
"Kamu ... kamu adalah pengkhianat, Kiara!"
Kiara sedikit terlonjak. Ia belum pernah mendengar pria tua itu meninggikan suara sebelumnnya. Menteri Waze adalah pria tegas dan super misterius. Tapi ia selalu berbicara dengan nada santai dan rendah.
Kiara menelan ludah untuk berusaha menenangkan diri dan menjadi pemberani. Ya, ia memang pemberani. Namun bukan dengan pria tua ini. Oleh karena itu, ia berusaha tetap terlihat tenang.
"Guru bilang aku pengkhianat?" Kiara mengulang ucapan Menteri Waze.
"Jangan panggil aku gurumu kalau kamu bukan lagi di pihakku." Nada suaranya kembali santai. Kiara merasa keram di kedua tangannya karena mengepalkan tangan terlalu kuat.
"Aku bukan pengkhianat, guru. Aku masih setia padamu dan selalu menuruti perintah guru." Ujar Kiara manipulatif.
Menteri Waze menatapnya dan tertawa sinis. "Kamu sama bodohnya seperti Gurumu si Haw Fayes itu."
Kedua tangan Kiara kembali ia kepalkan dengan kuat. Kali ini bukan hanya keram yang ia rasakan. Tanpa sadar, kuku-kukunya berhasil menembus kulit tangannya dan mengeluarkan darah.
Kiara tidak suka pria tua menjijikan itu harus membawa-bawa mendiang Guru tercintanya yang selalu berperan sebagai seorang guru sekaligus ayah untuknya.
Ia mencoba tetap berbicara dengan normal tanpa mau menatap wajah pria itu. Ia takut harimaunya akan keluar jika melihat wajah menjijikan itu lama-lama.
"Aku tidak mengerti kenapa guru menganggapku pengkhianat. Padahal guru sendiri yang menyuruhku masuk ke Kantor Pengadilan dan mendekati orang-orang di sana." Kiara berhenti sejenak. Ia mengambil teko air dan menuangnya ke dalam sebuah cangkir.
Kiara membawa cangkir itu ke hadapan Menteri Waze yang ingin meraihnya. Ia pikir, Kiara menuangkan air untuknya. Namun, Kiara langsung menenggak air itu ketika tangannya sudah siap ingin menerima cangkirnya.
Menteri Waze hanya tersenyum berpura-pura ramah menghadapi perilaku gadis itu yang semakin kurang ajar padanya. Berani-beraninya bocah ingusan itu mengerjainya.
"Aku telah melakukan perintah guru. Mendekati orang-orang di Kantor Pengadilan. Bahkan aku menjadi orang yang dipercaya oleh Master Nick. Dan beliau melantikku menjadi anggota Kantor Pengadilan." Tutur Kiara.
Menteri Waze tersenyum meremehkan. "Hanya jadi anggota Kantor Pengadilan?" singgungnya. Kiara tertawa singkat.
"Kita perlu bersabar, guru. Sebentar lagi pria tua itu akan melantikku sebagai Anggota Tim Penyelidik." Kiara membantah singgungan Menteri Waze dan menghilangkan keremehan di wajah pria tua itu.
"Guru, apa pun yang akan terjadi, aku akan selalu berada di pihakmu." Janjinya dengan senyum manipulasi.
"Apa alasanku untuk mempercayaimu? aku tidak akan mempercayaimu dengan mudah, Kiara. Karena kamu sudah lama keluar dari kediamanku." Menteri Waze masih ragu.
__ADS_1
"Kamu bisa memegangku, guru." Kiara mengambil cangkir baru dan menyodorkannya pada Menteri Waze yang masih terdiam lama. Mungkin ia takut dikerjai lagi. Namun akhirnya ia menerima cangkir itu dan meneguk airnya hingga tandas.
"Tidak apa-apa lah. Lagi pula gadis ini sudah ku racuni. Hidupnya pasti tidak akan lama lagi."
Batin Menteri Waze tersenyum. Ia memang punya rencananya sendiri dan tidak pernah menganggap Kiara adalah lawan yang susah.
Tapi, Kiara juga mempunyai rencananya sendiri.
...----------------...
Kiara memasuki gerbang Kantor Pengadilan dan langsung disambut oleh Hansa yang menghadangnya.
"Kamu dari mana?" tanya Hansa. Kiara menatapnya sejenak dan berjalan tak menghiraukan pertanyaan Hansa.
