
"Akhirnya kami tidak jadi pergi. Apa kamu senang?" Sima menggoda Weni. "Diamlah!" pinta Weni menyikut dada Sima dan berjalan mendahului pria itu. "Weni, tunggu aku!" Sima mengejar dan berusaha mensejejarkan langkah di samping Weni.
Tingkah laku dua insan itu diperhatikan sedari tadi oleh Bari yang memandang mereka dengan memicingkan mata.
Kiara berusaha tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan kehadiran Hansa di situ. Ia membalikkan tubuh dan melangkah melewati Hansa yang terus menatapnya.
"Ada apa dengan kalian berdua?" Master Nick mengejutkan kedua pria yang tengah menatap ke arah yang sama.
"Tuan Nick." Sapa Hansa dan Bari bersamaan. Master Nick melonjongkan kepala mencoba menemukan objek apa yang berhasil menarik perhatian dua pria itu sampai tak mengalihkan pandangan. Namun, ia tidak menemukan apapun yang menarik di sana.
"Apa yang kalian lihat?" tanyanya berusaha tetap terlihat berwibawa dan tidak terlihat penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Tuan Nick." Hansa dan Bari sama-sama mengelak. "Saya permisi, Tuan Nick." Bari undur diri.
Hansa menatap Master Nick canggung. "Saya juga permisi, Tuan Nick." Ia menyusul Bari yang sudah lebih dulu menghindari rasa penasaran dan tatapan curiga Master Nick tentang sesuatu yang mereka perhatikan.
"Aku ke sini ingin mengajak mereka mengobrol, kenapa mereka malah pergi?" gumam Master Nick berdiri seorang diri di halaman depan Kantor Pengadilan.
...----------------...
Weni menuju dapur hendak memasak. "Apa yang kamu lakukan di sini?" ia terkejut melihat pria yang setia membuntutinya kini sedang bergulat dengan alat masak di dapur.
"Lagi masak." Jawab Sima santai. Weni dengan cepat menghampiri kuali yang berkobaran api di bawahnya.
"Emang kamu bisa masak? jangan sembarangan kalau nggak bisa." Omel Weni. Sima menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap Weni.
"Aku bisa masak kok." Jawabnya singkat dan kembali menyibukkan diri dengan aktifitasnya.
"Bohong. Aku nggak percaya kamu bisa masak." Bantah Weni takut membiarkan pria itu memegang peralatan masak dan tungku api. Ia tidak yakin pria nakal sepertinya pernah memasak.
"Aku bisa, Weni. Sangat bisa malah. Aku akan percaya diri, karena aku bahkan pandai memasak." Ia kembali meyakinkan Weni dengan kalimatnya tanpa mengalihkan tatapan dari kesibukannya.
"Memang Kiara tidak pernah memberitahumu kalau aku biasa memasak untuknya?" sahut Sima.
Weni tampak berpikir dan berusaha memutar otaknya. Mencoba mengingat apa Kiara pernah mengatakan tentang itu sebelumnya?
__ADS_1
Selang beberapa detik, Weni menggeleng ragu. "Nggak. Nggak pernah kayaknya." Ujarnya.
"Nggak mungkin dia nggak pernah membicarakan soal kakak ke-empatnya yang ahli memasak ini." Sima membanggakan diri sembari mengedipkan sebelah mata pada Weni yang langsung bergidik.
Gadis itu kembali memutar otaknya. Berusaha mengingat apa Kiara pernah memberitahu hal serupa padanya.
*Jadi ini masakanmu? kalau begitu, aku harus bilang kalau masakanmu ini enak banget. Masakan terenak yang pernah aku rasa. Nggak ada bedanya dengan masakan kakak ke-empatku." Puji Kiara*.
Weni manggut-manggut. "Oh, aku ingat. Kiara memang pernah mengatakannya." Sahutnya. Ia memilih duduk di kursi sembari menunggu dan memperhatikan cara memasak Sima.
Weni mengerutkan kening. "Ku perhatikan, cara memasakmu bar-bar sekali. Benaran nggak sih kamu bisa masak?" Weni kembali merasa ragu.
"Kamu sendiri yang dengar Kiara mengatakannya, kan?" Sima tetap melanjutkan kegiatannya dengan santai meski gadis itu ragu akan kemampuan memasaknya.
Weni bergidik ngeri dan bangkit dari kursi. "Sudahlah, aku tunggu di luar saja. Nanti kalau tungku apinya meledak cepat-cepat keluar, ya." Pesan gadis itu keluar dari ruangan memasak itu.
