Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Sadar dari koma


__ADS_3

Hansa memutuskan untuk kembali ke Kantor Pengadilan. Ia diperintahkan untuk kembali oleh Master Nick. Padahal ia masih ingin mencari Sima.


Sebenarnya ia tak ingin berhenti mencari sebelum dirinya berhasil menemukan Sima. Tapi apa boleh buat? Master Nick tampak agak mendesaknya untuk pulang. Dan itu bukan hanya sekedar permintaan. Melainkan sebuah perintah jika dilihat dari surat yang dikirimkan oleh Master Nick melalui merpati.


Selama perjalanan, ia tak henti-hentinya memikirkan tentang gadis itu. Apa kabarnya? memikirkan gadis itu, melemparnya ke kilas balik sebelum dirinya pergi mencari Sima.


Flash back:


Semua telah meninggalkan kamar tersebut. Hanya Hansa yang masih mematung tak berniat bergeser dari tempatnya berdiri.


"Gadis bodoh, Cepat sadar! kamu pasti kuat." Ucapnya dalam hati.


Ia tersenyum tipis. Entah senyuman manis atau senyuman pahit yang diukirnya. Ia pun tak tahu.


Perlahan, langkah kakinya mendekati ranjang gadis itu. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang. Untuk sesaat, tak ada yang ia lakukan. Hanya menatap wajah gadis itu dalam diam.


Sesaat kemudian, lidahnya baru bisa mengucapkan beberapa kata pada gadis yang sedang terbaring lemah itu.


"Kiara, bangunlah! maaf karena tidak menjagamu dengan baik." *Ucapnya.


Hanya itu kalimat yang mampu ia ucapkan. Kalimat yang ia yakin sampai ke alam bawah sadar Kiara walau hanya sayup-sayup.


Ia terus mengulang-ngulang kalimat yang sama.


Flash back off:


...----------------...


Menjelang pagi, Sima merasa ada pergerakan dari Kiara. Mulai dari tangannya, kelopak matanya, dan kerutan di alisnya seakan memaksa untuk tersadar dari tidurnya.


Sima menggoyangkan tangannya membantu Kiara untuk sadar. Perlahan, kelopak mata Kiara terbuka dan akhirnya ia kembali bisa menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Matanya tergerak ke kanan dan ke kiri. Kiara berusaha menoleh meski kepalanya terasa sangat pegal.


Matanya menangkap wajah Sima yang menatapnya dengan senyum lebar. Saking senangnya, ia sampai mengecup tangan dan kening adiknya penuh sayang.


Kiara memaksakan senyum meski bibir dan kulitnya masih terasa kaku. "Kakak ke-empat?" sahutnya dengan suara pelan dan agak serak.


"Sudah delapan tahun kita berpisah. Saat aku ke sini untuk bertemu denganmu, kamu kok tega-teganya malah tidur. Lama banget lagi." Protes Sima yang langsung mencerocos. Kiara tertawa kecil melihat kakaknya yang sama sekali tak berubah. Ia masih kakak ke-empatnya yang bawel.


Kakaknya yang satu itu memang selalu bawel menceramahinya jika ia terluka atau kenapa-napa. Ia memang selalu lupa diri bahwa kenyataannya, ia sama nakal seperti Kiara. Bahkan terkadang ia yang mengajak Kiara untuk melakukan hal nakal dengannya. Tapi jika terjadi apa-apa pada Kiara, ia juga yang akan marah pada adiknya.


"Mana yang lain?" tanya Kiara. Ia tahu jika sengaja mengalihkan percakapan, kakaknya itu pasti akan lanjut menceramahinya.


"Sebentar, aku panggilkan." Sima bangkit dari duduknya dengan bersemangat. Ia sempat mengusap air mata yang terselip di sudut matanya saking terharunya.


Beberapa saat kemudian, Rubby masuk dan berhenti di depan ranjang Kiara. "Gadis bodoh. Kau telah membuat kami semua khawatir." Omelnya.


"Selalu." Ralat Kiara yang sadar bahwa bukan hanya kali ini ia membuat semua orang khawatir. Tapi sudah sering. Bisa dibilang selalu.


"Entah yang ke berapa kalinya, kan?" sambung Sima. Kiara mengangguk dan tertawa kecil. Ia melihat wajah Rubby yang masam seolah marah padanya karena selalu membuat khawatir.


