Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kebakaran


__ADS_3

Setelah mengeluarkan semua yang ia pendam dalam hatinya, Kiara menuju gudang untuk melakukan sesuatu. Ia diperintahkan oleh Master Nick untuk mengambil kotak terkunci yang ditaruh gudang. Ia diperintahkan mengambil kotak itu untuk diamankan karena takut musuh akan melakukan sesuatu untuk menghilangkan bukti.


Kiara sampai di gudang tersebut dan mengambil kotaknya dengan cepat. Langkahnya terhenti ketika hidungnya mencium aroma yang cukup tajam. Seperti bau gosong atau sesuatu yang terbakar. Ia juga merasa hawa panas di dalam gudang yang luas itu. Saking panasnya, keringat bercucuran di dahinya.


Belum sempat Kiara melakukan sesuatu, ia dibuat kaget dengan api yang menjalar di seluruh sudut ruangan. Kilatan api dengan cepat memenuhi gudang. Kiara tak bisa bergerak karena api yang mengelilinginya. Ia hanya bisa berharap keajaiban akan datang. Atau ada seseorang yang akan menyelamatkannya.


Kiara menutup hidungnya. Kotak yang tadi dipegangnya sudah terlepas karena kepanikannya.


Kiara menoleh ke belakang dan terkejut melihat kotak itu telah hancur dilalap api. Ia merasa bersalah karena telah melepaskan kotak itu dari tangannya, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Selama beberapa detik Kiara terkurung di dalam sana. Ia bahkan sudah pasrah jika hari itu adalah hari kematiannya. Ia juga sudah pasrah jika api akan melalap tubuhnya.


Namun jika memang ia harus mati di sini, ia ingin meminta sesuatu sebelum ia benar-benar memejamkan mata dan pergi meninggalkan dunia. Kiara memejamkan mata dan memanjatkan harapannya.


"Aku berharap, sebelum aku mati di sini, aku hanya ingin melihat orang yang ku cintai di dunia ini."


Selang beberapa detik, Kiara mendengar suara dobrakan yang menyebabkan pintu gudang terbuka disusul seseorang yang berlari ke arahnya.


Kiara membuka mata perlahan. Samar-samar ia melihat sosok itu. Semakin mendekat, sosok itu semakin terlihat jelas.


"Tolong!" seru Kiara dengan suara lemah. Ia mulai tak berdaya. Namun, kekuatannya kembali pulih saat melihat siapa yang datang menyelamatkannya.


"Kiara, bertahanlah!" pinta Hansa yang berusaha menerobos api yang menghalangi jalannya. Dengan penuh perjuangan, Hansa akhirnya dapat menerobos api itu dan berlari menggandeng tangan Kiara untuk membawanya keluar.


"Tidak ada jalan keluar. Pintu juga sudah dihalangi oleh api." Hansa menghentikan langkahnya melihat jalan ke arah pintu keluar sudah dikerumuni oleh api.


Ia melihat ke sana-sini untuk mencari jalan keluar yang aman untuk dilewati. Matanya menangkap jendela di gudang itu.


"Kita lewat jendela saja." Hansa segera menarik tangan Kiara. Ia memukul kaca jendela itu beberapa kali dengan tangannya.


Setelah berhasil pecah, ia keluar dari jendela itu diikuti oleh Kiara di belakangnya. Namun saking buru-burunya, tangan kanan Kiara tertancap di kaca jendela yang masih tersisa di jendela itu.


Dengan tidak memedulikan rasa perihnya, Kiara berusaha sekuat tenaga membebaskan tangannya yang tertancap itu.

__ADS_1


Ia dibuat tambah panik saat melihat ternyata bukan hanya gudang yang terbakar. Api itu ternyata melalap seantaro Kantor Pengadilan.


"Kiara, cepatlah!" Hansa membantu melepaskan tangan gadis itu dari kaca jendela. Ia berusaha tetap tenang agar gadis itu tidak semakin panik.


Kiara bahkan sudah hampir menangis saking paniknya. Ia menatap Hansa dengan perasaan bingung dengan apa yang harus dilakukannya agar tangannya terlepas dari kaca itu.


Hansa yang tidak tega, memeluk tubuh Kiara untuk mengalihkan rasa sakit gadis itu, sementara ia membebaskan tangan Kiara dari kaca jendela dengan sekuat tenaga.


