
"Memberitahu apa?" tanya Kiara menunggu apa yang akan dikatakan oleh Julian. Julian hanya menyeringai tanpa mengatakan apa-apa. Sengaja membuat Kiara penasaran.
Kiara memutar bola mata jengah. "Kalau nggak ada yang mau kamu katakan, aku akan pergi sekarang." Pamitnya sembari hendak kembali naik ke kudanya.
"Dewi ke-enam apa kabar?" pertanyaan Julian membuat Kiara berhenti. "Kamu tau dia datang ke Kantor Pengadilan?" tanyanya.
"Ya, aku tau. Dia dulu juga temanku. Jadi aku tau semua tentang dia. Termasuk tentang hubungannya dan Hansa." Tuturnya.
Kiara mengerutkan kening. "Maksudmu?" tanyanya bingung dengan pernyataan Julian. "Hansa belum memberitahumu?" tanya Julian dengan nada mengejek dan pura-pura terkejut.
"Memberitahu apa? jangan banyak bicara omong kosong. Ku robek mulutmu nanti." Ancamnya berusaha tetap tenang, meski emosinya sudah naik.
Julian tertawa meledek. "Jadi, kamu mau mendengar kenyataannya, nggak? kalau nggak, ya udah. Aku pergi, ya." Ia sengaja memancing rasa penasaran Kiara.
Kiara terdiam sejenak. "Apa yang mau kamu ceritakan? katakan cepat!" pintanya. Julian tersenyum miring.
"Aku tau kau memiliki hubungan spesial dengan Hansa. Jadi sebagai partner, aku nggak mau kamu kecewa." Sarkasnya. "Aku mau kamu tau kalau Dewi ke-enam dan Hansa pernah menjalin hubungan sewaktu kecil." Paparnya.
Kiara berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Jelas ia tidak mau percaya begitu saja pada Julian.
"Apa buktinya? kenapa aku harus mempercayaimu?" ia melipat lengan di dada. Berusaha tidak terpancing oleh provokasi Julian.
"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanyakan pada Hansa. Aku yakin dia akan jujur kalau kamu menanyakannya. Hanya saja, dia nggak akan mengaku kalau kamu belum tau." Jelas Julian lagi.
Kiara mendekat dan mencengkram kerah baju Julian. "Kamu pikir aku percaya dengan penjahat sepertimu?" tanyanya dengan tatapan dingin dan tajam. Ia bahkan tidak berakting sebagai partner Julian dan berpura-pura bersikap ramah pada pria itu lagi.
__ADS_1
Julian tertawa meledek. "Terserah kalau kamu nggak percaya. Aku hanya memberitahumu agar kamu nggak terlalu kecewa nantinya." Ia melepaskan diri dari cengkraman Kiara pada kerahnya.
"Kalau kamu masih berani bicara omong kosong, aku akan membunuhmu sekarang juga, Julian." Ancam Kiara dengan tatapan dinginnya.
Julian mengeraskan rahangnya. "Aku akan membunuhmu lebih dulu." Serunya sembari menodongkan pedangnya di depan Kiara.
Kiara tersenyum miring. "Baik. Lakukan semampumu." Sahutnya santai. Julian bersiap mengayunkan pedangnya untuk melukai Kiara. Namun, Kiara lebih cepat menahan pedang Julian dengan tangannya. Ia mencengkram pedang tajam milik Julian hingga membuat tangannya berdarah. Namun, ia tidak peduli dan terus mencengkram pedang Julian dengan kuat. Sepertinya, ia sudah dikuasai emosi.
Julian berusaha melepas pedangnya dari cengkraman Kiara. Namun, cengkraman Kiara di pedangnya semakin menguat seiring ia berusaha melepas pedangnya.
Darah merembes dari tangan Kiara karena cengkramannya yang kian menguat di pedang itu. Ia kemudian bergerak dengan cepat membalikkan pedang itu dan menebas ke arah Julian. Membuat jubah bagian lengan milik Julian robek dan menyebabkan bahunya terluka oleh goresan pedang itu.
Julian terbelalak menatap Kiara yang terlihat tidak seperti biasanya. Tatapan gadis itu dingin dan tajam. Seolah tidak peduli dengan siapa pun yang ada di sekitarnya.
Julian memaki dengan kesal sebelum memutuskan untuk pergi dari sana. Ia memilih tidak melanjutkan pertarungan itu.
