Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kerenggangan hubungan?


__ADS_3

Hansa menghampiri Kiara yang tampak tengah bersenda gurau bersama Weni. Ia langsung meraih lengan gadis itu dan membawanya sedikit jauh dari keramaian.


"Hansa, kenapa tiba-tiba menarikku?" Kiara terlihat bingung namun juga penasaran saat melihat raut wajah Hansa yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Kamu belum dengar kabar?" Hansa memancing dengan pertanyaan. Membuat Kiara tambah penasaran. "Kabar apa? cepat beritahu aku!" desaknya tak sabar.


"Yang Mulia Kaisar memintaku menggantikan posisi Menteri Waze selama perjalanan menuju pernikahan Tuan Putri di kota D." Ungkapnya memelankan suara. Ada jeda sesaat sebelum Kiara menatapnya penuh tanda tanya. Gadis itu sepertinya belum terlalu mengerti atau hanya tidak terima dengan kenyataan itu.


"Kenapa Yang Mulia Kaisar mengutusmu?" Kiara mengerutkan keningnya. Hansa menghela napas sejenak. "Aku rasa beliau sengaja melakukannya untuk sebuah alasan. Tapi aku sendiri nggak bisa menebak alasannya." Ia menggeleng pasrah.


Kiara terdiam sejenak. "Tapi bukannya itu sama aja menempatkanmu dalam bahaya? apa maksud beliau memberi titah itu?" protesnya dengan suara pelan.


"Kiara, ini sudah titah beliau. Kita nggak berhak menanyakan keputusan yang telah Yang Mulia Kaisar tetapkan." Ia mencoba menenangkan kekasihnya yang tampak mulai emosi.


"Tapi beliau mungkin sengaja melakukannya untuk persiapan menyerang Menteri Waze. Dan Menteri Waze adalah orang yang sangat licik. Dia bisa aja melawan dan kembali merebut posisinya. Kalau sampai itu terjadi, nyawamu bisa dalam bayaha." Protes Kiara lagi. Hansa tak menyahut. Meski dalam hati ia membenarkan dugaan kekasihnya. Dalam benaknya pun bertanya-tanya apa motif Kaisar membuat keputusan yang tidak aman bagi dirinya itu?


"Nggak bisa seperti ini. Kita harus protes." Ia hendak melangkah namun Hansa berhasil mencegahnya.


"Kiara, tolong dengarin aku kali ini dan jangan bertindak gegabah! kalau kamu gelisah begini justru akan semakin menimbulkan kecurigaan Menteri Waze." Nasihatnya sedikit mengeraskan suara untuk menyadarkan Kiara.


Kiara akhirnya mampu mengendalikan diri. Dari raut wajahnya ia masih terlihat belum tenang. Ia hanya diam sembari menatap tanah yang dipijaknya.


Hansa menarik Kiara ke dalam pelukannya untuk menanangkan emosinya. "Kamu tenang aja. Aku pasti akan baik-baik aja. Lagipula, Yang Mulia Kaisar nggak mungkin akan membahayakan nyawa orang lain demi rencananya." Ia mengusap pundak gadis itu untuk memberikan ketenangan.


Wajar jika Kiara menjadi emosi begitu. Hansa sendiri saja tidak tahu apakah ke depannya nasibnya akan baik-baik saja jika mematuhi perintah Kaisar. Tapi bagaimana pun, sebagai seorang bawahan, ia harus selalu mematuhi perintah atasannya tanpa menanyakan alasan.


Entahlah. Ia hanya merasa masalah yang akan datang sepertinya akan jauh lebih rumit.

__ADS_1


Akhir-akhir ini suasana hati Hansa sedang tidak baik-baik saja. Tentu ini semua karena ia harus menanggung tugas sebagai seorang Menteri Sekretariat yang belum pernah ia geluti sebelumnya.


Dirinya sama sekali tidak berpengalaman dalam mengurus masalah negara maupun Kerajaan. Selama ini, ia hanya tekun dalam menjalankan perintah untuk memecahkan kasus-kasus. Tak pernah sebelumnya ia sibuk dengan tugas yang langsung menghadapkannya dengan rakyat dan para pejabat lainnya. Ia tidak mengerti kenapa Kaisar malah memilih orang tidak berpengalaman sepertinya untuk menampung tugas itu.


