
"Sera tau Sera bukan murid yang bisa diandalkan. Sera juga tau Sera tidak sehebat dan secantik dewi." Aku Sera masih dengan nada lembutnya.
Rubby menghembuskan napas pasrah. "Sana terima hukumanmu." Sahutnya singkat. Sera yang merasa amukannya tidak berarti akhirnya benar-benar keluar dari kamar gurunya dan menjalani hukuman yang ditetapkan untuknya. Itu berarti, siang ini dia tidak akan mendapatkan sesuap nasi karena harus berlatih keras sampai matahari terbenam.
"Sebenarnya kamu menghukum dia supaya bela dirinya tambah meningkat, kan? kenapa harus bersembunyi di balik kata 'menghukum' kalau kamu sepeduli itu dengannya?" dewi muncul dan ikut duduk di samping Rubby yang duduk sambil pikirannya fokus ke luar jendela.
"Dia adalah muridku. Wajar kalau aku peduli sama dia." Sahut Rubby datar.
"Kamu benar-benar guru yang baik dan hebat. Saat murid-muridku menyerang muridmu, kamu langsung sigap menyelamatkannya." Dewi tertawa lembut. Ia melirik Rubby sejenak. "Sebenarnya walaupun aku adalah legenda dewi ke-sembilan dan merupakan Pendekar nomor empat, aku nggak merasa tenang." Sahutnya tiba-tiba dengan nada serius.
Rubby mengarahkan wajah padanya. "Karena meskipun bela diriku sangat hebat, banyak pebeladiri yang selalu datang dan menantangku hampir setiap hari. Dan itu membuat aku merasa hidupku nggak pernah tenang." Tuturnya. Ia menghela napas panjang. "Itu juga alasan kenapa aku selama ini lebih banyak bersembunyi dan keluar hanya beberapa tahun sekali." Ungkapnya menceritakan lika-liku menjadi salah satu pebeladiri terhebat.
"Aku juga nggak mau menikah atau memiliki keluarga. Karena aku takut nggak bisa melindungi mereka. Mungkin aku bisa melindungi diri sendiri. Tapi belum tentu bisa melindungi orang-orang yang ku sayangi." Lanjutnya dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa itu juga alasan ke-lima dewi yang lainnya menghilang? apa mereka juga bersembunyi karena alasan yang sama?" tanya Rubby. Ia hanya menyebutkan lima dewi, karena tiga dari sembilan dewi sudah mati. Sedangkan sisanya menghilang seperti yang diceritakan legenda.
Dewi menggeleng tidak pasti. "Mereka cuma menanggung gelar dewi aja bersembunyi sampai tidak terlihat lagi. Tapi aku yang harus menanggung gelar dewi dan Pendekar, menjadi satu-satunya yang bertahan dan masih dilegendakan sampai sekarang." Paparnya.
Sekarang kepalanya ia alihkan untuk menatap Rubby sepenuhnya. "Kamu udah dengar ceritaku? harusnya kamu paham betapa sulitnya melindungi orang yang kita sayangi." Ucapnya tersenyum singkat dan berlalu meninggalkan Rubby untuk membiarkan pria itu memikirkan kata-katanya.
...----------------...
"Aku harus pergi sekarang. Waktu itu aku janji pada adik ke-empat dan ke-lima kalau aku akan kembali." Sahut Rubby tiba-tiba.
"Kita akan kembali ke Kantor Pengadilan?" tanya Sera. Sebenarnya ia memang sudah lama ingin pergi ke sana untuk bertemu Kiara dan yang lainnya. Menurutnya, mereka adalah orang-orang yang asyik dan selalu membantunya.
__ADS_1
"Aku nggak akan mengajakmu. Kamu boleh pergi malam ini." Ucapan Rubby menghancurkan imajinasi Sera. Gadis itu menghampiri gurunya dan bersimpuh lutut di hadapan Rubby yang sedang duduk di kursi.
"Guru mengusirku? guru tidak mau membawaku bersamamu?" tanyanya dengan raut wajah sedih.
