Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kecemburuan Sera


__ADS_3

Sera memainkan pedang dengan lincah. Memang tidak selincah pebeladiri pada umumnya. Ia hanya diajarkan beberapa teknik mengayunkan pedang oleh Rubby. Jadi kemampuannya sudah cukup menurutnya. Setidaknya ia sudah memuaskan keinginannya untuk bisa memainkan pedang walau kemampuannya masih tergolong dasar.


Saat sedang serius mengasah kemampuan bermain pedangnya, ia mendengar banyak pijakan-pijakan di tanah seperti sedang berlari terburu-buru ke arahnya.


Sera mendongak. Ia terkesiap mendapati segerombolan orang berlari ke arahnya dan mengepungnya. Sera mendekap pedangnya. Dengan kemampuannya yang masih minim, ia tidak mungkin bisa melawan orang sebanyak itu. Apa lagi dilihat dari gaya mereka memegang pedang, sepertinya mereka merupakan pebeladiri yang cukup handal.


"Ngapain kalian ke sini?" Sera memberanikan diri melantangkan suara sembari menjulurkan pedang untuk mengancam mereka.


Namun segerombolan pebeladiri itu maju dan mulai menyerangnya tanpa ampun. Sera yang tidak terbiasa menerima serangan bertubi-tubi hanya bisa terus mengayunkan pedang untuk bertahan dari serangan musuh. Ia tahu ia tidak mungkin bisa membalas serangan mereka. Oleh karena itu, ia memanfaatkan pedangnya untuk bertahan dari serangan mereka.


Sera merasa lelah karena terus mengayunkan pedang tanpa henti. Jika ia terus begini, ia hanya akan mati karena kelelahan. Namun dirinya benar-benar tidak bisa membalikkan serangan.


Musuh memanfaatkan kelelahannya dan berhasil mendorongnya hingga hampir terpental. Beruntungnya seseorang berhasil menahan keseimbangan tubuhnya. Sera menoleh dan terpaku karena orang yang menyelamatkannya adalah Rubby. Ia bahkan tidak berpikir bahwa gurunya itu akan menyelamatkannya. Bagaimana pria buta sepertinya bisa selalu peka dan datang menyelamatkannya di waktu yang tepat.


"Siapa kalian? kenapa kalian ke sini?" tanya Rubby datar. Ia sudah sangat terbiasa dihadapkan dengan pebeladiri yang selalu mencoba memburunya. Resiko menjadi seorang Pendekar.


"Kami mencari Pendekar Rubby." Sahut salah seorang pria dari gerombolan pebeladiri itu.


"Siapa yang mengirim kalian ke sini untuk menyerangku?" tanya Rubby tahu bahwa segerombolan itu pasti diutus oleh seseorang untuk menyerangnya.


Seketika deru angin menyapu mereka. Sera mendekap tubuh Rubby saking terkejutnya. Deru angin seperti badai itu hanya berlangsung sesaat.


Rubby tahu bahwa ini bukan angin biasa. Ini pasti pertanda kedatangan seseorang yang mau menyainginya.


"Maaf, Pendekar Rubby. Aku yang menyuruh mereka menyerangmu." Sahut seorang wanita yang muncul dengan jurus terbangnya. Baru sedetik melihat saja Sera sudah tahu wanita itu memiliki paras yang sungguh menawan bagaikan seorang dewi. Ia yang muncul dengan jurus terbang dan memegang sebuah kipas kuno semakin menambah pesonanya.

__ADS_1


Wanita itu mendarat tepat di depan Rubby dan Sera. "Mereka adalah murid-muridku. Aku hanya mau menguji bela dirimu. Tolong maafkan mereka, Pendekar Rubby." Sera yang seorang gadis saja terpesona dengan senyuman wanita berbaju merah itu. Ia merasa bersyukur Rubby tidak bisa melihat. Kalau tidak, pasti pria itu juga akan terpesona dengan kecantikan bak dewi yang dimiliki wanita itu.


Sera sadar angin besar yang muncul sesaat tadi berasal dari kipas wanita itu. Sekarang ia hanya fokus memikirkan sekuat apa tenaga dalam wanita itu sampai bisa menciptakan angin sebesar tadi.



Segerombolan pebeladiri yang ternyata merupakan murid dari wanita itu langsung menghentikan serangan dan meletakkan kembali pedangnya.


"Dilihat dari auramu, kamu adalah Pendekar ke-empat dan merupakan dewi ke-sembilan menurut legenda." Jangan salah paham. Dewi hanyalah julukan yang diberikan kepada seorang pebeladiri wanita karena kemampuan bela diri dan kecantikan yang dimilikinya. Menurut legenda, ia adalah dewi ke-sembilan dan menjadi satu-satunya dewi yang masih hidup dan dilegendakan sampai sekarang. Sedangkan saudari seperguruannya yang juga merupakan dewi yang lain sudah mati atau banyak juga yang telah terpencar entah ke mana.


