Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kencan yang terganggu


__ADS_3

Kiara yang jenuh karena beberapa hari ini Hansa selalu sibuk dengan urusannya dan tidak terlalu memperhatikannya, menghampiri ruangan pria itu.


"Udah selesai kerjanya?" ia menggebrak meja pelan. Hansa beralih dari buku-bukunya. Ia menatap Kiara. Memilih meladeninya dari pada gadis itu akan berubah menjadi monster haus darah.


"Kamu sangat sibuk akhir-akhir ini. Sampai nggak punya waktu untukku. Aku takut akan kering dan apek kalau kamu kelamaan menjemurku." Keluh Kiara bersedekap dada.


"Kamu mau apa?" tanya Hansa lembut. Kiara menaikkan sebelah alis dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia melihat ke atas, memikirkan sesuatu untuk diminta kepada Hansa. "Aku mau jalan-jalan sih malam ini. Seperti waktu itu." Usulnya. Wajahnya berubah cemberut ketika mengingat bagaimana ia mengungkapkan perasaannya pada Hansa saat pertama kali mereka jalan bersama.


"Tapi aku masih sibuk." Hansa melirik buku-buku di meja.


"Ayolah, sekali aja. Ini juga demi kamu supaya matamu nggak terlalu lelah setiap hari harus membaca buku-buku itu." Bujuk Kiara mengguncang lengan Hansa.


Hansa terkekeh. "Aku udah biasa kok baca buku-buku sebanyak ini. Mataku nggak pernah masalah. Nggak usah berlebihan, deh." Candanya.


Kiara berhenti mengguncang lengan Hansa dan malah melepas lengan pria itu kasar. "Terserah kamu mau atau nggak. Sepertinya aku salah karena meminta padamu." Sebalnya. "Lebih baik aku mengajak kakak ke-empat atau Weni aja."


"Atau mungkin ... aku bisa mengajak Bari kalau dia mau." Kiara berjalan dan hendak meraih gagang pintu.


"Tunggu!" Hansa menghampiri dan menghentikan niatnya. "Ya udah, aku minta maaf. Ayo jalan! aku akan membawamu ke suatu tempat yang sangat indah." Ajaknya menggenggam tangan Kiara lembut.


Kiara menatapnya dengan senyum lebar. "Terima kasih, kamu memang yang terbaik." Pujinya bergelayut manja di lengan Hansa. "Ish." Hansa mencuit pelan hidungnya.


Suasana di luar tidak terlalu ramai. Tapi masih banyak yang berlalu lalang menikmati suasana di malam hari. Baru setelah melewati pepasaran, suasana mulai gelap dan semakin sepi. Hansa menggenggam erat tangan Kiara. Ia merasa ada yang tidak biasa dengan tempat yang mereka lalui. Firasatnya seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Dan itu membuat tangannya semakin menggenggam erat tangan Kiara. Tak mau gadis itu jauh-jauh darinya. Dengan mata yang sigap mengawasi keadaan sekitar.


Telinganya mulai mendengar suara yang semakin mendekati mereka. Tingkat kewaspadaannya semakin tinggi. Jika pada saat itu ia sedang berjalan seorang diri, ia tentu tidak perlu takut sedikit pun. Tapi yang membuatnya was-was adalah karena ia membawa gadis spesialnya.


Kiara tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Hansa. Ia merapatkan tubuhnya tak ingin jauh-jauh dari pria itu.

__ADS_1


Samar-samar suara itu semakin mendekat. Hingga wujud dari sumber suara itu menampakkan dirinya.


Kiara dan Hansa tahu betul siapa orang yang menghadangnya itu dari pakaian yang dikenakannya.


Kiara memicingkan mata. "Apa yang dilakukannya di sini?"


"Jangan-jangan, Menteri Waze mengirimnya ke sini karena mereka udah mencurigai aku."


Kiara melepas genggaman tangannya dan menjaga jarak dari Hansa. Takut Julian Rama akan mengadu pada Menteri Waze mengenai kedekatannya dengan Hansa. Dan hal itu akan membuat posisinya dan Kantor Pengadilan semakin tidak aman.


Kiara mengerutkan kening karena Julian Rama tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan tidak melayangkan serangan pada mereka. Hanya menatap mereka selama beberapa detik dan berlalu begitu saja dengan gerakan lincah.


