Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Keputusan Kiara


__ADS_3

Hyra menghabiskan waktu sepanjang hari di kamarnya. Ia malas beraktifitas di luar karena kalung kesayangannya yang belum juga ditemukan. Padahal Ayahandanya telah berjanji akan memberikan hadiah yang amat berharga bagi siapa pun yang bisa menemui kalung itu baik dari kalangan Ningrat ataupun rakyat biasa.


Ia bahkan sedang malas meladeni Fian yang berapa kali meminta bertemu.


Kehilangan barang kesayangannya benar-benar menguras semua semangat dan keceriannya.


Hyra mendongak melihat siapa yang datang menengoknya. Ia bangkit dan memberikan salam dengan sedikit membungkuk pada Ayahandanya.


Hyra segera menggandeng tangan Ayahanda manja. "Ada apa Yanda tiba-tiba ke sini?" tanyanya.


"Memang Yanda tidak boleh ke sini untuk melihat putri sendiri?" Kaisar mencari alasan.


Hyra menggeleng terkekeh. "Hyra sedang cemberut hari ini." Ia memanyunkan bibir.


"Kamu memang sudah cemberut akhir-akhir ini." Canda Kaisar. Detik selanjutnya, ia langsung merubah raut wajahnya menjadi serius.


"Ada yang ingin Yanda bicarakan denganmu." Ia duduk di tepi ranjang Hyra dan menatap putrinya akan memulai percakapan serius.


Hyra mengerutkan kening siap mendengar apa yang akan Ayahandanya bicarakan dengannya. Meski ia putri yang manja, ia akan berubah serius jika Ayahanda akan berbicara serius dengannya.


"Yanda punya cara untuk menemukan kalung kristalmu." Kaisar memulai rencananya.


"Rencana apa?" Hyra antusias mendengar pernyataan Ayahanda megenai kalung kesayangannya yang akan segera ditemukan. Namun ia tetap serius dan fokus dengan kalimat yang akan keluar dari mulut Ayahanda selanjutnya.


"Tapi Ayahanda punya cara. Dan sepertinya kamu ikut serta dalam hal ini." Kaisar menjeda kalimatnya sejenak. Tangannya merangkul pundak putrinya. "Kamu harus membantu sedikit kali ini." Bisiknya. Tak mau sampai ada yang menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


Hyra mendongak. "Apa yang harus ku lakukan untuk membantumu, Yanda?" tanyanya bersedia membantu apa pun demi Ayahanda dan juga demi kalung kesayangannya.


Kaisar memberitahu rencananya pada Hyra dengan berbisik pelan. Berjaga-jaga agar jangan sampai ada yang menguping pembicaraan mereka. di Istana, tidak ada yang perlu terlalu dipercaya selain Permaisuri dan putrinya sendiri. Dan jangan lupakan Liam, utusan yang sangat dipercayanya itu.


Hyra mengangguk setuju dengan rencana yang mereka rancang untuk perjamuan esok hari.


...----------------...


Hari ini adalah hari di mana perjamuan itu diadakan. Kaisar juga mengundang semua anggota Kantor Pengadilan.


Perjamuan dimulai dengan Kaisar yang bersulang untuk semua pejabat dan seluruh tamu undangannya. Setelah meneguk cangkir berisi teh dan meletakkannya di meja, Kaisar menatap seluruh tamu undangannya dengan senyum senang.


"Ada yang perlu ku beritahu pada kalian semua. Sebenarnya aku sudah mau memberitahu dari beberapa hari yang lalu. Tapi karena kita dihebohkan dengan kejadian kebakaran di Kantor Pengadilan, aku tidak langsung memberitahu kalian." Kaisar menjeda kalimatnya sejenak. Menarik nafas panjang, bersiap dengan aktingnya.


"Aku akan memberitahu sekarang." Ucapnya. "Hyra!" serunya dan keluarlah Hyra dengan pakaian cantiknya dan kalung kristal yang terpasang di lehernya. Semua orang tidak menyadari bahwa kalung itu bukan kalung yang asli. Kecuali Kiara tentunya. Karena ia yang dipilih sebagai orang yang akan membongkar kebusukan Menteri Waze.


