
Tama berlutut menghadapi amarah Kaisar. "Aku menyuruhmu menjaga Tuan Putri. Kenapa malah kamu meladeninya bermain?"
"Saya minta maaf atas kelalaian saya. Tapi saya bisa menjamin kalau saya tidak ada niat mau mencelakai Tuan Putri." Jaminnya.
Kaisar memandangnya nanar. "Aku mungkin bisa percaya kalau bukan kamu yang meracuni Tuan Putri. Tapi kamu tidak punya bukti untuk membuktikan diri tidak bersalah." Risaunya.
"Saya tau saya salah. Tapi ini pasti niat jahat Menteri Waze yang mau menjebak saya." Duga Tama. "Yang Mulia, jika Menteri Waze memang mau menjebak saya, kita ikuti saja alurnya sampai selesai." Sahutnya. Kaisar menatapnya serius. Mencoba mencerna ucapannya.
"Jika Menteri Waze sengaja menjebakku, Yang Mulia harus pura-pura percaya padanya dan hukum saya sesuai peraturan."
Flashback off:
Kiara tak dapat menahan air matanya. Ia menatap tajam Hansa. "Kenapa kakak ke-tiga harus melakukan itu?" tanyanya mencoba menahan isak tangisnya.
"Dia mengorbankan diri karena memang nggak ada bukti kalau dia nggak bersalah. Kalau Yang Mulia Kaisar tidak menghukumnya, para pejabat dan masyarakat pasti akan menilainya tidak adil." Jawab Hansa.
"Tapi kenapa dia harus mengorbankan diri?" air mata Kiara mengalir deras. Ia tidak menyangka kakak ke-tiganya sendiri yang meminta dihukum mati.
"Saudara Tama memang sangat setia pada Yang Mulia Kaisar. Dia bersedia mengorbankan diri dengan alasan yang kuat. Yang Mulia Kaisar nggak punya pilihan lain selain menjatuhkan hukuman mati untuknya." Tuturnya.
"Apa alasannya?" untuk mengeluarkan suara saja terasa berat karena tenggorokannya yang terasa sakit menahan tangis dan emosi. Tangannya ia kepalkan dengan sangat kuat sampai tangannya mati rasa.
"Saya nggak tau. Yang Mulia Kaisar hanya memberitahu sampai di situ. Beliau nggak jelasin kenapa saudara Tama menawarkan untuk dihukum mati. Yang saya tau, itu merupakan kesetiaan dan pengorbanannya untuk Yang Mulia Kaisar untuk yang terakhir kali." Hansa berusaha menjelaskan kesalahpahaman Kiara.
__ADS_1
Kiara terdiam sejenak. "Kalau kakak ke-tigaku benar-benar berkorban untuk Yang Mulia Kaisar, kenapa namanya masih belum dibersihkan? masyarakat mengenal kakak ke-tiga sebagai penjahat yang pantas dihukum mati. Kenapa Yang Mulia Kaisar tidak membersihkan namanya?" serunya.
Hansa membekap mulut Kiara untuk menutup mulutnya. "Sst ... Yang Mulia Kaisar ada di sekitar sini." Ia mengingatkan. Ia melirik tangannya yang tak sengaja menutup mulut Kiara.
"Kamu ... " Kiara memelotot. Hansa sontak menurunkan kembali tangannya. "Maaf. Aku nggak sengaja." Ucapnya menunduk.
Kiara berusaha menormalkan jantungnya. Ini bukan saat yang tepat untuk tergoda dengan pria itu.
"Meskipun kakak ke-tiga yang mengajukan diri untuk dihukum mati, tetap aja Yang Mulia Kaisar bersalah karena tidak membersihkan namanya. Dan kalian yang menyembunyikan kebenaran juga berkaitan dengan balas dendamku." Kiara memperingati Hansa bahwa ia masih belum melepaskan Kaisar dan Kantor Pengadilan dari misi balas dendamnya.
Kiara melangkah meninggalkan Hansa yang hanya bisa menatap punggung gadis itu tanpa mencegah langkahnya. Ia menghentikan langkahnya saat yakin sudah jauh dari Hansa.
"Tunggu. Dulu mendiang Guru sering berpesan pada kami untuk 'selalu setia pada atasan kalian selama mereka baik pada kalian'. Pasti ini alasan kakak ke-dua dan kakak ke-tiga sangat setia pada Yang Mulia Kaisar."
Flashback:
"Aku serahkan mereka di tanganmu bukan hanya karena kamu memintanya. Tapi ini demi kebaikan mereka juga." Haw Fayes mendorong punggung Tama dan Liam ke arah seorang pria bermarga Zainaga.