"Julian Rama!" seru Kiara. "Kejar dia, Hansa! dia adalah bawahan Menteri Waze. Dia akan mengadu ke Menteri Waze nanti." Ia mengguncang-guncang lengan Hansa panik.


Hansa mengernyit. "Siapa namanya tadi kamu bilang?" desaknya. "Julian Rama." Jawab Kiara cepat. "Cepat kejar dia!" ia gusar sendiri karena Hansa malah terdiam dengan wajah bingungnya.


"Jadi selama ini Julian Rama adalah si jubah hitam?" Hansa tak menyangka. Kiara akhirnya paham alasan kebingungan Hansa.


"Awalnya aku juga kaget banget kenapa seorang Pendekar bisa melakukan kejahatan, bukannya melindungi orang yang lemah?" ia menceritakan kebingungannya saat pertama tahu identitas si jubah hitam.


Kiara memperhatikan Hansa yang melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kamu memikirkan apa? apa ada masalah?" tanyanya.


Hansa tersadar dari lamunannya dan menatapnya lekat. "Kamu harus selalu hati-hati. Usahakan jangan keluar sendiri tanpa aku temani." Pesannya.


"Aku janji aku akan selalu menjaga diri dan nggak akan keluar sendiri tanpa kamu." Kiara balas menatap Hansa lekat. "Tapi benaran nggak ada masalah, kan?" ia memastikan.


Hansa menggeleng cepat. "Nggak ada, Kiara." Elaknya. "Janji ya nggak ada yang kamu sembunyikan? kalau ada yang kamu sembunyikan aku akan sangat marah." Ancamnya.

__ADS_1


"Aku janji. Ayo jalan!" Hansa meraih dan menggenggam tangan Kiara. "Nggak usah. Aku sudah mengantuk. Ini juga udah malam. Kita pulang aja." Kiara memutuskan pulang karena moodnya telah rusak perkara Julian Rama.


"Baiklah." Hansa menurut dan membawa Kiara pulang. Kiara mengerutkan kening bingung dengan sikap Hansa. Pria itu bahkan tidak mengatakan dua kali untuk membawanya ke tempat yang ia janjikan. Sama sekali tidak membujuknya. Padahal Kiara baru sekali mengatakan tidak mau melanjutkan kencan mereka. Apa dia tidak bisa membujuknya?


Sesampainya di kamar pun Kiara tidak bisa tidur. Ia curiga Hansa pasti mengenal Julian Rama. Bukan hanya sekedar kenal karena ia adalah seorang Pendekar. Melainkan ia curiga bahwa Hansa mungkin kenal dekat dengan pria itu.



Hansa memutuskan untuk kembali menyusuri jalan tadi. Ia ingin bertemu dan berbicara langsung dengan Julian Rama. Ia ingin mengancam pria itu untuk jangan sekali mencari perkara dengannya. Apa lagi sampai melibatkan Kiara.



Namun karena tak kunjung melihat pria itu, ia memutuskan untuk kembali dari pada membuat Kiara curiga. Ia tahu gadis itu mencurigai sesuatu tentangnya dan Julian Rama.



Pagi harinya, Kiara bangun dari tidurnya, baru saja membuka pintu, ia dikejutkan dengan Hansa yang menyambutnya di depan pintu. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya kaget.


Hansa tersenyum cerah. "Selamat pagi, Kiara." Ucapnya. "Aku tau kamu sedikit marah karena kencan kemarin gagal total. Jadi aku mau minta maaf sama kamu." Akunya.


Kiara memutar bola mata dan berjalan melewati Hansa. "Kalau kamu mau aku bisa mengajakmu kencan hari ini sebagai permintaan maaf untuk yang kemarin." Tawarnya.


"Nggak usah." Tolak Kiara berlagak sok merajuk.


Hansa mengernyit gusar. "Kamu kenapa, sih? ada masalah?"


Kiara reflek membalikkan tubuh. "Kok kamu tanya aku? harusnya aku yang tanya, ada apa denganmu? kita cuma bertemu dengan Julian Rama. Kenapa sampai membatalkan kencan kita? apa Julian sangat berpengaruh sampai kamu merasa terganggu dengan kencan kita?"

__ADS_1


__ADS_2