Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Si jubah hitam


__ADS_3

I ... iya aku pergi." Ia mendorong dada Hansa pelan dan segera berlari keluar ruangan.


Bari yang melihatnya sedikit heran. Ia kembali masuk ke ruangan Hansa. "Tuan Hansa apakan gadis itu? aku baru tau, ternyata gadis sombong seperti dia bisa terlihat ketakutan gitu." Bari tersenyum puas.


Hansa mengibas rambut panjangnya ke belakang. "Cuman sedikit mengerjainya." Ia kembali duduk di kursi. "Oh iya, kau sudah selidiki tugas yang ku kasih?" tanyanya kembali ke mode serius.


"Udah." Jawab Bari yakin. "Bagaimana?"


...----------------...


Kiara berhenti berlari di depan Aula Pengadilan. "Tunggu. Aku kenapa lari?" ia berkacak pinggang. "Aku kan udah jauh-jauh ke sini. Pokoknya gimanapun caranya, aku harus bisa masuk ke sini." Kekehnya.


Ia kemudian memilih berjalan di sekitar pasar yang tidak begitu jauh dari Kantor Pengadilan. "Duh lapar banget ... ." Kiara mengusap perutnya yang keroncongan.


"Eh, ada kuda." Ia berlari kecil ke tempat penjual kuda. "Wah, kuda ini kelihatannya cepat. Bisa aku pakai buat lomba sama kak Sima nanti." Ia jadi senyum-senyum sendiri membayangkan momen saat ia selalu beradu kuda dengan kakak ke-empatnya.


"Mm ... jadi kangen. Kakak-kakakku apa kabar, ya? udah delapan tahun aku nggak lihat mereka." Gumamnya melamun.


"Nona muda, ada kuda yang Nona suka? silahkan dilihat-lihat dulu." Tawar si penjual.


"Mm ... aku mau yang ini. Kelihatannya cerdas dan lincah." Puji Kiara sembari mengusap punggung si kuda.


"Nona memang pandai memilih kuda. Untuk yang ini, harganya dua tael perak."


Kiara merogoh saku untuk mengambil uangnya.


Ia meraba-raba seluruh pakaiannya untuk mencari kantong uang miliknya. Si bapak penjual mengerutkan kening. "Maaf Nona.


Kalau Nona nggak punya uang, silahkan pergi." Pinta bapak penjual dengan sedikit sinis.


Kiara tiba-tiba mencengkram kerah baju si penjual untuk membuatnya takut. "Bapak jangan main-main ya. Jangan-jangan bapak yang ambil kantong uang saya."


Bapak itu mulai terlihat gemetar. "Ma ... maaf Nona, tapi saya nggak ambil uang Nona." Ucap bapak penjual. Kiara menganalisa si bapak dengan perkiraannya. Takut justru dia yang asal tuduh.


"Saya peringatkan, ya. Jangan macam-macam sama saya kalau nggak mau berurusan dengan empat bersaudara Fayes." Ancam Kiara.


"E ... empat Fayes? jangan Nona. Saya mohon. Saya nggak ambil kantong uang Nona." Mohon bapak penjual.


Kiara tak menemukan adanya kecurigaan dari si bapak. Ia perlahan melepas cengkramannya dari kerah baju si bapak penjual.


"Maaf, saya udah asal tuduh." Ucapnya.


"Gini aja deh, Nona. Karena uangnya hilang di toko saya, saya yang akan bertanggung jawab. Nona bisa bawa kuda ini tanpa bayar." Ujar bapak penjual.

__ADS_1


Kiara menyipitkan mata. Ia seperti melihat sesuatu. Sudut


bibirnya terangkat.


"Kena kau!"


"Ng ... nggak usah, pak. Saya pergi dulu, ya. Masih ada urusan." Pamit Kiara yang langsung berlari cepat.


"Eh Nona, benar nggak mau ambil kudanya?" Kiara masih mendengar teriakan bapak itu. Namun ia tak menggubris lagi.


"Ke mana orang tadi?" ia berhenti sejenak mencari sosok yang tadi dilihatnya. Akhirnya, ia melihat seseorang berjubah hitam dengan penutup kepala berlari di depannya.


"Hey, berhenti!" teriak Kiara yang sudah pasti mendapat banyak tatapan tidak suka dari orang-orang yang berlalu lalang.


"Pasti dia yang mencuri kantong uangku." Ia masih terus mengejar si jubah hitam itu sampai di tengah hutan. "Hey, berhenti! ku laporkan kamu ke kakak-kakakku, nih. Kamu nggak tau aja gimana kehebatan lima bersaudara Fayes." Ancamnya yang berhasil membuat si jubah hitam berhenti.