Kiara menunggangi kudanya untuk kembali ke Kantor Pengadilan. Ia tidak mau terpancing emosi. "Aku harus percaya pada Hansa. Dia nggak mungkin nggak memberitahuku kalau dia pernah memiliki hubungan dengan Dewi ke-enam." Ia berkali-kali mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya. Ia merasa harus lebih mempercayai kekasihnya.
Sesampainya di halaman Kantor Pengadilan, ia segera mencari keberadaan Hansa. Langkahnya terhenti saat melihat kekasihnya yang tampak tengah membicarakan sesuatu dengan Dewi ke-enam.
Kiara menempel di sudut dinding dan berusaha tidak terlihat oleh Hansa dan Dewi ke-enam. Ia ingin mendengar percakapan antara kekasihnya dengan Dewi ke-enam.
"Kamu belum memberitahunya, Hansa? kenapa?" Dewi ke-enam terlihat sedang memprotes Hansa.
"Aku belum cukup berani untuk memberitahunya, Liana." Hansa menyebut nama asli Dewi ke-enam. Biasanya tidak ada yang mengetahui nama asli para gadis yang diberi julukan 'Dewi'. Namun, Hansa jelas mengetahui nama Dewi ke-enam karena mereka berteman sejak kecil. Sebelum Liana menjadi seorang Dewi ke-enam.
__ADS_1
Namun bukan itu yang membuat Kiara semakin memfokuskan pendengarannya. Ia jelas lebih penasaran dengan arah dari percakapan mereka.
"Kiara adalah kekasihmu, Hansa. Kamu cuma perlu memberitahunya. Aku yakin dia akan mengerti. Lagipula, di antara kita kan nggak pernah ada apa-apa. Kita hanya pernah saling menjalani cinta monyet. Kita nggak pernah benar-benar saling mencintai." Ungkit Dewi ke-enam.
"Aku paham soal itu. Hanya saja, susah untuk menjelaskannya pada Kiara. Aku takut dia malah salah paham." Jelas Hansa.
"Kalau kamu begini, dia malah akan semakin salah paham saat dia mengetahuinya sendiri. Percaya sama aku." Nasihat Liana.
Kiara mendengarkan percakapan mereka dengan seksama. Perlahan, ia berbalik dan menjauh dari sana. "Jadi, mereka benar-benar pernah memiliki hubungan dulu kecil? kenapa Hansa nggak memberitahuku? apa dia sama sekali nggak menganggapku?" gumamnya seiring langkahnya.
...----------------...
Hansa mendatangi Kiara untuk berpamitan karena ia diutus untuk melakukan sesuatu oleh Master Nick.
Ia perlu mengawasi gerak-gerik Julian dan para bawahan Menteri Waze. Mereka menebak, Julian akan segera pergi ke kota D untuk menyusul Menteri Waze.
"Kiara, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, ya." Pesannya. Kiara mengangguk singkat tanpa menatap Hansa.
Hansa mengerutkan kening melihat Kiara yang terlihat tidak seperti biasanya. Gadis itu terlihat seperti kurang bersemangat dan hampir tidak berbicara padanya. "Kiara, apa kamu baik-baik aja? apakah kamu sakit?" ia hendak menyentuh tangan Kiara untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu. Tapi Kiara dengan cepat bergeser. Seperti menghindari sentuhannya. Hansa lagi-lagi mengerutkan kening.
"Kenapa kamu belum pergi?" tanya Kiara masih menunduk, tidak menatap Hansa. "Nggak. Aku akan pergi. Tapi ... apa kamu baik-baik aja?" Hansa memastikan sekali lagi. Kali ini ia hendak menyentuh kening Kiara untuk memeriksa suhu tubuhnya. Tapi lagi-lagi Kiara menghindar.
"Kamu kenapa, sih? aku baik-baik aja. Kamu bertingkah seolah-olah kamu akan pergi untuk waktu yang lama." Tegur Kiara dengan sedikit nada ketus pada kalimatnya.
Hansa menghela napas. "Kalau begitu, aku pergi dulu, ya." Pamitnya sekali lagi. Kiara hanya mengangguk singkat.
__ADS_1
"Aku ... juga ada urusan. Aku akan menyelesaikan urusanku sekarang." Ujar Kiara sebelum melangkah pergi dari sana.
Hansa menatap punggung Kiara yang berjalan menjauh dengan tatapan bingung sekaligus khawatir.