Apalagi hatinya semakin mendua karena tidak bisa leluasa bertemu dengan Kiara. Bekerja di dalam Istana membuatnya hampir tidak pernah mengobrol atau sekedar berpapasan dengan kekasihnya.


Tangan Hansa terhenti sejenak saat sedang memungut kertas-kertas yang akan menjadi tugasnya.


Flashback:


"Gimana kalau Yang Mulia Kaisar akan menetapkan posisimu untuk menjadi Menteri Sekretariat. Kalau sampai itu terjadi, berarti hubungan di antara kita nggak akan berjalan dengan mudah. Gimana kalau kamu nggak mencintaiku dan beralih pada gadis lain?" Rengek Kiara.


Hansa hanya diam sambil memberikan tatapan menenangkan pada gadis itu.


Flashback off


Jujur, Hansa juga merisaukan hal yang sama. Jika Kaisar menetapkannya menjadi Menteri Sekretariat Kerajaan, maka hubungannya dan Kiara tak lagi semudah dulu. Yang ia khawatirkan bukanlah perasaannya pada Kiara. Karena selamanya pria itu pasti tetap akan mencintai gadis itu.


Kali ini ia kembali menyempatkan diri bertemu Kiara diam-diam tak jauh dari Kantor Pengadilan. "Kiara, kamu nggak usah khawatir. Hatiku pasti selamanya akan tetap untukmu." Ia mencoba meyakinkan Kiara agar gadis itu tak sedikit pun meragukan cintanya.


Kiara menatap bola mata Hansa dalam. "Aku nggak meragukan cintamu, Hansa. Aku juga nggak meragukan keseriusanmu. Aku hanya meragukan hubungan kita." Ia menunduk dan menghela napas berat. "Apa kita emang harus berpisah?" ujarnya di luar dugaan.


Hansa membulatkan mata. "Mana boleh begitu. Lagipula, apa yang kita takutkan belum tentu terjadi. Dan aku yakin nggak akan pernah terjadi." Yakinnya. Kiara menatap tidak mengerti.


"Aku yakin Yang Mulia Kaisar memintaku menjadi Menteri Sekretariat cuma untuk sementara karena terdesak." Duganya.


Kiara mengerutkan kening. "Kenapa kamu bisa yakin banget?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Yang Mulia Kaisar nggak mungkin memilih seseorang yang nggak berpengalaman sepertiku. Beliau juga nggak mungkin mengorbankan masa depan Kerajaan karena memilih Menteri yang salah." Ucapannya bagai angin yang dapat menyejukkan hati Kiara yang merasa tenang. Meski begitu, ia tetap tidak bisa tidak memikirkan hubungan mereka yang terancam.


"Apa kamu lagi sibuk hari ini? punya waktu untuk menemaniku jalan-jalan, nggak?" tanyanya penuh harap.


Hansa tampak memelas. "Maaf, hari ini sepertinya tidak bisa. Lain kali kalau aku nggak terlalu sibuk, aku pasti akan membawamu ke mana pun kamu mau pergi." Janjinya.


"Aku mengerti." Kiara berusaha menyembunyikan wajah lesunya. "Aku pamit, ya." Ia memeluk tubuh Hansa sebagai salam perpisahan dari pertemuan mereka hari itu. Entah selanjutnya mereka masih bisa bertemu atau tidak.


Hansa mengecup kening Kiara singkat sebelum membiarkan gadis itu pergi.




Hyra merasa bosan dan tidak tahu harus berbuat apa karena dua hari lagi ia akan diberangkatkan menuju kota D untuk melangsungkan pernikahannya di kota itu.



Deon datang dan membungkuk hormat. "Salam, Tuan Putri. Izinkan saya bertanya, apa ada hal lain yang Anda butuhkan untuk pernikahan Anda?" tanyanya dengan suara tegas namun sopan.



Hyra tersenyum lembut meski ia bisa melihat dengan jelas pria itu berusaha menghindari senyumnya.



"Duduk di sini!" pintanya menepuk kursi kosong di sampingnya. Namun ia bingung kenapa Deon tak bereaksi. "Kenapa?" tanyanya menyuarakan kebingungannya.

__ADS_1



"Seorang Pengawal rendahan sepertiku tidak pantas duduk bersama Anda, Tuan Putri."


__ADS_2