"Terima kasih karena telah memenuhi permintaanku. Aku tau Kaisan adalah orang yang licik. Jadi aku meminta mereka untuk menjadikan mereka kekuatanku." Jelasnya.
Haw Fayes mengangguk paham. "Meskipun Kaisan adalah sahabatku, aku nggak bisa membiarkannya berkuasa, karena aku tau dia orang yang sangat ambisius."
"Dia sempat meminta diberikan jurus auman harimau. Aku nggak mau karena tau dia pasti akan menggunakannya untuk merebut tahta darimu." Tuturnya. "Supaya tahtamu tidak mudah direbut olehnya, aku serahkan kedua muridku yang paling berguna untukmu." Lanjutnya.
__ADS_1
Lyon menghela napas sejenak. "Tapi aku khawatir Kaisan akan membunuhmu karena mengganggu gugat rencananya." Risaunya.
"Aku memang sudah siap dibunuh. Kalau dia nggak membunuhku, dia pasti akan terus memaksa meminta diberikan jurus auman harimau." Haw Fayes menghela napas sebelum melanjutkan, "lagi pula, aku sudah memberikan jurus auman harimau pada salah satu muridku. Jadi, aku bisa mati tanpa penyesalan." Paparnya.
Lyon memilih tak membantah keputusan Haw Fayes. Karena ia tahu keputusan pria tua itu memang tidak pernah bisa dicegah.
"Baiklah. Aku akan menjadikan Tama sebagai Utusan sakti. Dan Liam sebagai Utusan bayangan. Dia nggak boleh terlihat oleh orang lain. Supaya jika suatu hari nanti Tama berkorban, Liam yang akan menjadi penggantinya." Ia tidak sembarangan memutuskan. Tugas yang ia berikan pada dua orang itu sesuai dengan julukan mereka. Yakni Tama sebagai Utusan sakti karena ia mampu membuat dan menggunakan senjata rahasia dari benda apa pun. Dan Liam sebagai Utusan bayangan karena ia pandai menyusup dan menyamar, sekaligus pandai membuka dan mengacak-acak mekanisme kunci. Memang dua bawahan yang benar-benar ia butuhkan.
Haw Fayes mengangguk setuju. Ia menepuk pundak kedua muridnya bangga. "Kalian harus setia pada atasan kalian dan selalu mematuhi perintahnya." Pesannya.
"Kami janji akan setia dan selalu mematuhi Yang Mulia Kiasar." Janji Tama dan Liam berbarengan. Mereka berdua jelas tahu, jika sudah memilih bekerja untuk Kaisar, ke depannya mereka akan sulit bertemu dengan Guru dan saudara-saudara mereka. Tapi mereka tetap harus setia pada Tuan mereka.
Tama melirik Kiara yang mengintip di balik pohon di belakang Haw Fayes. Ia tersenyum menenangkan adiknya yang tampak menangis karena mereka akan segera pergi. Ia menyenggol lengan Liam dan membuat pria itu melihat ke arah yang sama dengannya.
Liam mengangguk menenangkan Kiara. "Jangan sedih." Ucapnya tanpa suara. Kiara tahu apa yang diucapkan Liam dari gerakan mulutnya. Gadis itu semakin tak sanggup membendung air mata*.
Flashback off
Kiara sebenarnya merasa bingung. Kepada siapakah balas dendamnya tertuju. Apakah pada Kantor Pengadilan dan Kaisar yang selama ini menutupi kebenaran dan menolak membersihkan nama kakak ke-tiganya? atau kepada Menteri Waze yang lagi-lagi merupakan penyebab kematian orang yang disayanginya?
Sekarang Kiara tahu siapa orang yang disebut Kaisan itu. Dia adalah nama Menteri Waze. Bagaimana dirinya bisa bodoh tidak sadar bahwa Menteri Waze adalah pembunuh mendiang Gurunya.
Ia tahu mendiang Gurunya itu mempunyai sahabat karib bernama Kaisan. Tapi ia tidak pernah melihat wajah orang itu. Ia tidak menyangka, bahwa ternyata orang itu adalah Menteri Waze. Meski dulu ia sangat dekat dengan mendiang Gurunya bak seorang ayah dan putri, ia tidak pernah tahu siapa itu Kaisan. Karena mendiang Gurunya seperti selalu menjauhkan sahabatnya itu dari mereka. Sampai Kiara mengerti bahwa mendiang Gurunya menjauhkan murid-muridnya dari Kaisan karena tahu sahabatnya itu bukan orang yang baik.
__ADS_1