Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Penyebab Weni tak bisa melihat


__ADS_3

Kiara mengerutkan kening tak mengerti. "Maksudmu? bukannya kakak ke-empat bilang kamu terjatuh dan kelapamu membentur dengan keras. Jadi mungkin itu yang menyebabkan matamu tak bisa melihat."


Flashback:


Weni terperangkap di dapur setelah tahu api sudah mulai mengelilinginya. "Tolong! tolong aku!" seru Weni berharap ada yang menolongnya.


Ia berjuang mati-matian untuk keluar dari sana. Weni mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa memadamkan api, namun ia rasa itu tidak berguna. Ia tidak boleh lebih lama lagi berada di sini. Karena api tampak semakin besar dan menjalar ke mana-mana. Untungnya belum sampai memenuhi dapur.


Weni menutup kelapa dan berteriak histeris. Ia tidak ingin menyerah di sini. Tidak sekarang. Namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa.


Kepalanya mendongak saat mendengar pintu didobrak oleh seseorang. Dengan penuh harap, Weni meminta orang itu menolongnya. Namun matanya segera menyipit. Api yang menghalangi jalannya membuat pandangannya buram tertutup oleh asap dan api.


Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Kini ia dapat melihat dengan jelas sosok itu. Sosok itu mengenakan jubah berwarna hitam dengan wajah tertutupi masker penyamar. Meski tak dapat melihat wajah dari sosok berjubah hitam itu, Weni bisa memastikan bahwa sosok itu adalah seorang pria.


Si jubah hitam mendekat ke arahnya perlahan. Weni berjalan mundur. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia tidak mengenal pria itu dan ragu untuk meminta tolong padanya karena tidak tahu pria itu berniat baik atau buruk.


Weni mundur sampai punggungnya membentur tembok. Ia telah sampai ke pojok ruangan dan tak mungkin bisa menghindar lagi karena si jubah hitam itu telah sampai tepat di depannya.


"Mau apa kamu?" seru Weni lantang. Berharap ada yang mendengarnya dan bersedia membawanya keluar dari sana.


Si jubah hitam tak mengatakan apa-apa. Pria asing itu mengangkat sebelah tangannya dan menyemprotkan sesuatu ke mata Weni.


"Aaa!" Weni memekik. Ia merasa kedua matanya perih akibat semprotan cair itu. Ia tidak tahu apa yang si jubah hitam tadi semprotkan ke matanya.


Weni mengerjapkan mata berkali-kali. Saat ia berhasil membuka mata, si jubah hitam itu telah pergi. Kini hanya tinggal ia seorang diri memojok di dapur yang masih dilalap api itu.


Meski dapat membuka mata, Weni tidak dapat melihat dengan jelas. Kedua matanya menjadi buram. Kepalanya pun terasa pusing seperti berputar-putar.

__ADS_1


Weni mencoba tetap kuat dan menunggu sampai ada yang datang menyelamatkannya. Benar saja. Tidak butuh waktu berapa lama, pintu kembali didobrak oleh seseorang. Kali ini, ia berharap yang datang adalah orang baik yang akan menyelamatkannya dan membawanya keluar dari sana.


Meski dalam keadaan mata yang buram dan kepala yang semakin pusing, Weni masih bisa melihat dan mengenali dengan jelas siapa sosok itu.


"Sima, kamu di sini?" Weni berlari hendak menghampiri Sima. Namun ia merasa tubuhnya tak lagi kuat menopang kedua kakinya.


Karena kepalanya yang dirasa semakin berputar, kakinya tidak sengaja tersandung dan menyebabkannya terjatuh dengan sangat kencang. Setelahnya, ia sempat melihat Sima berlari dengan panik ke arahnya dan menyeru namanya.


Flashback off


Kiara mendengar cerita Weni dengan seksama. "Kalau memang benar begitu, kenapa kakak ke-empat tidak tau kalau matamu tidak bisa melihat itu karena sebuah cairan yang menyemprot matamu?" ia tampak berpikir.


"Awalnya kami kira matamu tidak bisa melihat karena kepalamu terbentur dengan sangat kencang saat kamu jatuh. Atau kami juga sempat mengira mungkin matamu tidak bisa melihat karena asap api yang tebal." Tutur Kiara.


