
Hari ke dua, Kiara telah kembali beraktifitas dengan normal. Sedangkan Sima masih sibuk mencari penawar dari racun yang masih ada di dalam tubuh adiknya.
Ia tentu tidak akan tinggal diam. Sima memutuskan untuk berkelana guna mencari penawar racun Kiara. Karena memang hanya itu keputusan terbaik agar bisa segera menyembuhkan Kiara.
Sima mendatangi Kiara yang tampak sedang bercanda-ria di dapur bersama Weni. Kedua gadis itu langsung terdiam ketika melihat kedatangannya di dapur.
"Adik ke-lima, aku ingin berbicara." Pintanya. Kiara mengerutkan kening. Terlihat dari wajah kakak ke-empatnya itu bahwa apa yang akan disampaikan kakaknya itu merupakan sesuatu yang benar-benar serius.
"Ya sudah. Di sini saja." Ujar Kiara ingin cepat-cepat mengetahui hal apa yang membuat wajah kakaknya itu terlihat serius dan ada sedikit kekhawatiran.
Sima melirik Weni. Sebetulnya ia tidak enak jika harus berbicara di tempat itu. Takut akan mengganggu konsentrasi Weni yang sedang memasak.
Kiara menoleh pada Weni yang kembali sibuk memasak. Pura-pura tak memperhatikan sama sekali.
"Tenang saja. Weni adalah temanku." Sahut Kiara seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Sima.
Sima jadi bingung sendiri bagaimana cara menyampaikan pada adiknya. Ia menghela napas panjang.
"Aku mau pergi hari ini." Ucapnya langsung memberitahu tujuannya. Kiara mengerutkan kening. "Pergi? pergi ke mana?"
"Aku akan mencari sendiri penawar itu ke mana pun. Tidak baik jika dibiarkan terlalu lama. Takutnya kamu nggak bisa bertahan lebih lama lagi." Sima menyampaikan maksudnya.
Kiara terdiam sejenak. "Aku baru bertemu denganmu. Kakak nggak boleh pergi." Larangnya memeluk tubuh Sima seolah tak rela melepas pria itu ke mana pun.
Sima tahu pasti akan ada sedikit perdebatan kecil antara ia dan adiknya. Ia mengusap rambut dan punggung Kiara bergantian.
"Ini demi kebaikanmu, dek. Kakak tetap harus pergi." Putusnya. Kiara melepas pelukannya dan menatap Sima tajam.
"Sekali nggak boleh tetap nggak boleh." Kekehnya. Sima bingung bagaimana cara menjelaskan pada adiknya.
Weni mendekati Kiara dan berbisik padanya. "Kiara, biarkanlah kakakmu pergi. Ini semua juga demi kebaikanmu. Dia nggak mau kehilanganmu." Nasihat Weni.
__ADS_1
Kiara berpikir sejenak. Weni kembali menambahkan. "Kalau kamu melarangnya pergi, dia bisa kehilanganmu dan kamu juga akan kehilangan dia kalau kamu kenapa-napa."
Pikiran Kiara mulai terbuka. Betul apa yang diucapkan oleh Weni. Jika sampai dirinya kenapa-napa, maka ia tak akan bisa berkumpul dengan kakak-kakaknya lagi.
"Ck, baiklah. Aku izinkan. Tapi kakak bisa menjaga diri, kan?" tuntut Kiara dengan bibir dimajukan.
Weni merasa telah berhasil meyakini Kiara, ia pun kembali pada kegiatan memasaknya.
Sima tersenyum lebar. "Terima kasih, adikku yang baik. Kamu memang adik yang penurut." Ia memeluk dan mentowel kepala Kiara senang.
"Tapi janji harus jaga diri baik-baik dan jangan pergi lama-lama." Kiara masih menuntut. "Iya, aku akan menjaga diri baik-baik. Lagi pula, bahaya apa sih yang bisa terjadi pada kakak ke-empatmu ini?" ia membanggakan diri sendiri. Merasa seolah bahaya pun takut padanya.
"Oke. Aku pergi sekarang, ya." Sima mengenakan masker penutup wajahnya seperti biasa dan hendak langsung berpamitan, saat seorang pria masuk ke dapur itu. Wajah pria itu seperti tak asing baginya.
Pria itu berjalan melewatinya dengan acuh dan langsung menghampiri Kiara.
