Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Perpustakaan Menteri Waze


__ADS_3

Sera membuka mata perlahan. Ia bangun pelan-pelan dan duduk di ranjang yang empuk. Ia melihat seluruh tubuhnya. Memeriksa apakah bagian tubuhnya masih utuh, dan apakah dirinya benar-benar masih hidup?


"Aku ... masih hidup?" gumamnya. "Aku ... di mana?" Sera bangkit dan mencoba keluar dari kamar asing itu. Ia berjalan ke teras di depan.


Sera menghimpitkan tubuh di samping pintu saat melihat seorang pria gagah tengah berlatih pedang dengan tangannya yang lincah.


Sera menggerak-gerakkan tangannya mencoba meniru gerakan pria gagah itu. Ia menggelengkan kepala.


"Nggak bisa. Seandainya aku jago bela diri seperti pria itu. Pasti aku bisa melawan semua orang yang menindasku." Ia berkhayal sembari menggerak-gerakkan tangannya.


Ia melihat pria itu duduk di kursi masih membelakanginya. "Sudah bangun?" tanya Rubby yang menyadari keberadaannya.


Sera berjalan mendekati Rubby perlahan. "Terima kasih banyak, Tuan. Tapi ... gimana kamu bisa tau ada aku di belakangmu?" tanya Sera penasaran.


"Aku memakaikan obat milikku di lukamu. Aroma obat itu menempel di tubuhmu. Jadi aku tau kamu datang karena aroma dari obatku itu." Jelas Rubby. Sera mengangguk mengerti.


"Sekali lagi terima kasih banyak, Tuan. Aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikanmu." Ucapnya tulus.


Rubby meneguk secangkir air dan meletakkan cangkirnya kembali di meja. "Tidak perlu membalas budi. Setelah ini, kita juga belum tentu bisa ketemu lagi. Aku ini pria yang suka berkelana. Hampir semua daerah sudah ku kunjungi. Jadi, Nona nggak perlu repot-repot memikirkan tentang membalas budi." Jelas Rubby.


Sera tampak berpikir. "Begini saja. Gimana pun juga, kamu telah menyelamatkanku. Jadi ... izinkan aku mengabdi padamu dan menjadi muridmu." Sera bertekuk lutut meminta Rubby melantiknya sebagai murid.


Rubby terdiam selama beberapa detik. Ia menghela napas dalam. "Nona pulihkan diri dulu. Besok baru boleh pergi." Pintanya.


Sera yang merasa permintaannya tak direspon, memilih kembali berdiri. Ia mengangguk paham.


"Aku mengerti. Namaku Sera. Tuan ... " Sera ingin tahu nama pria yang telah menyelamatkannya itu.


"Sepertinya ... Nona tidak pernah membaca buku." Tebak Rubby yang membuat Sera terlonjak.

__ADS_1


"Emang kentara banget kalau aku nggak pernah baca buku dari cara bicaraku, ya?" batinnya.


"Sera ... sibuk mengurus warung untuk menghidupi diri sendiri. Jadi, nggak pernah punya waktu untuk membaca buku atau melakukan hal lainnya." Tuturnya.


"Pantas dia tidak tau siapa aku." Batin Rubby.


"Luka pedang yang ditusuk oleh para perampok di dadamu cukup dalam. Untung aku cepat menyembuhkannya. Kalau nggak, kamu pasti nggak akan selamat. Ke depannya, jangan melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Atau lukamu akan kambuh." Papar Rubby.


Sera mengangguk paham. "Sekali lagi, Sera sangat berterima kasih karena sudah menyelamatkanku dan menyembuhkan lukaku." Ucapnya tulus.


Rubby berdiri dan melangkah masuk ke penginapan tempat mereka menetap saat ini. "Perbanyak istirahat. Besok aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu." Pintanya lagi.


Sera hanya menatap punggungn Rubby yang berjalan masuk. "Terima kasih."


...----------------...


Selesai makan, Hansa dan Kiara berjalan mengelilingi pasar untuk melihat adakah orang yang terlihat mencurigakan.


Kiara menoleh. "Benar. Barang itu pasti barang yang sangat ... berharga." Timpalnya.