Menteri Waze mengatur wajahnya supaya tak terlihat tegang. Kiara sudah punya keputusan sendiri. Ia menatap Kaisar dan beralih menatap Master Nick yang menantinya angkat suara.


"Kiara, cepat beritahu mereka yang sesungguhnya!" pinta Hansa yang berdiri di belakang Kiara. Bari yang berdiri di samping pria itu juga ikut mendorong Kiara untuk angkat suara.


Tak disangka, Kiara justru berjalan dan berdiri di samping Menteri Waze. Ia mendekatkan mulitnya pada gurunya itu.


"Nggak usah tegang. Aku mendukungmu, guru." Bisiknya memastikan tidak ada yang mendengar bisikannya.


Menteri Waze tersenyum miring. Ia berusaha terlihat biasa saja agar semua orang tidak curiga pada mereka. "Kau memang muridku yang baik." Balasnya ikut berbisik sangat pelan.

__ADS_1


Kiara tersenyum simpul. Ia melirik Master Nick yang menatapnya kecewa. Ia membuang muka tak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangnya. Toh, terserah dia ingin berpihak pada siapa. Ia tak mau diatur-atur lagi. Ia bukan bawahan siapa pun. Tak ada yang berhak mengaturnya.


Kiara melirik wajah Kaisar yang menghela napas kecewa menunggunya angkat suara. Kaisar memang sudah tahu bahwa yang Master Nick maksud akan membantu mereka menemukan pelaku pencurian kalung itu. Namun ia belum tahu tentang identitas gadis itu. Karena yang penting menurutnya adalah pelaku itu segera ditemukan. Meski ia sudah tahu siapa pelakunya. Namun ia harus memiliki bukti untuk mengeluarkan pelakunya dari sarang.


Mata Kiara tak sengaja menangkap Tuan Putri Hyra yang tengah menatapnya. Entah kenapa, ia merasa tatapan itu berbeda dari tatapan yang diberikan Master Nick dan Kaisar untuknya. Melainkan seperti tatapan seseorang yang mengetahui sesuatu. Seperti tatapan seorang yang mengerti apa yang ada di pikirannya sebagai sesama gadis.


Lain halnya dengan Hyra ang juga tahu bahwa Kiara adalah orang dimaksud Master Nick. Ia menatap gadis itu lembut namun mengerutkan kening. Entahlah. Ia rasa ia tahu alasan gadis itu menolak membantunya dan Ayahandanya. Mungkin ia mengerti perasaan Kiara sebagai sesama gadis.


Di ujung sana, Hansa hanya menatap Kiara dan Master Nick bergantian. Ia menundukkan kepala tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Kiara. Mengapa ia tak membantu mereka kali ini? padahal ia setuju ingin membantu mereka kemarin.


Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia lebih memikirkan kekhawatirannya untuk gadis itu karena takut gadis itu akan diberi hukuman yang berat oleh Kaisar sendiri. Ia menggeleng berharap hal itu tidak terjadi dan berharap Kaisar akan bersabar dan memaklumi keputusan Kiara meski ia tahu Kaisar juga sama bingungnya dengannya mengenai keputusan gadis itu yang tidak mau membantu mereka.




Liam yang juga hadir di perjamuan itu dengan pakaian biasa. Ia tak mengenakan jubah hitam karena tak mau identitas diketahui semua orang.


Tapi ia masih memakai masker karena tak mau orang-orang mengenali wajahnya. Ia hanya menyamar sebagai tamu undangan biasa.



Kedua matanya sedari tadi tak bisa ia alihkan dari gadis yang berdiri di depan singgasana itu. Gadis yang saat ini dan akan selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Wajarlah, ia adalah seorang Tuan Putri. Selain itu, pesona wajahnya juga sudah tidak perlu diragukan lagi.


__ADS_1


Saking indahnya paras ia miliki, ia bahkan pantas mendapatkan perhatian dan kekaguman dari seluruh orang di dunia. Seperti yang saat ini sedang ia lakukan. Memperhatikan gadis itu diam-diam. Ya, memang selalu seperti itu.


__ADS_2