya mengungkit kalimat Hansa yang sempat terpotong oleh kedatangan Weni.
Hansa tersenyum canggung. "Aku cuma mau bilang kalau aku dan Dewi ke-enam hanya teman dekat." Jawabnya terpaksa berbohong. Ia mengurungkan niatnya yang ingin mengatakan tentang kedekatan dirinya dan Dewi ke-enam karena keberaniannya kembali menyurut saat ucapannya sempat terpotong.
Kiara tersenyum simpul. Meski ia merasa kurang puas dengan jawaban Hansa, apalagi melihat dari raut wajah kekasihnya yang tampak gugup itu. Namun ia memilih tak ambil pusing dan tetap mempercayai pria yang dicintainya itu.
"Aku tau kok. Karena cuma aku yang tau karakter kamu. Dan aku juga tau kamu nggak mungkin mempunyai kedekatan khusus dengan gadis mana pun selain aku." Yakinnya penuh percaya diri.
Hansa menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan karena ucapan kekasihnya yang tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah itu. Namun bagaimana pun, Ia lega karena kekasihnya mempercayainya. Meski ia harus sedikit berbohong.
"Aku minta maaf karena sempat meragukanmu. Harusnya aku tau kalau kamu hanya mencintaiku dan selalu setia padaku." Ucap Kiara penuh haru.
Hansa tersenyum lebar dan segera membawa gadis itu ke pelukannya. "Aku senang kamu bisa mengerti." Sahutnya ambigu sembari mengelus lembut pundak Kiara dengan penuh sayang.
"Harusnya aku yang minta maaf karena nggak bisa memberitahumu yang sebenarnya, Kiara. Aku juga nggak tau dengan alasan ketidakberanianku ini."
Batinnya jauh di lubuk hati yang paling dalam.
Sore ini, Hansa duduk ditemani Dewi ke-enam yang memainkan sebuah alat musik dengan cara dipetik. Lebih tepatnya, Dewi ke-enam menemani kerisauan hati yang sedang dirasakan oleh pria di sampingnya.
Mengerti dengan suasana hati Hansa, ia sengaja menghentikan aktifitasnya dan menatap ke arah pria yang masih melamun itu.
__ADS_1
"Hansa, kamu ingat lagu apa yang sedang aku mainkan?" tanyanya mengetes apakah pria itu mendengarnya atau hanya sibuk dengan lamunannya.
Dewi ke-enam tersenyum penuh arti dan dengan sengaja memetik senar harpa dengan sangat kencang untuk menyadarkan Hansa dari lamunannya.
"Kenapa?" tanya Hansa begitu terkejut dan sadar karena telah mengabaikan Dewi ke-enam. Bagaimana tidak? sedari tadi ia hanya memandangi dedaunan yang jatuh dari pohon ek di depannya sembari kepalanya dipenuhi dengan segala kerisauannya.
"Kamu masih ingat dengan lagu yang sedang aku mainkan ini?" tanya Dewi ke-enam. Hansa menunjukkan raut wajah bersalahnya karena tidak memperhatikan atau menikmati alunan musik yang dimainkan oleh Dewi ke-enam.
Dewi ke-enam hanya tersenyum kecil seraya kembali memainkan alat musik kesukaannya. "Dengar baik-baik. Kamu pasti merasa familier dengan lagu ini." Ucapnya dengan suara lembut khasnya.
Kali ini Hansa tak mau membiarkan Dewi ke-enam tersinggung lagi. Ia memasang telinganya untuk mendengar alunan lagu yang dimainkan oleh Dewi ke-enam. Melodinya begitu lembut dan sangat familier di telinganya. Membuat seutas senyum terbit di bibirnya.
Namun ternyata ingatannya cukup kuat. Ia bahkan masih ingat lagu yang dimainkan oleh Dewi ke-enam itu menceritakan tentang apa.
"Tentu saja aku tau. Lagu itu menceritakan tentang rindu pada seseorang, kan?" tebaknya yakin yang langsung diangguki oleh Dewi ke-enam.
Gadis itu menatap jauh ke langit. "Dulu kecil, aku emang memainkan lagu ini khusus untukmu. Tapi sekarang semuanya udah berbeda. Lagu ini aku mainkan hanya saat sedang rindu padanya. Seperti sekarang ini." Ucapnya dengan mata menerawang jauh. Matanya yang berkaca-kaca semakin memperjelas tatapannya yang sendu.
"Ku doakan yang terbaik buat kalian." Hansa sempat terkejut mendengar ucapannya. Namun sebagai seorang teman, ia tidak perlu mempertanyakan tentang ucapan gadis itu. Yang harus ia lakukan adalah mendukung dan menyemangatinya.
__ADS_1
Dewi ke-enam segera menghilangkan kesedihan di wajahnya dan kembali menatap Hansa. "Gimana kabar Julian?" tanyanya sengaja mengalihkan kesedihan di hatinya.
Hansa membuang muka malas membahas temannya yang sudah beralih Tuan itu. "Kamu nggak tau dia jadi apa sekarang?" tanyanya karena ia pikir Dewi ke-enam belum tahu tentang Julian yang telah berubah.
"Aku tau. Karena aku sempat bertemu dengannya." Jawab Dewi ke-enam santai. "Meskipun wajahnya ditutup, aku tetap kenal dengannya. Dia juga mengenalku dan nggak segan-segan menyapaku. Tapi sebagai musuh." Tuturnya menceritakan pertemuannya dengan Julian sewaktu perjalanannya menuju Kantor Pengadilan.
"Aku nggak nyangka di antara kita bertiga, cuma kamu yang masih bertahan dan nggak pernah berubah sampai sekarang." Pujinya. Hansa membungkuk hormat menerima pujian itu.
Keduanya kembali terdiam untuk meresapi kerisauan di hati masing-masing. Selang beberapa menit, Dewi ke-enam baru tersadar dan segera mengatakan hal yang sangat penting pada Hansa.
"Hati seorang wanita itu sangat tipis dan lembut. Meskipun banyak wanita yang berperawakan laki-laki di luar sana. Tapi tetap aja hati kami telah diciptakan selembut sutra." Ia menjeda kalimatnya sejenak.
"Oleh karena itu, selagi dia mempercayaimu, jangan pernah mengkhianati kepercayaannya. Sekali atau dua kali mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi nggak ada yang ke tiga kali dan seterusnya." Nasihatnya sembari bangkit dari duduknya dan membungkuk anggun pada Hansa sebelum pamit untuk pergi dari sana lebih dulu.
Hansa terdiam dan meresapi nasihat dari Dewi ke-enam yang ia yakin tertuju padanya. "Aku pasti nggak akan mengkhianati kepercayaan gadis yang aku cintai. Hanya saja ... aku butuh waktu untuk memberitahunya." Ucapnya pelan dengan pandangan menunduk.
Tatapannya teralihkan pada harpa yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya di sampingnya. "Dulu kamu selalu menemaniku memainkan lagu yang entah kenapa nggak pernah membuatku bosan mendengarnya walaupun kamu memainkannya setiap hari." Ia menghela napas dengan pikirannya yang menerawang ke masa lalu.
"Tapi aku senang karena kamu telah menemukan yang terbaik untukmu. Sama seperti aku yang telah menemukan yang terbaik untukku." Ia mengalihkan perhatiannya dari harpa itu dan membiarkan seutas senyum terbit di bibirnya.
__ADS_1