Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Misi di kota B 2


__ADS_3

"Tuan Putri, ada apa denganmu?" Fian membuyarkan lamunan Hyra. Hyra menggeleng-gelengkan kepala mencoba menepis pikirannya yang selalu berpusat pada kejadian tempo hari. Ia masih penasaran siapakah sosok yang menyelamatkannya dari panah yang mengarah padanya hari itu.


"Tuan Putri, Anda baik-baik saja? apa Anda kurang sehat?" tanya Fian perhatian. "Kalau Tuan Putri sedang tidak enak badan, sebaiknya Anda istirahat. Kita bertemu di lain saja." Usulnya mementingkan kesehatan Hyra.


"Mana boleh begitu? kamu datang jauh-jauh dari kota C, aku harus menyambutmu dengan baik. Apa lagi, kita jarang ketemu." Protes Hyra.


"Tapi Tuan Putri, Anda ... " Fian hendak kembali protes. "Sudahlah. Aku baik-baik saja. Cuman lagi banyak pikiran. Beruntung ada kamu di sini. Jadi, bisa menghiburku dari banyaknya pikiran di kepalaku." Potong Hyra. Ia tak ingin hari spesialnya bersama kekasihnya itu terganggu seperti tempo hari.


...----------------...


"Hansa pamit sekarang, Tuan." Pamit Hansa yang ditugaskan untuk berangkat ke kota B. Ia hanya membawa beberapa helai pakaian dan beberapa makanan di tasnya.


Ia membungkuk pada Master Nick dan seluruh anggota Kantor Pengadialan sebelum benar-benar berangkat. Misi kali ini, entah ia akan berhasil atau tidak.


Hansa memutar matanya mencari seseorang di antara sejumlah anggota Kantor Pengadilan yang mengantarnya di depan pintu gerbang.


"Ke mana gadis itu? sombong sekali. Mentang-mentang seorang tamu, dia nggak berniat mengantarku?" batinnya mengerutkan kening.


"Tuan Hansa, hati-hati di jalan." Ucap Bari. Hansa mengangguk. Ia menaiki kuda yang akan ia tunggangi menuju kota B. Matanya sekali lagi menyapu seluruh anggota Kantor Pengadilan.


"Tuan Nick, jaga diri Anda." Pesannya. "Kamu juga." Balas Master Nick.


Hansa mulai menunggangi kudanya meninggalkan wilayah Kantor Pengadilan.


...----------------...


Kira-kira dua hari waktu yang ia butuhkan untuk sampai di kota B. Ia memasuki penginapan untuk tempat ia tinggal selama menjalankan misi di sana.


Ia membuka bungkus makanan dan segera melahapnya.


"Sepi juga bertugas sendiri." Batinnya. Setelah makan, ia membuka jendela untuk melihat kondisi di luar.


Hansa menyipitkan mata melihat seorang pria berjalan melewatinya dengan tongkat di tangannya. Pria itu menggerakkan kepala sedikit, seperti menoleh ke arahnya. Namun, pria dengan tongkat itu terus berjalan tanpa berniat berhenti untuk sekedar menyapa Hansa.

__ADS_1


"Rubby Fayes? pendekar Rubby?" sahut Hansa melihat pria yang termasuk dalam tujuh Legenda Pendekar.


Pria itu berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya seolah tak mendengar Hansa yang barusan menyebut namanya.


"Aku harus mengejarnya!" tekad Hansa. Ia buru-buru keluar dan mengejar pria itu yang justru terlihat menghindarinya.


Suasan pada saat itu memang malam hari, sehingga sedikit sulit mencari pria yang ia kejar dalam kedaan ramai seperti ini.


Di depan penginapannya memang terdapat pasar yang masih ramai bahkan di malam hari.


"Ehem. Tuan Hansa memang sangat rajin dan amanah. Baru sampai pun langsung menjalankan misi." Sahut seseorang.


Hansa waspada. Ia menoleh ke sampingnya dengan cepat. "Kamu? sejak kapan kamu di sini? kamu ... mengikutiku?" tanya Hansa terkejut melihat Kiara yang tiba-tiba ada di sampingnya.


"Aku memang diizinkan oleh Tuan Nick untuk menjalankan misi bersamamu." Jelas Kiara.


"Kamu bohong. Kalau begitu, kenapa saya tidak tau?" Hansa tak percaya. "Aku memang tidak mau memberitahumu. Karena pasti kamu nggak akan setuju." Jawab Kiara santai.


