Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
"Terimakasih karena selalu menyelamatkanku"


__ADS_3

Kiara menunduk ditatap seperti itu oleh Hansa. "Kamu ... kenapa kamu bisa ada di sana? kamu diculik?" tanyanya daripada sibuk mengurus detak jantungnya yang tak kunjung kembali normal.


"Saya tau saat saya diculik. Tapi saya sengaja nggak mau lawan. Karena saya pikir, saya bisa menemukan petunjuk kalau mengikuti si jubah hitam itu. Tapi ... nggak disangka, saya malah tetap membuatmu dalam bahaya."


Ucapan Hansa sudah cukup membuat Kiara merasa bahwa dirinya adalah seorang Putri.


"Kamu sudah tidur hampir seharian. Kenapa masih lemah juga?" tanya Hansa memudarkan senyuman Kiara.


Kiara memutar bola mata kesal. "Hey, lalat busuk! kalau bukan karena kamu yang menaruh obat tidur di air yang aku minum, aku mana mungkin masih selemah ini." Protesnya.


Hansa mengerutkan kening. "Dari mana kamu tau kalau aku menaruh obat tidur di airmu?" ia keceplosan. "Eh, maksudku ... "


"Nggak usah panik. Aku tau kamu mekukannya demi kebaikanku." Ujar Kiara.


"Ngomong-ngomong, sebelum aku tidur, aku belum tau kalau ternyata kamu menaruh obat tidur di air yang aku minum. Pas bangun baru aku sadar. Karena aku biasanya nggak pernah tidur selama itu. Apa lagi, aku tertidur nyenyak setelah meminum air itu." Tutur Kiara panjang lebar. Dalam keadaan masih lemah pun dia masih banyak berbicara.


"Saya minta maaf." Ucap Hansa singkat namun terdengar tulus. "Kita udah sampai." Ia menurunkan Kiara dari gendongannya dengan hati-hati.


Kiara menatapnya lekat. "Tuan Hansa, makasih banyak karena telah menyelamatkanku berkali-kali hari ini." Ucapnya tersenyum manis.


"Sama-sama. Kalau gitu, saya istirahat dulu. Kamu ... jangan lupa kunci pintu dan padamkan lilin kamarmu agar tidak memancing musuh berbuat hal yang tidak diinginkan lagi." Hansa mengingatkan.


"Siap, Tuan Hansa yang terhormat." Kiara memberikan hormat pada pria itu. Hansa hanya tersenyum tipis dengan masih berdiri di situ.


"Kok diam aja? kamu nggak masuk ke kamarmu?" tanya Kiara bingung melihat Hansa yang masih berdiri menatapnya.


"Kamu duluan yang masuk." Pinta Hansa yang berhasil mengundang gejolak di hati Kiara. Gadis itu hanya tersenyum, mencoba menutup wajahnya yang memerah. Ia berlari kecil dan masuk ke kamarnya. Takut Hansa melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


Hansa menggelengkan kepala dengan senyum khasnya. "Gadis itu benar-benar, ya."


...----------------...


Rubby berdiri dari kursi, setelah selesai makan siang bersama Sera. "Aku harus pergi sekarang. Aku lagi buru-buru. Luka Nona juga sepertinya sudah sangat membaik. Kalau begitu, nggak ada yang harus saya khawatirkan lagi." Ia menangkup kedua tangannya dan segera membalikkan tubuh berniat meninggalkan tempat itu dan Sera.


"Tuan, tunggu!" Sera menghentikan langkahnya. "Sera ... berterima kasih banyak akan semua yang Tuan lakukan untuk Sera." Ucapnya lagi-lagi.


Ia mendongak dan menatap Rubby serius. "Apa ... apa kita masih bisa bertemu?" tanyanya pelan.

__ADS_1


"Kalau ada takdir, kita pasti masih bisa bertemu." Balas Rubby tanpa berbalik. Ia menghela napas sejenak. "Nona Sera, jaga dirimu dan jangan lupa untuk rutin memakai obat yang ku berikan padamu." Pesannya sebelum melangkah pergi.


"Tuan!" tangan Sera tergantung di udara hendak kembali menahan Rubby pergi. Namun ia sadar, bahwa ia tak mungkin bisa melarang pria itu pergi. Secara, dirinya bukan siapa-siapa bagi Rubby.


Ia menatap punggung Rubby yang telah menjauh dengan mata berkaca-kaca. "Tuan, di mana lagi aku bisa bertemu pria sebaik dirimu?"


...----------------...


Keesokan pagi, Kiara membuka pintu kamarnya dan mendapati Hansa yang juga berdiri di depan kamarnya seperti sedang menunggunya.


"Selamat pagi, Tuan Hansa." Sapa Kiara dengan senyum lebar. "Kamu udah kembali bersemangat seperti biasa. Apa udah baikan?" tanya Hansa yang entah merupakan sebuah perhatian atau sebuah peringatan seperti mengatakan: 'ingat kemarin kamu baru sakit. Sekarang udah sehat malah banyak tingkah lagi.'


"Aku sudah nggak kenapa-napa kok. Malah sekarang aku ... lapar ... ." Adunya mengusap perutnya yang sudah keroncongan.


