
Kiara memainkan debu-debu di ruang tahanan yang ditempatinya. Tiba-tiba ia mendengar suara decitan pintu ruang tahanannya yang dibuka.
Ia melirik orang tersebut dan bangkit dari duduknya dengan wajah sumringah. "Gimana? apa aku dibebaskan dari tahanan?" tanyanya tak sabar.
Hansa hanya menaruh kotak berisi nasi dan lauk-pauk di lantai. "Ini untukmu. Makanlah!" pintanya lalu berbalik hendak pergi.
Kiara membuka kotak makanan itu dan melihat nasi dengan berbagai lauk lezat seperti paha ayam, sup ikan nila, dan ada juga beberapa kudapan. Kiara mencicipi salah satu kudapan dan melirik ke arah Hansa yang masih berada di sekitar Penjara.
"Makanannya enak-enak banget ... ." Pujinya dengan mulut yang penuh makanan. Ia kemudian mencicipi kuah sup ikan nilanya. "Mm ... ini juga enak banget ... . Nggak nyangka. Makanan tahanan ternyata enak-enak begini." Kiara terus mengoceh dengan mulutnya yang tak berhenti mengunyah.
"Master Nick bilang, bagaimana pun kamu adalah tahanan sekaligus tamu. Dia nggak mau bermasalah sama kakak-kakakmu dan Menteri Waze kalau kamu emang punya hubungan akrab dengan mereka. Makanya, dia suruh saya antar makanan yang enak-enak." Jelas Hansa yang hendak pergi dari Penjara.
"Tunggu!" seru Kiara berdiri. Ia membersihkan sisa makanan di mulutnya. "Apa Master Nick nggak bilang mau bebaskan aku dari tahanan?" ia berharap bisa segera dibebaskan, agar ia bisa bergabung menjadi Anggota Tim Penyelidik dan bisa langsung mencari tahu tentang kasus ke-tiganya yang terjadi lima tahun lalu.
Hansa hanya menggeleng sebagai balasan dan melesat pergi dari tempat itu. "Hey, aku belum selesai ngomong. Heh, lalat busuk!" serunya yang tak dihiraukan oleh Hansa.
Ia mengusap dadanya berusaha untuk tidak berubah menjadi monster saking emosinya.
Kiara kembali melirik makanannya. Tak tega mendiamkannya begitu lama. "Aha. Aku tau. Kayaknya aku bisa keluar dari sini, deh." Ia menjentikkan jari seperti menemukan ide.
Kiara memasukkan beberapa kudapan ke saku bajunya. "Sayang kalau dibuang. Bentar!" ia juga memasukkan ekor ikan nila yang masih sedikit basah oleh kuah sup ke dalam sakunya.
"Ah, nggak bisa. Terlalu banyak. Kelihatan banget lagi." Kiara mengeluarkan sedikit kudapan sampai saku bajunya tak terlihat begitu penuh.
"Oke, ini baru bagus. Saatnya drama."
Kiara membongkar dan membanting piring-piring ke tanah yang hanya beralaskan semen dingin di ruang tahanannya.
Beberapa Penjaga Penjara menghampiri dirinya yang tengah mengamuk. "Aku mau keluar! aku nggak suka makanan murahan ini. Aku udah terbiasa makan makanan mahal. Cepat keluarkan aku dari sini. Aku mau bicara sama Tuan bodoh kalian itu." Amuknya.
"Tahanan mengamuk. Sebaiknya kita bawa aja dia ke Master Nick untuk diadili." Ke-dua Penjaga Penjara bergegas membuka pintu ruang tahanan Kiara dan membawanya menuju Aula Pengadilan.
__ADS_1
Tak lama, seluruh Anggota Kantor Pengadilan telah berkumpul di Aula Pengadilan. Bersiap menunggu keputusan sang Hakim, Master Nick.
"Kita langsung aja. Aku nggak suka makanan yang kalian antar untukku." Kiara langsung buka suara.
"Sst, kamu nggak boleh berbicara duluan kalau nggak ditanya." Bari memperingatkan. Kiara tak peduli. Ia melirik salah satu pemuda yang terlihat sedang tertawa seperti meledeknya.
"Kamu berani menertawakanku?" sentak Kiara. Pemuda itu hanya tersenyum. "Lucu. Kamu bilang makanan yang kami antar nggak enak dan nggak cukup mewah. Tapi Tuan Hansa bilang, saat dia antar makanan tadi, dia sempat lihat kamu makan dengan lahap sampai mulutmu penuh oleh makanan." Ungkap salah satu Anggota Tim Penyelidik
"I ... itu ... itu karena aku menghargai makanan yang udah kalian buat. Menghargai kerja keras kalian." Kiara mencari alasan.