Si jubah hitam berbalik dan menghadapnya. "Heh macan busuk, balikin uangku." Pinta Kiara.


Lelaki di balik jubah hitam menatapnya lama. "Ngapain lihatin aku begitu?" bentak Kiara.


Ia melipat tangan di dada. "Aku tau pencurinya bukan bapak penjual tadi. Tapi aku tau pencurinya pasti masih di sekitar toko bapak tadi. Aku sengaja mengancam dan berteriak ke bapak itu dengan bawa-bawa nama empat bersaudara Fayes buat mancing pencurinya keluar." Paparnya.


"Apa hubunganmu dengan lima bersaudara Fayes?" tanya si jubah hitam tiba-tiba, dengan suara yang amat dalam.


Ia kemudian mengesampingkan pikirannya.


"Bukan urusanmu. Balikin kantong uangku!" pinta Kiara ingin cepat pergi dari sana.


Si jubah hitam mengeluarkan kantong uang milik Kiara dan melempar kantong itu ke arahnya.


"Sampai ketemu lagi." Si jubah hitam berlari memasuki hutan dengan cepat.


Kiara menatap kepergiannya yang tak sempat dikejar oleh dirinya.


"Eh bentar. Uangnya nggak ada yang kurang, kan?" Kiara memeriksa uang di kantongnya yang tak berkurang sepersen pun.


"Baguslah." Ia berbalik keluar dari hutan.


"Hoam ... ngantuk banget lagi." Kiara berjalan di bawah rintikan-rintikan kecil air hujan. "Loh, udah hujan?" ia memegang kepalanya untuk berlindung.


"Bentar, kayak ada yang hilang." Tangannya meraba kepala dan rambutnya merasa ada sesuatu yang hilang.


"Ya ampun ... tusuk rambutku!"

__ADS_1


...----------------...


Hansa hendak keluar dari ruangannya saat kakinya tak sengaja menginjak sesuatu dan membuat benda yang diinjaknya itu pecah.


Ia menunduk dan memungut benda itu. "Ini ... tusuk rambut siapa?" ia menatap tusuk rambut yang telah pecah jadi dua itu.


"Bari nggak mungkin pakai tusuk rambut ini, kan? ini kan tusuk rambut cewek." Gumamnya.


"Apa mungkin ..."


...----------------...


"Aduh, hari lagi nggak berpihak padaku. Masa aku ditimpa musibah terus. Kantong uangku dicuri. Tusuk rambutku hilang." Ia mendumel sepanjang jalan.


"Aduh, gimana kalau tusuk rambut itu benaran hilang? itu kan tanda persaudaraan kakak-beradik Fayes." Paniknya.


Ia berusaha mengingat-ingat di mana kira-kira tusuk rambutnya bisa jatuh.


"Hah, apa mungkin ..."


...----------------...


"Salam, Tuan." Sapa si jubah hitam pada Tuannya. "Dari mana kamu?" tanya seorang pria berjubah Kekaisaran.


"Liam dari pasar, Tuan." Lapornya. Si Tuan mengernyit. "Kamu dari pasar?" ulangnya. Liam, si jubah hitam mengangguk.


"Apa kamu bisa pastikan nggak ada yang tau identitasmu? kamu ingat kan, kalau kamu harus berhati-hati." Si Tuan memperingatkan bawahannya.


"Liam janji akan lebih berhati-hati lagi, Tuan." Janji Liam.


"Bagus. Jangan sampai julukanmu nggak berguna lagi. Pokoknya jangan sampai ada orang yang tau tentang identitas kita sebagai Tuan dan bawahan." Tegas si Tuan.


"Baik, Tuan." Patuh Liam. Si Tuan yang berjubah Kekaisaran menghela napas sejenak. "Kamu yakin nggak mau ketemu Tuan Putri?" tanyanya tiba-tiba.


Liam terdiam sejenak. "Liam sudah menjadi orangmu. Semua masalah dan perasaan pribadi sudah lama dikesampingkan." Ucap Liam yakin.


"Apa kamu nggak peduli kalau Tuan Putri kangen sama kamu?" tanya Tuan lagi. Liam menghela napas panjang.


"Tuan, Tuan Putri nggak mungkin punya waktu untuk memikirkanku. Apalagi, beliau udah punya orang yang menyayanginya. Liam hanya bisa mendoakan semoga Tuan Putri bahagia dengan orang pilihannya." Ucapnya panjang.


"Kalau seandainya Tuan Putri memilihmu?" tanya Tuan lagi. Liam diam tak membalas.


"Oke, saya nggak akan usik keputusanmu lagi. Sekarang kembalilah! jangan sampai ada yang tau keberadaan kita."

__ADS_1


"Baik, Tuan." Liam membungkuk dan pamit keluar dari tempat itu.


__ADS_2