Kiara meringis dan memejamkan mata sembari mencengkram baju Hansa karena Hansa yang memaksa membebaskan tangannya.


Hansa menguraikan pelukan mereka setelah tangan Kiara berhasil bebas. "Maafkan aku harus melakukan ini." Ucap Hansa menatap mata Kiara tulus. Kiara mengangguk. Hansa segera menarik tangannya dan melanjutkan langkah mereka keluar dari gerbang Kantor Pengadilan.



Lain dengan Kiara dan Hansa, Sima juga merasakan panik yang sama dengan Hansa. Ia mencari-cari sosok Weni yang belum juga ditemukannya. Tadi ia sudah mencoba mencari gadis itu di kamarnya. Tapi gadis itu tidak ada di sana.




Ia menendang pintu dapur dan mencari-cari keberadaan Weni. Benar saja. Gadis itu terlihat memojok di sudut dapur.



"Sima, kamu di sini?" Weni berlari hendak menghampiri Sima. Namun kakinya tidak sengaja tersandung dan menyebabkannya terjatuh dengan sangat kencang.



Beruntungnya tubuhnya tidak terkena api saat terjatuh karena dapur saat itu belum terlalu dikerumuni api.



"Weni!" Sima menghampiri Weni yang telah tergeletak tak sadarkan diri. Ia membopong tubuh gadis itu dan membawanya keluar dengan hati-hati.

__ADS_1



Sesampainya di luar, semua orang telah berkumpul. "Tidak ada yang kenapa-napa, kan?" Master Nick menanyakan kondisi setiap orang dan jangan sampai ada yang tewas menjadi korban kebakaran itu.


"Beruntunya kita semua selamat, Tuan." Lapor Hansa. "Tapi, banyak yang terluka." Lanjutnya sembari melihat tangan Kiara dan memeriksa lukanya.


"Aku pikir, kebakaran ini disengajakan." Ujar Kiara.


"Maksudmu ada yang sengaja membakar Kantor Pengadilan?" tanya Hansa. Kiara mengangguk membenarkan.


"Kalau memang ada yang sengaja membakar Kantor Pengadilan, pelaku itu pasti ada kaitannya dengan kasus pencurian kotak." Duga Hansa. Kiara mengangguk menyetujui. Mereka berdua berpikiran yang sama.


"Kakak ke-empatku mana?" Kiara panik celingak-celinguk mencari Sima di antara banyaknya penghuni Kantor Pengadilan yang berkumpul di luar gerbang Kantor Pengadilan. Ia tidak berhasil menemukan kakak ke-empatnya.


"Tenang. Dia pasti bisa menyelamatkan diri." Hansa berusaha menenangkan gadis itu. Kiara mengangguk untuk meyakinkan diri bahwa kakak ke-empatnya pasti bisa menyelamatkan diri.


Meski dalam situasi seperti saat ini, Hansa tetap merasa senang karena ini kali pertamanya Kiara mau lagi berbicara dengannya setelah beberapa hari ini ia diacuhkan.


Kiara dan Hansa melihat Sima yang berhasil keluar dari Kantor Pengadilan dengan seorang gadis di tangannya.


Kiara menghampiri Sima dan histeris melihat kondisi Weni yang tak sadarkan diri. "Weni kenapa?" tanyanya panik.


"Dia tidak apa-apa, ku harap. Dia hanya tidak sengaja tersandung dan terjatuh." Balas Sima menghilangkan kekhawatiran Kiara.


"Kalian menemukan petunjuk?" tanya Sima. Kiara dan Hansa sama-sama menggeleng.


"Tapi kami sepakat bahwa semua ini adalah kelakuan seseorang yang sengaja membakar Kantor Pengadilan." Sahut Kiara yang diangguki oleh Hansa.


Kiara mengerutkan kening tampak memikirkan sesuatu.


"Kamu kenapa, Kiara? ada seseorang yang kamu curigai sebagai pelakunya?" tanya Hansa melihat Kiara yang tampak akan mengatakan sesuatu. Kiara menangguk.


"Aku curiga kalau si jubah hitam ada hubungannya dengan kebakaran ini."

__ADS_1


__ADS_2