Ingat! sembuh dari koma. Bukan dari racun. Tentu racunnya masih tersimpan di dalam tubuhnya.


"Ngomong-ngomong, aku kenapa bisa di sini, ya?" tanyanya mengerutkan kening. "Seingatku saat itu sedang pergi menemui kakak ke-empat. Kemudian ... aku nggak ingat lagi." Ia bertanya-tanya.


Sima mengerutkan kening. "Kamu pergi menemuiku? aku aja baru tiba beberapa hari yang lalu. Aku bahkan nggak tau kalau kamu lagi sekarat." Herannya.


Kiara menghela napas sejenak. "Aku juga tau." Sahutnya. "Tau apa?" tanya Sima.


"Istirahatlah dulu. Jangan langsung bangun. Kamu masih belum sepenuhnya sembuh. Nanti kalau sudah baikan dan sudah ingat kejadiannya, baru bicarakan pada kami." Pinta Rubby tak ingin membebankan pikiran adiknya yang baru pulih dari komanya. Ia menarik Sima untuk ikut keluar bersamanya.


"Adik ke-lima. Kalau butuh apa-apa, katakan saja padaku. Aku akan memasakkan makanan yang enak untukmu." Teriaknya berusaha meronta dari cengkraman Rubby yang kuat di kerah bajunya.

__ADS_1


Kiara tersenyum senang dapat kembali berjumpa dengan kakak ke-empatnya. Tapi entah kenapa ia merasa ada yang kurang dari senyumnya. Seperti masakan yang kurang terasa bumbunya. Tapi ia tidak tahu bumbu apa yang kurang.


Apa mungkin ini efek karena baru terbangun dari tidurnya yang cukup panjang? atau efek dari beberapa potongan ingatannya yang belum kembali?


Entahlah. Jangan bertanya lagi. Ia sendiri pun tidak mengerti.


Ia mencoba berdiri sendiri meski tubuhnya masih terasa kaku. Kedua tangannya bertumpu pada tepi ranjang.


Ia nyaris terjungkal ke belakang. Untungnya tangannya sigap meraih ujung ranjangnya.


Kedua tangannya ia angkat di udara untuk merayakan keberhasilannya.


Kiara membuka pintu dan setelah beberapa hari tertidur, ia akhirnya bisa kembali melihat dunia luar.


Kiara meregangkan tubuhnya lega karena telah sembuh dari komanya. Ia melihat Weni yang berjalan melewatinya. Gadis itu langsung terhenti ketika melihatnya.


"Kiara, kamu sudah bangun?" ia menyambar memeluk tubuh Kiara dan membuat gadis itu nyaris terjungkal jika tubuhnya tak sigap menyeimbangkan tubuh.


"Baguslah, kamu sudah sadar." Girangnya. Ia mengurai pelukan dan meneliti wajah dan tubuh Kiara.


"Apa yang kamu lihat?" heran Kiara merapikan dan mengebas pakaiannya karena Weni yang tadi memeluknya.


"Kamu tampak sangat kurus. Si bodoh itu memberikanmu makan tidak sih selama kamu tidak sadarkan diri? nggak mungkin dia tidak memberimu makan, kan?" protes Weni seperti mengomel pada angin.


"Siapa yang kamu sebut bodoh itu?" tanya Kiara penasaran. "Siapa lagi? kakak ke-empatmu lah." Jawabnya tanpa sadar.


Kiara menatap matanya seperti orang yang sedang mengintimidasi. Weni sadar ia salah ucap. Ia takut Kiara berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Sima.


"Kamu tampak sudah akrab sekali dengannya. Jangan-jangan kalian ... " ia sengaja menggantung ucapannya dan tersenyum menggoda Weni yang tampak sudah panik.


"Apa, sih? aku dan dia hanya teman." Aneh sekali. Padahal jika apa yang diucapkan oleh Kiara itu memang tidak benar, harusnya ia tidak perlu panik begitu.

__ADS_1


"Aku pikir, kamu wanita yang nggak akan bisa akrab dengan pria." Kiara masih mencoba menggodanya.


"Sudahlah. Aku tidak mau bicara denganmu." Weni berlari kecil meninggalkan Kiara yang tertawa puas melihat gadis itu yang jelas sekali sedang salah tingkah.


__ADS_2