"Kamu sudah sembuh?" Hansa yang baru saja tiba, langsung menuju dapur saat mengetahui bahwa Kiara ada di ruang memasak itu.
"Tuan Hansa, kamu dari mana saja?" tanya Kiara sebab sejak dua hari ia sadar dari koma, ia tidak pernah berpapasan dengan Hansa.
"Kamu benar-benar sudah pulih?" tanya sengaja mengalihkan topik agar Kiara tak bertanya lebih jauh. Ia mencoba menyentuh tangan Kiara untuk memeriksa keadaan gadis itu.
Kiara yang terkejut langsung menarik kembali tangannya. "Kenapa kamu menyentuh tanganku?" herannya.
Raut wajah Hansa tiba-tiba berubah jadi sedikit sinis. Membuat Kiara semakin menatapnya heran.
"Jadi, dia boleh menyentuhmu, sedangkan aku tidak boleh?" sahutnya pelan namun terdengar sangat dingin.
Kiara menoleh pada Sima yang juga mengerutkan kening. Gadis itu langsung tahu bahwa yang sedang Hansa bicarakan adalah kakak ke-empatnya. Wajar saja Hansa tidak tahu. Kakak ke-empatnya telah mengenakan masker penutup wajah.
Kiara mencoba menahan tawa. Ia memberi kode pada Sima untuk membuka maskernya agar Hansa bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
"Tenang saja. Dia bukan orang asing." Kiara mengerti kakaknya tidak akan mau menunjukkan wajahnya pada orang asing.
Sima akhirnya setuju dan memperlihatkan wajahnya pada Hansa yang langsung merubah raut wajahnya.
"Sang Legenda, Sima si daging empuk. Kau sudah di sini ternyata?" herannya. Sebab ia tidak diberitahu mengenai Sima yang telah berjunjung ke sini. Ia hanya mendapat perintah untuk pulang.
"Pendekar ke-tiga, Hansa." Sima menyapa balik. Hansa menatap Kiara dan Sima bergantian. Ia jadi canggung sendiri.
"Aku minta maaf karena tidak mengenalmu tadi. Wajahmu tertutup masker. Jadi aku tidak tau kalau itu kau." Ucapnya memberikan alasan.
"Tidak apa-apa. Tidak usah sungkan." Balas Sima. "Aku bersyukur karena kau telah berada di sini untuk menyembuhkan Kiara, Tuan Sima. Kalau begitu aku duluan." Hansa keluar dari dapur untuk menemui Master Nick. Saat datang tadi, ia langsung menuju dapur. Ia bahkan belum menghadap Master Nick.
"Kalau begitu, aku pergi sekarang, ya." Pamitnya pada Kiara yang perhatiannya tampak telah terbagi. Ia dapat melihat bibir gadis itu tersenyum tapi tidak padanya. Gadis itu tersenyum sembari melihat ke arah pintu dapur.
Sima menyentil kening adiknya merasa tak diperhatikan. "Aw!" Kiara meringis dan mengusap-usap keningnya sembari menatap kakaknya jengkel.
"Aku pergi sekarang." Sima mengulang kalimatnya.
"Iya. Aku sudah tau. Jaga diri baik-baik, ya." Pesan Kiara yang kembali memusatkan perhatian pada Sima.
"Iya. Kamu juga jangan nakal selama aku nggak di sini." Pesan Sima kembali mentowel kening Kiara.
"Iya, aku janji. Kan ada kakak pertama di sini. Tidak mungkin aku bisa bebas berbuat sesukanya." Janjinya.
"Lagi pula, justru dengan adanya kakak ke-empat di sampingku, bukannya malah semakin banyak kenakalan yang ku perbuat, ya?" gumamnya yang masih bisa didengar oleh Sima.
"Apa katamu?" Sima ingin memastikan apakah telinganya salah dengar atau tidak.
"Nggak ada apa-apa. Sudah pergi sana! sebelum aku berubah pikiran." Usir Kiara.
Sima berpamitan sekali lagi.
__ADS_1
"Nona Weni, aku pergi dulu, ya." Pamitnya pada Weni yang sedari tadi terlihat sibuk memasak. Ia meninggalkan masakannya sejenak dan beralih pada Sima. "Hati-hati, ya." Pesannya. Sima mengangguk patuh dan segera melesat pergi.
Weni kembali sibuk dengan masakannya. Sedangkan Kiara menatap curiga sembari mengerutkan kening pada kakak ke-empatnya yang barusan pergi.