"Sudahlah. Yang penting aku sudah di sini. Kamu pun nggak bisa mengusirku." Ujarnya. "Kamu lagi ngapain?" tanyanya karena tadi sempat melihat Hansa yang seperti sedang mengintai seseorang.


"Kamu menggangguku. Kenapa sih kamu harus muncul sekarang? saya jadi kehilangan jejak." Protesnya.


Kiara melipat kedua tangan di dada tak peduli. "Memang siapa yang kamu intai?" tanyanya penasaran.


Hansa menghela napas. "Sudahlah. Ayo kembali ke penginapan!" ajaknya memilih tak memberitahu Kiara. Ia tak ingin gadis itu tahu sekarang, yang menyebabkan gadis itu akan nekat memaksa mencari pria tadi.


"Tunggu!" Kiara menghentikan langkah Hansa. "Aku tidur di mana? kamu hanya memesan satu kamar." Tanya Kiara.


"Tenang saja. Aku memesan dua kamar kok." Hansa melangkah kembali ke penginapan diikuti oleh Kiara di belakangnya.


"Kok kamu memesan dua kamar? kamu kan nggak tau aku akan ke sini." Kiara heran.


"Sebenarnya sebelum berangkat, Tuan Nick memberitahuku kalau beliau akan mengutus satu orang lagi dari Kantor Pengadilan untuk ikut menjankan misi bersamaku. Tapi, saya nggak tau kalau itu kamu." Tutur Hansa.

__ADS_1


Kiara mengangguk paham. Sesampainya di depan kamar mereka, ia memegang perutnya yang berkali-kali bunyi. Ia melirik Hansa dan tersenyum tanda bahwa dirinya sedang lapar.


"Selama dua hari perjalanan, aku hanya pernah makan dua kali untuk menghemat uangku." Curhatnya memberikan kode bahwa ia meminta makanan.


"Tapi, pasar sudah mau tutup semua. Dan makanan di pasar juga sudah habis sepertinya." Ujar Hansa. Kiara memajukan bibir bawahnya. "Tapi aku lapar." Rengeknya memaksa.


Hansa melihat ke sekililingnya. Betul saja, pasar memang tampak sudah sepi. Dan para pedagang juga tengah membereskan barang dagangan mereka.


"Repot juga bawa seorang gadis saat menjalankan misi." Batinnya.


Ia melirik Kiara yang terlihat murung karena lapar.


"Baiklah. Tunggu di sini." Ia masuk ke kamarnya dan mengambil sisa makanannya untuk ia berikan pada Kiara.


"Nggak mau." Tolak Kiara. "Makanan itu punya kamu. Kalau aku makan, kamu makan apa?"


Hansa menghela napas sejenak. "Aku nggak lapar. Aku juga masih punya beberapa keping uang untuk membeli makanan." Ia jelas tak tega membiarkan gadis itu kelaparan.


Kiara memutar bola mata, berpura-pura berpikir. "Kalau begitu, aku ambil, ya." Ia mengambil bungkus makanan itu dan langsung melahapnya. "Makasih." Ucapnya.


"Bagaimanapun, kamu harus makan untuk menyimpan energi buat besok." Ucap Hansa. Kiara hanya mengangguk dengan mulut penuh.


"Ngomong-ngomong, saya masih penasaran. Gimana cara kamu mengikutiku?" tanya Hansa di sela Kiara mengunyah makanannya.


"Mm ... aku memutar jalan. Aku nggak melewati jalan yang sama denganmu." Jelas Kiara cengengesan.


Hansa mengangguk mengerti. "Ya sudah. Saya masuk dulu. Kamu juga istirahat lebih awal. Kamarmu di sana." Hansa menunjuk kamar Kiara yang berseberangan dengannya.


"Makasih banyak." Ucap Kiara lagi. Ia melangkah memasuki kamarnya. Ia langsung menjatuhkan dirinya di ranjang saat pertama kali memasuki kamarnya.


"Sebenarnya, dia pria yang cuek tapi perhatian." gumamnya berbicara seorang diri.


"Tapi, terkadang dia nyebelin juga." Sahutnya mengingat momen-momen menyebalkan Hansa terhadapnya.

__ADS_1


...----------------...


Rubby Fayes sadar betul bahwa dirinya diintai oleh seorang pria. Ia kenal pria itu dengan jelas. Pria yang juga termasuk dalam Legenda tujuh Pendekar. Hansa Thones.


__ADS_2