"Kita ke pasar di depan aja. Biar lihat-lihat mana makanan yang kamu suka." Ajak Hansa yang tentu langsung disetujui oleh Kiara.


Kiara menggandeng lengan Hansa yang berusaha menepisnya. Namun, bukan Kiara namanya kalau tidak keras kepala.


Gadis itu terlihat sangat antusias melihat makanan-makanan wangi dan enak yang ada di sepanjang pasar.


"Tuan Hansa, menurutmu siapa pria berjuah hitam dan bertopeng itu?" tanya Kiara membuka percakapan.


Kiara memutar bola mata jengah. "Namamu kan sudah menjadi legenda. Wajar dia tau. Semua orang juga tau tentang itu."


Hansa menggeleng serius. "Nggak. Aku rasa, caranya menyapaku berbeda dari orang lain. Entah kenapa, aku merasa dia mengenalku." Duganya.


Kiara mengangguk paham. Ia mengerutkan kening dan kembali menatap serius.


"Seandainya kita bertemu dengan orang hebat yang mau bekerja sama dengan kita. Aku rasa, misi ini masih membutuhkan setidaknya satu orang lagi. Biar nggak terlalu berat." Ia berandai.


"Kenapa? sekarang kamu menyerah?" goda Hansa. Kiara menggeleng kuat. "Enak aja. Aku mana pernah mau menyerah. Aku hanya berharap ada orang yang mau membantu kita menjalankan misi ini." Ia meledak sendiri.


"Sst ... kecilkan suaramu!" Hansa memperingatkan. Ia kembali teringat akan kejadian di hari pertama ia datang ke kota ini. Saat ia bertemu Rubby Fayes.


"Ngomong-ngomong soal orang hebat, saat hari pertama aku sampai di kota ini, aku melihat Rubby Fayes." Ia akhirnya memberitahu.


Kiara terkejut. "Maksudmu ... kakak pertamaku?"

__ADS_1


Hansa mengangguk membenarkan. "Kenapa kamu nggak kasih tau dari awal? terus ke mana dia sekarang?" tanya Kiara tak sabar.


Lagi-lagi, Hansa harus mengingatkan gadis itu untuk mengecilkan suranya. "Saya juga nggak tau. Tapi saya rasa dia masih ada di kota ini. Masih mudah mencarinya."


Kiara tak sengaja melihat sesuatu yang menarik. Ia melepas gandengan tangannya dan berlari kecil menuju toko yang menjual bakpao.


"Kiara, jangan jauh-jauh dariku!" Hansa mengingatkan yang tak lagi digubris oleh gadis itu. Kiara masih sibuk memilih bakpao yang ingin dibelinya.


Pasar yang kondisinya sangat ramai pagi itu, menyebabkan Hansa terdorong oleh banyaknya insan yang berlalu lalang.


Ia melawan tubuh orang-orang yang menghimpitnya dan berusaha tidak berpindah selangkah pun agar tetap bisa melihat Kiara dengan jelas.


"Kiara!" Hansa terkejut mendapati toko yang berjualan bakpao. Pasalnya, gadis yang diawasinya, tak ada di toko itu. Ia mencoba tidak panik dan mendekati si penjual bakpao.


"Ibu, maaf saya mau tanya. Gadis yang tadi membeli bakpao di sini ke mana, ya?" ia buru-buru bertanya.


"Ooh gadis itu. Ia sudah barusan pergi dengan seseorang." Jawab ibu penjual bakpao. Hansa yang khawatir, bergegas lari untuk mencari keberadaan Kiara.


~


Kiara memberontak saat dirinya ditarik paksa oleh seseorang. Pria yang memakai masker untuk menutupi wajahnya itu memaksanya masuk ke kereta kuda miliknya.


Kiara tak bisa berbuat apa-apa saat dirinya dipaksa masuk ke kereta kuda milik pria misterius itu.


Pria itu membawa laju kereta kuda tersebut.


"Siapa kamu? kenapa menculikku? apa urusanmu denganku? jawab!"


"Jangan macam-macam, ya. Kakak pertamaku adalah Rubby Fayes. Kalau kamu berani macam-macam denganku, dia pasti nggak akan melepaskanmu." Kiara putus asa lantaran ancamannya tak dihiraukan sama sekali.


"Lihat saja. Kantor Pengadilan tidak akan melepaskanmu kalau kamu berani macam-macam denganku." Ancamnya lagi.


Setelah lima belas menit melaju, pria itu menghentikan kereta kudanya lantaran Kiara yang mendesaknya untuk menjawab pertanyaan gadis itu.


Kiara langsung bergegas turun saat kereta kuda tersebut berhenti. Ia melihat sekelilingnya yang hanya dikitari oleh banyak pepohonan. Ternyata, mereka sedang berada di tengah hutan yang menuju ke arah kota C. Kota yang juga merupakan kota asalnya.


"Kamu siapa?" tanyanya memberanikan diri.

__ADS_1


"Kamu tidak tau siapa aku?" pria itu membuka masker penutup wajahnya.


Kiara mematung. "Kamu ... "


__ADS_2