"Tungku api meledak? dia benar-benar sangat meremehkanku." Batinnya.
...----------------...
Kiara memilih mengurung diri di kamarnya sejak keberangkatan kakak pertama guna menghindari pria yang sedang tak ingin ia temui.
Selama berjam-jam ia tidak merasakan kendala apapun selama mengurung diri di kamar. Namun kali ini, kendala itu akhirnya muncul.
Ia merasakan sakit yang hebat di perutnya. Kiara sangat ingin ke kamar kecil. Tapi ia takut berpapasan dengan Hansa di saat ia sedang memilih menghindari pria itu.
Selama beberapa menit menahan hasratnya untuk tidak membuang isi makanan di perutnya. Namun detik ini ia benar-benar sudah tidak tahan.
"Toilet. Aku harus ke toilet." Ujarnya berlari menembus pintu kamar dan langsung menerobos kamar kecil.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Kiara mempercepat langkahnya untuk menghindari berpapasan dengan Hansa.
__ADS_1
Namun, Master Nick justru memerintahkannya untuk berdiskusi seperti yang biasanya ia lakukan.
Pria itu memang menepis keberuntungannya. Kiara mencoba terlihat biasa saja saat berdiskusi penting bersama Master Nick dan Hansa. Kali ini, Bari juga ikut bersama mereka setelah sebelumnya, pria itu tidak pernah hadir karena merekaa mendiskusikan sesuatu yang agak di luar kasus atau misi. Makanya Bari tidak diikut sertakan.
Sebisa mungkin Kiara menghindari kontak mata yang berkali-kali akan tercipta di antara mereka berdua selama berdiskusi. Untungnya, Kiara memutuskan kontak mata lebih dulu.
Selesai berdiskusi, Kiara berjalan malas. Mereka mendiskusikan hal yang kurang penting menurutnya. Master Nick hanya menyampaikan soal tugasnya yang sempat tertunda. Soal ia yang akan dilantik menjadi Anggota Tim Penyelidik jika ia berhasil menyelesaikan kasus yang dipercayakan Master Nick.
Kiara tersenyum tipis memperhatikan Bari yang terlihat sibuk. Ia tahu bahwa pria itu pasti tengah mencari keberadaan gadis pujaan hatinya yang tak lain adalah Weni.
Kiara terkejut dan reflek menepis saat merasa tangannya disentuh dan berusaha digenggam oleh seseorang. Ia menoleh dan menatap orang itu. Selama beberapa detik, mata mereka saling bertemu. Ia menciptakan kontak mata itu. Ya, mata itu. Mata yang ingin ia hindari. Ada rindu yang tertahan di hatinya saat menatap mata pria itu. Sudah berapa hari ini, ia tidak pernah menatap mata pria itu secara langsung.
Kiara langsung memutuskan kontak mata saat tersadar. Ia melangkah berusaha menjauh dari Hansa.
"Kiara!" Hansa berusaha menahan tangan Kiara yang menepisnya. Pria itu ikut mempercepat langkahnya menyusul Kiara yang melangkah tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Kiara, katakan ada apa denganmu?" Hansa menarik tangan Kiara dan memaksanya membalikkan tubuh menghadapnya.
"Apa, sih? kenapa mengejarku?" tanya Kiara tetap berusaha menghindari tatapan tajam Hansa.
"Saya mau kamu mengatakan yang sejujurnya. Ada apa denganmu? apa ada masalah? atau saya berbuat salah padamu?" Hansa memberikan pertanyaan beruntun yang tentu saja tak bisa dijawab oleh Kiara.
"Mau apa?" hanya itu yang mampu diucapkan Kiara untuk menyembunyikan kekecewaan dan kesedihan di hatinya.
"Saya mau kamu jujur. Kenapa sikapmu berubah belakangan ini?" Hansa memberikan pertanyaan inti yang memang sangat ingin ditanyakannya sejak tempo hari saat sikap Kiara yang perlahan berubah.
Kiara tak lagi mencoba menghindari tatapan Hansa. Kali ini, ia balas menatap bola mata pria itu lekat dan dalam.
"Sebelum aku jawab, aku juga ingin kamu berbicara jujur." Ia semakin menenggelamkan tatapannya pada kedua bola mata pria itu.
Hansa menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut gadis itu.
"Tuan Hansa, sekali lagi dan untuk terkahir kalinya aku bertanya ... " Kiara menjeda ucapannya dan menelan ludah untuk menenangkan diri.
"Apa kamu ... mencintaiku?"
__ADS_1