"Bukan masalah berharganya. Tapi barang itu pasti barang yang langka dan sangat berguna bagi penjahat sepertinya." Jelas Hansa. "Barang itu sudah tentu sama sekali tak memiliki harga. Karena penjahat itu merupakan orang Istana. Jadi, barang berharga seperti apa pun, dia tentu sudah punya." Paparnya.


Kiara mengangguk-angguk mengerti. "Benar juga."


Hansa menoleh dan menatapnya. "Kenapa?" tanya Kiara bingung ditatap tiba-tiba.


"Kamu tau dari mana kalau pelakunya orang Istana?" tanya Hansa dengan berbisik. Tak mau sampai ada yang mendengar percakapan mereka.


"Kamu pikir aja. Siapa yang bisa menyusun rencana jahat serapi itu coba? kalau pelakunya bukan orang Istana, apa si pelaku se berpengalaman itu? ditambah lagi, kamu ingat aku pernah bilang kalau tahanan yang mati di Penjara itu mati dibunuh? di Kantor Pengadilan nggak ada orang yang mencurigakan. Kalau pelakunya bukan orang dari Kantor Pengadilan, berarti orang dari Istana." Papar Kiara panjang lebar.

__ADS_1


Hansa merasa dugaan gadis itu memang masuk akal. "Meski dugaan ini masuk akal, jangan sampai ada yang mendengar tentang ini." Hansa memperingati dengan berbisik.


Kiara mengangguk berjanji. Ia kembali menoleh. "Aku tiba-tiba teringat kalau Guru Waze pernah menunjukku satu barang yang benar-benar dia jaga seperti nyawanya. Siapa tau itu bisa jadi petunjuk." Tuturnya.


"Nggak penting. Lagi pula, Menteri Waze berada di kota A. Mana bisa kita melihat barang itu kalau kita ada di sini." Sela Hansa.


"Ck, Menteri Waze memang ada di kota A. Tapi tempat dia menaruh barang itu ada di kota ini." Jelas Kiara.


"Kamu yakin?" tanya Hansa. Kiara mengangguk pasti. "Kenapa dia sampai rela-rela menaruh barang itu di kota yang terpisah dari tempat tinggalnya?" bingungnya.


"Iya juga, ya." Kiara mengusap-usap dagunya berpikir. "Dari pada kita terlalu banyak berpikir dan bertanya-tanya, mending kita ke tempatnya sekarang. Kita bisa meneliti langsung barang itu.


"Ayo!" ajak Kiara. "Kamu masih ingat tempatnya?" Hansa memastikan. Kiara mengetuk-ngetukkan jemari di otaknya. "Ingatanku selalu yang paling kuat di antara kakak-kakakku." Ia memuji diri sendiri.


Kiara mengajak Hansa pergi ke tempat Menteri Waze menaruh barang itu. Hansa meneliti tempat yang cukup besar itu. "Ini kan Perpustakaan Menteri Waze."


Kiara mengangguk mengiyakan. "Memang iya."


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?" tanya Hansa yang jelas tahu Perpustakaan terkenal itu. Perpustakaan itu bahkan lebih luas dan lebih menarik dari Perpustakaan Kerajaan sendiri.


"Aku ingat, Menteri Waze memang membangun Perpustakaan di sini." Ujar Hansa.


"Mungkin kita bisa sekalian membaca buku-bukunya. Bisa jadi kita akan mendapat petunjuk." Usul Kiara.


"Yuk, masuk!" ajak Kiara. Hansa kembali menarik tangannya. "Kamu yakin kita boleh masuk? ku dengar, Perpustakaan ini meskipun besar, tapi Perpustakaan ini miliknya pribadi. Nggak ada yang boleh masuk sembarangan." Hansa ragu.


Kiara memutar bola mata. "Kamu lupa aku ini muridnya dan orang terpercayanya? jelas aku boleh masuk semauku." Ia mengingatkan Hansa. "Kamu tenang aja. Menteri Waze nggak akan marah kalau aku bawa kamu masuk ke sini. Nanti aku jelasin ke beliau." Kiara tahu isi pikiran Hansa.


Akhirnya Hansa setuju. Mereka masuk ke tempat luas itu. Mata mereka menyapu seluruh penjuru ruangan. "Aneh. Ada yang aneh." Sahut Kiara tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Hansa.


"Seluruh letak buku-buku dan barang di ruangan ini telah diubah."


__ADS_2