"Kiara, kamu belum menjawabku." Hansa mengejar dan kembali menghadang Kiara.
"Panggil aku Nona Kiara, Tuan Hansa." Pinta Kiara dingin. "Baiklah, Nona Kiara." Balas Hansa.
"Kamu dari mana, Nona Kiara?" tanya Hansa mengganti panggilannya untuk gadis itu.
"Kamu pergi jalan kaki?" tanya Hansa memastikan dugannya tentang apa yang dilakukan oleh Kiara.
"Aku mengendarai kuda." Jawab Kiara. Hansa mengerutkan kening. "Bohong. Sepatumu kotor oleh lumpur dan tanah. Kamu pasti pergi dengan jalan kaki."
Kiara menghela napas berusaha mengontrol emosinya. Ia tahu memang sulit membohongi pria ini.
Tanpa menghiraukan Hansa, Kiara berjalan masa bodoh meninggalkan pria itu.
...----------------...
Tidak seperti Hansa dan Kiara, dua insan ini sedari tadi asyik memandangi langit malam yang dihiasi dengan bintang-bintang.
"Bintangnya indah, ya." Basa-basi Sima menguap dan meregangkan otot sembari melirik Weni yang pernah mengalihkan pandangannya dari lagit meski sudah beberapa kali Sima mencoba mencari perhatiannya.
"Bintang memang selalu indah." Respon Weni singkat dengan pandangan mendongak masih ke arah yang sama.
__ADS_1
Sima menghela napas berkali-kali dan menghembuskannya kembali. Ia mengusap-usap tengkuk dan bahunya memberikan kehangatan.
Cuaca saat itu memang dingin dan sejuk. Tapi bukan hanya karena itu ia merasa tidak tenang. Sima menggigit bibir bawah dan beberapa kali melirik Weni yang masih setia memandang bintang-bintang.
"Weni, aku mau ngomong sesuatu." Sima menghadap dan menatap Weni serius. Meski sedikit terkejut, Weni tetap tak mau mengalihkan pandangannya.
"Ngomong apa? ngomong aja." Pintanya. Sima memejamkan dan menghela napas panjang.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu?" tanya Sima dengan cara berbicara yang beda dari biasanya.
Weni hanya meliriknya sejenak dengan masih memangku dagu pura-pura tidak peduli. "Aku nggak merasakan apa pun. Satu-satunya yang kurasakan saat ini adalah sejuknya cuaca malam ini." Balasnya pelan.
Sima berdecak. "Bukan itu maksudku."
"Lalu apa maksudmu?" Weni pura-pura tidak mengerti.
"Maksudku, apa kamu tidak merasakan sesuatu untukku?" jawab Sima cepat. Ia meraih kedua tangan Weni termasuk tangan yang Weni gunakan untuk memangku dagu.
"Weni, aku rasa aku ... mencintaimu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama?" Sima mengungkapkan perasaannya pada Weni yang membulatkan matanya kaget.
Sedari dulu, Sima memang menyukai gadis-gadis cantik dan selalu berteman dengan mereka. Tapi ketika dia menggombal dan merayu dengan kata-kata cinta, jantungnya tidak pernah berdebar seperti sekarang.
Dengan Weni selalu berada di dekatnya saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang apa lagi menyatakan perasaannya seperti sekarang. Padahal ia sudah terbiasa dekat dengan banyak gadis cantik tapi tidak pernah merasakan hal yang sama seperti ketika ia bersama Weni.
Sedangkan Weni masih membulatkan mata tak percaya. Pikirannya seperti kosong. Hanya kalimat yang diucapkan oleh Sima yang seakan berputar di kepalanya.
Ia tadi memang berpikir Sima akan menggombalnya dengan kata-kata indah. Tapi ia tidak menyangka bahwa pria itu justru mengungkapkan perasaannya.
Weni sungguh bingung sekarang. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tahu, ini bukan pertama kalinya seorang pria menyatakan perasaan padanya.
Bari juga pernah melakukan hal yang sama. Ia ingat saat Bari menyatakan perasaan padanya, degup jantungnya tidak sekencang ini.
Weni tahu ia merasakan sesuatu untuk Sima. Namun, ia tersadar dan bangkit dari duduknya.
"Aku sudah mengantuk. Aku duluan, ya."
__ADS_1