
"Dia asal tuduh." Kiara berusaha tetap tenang di antara banyaknya mata yang menatap ke arahnya.
Master Nick memukul meja membuat Kiara terkejut dan langsung menatapnya. "Siapa kamu? kalau tidak segera menjelaskan, saya akan jadikan kamu tahanan." Ancam Master Nick.
Kiara melipat tangan di dada. "Heh kamu, cepat kasih tau siapa aku!" pintanya pada Hansa. Semua mata sontak menatapnya tajam.
"Berani-beraninya kamu, gadis rendahan." Bentak Bari lagi. "Kamu nggak tau derajat Tuan Hansa lebih di tinggi dari kamu? bisa-bisanya kamu nggak menunjukkan sifat hormat di depan Master Nick dan Tuan Hansa." Omelnya.
"Aku nggak peduli sama kekuasaan. Dan aku nggak peduli siapa yang derajatnya lebih tinggi atau lebih rendah. Toh, nyatanya kalian pejabat hanya mau dihormati tanpa mau menghormati kami juga." Kiara mengeluarkan isi hatinya.
"Lancang kamu! anak buangan dari mana, sih?" Bari masih tak berhenti menatapnya sinis. Hansa memberi kode pada Bari untuk diam.
"Kenapa? salah aku ngomong? kakakku juga mati karena Pengadilan." Kiara tak peduli dengan reaksi Master Nick yang mungkin akan menghukumnya itu. Ia hanya sedang merindukan kak Tama. Kakak ke-tiganya.
"Cukup! kamu belum menjelaskan identitasmu." Desak Master Nick. Kiara memutar bola mata.
"Perkenalkan, aku adalah Kiara Fayes. Bungsu dari lima bersaudara Fayes." Kiara kembali memperkenalkan dirinya. Walau ia tau, pasti tidak ada yang akan percaya padanya.
"Terserah kalian aja lah. Nanti kalau kakak pertamaku ke sini kalian pasti akan percaya." Pasrahnya.
"Bukan masalah itu. Bahkan kalau pun benar kamu anggota keluarga Fayes, kalau kamu salah, kami akan tetap menghukummu sesuai Hukum Negara." Sela Master Nick.
Kiara melirik kotak di depannya yang sedari tadi masih menjadi jalan buntu dari kasus yang sedang mereka selidiki. "Aku tau kalian semua bingung gimana cara membuka kotak itu. Tenang aja, aku punya solusinya." Ucapnya tiba-tiba sembari menunjuk kotak di depannya.
"Orang tak berkepentingan dilarang membahas soal kasus. Tuan, hukum saja gadis aneh ini." Usul Bari yang sepertinya memang sangat kesal pada Kiara.
"Tenang dulu, Bari. Semua ada hukumnya." Master Nick menenangkan.
"Hukum aja. Ku beritahu, kalau pun kalian nggak peduli tentang kakak-kakakku, tapi setidaknya ingatlah Menteri Waze. Dia pasti nggak akan melepas kalian kalau kalian berani apa-apain aku." Kiara melipat kedua tangan di dada.
"Menteri Waze? maksudmu Menteri Sekretariat? apa hubunganmu dengannya?" tanya Master Nick yang tak menganggap ucapan Kiara hanya bualan semata.
"Menteri Waze adalah guruku. Dia yang melatihku menjadi seperti sekarang ini." Papar Kiara percaya diri.
__ADS_1
"Omong kosong apa lagi ini?" Bari lagi-lagi mengoceh. "Bari, cukup!" Master Nick kembali menenangkan Bari.
"Siapapun kamu, sekarang masih belum jelas. Kamu harus ditahan sementara waktu sampai identitasmu terungkap." Putus Master Nick. "Pengawal, tahan gadis ini di Penjara."
Kiara berusaha memberontak saat dirinya benar-benar dibawa ke Penjara oleh dua orang Pengawal tadi.
"Eh, tapi nggak apa-apa lah. Siapa tau ini ujian awal untuk aku bisa masuk ke sini." Pikirnya.
Ia hanya pasrah saat dirinya benar-benar dimasukkan ke Penjara. Dua orang Pengawal itu mendorongnya dengan sedikit kasar.
"Hei, pelan-pelan dong. Awas aja kalian." Kesal Kiara.
"Kalian berdua jangan bertindak kasar. Bagaimana pun, dia seorang gadis." Nasihat Hansa yang tiba-tiba datang ke ruang tahanan.
Dua Pengawal itu membungkuk meminta maaf pada Hansa. Hansa menatap Kiara dan menghampirinya.