Tidak ada seorang pun yang mengetahui nama aslinya. Orang-orang hanya memanggilnya dewi. Sera yang baru melihatnya hari ini merasa bahwa julukan dewi sangat pantas untuknya karena aroma tubuhnya saja memancarkan wangi semerbak. Bahkan saat tadi angin yang berasal dari dewi itu muncul saja sudah tercium aroma wangi tubuhnya.


"Dewi ke-sembilan menyapa Pendekar nomor dua, Rubby Fayes." Ia membungkuk anggun pada Rubby.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rubby. "Aku ke sini untuk mencarimu." Dewi tersenyum penuh arti pada Rubby. Sera mengartikan senyuman itu sebagai jenis ketertarikan kepada lawan jenis.


Sera melirik gurunya itu. Ia merasa dari awal ia bertemu dengan Rubby, sampai sekarang saat Rubby melatihnya pun, pria itu jarang mengeluarkan sepatah kata. Tapi ketika berhadapan dengan dewi, Rubby lebih banyak mengeluarkan kalimat dari pada saat bersamanya.


"Kenapa menacariku?" tanya Rubby lagi. "Ada hal penting yang mau aku bicarakan denganmu." Balas dewi cepat. Ia melirik Sera yang berdiri di samping Rubby. Seperti mengisyaratkan bahwa ia hanya ingin berbicara berdua dengan Rubby.


"Siapa gadis cantik ini?" tanya dewi basa-basi. Meski ia menanyakannya dengan serius.


"Dia adalah muridku." Sahut Rubby. "Jadi dia adalah satu-satunya muridmu?" tanya dewi lagi. Rubby mengangguk membenarkan.


Sera yang sudah tidak tahan karena merasa hanya dijadikan nyamuk, membungkuk undur diri pada Rubby dan dewi. "Sera masih ada urusan lain. Silakan kalian mengobrol dengan santai." Pamitnya melangkah masuk, dari pada dirinya hanya menciptakan kecanggungan antara Rubby dan dewi.

__ADS_1


Dewi terkekeh. "Dia nggak cemburu denganku, kan? usiaku kan bahkan lebih tua darimu." sahutnya saat Sera tak lagi memperhatikan mereka.


"Apa yang mau kamu bicarakan denganku?" Rubby mengalihkan pembicaraan.


...----------------...


"Ada perlu apa?" tanya Rubby saat tahu Sera mengunjungi kamarnya. Ia mendengar lutut gadis itu bertumpu di tanah.


Rubby menghela napas sejenak. "Kenapa kamu berlutut?" tanyanya memastikan.


"Sera mau minta maaf karena nggak bisa mengalahkan murid-murid dewi saat mereka menyerang Sera." Ucapnya merasa telah mempermalukan Rubby karena telah gagal dan tidak berguna sebagai murid seorang Rubby.


"Mengalahkan? kamu bahkan nggak bisa melawan mereka. Apa lagi mengalahkan." Nada datar Rubby terdengar meremehkan.


"Sera berusaha melawan mereka tadi. Tapi nggak bisa." Sera membela dirinya.


"Kalau kamu nggak bisa melawan, teruslah bertahan dari serangan musuh." Nasihat Rubby.


"Sera udah bertahan dari serangan mereka. Tapi harus bertahan sampai kapan? nggak mungkin bisa terus bertahan tanpa menyerang." Ia meminta saran.


"Bertahanlah sampai kamu menemukan titik lengah mereka. Kalau kamu capek menahan serangan mereka, mereka juga pasti akan capek karena terus menyerangmu. Gunakan kesempatan itu untuk menyerang mereka satu kali. Karena kesenpatan nggak akan datang dua kali, jadi gunakan kesempatan itu untuk langsung memukul telak musuh." Jelasnya detail.


"Sera akan mengingat nasihat Guru." Patuh Sera. "Berlatihlah pedang yang aku ajarkan padamu kemarin sebagai hukuman. Selama matahari belum terbenam, kamu nggak boleh berhenti." Tegas Rubby.


"Baik, Guru." Sera bangkit dan menaikkan lututnya. Ia melangkah hendak beranjak dari kamar gurunya. Namun, ia kembali menghentikan langkah dan berbalik menghadap Rubby.

__ADS_1


"Sera tau Sera bukan murid yang bisa diandalkan. Sera juga tau Sera tidak sehebat dan secantik dewi."


__ADS_2