Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Hansa mengungkap kebenaran


__ADS_3

Pembangunan Kantor Pengadilan sudah hampir selesai. Untuk hal ini, Kaisar pun bercampur tangan dan harus ikut terjun selama proses pembangunan.


Kiara hanya menunggu untuk rencana selanjutnya. Jangan sampai ia lengah dengan rencana sebenarnya.


di tengah lamunannya, Kiara merasa tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Ia menoleh dan mencoba memberontak saat tahu yang menarik tangannya adalah Hansa. Ia hanya bisa mengikuti langkah pria itu saat tahu usahanya sia-sia karena Hansa menggenggam pergelangan tangannya terlalu kuat.


Hansa membawa Kiara ke halaman belakang Kantor Pengadilan yang sedang dibangun. Jauh dari orang-orang.


di sana, Hansa baru membebaskan tangan Kiara dari genggamannya. Kiara mengusap pergelangan tangannya yang tadi digenggam dengan kuat oleh Hansa. "Kenapa kamu bawa aku ke sini?" ketusnya menatap tajam Hansa.


Hansa menghela napas panjang. "Saya hanya mau memberitahu tentang musuh sebenarnya." Sahutnya rendah. Berusaha agar percakapan mereka tak dikuping orang lain.


"Musuh?" Kiara menyipitkan mata tidak mengerti.


"Iya. Musuh kamu yang sebenarnya. Musuh yang seharusnya kamu habisi itu bukan kami. Melainkan orang yang selalu kamu dukung itu." Ceramahnya.


Kiara tersenyum sinis. "Musuhku adalah kalian yang menyembunyikan kebenaran. Aku tau dengan jelas siapa musuhku yang sebenarnya. Tapi kalian malah memilih menyembunyikan kebenaran dan tidak membersihkan nama baik kakak ke-tigaku yang selalu setia pada Kaisar." Ia menumpahkan emosinya.


Hansa menutup mulut dan memilih mendengarkan kekesalan gadis itu sebelum memilih bersuara dan membantah.


"Kamu nggak perlu mengingatkan siapa lawan dan siapa kawan. Sebab menurutku semua yang ada di hadapanku hanya lawan. Tidak ada kawan." Tekannya memilih bergegas dari sana.


Hansa kembali menarik tangan gadis itu dan menenangkannya. Ia mengharuskan Kiara mendengar apa yang ingin ia sampaikan.


"Kamu dengar saya dulu. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Desaknya.


"Apa?" Kiara menjauhkan tangannya dari Hansa kasar.


"Kalau kamu memang berniat balas dendam, kamu harus tau ini. Ini tentang kakak ke-tigamu." Hansa memperingatkan dan berhasil membuat Kiara tenang dan mau mendengarnya.

__ADS_1


"Tama Fayes mati karena dihukum mati oleh Master Nick, itu memang betul. Tapi itu kami lakukan karena terpaksa." Ia membuka pembahasan. Kiara yang tadinya malas meladeni pria itu kini menyimak dengan serius.


"Saudara Fayes dituduh meracuni Tuan Putri." Lanjutnya. Kiara memicingkan mata. "Siapa yang menuduhnya?" kali ini, ia tampak benar-benar penasaran.


"Menteri Waze memfitnah saudara Tama dan menyebabkannya dihukum mati." Jawabnya.


Kiara menggelengkan kepala tidak terima. "Meskipun memang Menteri Waze yang menuduhnya, Yang Mulia Kaisar harusnya sadar kalau kakak ke-tiga tidak bersalah." Bantahnya.


Hansa menghela napas dalam. "Yang Mulia Kaisar tau kok. Tuan Nick juga tau. Kami semua di Kantor Pengadilan tau. Tapi kami nggak bisa berbuat apa-apa pada saat itu. Semua bukti menunjukkan kalau saudara Tama memang yang meracuni Tuan Putri sampai membuat Tuan Putri trauma dan kehilangan setengah memori masa kecilnya." Jelas Hansa panjang.


"Tuan Putri trauma sampai hilang ingatan?" ulangnya tak yakin. Sebab hal seperti ini memang dia sama sekali tidak tahu. Atau memang kejadian itu sengaja dirahasiakan oleh Kaisar karena takut Tuan Putri akan kembali trauma jika mengingat kejadian itu.


Apa lagi, ia adalah seorang Tuan Putri yang tidak boleh terlihat terlalu lemah di hadapan rakyat dan semua orang. Memang tidak semudah itu menjadi seorang Tuan Putri.


Hansa mengangguk membenarkan.