"Ngapain lagi kamu ke sini?" tanyanya pada Kiara. Kiara membuang muka sembari melipat kedua tangan di dada. Berlagak cuek. Meskipun ia senang karena Hansa sempat membelanya.
"Apa kamu ke sini lagi karena ini?" Hansa merogoh saku dan mengacungkan benda kesayangan milik Kiara.
"Ini adalah tusuk rambut yang hanya dimiliki oleh ke-empat bersaudara Fayes. Karena tusuk rambut ini dirancang oleh guru mereka." Jelas Hansa.
"Ya, memang. Terus?" Kiara masih berusaha mengambil tusuk rambut miliknya dari Hansa.
"Oh iya, tusuk rambut itu bisa jadi bukti kalau aku benar-benar adik dari kakak-beradik Fayes."
Gumam Kiara menemukan sedikit jalan keluar.
"Tunggu! jadi kamu benaran adik dari kakak-beradik Fayes?" Hansa memastikan. Kiara mengangguk mantap.
"Kenapa, kamu masih nggak percaya? terserah mau percaya atau nggak. Emang kenyataannya begitu kok." Kiara tidak peduli Hansa percaya atau tidak.
"Sebentar!" Hansa tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Kiara seperti yang ia lakukan kemarin.
__ADS_1
Kiara menatapnya bingung dan gugup. "Ka ... kamu ngapain, sih?" gugupnya. Hansa menyipitkan mata menatap ke bola mata Kiara dalam.
"Oke." Ia kembali menjauhkan wajahnya. Sedangkan Kiara berusaha menenangkan detak jantungnya untuk kembali normal.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya bingung.
"Saya hanya melihat ke dalam bola matamu untuk mendeteksi apa kamu berbohong atau tidak." Jelas Hansa terlihat tenang.
"Jadi?" tanya Kiara. "Ya, aku melihat bahwa kamu nggak berbohong." Aku Hansa membuat Kiara tersenyum. "Sebaliknya. Aku justru melihat kegugupan di matamu saat aku mendekatimu tadi." Tutur Hansa dengan raut wajah santainya.
"Heh, sembarangan kamu!" bentak Kiara tak ingin Hansa tau kalau memang dirinya sedikit gugup tadi. Lagi pula, siapa yang tidak gugup kalau wajahnya sedekat tadi? dengan pria tampan pula.
"Udahlah. Lupain aja. Yang penting, kamu tau kan, kalau aku nggak bohong." Kiara kembali ke topik semula.
Hansa melipat tangan di dada. "Walaupun saya percaya sama kamu, tapi masih belum ada kepastian tentang identitasmu. Selamat beristirahat di sini, Nona. Saya pamit dulu. Tusuk rambut ini saya bawa sampai kamu dibebaskan dari tahanan." Hansa langsung melesat pergi.
"Maksudnya kamu meledekku? hei, balikin tusuk rambutku!" pinta Kiara yang tak dipedulikan oleh Hansa.
Kiara berbalik jengkel. "Selamat beristirahat di sini? maksudnya dia meledekku? huh, ngeselin banget. Kenapa hidupku dipenuhi dengan orang yang ngeselin semua?" teriaknya kesal. Ia bahkan tak peduli ada orang yang mendengarnya atau tidak.
...----------------...
Kaisar tersenyum lebar kala dirinya melihat putri kesayangannya, yang juga merupakan anak satu-satunya yang ia miliki itu mengunjungi kediamannya.
"Rara, putriku sayang. Kemari sayang!" pinta Kaisar sangat antusias. Hyra, yang merupakan Tuan Putri Kerajaan Yoph, bergelayut manja di lengan Ayahandanya.
"Putriku sudah berusia tujuh belas tahun. Tapi kelakuannya masih seperti anak kecil." Kaisar mentowel hidung Hyra penuh kasih.
Mereka berbincang hangat malam itu. "Mm ... Rara!" sahut Kaisar tiba-tiba. "Ada apa, Ayahanda?" Hyra mondongak di rangkulan Ayahandanya.
"Apa kamu merindukan Liam?" tanya Kaisar tiba-tiba. Hyra mengerutkan kening. "Liam? Liam siapa?" herannya. Sebab ia tak pernah kenal dengan seseorang bernama Liam.
Kaisar menghela napas panjang. Ia kembali merangkul putrinya. "Sudahlah. Lupakan." Ucapnya akhirnya.
__ADS_1
Hyra mengerutkan kening di rangkulan Ayahandanya.
"Liam? kenapa namanya seperti nggak asing, ya?"