"Benar. Kamu bisa pergi malam ini. Jangan tinggal di sini lagi. Carilah tempat yang lebih layak dari pada di sini. Aku yakin kamu punya kerabat yang bersedia menampungmu, kan?" saran Rubby.
Sera menggeleng cepat. "Sera dari lahir hanya dibesarkan oleh tetangga yang sekarang sudah tiada. Sera nggak punya keluarga lagi selain guru sekarang." Akunya.
"Apa pun alasannya, pergilah ke mana pun ke tempat yang aman. Asal jangan berada di dekatku." Desak Rubby.
"Kenapa sih guru selalu mendesak Sera? kalau Sera berada di dekat guru, mungkin Sera bisa berguna dan menjaga guru sampai tua. Hanya itu harapan Sera." Ungkap Sera dengan mata berkaca-kaca.
Rubby bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Sera. "Berguna? selama aku mengajarimu bela diri, emang kamu pernah berguna untukku? malah aku yang selalu kerepotan menjagamu. Sedangkan kamu, melawan murid-murid dewi aja nggak bisa." sahutnya dingin.
...----------------...
Malam harinya, setelah memikirkan matang-matang kalimat Rubby, Sera akhirnya memutuskan untuk pergi. Gurunya benar tentang satu hal. Jika Sera bersikeras untuk selalu berada di dekatnya, ia hanya akan selalu merepotkan gurunya.
Ia membalikkan tubuh dan menatap tempat yang ia tinggali bersama Rubby untuk terakhir kali dengan air mata yang terus menetes tanpa henti.
"*Berguna? selama aku mengajarimu bela diri, emang kamu pernah berguna untukku? malah aku yang selalu kerepotan menjagamu. Sedangkan kamu, melawan murid-murid dewi aja nggak bisa*."
__ADS_1
Sera terus menguatkan dirinya. Ia akhirnya benar-benar melangkah keluar dari tempat itu meski ia tak tahu harus ke mana.
Di waktu yang sama, tempat yang sama, dan suasana hati yang sama, seorang pria duduk dengan wajah menghadap ke luar jendela. Ia tahu gadis itu telah pergi sesuai dengan yang diharapkannya.
Flashback:
"Sebelum pamit, aku mau mengatakan sesuatu. Aku ke sini sebenarnya untuk memperingatkanmu, Rubby. Ada segerombolan bandit yang tinggal di gunung datang mencarimu ke sini. Mereka termasuk pebeladiri yang handal. Biar ku kasih tau, kamu pasti mudah saja mengalahkan mereka. Tapi gadis itu ... dia terlalu lemah dan lembut. Aku takut kamu nggak bisa melindunginya." Risau Dewi menggelengkan kepala.
Flashback off
Sera melangkah ditemani kegelapan malam dan suara jangkrik yang berbunyi. Ia bergidik ngeri dan mengusap bahunya yang terasa semakin dingin.
Sera mempercepat langkah meski lututnya terasa semakin lemas dan kakinya mati rasa karena lelah dengan semua yang terjadi dan perjalanan yang panjang tak tentu arah ini. Ditambah dirinya belum memakan sesuap nasi pun tadi siang. Harusnya ia makan malam ini. Tapi ia tidak punya selera makan. Bahkan perutnya pun tak sanggup menampung sedikit pun makanan.
Tingkat ketakutannya semakin tinggi saat mendengar banyak suara langkah kaki seperti mengintainya.
Rubby tahu ada yang tidak beres. Ia menyusul Sera setelah berpikir bahwa mengusirnya malam-malam begini justru semakin membuatnya berada dalam bahaya. Ucapannya yang menyuruh gadis itu pergi malam ini juga hanyalah ucapan belaka. Ia tidak menyangka gadis itu akan benar-benar pergi selarut ini. Padahal ia tidak berniat menyuruh gadis itu pergi malam ini juga.
Setelah sedikit lama mencari dengan mengandalkan indranya, ia berhasil menemukan Sera. Gadis itu tampak terbaring di semak-semak. Entah apa yang terjadi padanya. Bahkan Rubby baru pertama kali merasakan jantungnya berdegup kencang karena orang lain.
__ADS_1