"Oh, ya? kalau begitu, ini apa?" Hansa berjalan ke arahnya dan mengacungkan saku baju Kiara yang sedikit basah karena ekor ikan yang ia masukkan ke dalam saku bajunya tadi.
Kiara tercengang.
"Kenapa si lalat busuk ini bisa seteliti ini?" batinnya.
"I ... ini ... di Penjara nggak ada kamar kecil. Ja ... jadi aku ... " Kiara menunduk berpura-pura terlihat malu agar mereka benar-benar mengira dirinya telah mengompol.
"Oh?" di luar dugaan. Hansa justru menggosok saku baju yang basah itu dengan kedua jarinya. Ia kemudian mencium aroma di kedua jarinya.
"Aduh, ketahuan nih pasti." Keluhnya dalam hati.
"Ini bau ikan. Pasti ini dari kuah sop ikan nila. Lagi pula aneh. Basahnya hanya di bagian saku baju." Hansa membuat Kiara tak bisa berkata-kata. Ia kehabisan kata untuk membela dirinya. Tak disangka, langkah yang ia ambil kali ini justru mengarahkan ribuan pisau ke arahnya.
'Duk'
Master Nick memukul meja cukup keras. "Berlutut!" pintanya pada Kiara. "Hah?" Kiara hanya melongo karena dirinya yang tak lagi memedulikan sekitarnya selain kalimat apa yang harus ia ucapkan untuk membela dirinya.
Bari berjalan ke tengah dan menendang kedua lututnya hingga membuatnya berlutut.
Berbagai macam kudapan yang ia sembunyikan di saku bajunya jatuh berhamburan di lantai.
__ADS_1
Kiara memejamkan mata pasrah akan nasib yang ia alami saat ini.
"Rasanya mau ku makan aja si Wakil Penyelidik nggak sopan ini." Batinnya mengamuk dalam hati.
Seluruh seantaro Aula tak mampu menahan tawa. Mereka tak segan-segan menertawakan gadis tahanan di hadapan mereka itu. Terkecuali Hansa. Ia tetap diam dengan ekspresi datarnya. Meski sebenarnya ia pun sedang berusaha setengah mati menahan tertawa.
"Waw, makanan yang nggak enak ternyata tetap dibawa pulang, ya." Ledek Bari ikut tertawa.
Sifat tenangnya terusik. Ia merasa seperti sedang dipermalukan. "Cukup!" bentaknya. Ia berdiri dan menatap seluruh wajah di Aula Pengadilan.
"Walaupun aku seorang tahanan, bukan berarti kalian pantas mempermalukanku." Kesalnya membuat semua orang yang ada di Aula Pengadilan terdiam.
"Aku ke sini sebenarnya cuman mau kasih solusi cara membuka kotak terkunci yang siang tadi kalian bahas." Nada bicaranya mulai ia turunkan.
"Aku tau siapa orang yang bisa membuka kotak itu. Dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membuka kotak itu." Ungkap Kiara.
Bari dan Hansa hendak menghentikannya berbicara.
Namun, Master Nick justru mengangkat sebelah tangannya. Menyuruh mereka diam dan membiarkan Kiara berbicara.
"Kalau menurut kamu memang ada, siapa yang bisa buka kotak itu?" tanya Master Nick. Kiara senang karena diberikan kesempatan berbicara.
"Dia adalah kakak ke-duaku. Kak Liam." Ucapnya.
Hansa mengerutkan kening. "Bukannya sang legenda Liam sudah lama menghilang dan sampai sekarang keberadaannya masih tidak diketahui?" sambungnya.
"Benar. Kakak ke-duaku memang telah lama menghilang. Tapi kita pasti bisa mencari keberadaannya." Usul Kiara terdengar kurang meyakinkan.
"Dia sudah lama menghilang. Sangat tidak mudah dicari." Sela Master Nick.
"Tapi, entah kenapa, saya yakin kalau pelaku aslinya bukan tahanan itu kalau kita lihat dari kematiannya yang aneh." Hansa membagikan pendapatnya.
__ADS_1
"Satu-satunya bukti sebenarnya adalah tahanan tadi. Tapi tahanan itu telah mati bunuh diri. Kita kehilangan satu-satunya bukti." Ujar Bari putus asa.
"Siapa bilang? kita masih punya cara kok." Sela Kiara.