"Kiara, aku takut mataku tidak bisa melihat lagi." Weni tampak hampir terisak. "Kalau memang begitu, aku sudah tidak berguna lagi dan hanya akan jadi beban untuk kalian semua, terutama kakak ke-empatmu." Keluhnya.


"Lagi pula, kakak ke-empat bilang, matamu hanya akan buta sementara kok. Nggak lama lagi pasti akan sembuh dan kamu bisa kembali melihat seperti biasanya." Lanjutnya.


Weni mengangguk memilih percaya bahwa tak lama lagi matanya pasti akan kembali pulih dan ia bisa kembali melihat dengan jelas seperti biasanya.


"Aku duluan, ya. Istirahat dengan baik." Kiara menepuk tangan Weni dan membiarkan gadis itu beristirahat.


Namun karena lelah beristirahat terlalu lama, Weni memilih beranjak dari ranjangnya dan mencoba berjalan sendiri dengan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.


Akhirnya ia sampai di pintu kamarnya. Perlahan, Weni membuka pintu itu. Bibirnya tersenyum tipis. Senang karena ia masih bisa memanfaatkan hal lainnya untuk berjalan.


Kakinya menapak pada tanah tanpa menggunakan alas kaki meski saat itu cuaca sedang dingin.

__ADS_1


Weni meraba-raba udara di depannya masih terus melangkah. Kakinya tidak sengaja tersandung dan nyaris membuatnya terjatuh ke depan. Untungnya sebuah tangan berhasil menahan tubuhnya. Ia terjatuh di pelukan orang itu. Weni meraba-raba tangan orang itu memastikan siapa yang telah menyelamatkannya.


"Kamu siapa?" rasa panik kembali menyerangnya karena takut orang itu adalah si jubah hitam yang kembali padanya dan siap mencelakainya lagi. "Kamu siapa? kamu nggak berniat macam-macam, kan?" seru Weni yang panik.


"Weni, ini aku, Bari." Sahut orang itu.


"Bari?" Weni menarik napas lega. Bari mengerutkan kening. "Ngapain kamu di sini? kamu nggak boleh keluar dalam keadaan seperti ini. Mari ku antar kembali ke kamar." Bari hendak melaksanakan niatnya untuk mengantar Weni kembali ke kamar.


"Mm, Tuan Bari. Aku minta maaf. Tapi aku mau di sini. Aku janji cuman berdiri di sini. Nggak akan ke mana-mana kok." Weni membujuk Bari untuk membiarkannya merasakan dunia luar karena malas jika harus seharian berbaring di kamar tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Aku nggak bisa membiarkanmu sendirian. Berbahaya. Apa lagi kondisimu masih begini." Bari terdengar sangat khawatir. Bagaimana tidak, jika harus melihat gadis yang dicintainya harus mendapatkan kondisi seperti itu? sungguh membuat hatinya sakit jika terus melihatnya.


"Aku mohon, Tuan Bari. Aku janji hanya akan berdiri di sini." Weni kembali meyakinkan Bari bahwa ia tak senakal itu untuk berkeluyuran ke mana-mana, apa lagi dalam kondisi matanya yang seperti itu. Ia juga tak mau ambil resiko jikaa nanti terjadi sesuatu yang berbahaya padanya.


Bari berpikir sejenak. "Baiklah. Mau aku temani?" tawar Bari lagi. Tentu ia bersedia menemani gadis yang dicintainya, apa lagi dalam kondisi seperti itu.


Weni menggeleng. "Terima kasih niat baikmu, Tuan. Tapi aku tau kamu masih punya banyak pekerjaan. Jadi, aku bisa sendiri."


Bari ragu sejenak. "Lagi pula aku hanya sebentar di sini. Setelah ini aku akan langsung kembali ke kamar." Janji Weni.


Bari mengangguk. "Kalau begitu aku duluan, ya. Jaga diri baik-baik dan jangan pergi ke mana-mana." Pesannya sebelum melanjutkan langkah.


Weni kembali mencoba berjalan seorang diri seolah tak ingat bagaimana ia akan terjatuh tadi kalau saja Bari tidak sigap menyelamatkannya.


Kedua tangannya tergantung di depan meraba-raba udara.


Weni sedikit terkejut saat merasa ada sebuah tangan yang menyambut tangannya dan menuntunnya berjalan.

__ADS_1


__ADS_2