Flashback:


"Aku harus selalu berada di sisi Yang Mulia Kaisar, Tuan Putri. Maaf nggak bisa temani kamu main." Ucapnya lembut.


Hyra mengerucutkan bibir. "Tapi aku adalah putri Yanda. Kamu harus menjagaku. Kalau aku bilang ke Yanda kamu nggak temani aku main, Yanda pasti akan memarahimu." Alasannya.


Tama berpikir sejenak. Ia menghembuskan napas pasrah. "Baiklah." Kedua mata Hyra langsung bersinar. Wajarlah. Ia tidak punya siapa pun yang bisa dijadikan teman. Yanda dan Bundanya sangat sibuk. Sedangkan pelayan-pelayannya tidak asyik diajak bermain.


"Tuan Putri mau main apa?" Tama berjongkok untuk menyamakan posisi tubuh mereka. Hyra tampak berpikir sejenak.


"Kita main petak umpet saja." Usulnya meski saat itu hari sudah mulai gelap. Tama mengernyit berat. Ia melirik ruangan di mana Kaisar dan Menteri Waze sedang berdiskusi.


"Baiklah. Satu kali saja, ya. Setelah itu ku antar Tuan Putri istirahat." Syaratnya yang langsung disetujui Hyra.

__ADS_1


"Tuan Tama berjaga, ya. Aku yang akan sembunyi." Hyra langsung berlari mencari tempat yang cocok dijadikan tempat persembunyiannya.


"Tuan Putri, jangan jauh-jauh sembunyinya!" ia memperingatkan. Ia berbalik menghadap pohon dan menghitung dalam hati. Ia merasa benar-benar konyol harus bermain petak umpet dengan seorang gadis kecil. Dulu ia juga sering bermain petak umpet dengan Kiara. Adik ke-lima yang setiap kali mengingatnya, membuat kerinduannya semakin bertambah.


~


Hyra bersembunyi di sebuah gudang. Ia terbatuk kecil menghirup debu tebal di gudang itu. Apakah para pelayan tidak pernah membersihkan ruangan ini?


Ia harus menahan napas agar tidak menghirup debu-debu di ruangan itu. Merasa tidak tahan lagi, Hyra segera beranjak keluar. Ia beralih bersembunyi di balik pohon tak jauh dari situ.


Selang beberapa detik, telinganya seperti mendengar suara kasak-kusuk dua orang sedang berbicara. Ia menggeser kepalanya untuk mengintip dengan wasapada tingkat tinggi.


Meski saat itu keadaan sedang gelap gulita, ia dapat melihat dengan jelas wajah orang itu. Ya, dia adalah Menteri Waze. Hyra hanya mengenal Menteri Waze. Ia tidak mengenal orang yang bersama Menteri Waze sebab wajahnya tertutup masker dan mengenakan jubah berwarna hitam.


Hyra mengerutkan kening dan menajamkan pendengaran. Berusaha mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.


"Aku akan membunuh utusan-utusannya terlebih dahulu. Sampai Yang Mulia Kaisar tidak punya kekuatan lagi, baru akan menghancurkannya." Tekad Menteri Waze. "Aku juga akan berbaik hati memusnahkan Permaisuri agar dia bisa menemani suaminya mati, hahaha."


Hyra menutup mulut terkejut mendengar percakapan kedua orang itu.


"Mereka mau membunuh Yanda dan Bunda. Nggak bisa. Aku harus kasih tahu Yanda soal ini." Batinnya.


Ia tidak bisa menghentikan tubuhnya yang gemetar hebat. Keringat dingin mulai bercucuran. Dari awal ia memang tidak begitu suka dengan Menteri Waze. Naluri anak kecilnya merasa pria itu punya aura negatif. Ia selalu merasa tidak nyaman berada di dekat pria tua itu, apa lagi ketika melihat Ayahandanya mengobrol dan berdiskusi dengannya. Benar-benar membuatnya takut dan tidak tenang.


Perlahan kakinya mundur ke belakang. Waspada agar kedua orang itu tak menyadari keberadaannya.


"Tuan lupa kalau Yang Mulia Kaisar mempunyai seorang putri." Orang yang bersembunyi di balik jubah hitamnya itu mengingatkan.


Menteri Waze terdiam sejenak. "Benar. Dia punya Putri Hyra. Gadis kecil itu selalu takut ketika memandangku. Ku pikir aku juga akan membuatnya ... " Menteri Waze menghentikan kalimatnya ketika mendengar langkah kaki seseorang yang tergesa-gesa di balik pohon tak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Ia menoleh dan memergoki seorang gadis kecil berdiri di sana.


__ADS_2