Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kisah Kiara


__ADS_3

Kiara, Hansa, dan Master Nick sedang mendiskusikan sesuatu. "Sekarang aku sadar kenapa kita tidak bisa menemukan plat garuda di Perpustakaan maupun di kediaman Menteri Waze." Sahut Kiara.


"Kamu tau sesuatu? kamu tau kenapa kita nggak bisa menemukan plat itu?" tanya Hansa menatap Kiara dengan serius. Master Nick juga tampak menunggu penjelasan Kiara.


"Selama aku dekat dengan Menteri Waze, aku baru ingat kalau dia nggak pernah menaruh barang berharga di dekatnya. Jadi itu alasan kenapa kita nggak bisa menemukan plat itu di kediaman maupun Perpustakaannya." Jelas Kiara.


"Aku tidak mengerti." Sahut Hansa mengerutkan kening. Kiara tersenyum sekilas. "Aku menebak Menteri Waze tidak menaruh plat itu di kediaman ataupun di tempat miliknya. Itu dia lakukan agar jika suatu hari nanti plat itu ditemukan, plat itu tidak terletak di kediamannya. Dan dia akhirnya bisa bebas dari hukuman karena tidak ada bukti kalau dia yang mengambil plat itu." Paparnya lagi.


Master Nick mengusap jenggotnya. "Aku pikir, plat garuda berada di dalam kotak terkunci yang terbakar tempo hari itu. Aku pikir, sesuatu yang tersimpan di dalam kotak itu adalah plat itu." Ujarnya.


Kiara tersenyum tipis. "Dugaan kita salah. Di dalam kotak itu tidak berisi apa-apa. Aku menduga, Menteri Waze sengaja mengunci kotak itu agar kita berpikir bahwa kotak itu berisi plat garuda. Lalu dia juga sengaja membakar kotak itu agar kita pikir plat garuda itu udah terbakar di dalam kotak itu. Aku yakin dia panik karena kita hampir menemukan cara membuka kotak terkunci itu. Makanya Menteri Waze buru-buru membakarnya. Supaya kita nggak pernah berhasil menebak strateginya." Jelasnya.


"Dan, apa kamu ingat, Hansa? saat aku bilang aku pernah melihat suatu benda di dalam kotak kecil yang disembunyikan di Perpustakaan Menteri Waze? tapi saat kita membukanya, kotak kecil itu malah berisi kalung kristal milik Tuan Putri." Kiara mengingatkan momen di mana ia dan Hansa mengunjungi Perpustakaan Menteri Waze tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Ya, aku ingat." Sahut Hansa. Ia terdiam sejenak. "Jangan-jangan maksudmu, benda yang pernah kamu lihat di kotak kecil itu, sebelum isinya digantikan dengan kalung kristal, adalah plat garuda." Tebaknya.


Kiara mengangguk sembari tersenyum simpul. Master Nick menyimak itu sembari berpikir keras. "Hal itu nggak terlalu penting lagi. Sekarang yang penting adalah di mana kira-kira Menteri Waze menyimpan plat garuda itu sekarang?" Master Nick menyatakan satu hal lagi yang masih menjadi teka-teki.

__ADS_1


Kiara terdiam tampak berpikir. "Kalau soal itu, aku masih belum berhasil memecahkannya." Sahutnya.


Master Nick terdiam sembari mengusap jenggotnya. Ia tampak sedikit gusar. "Kita tidak boleh berpikir terlalu lama. Bagaimana pun, kita tidak boleh kalah dari Menteri Waze. Kita semua tau betapa berbahayanya dia." Ia memperingatkan Kiara dan Hansa agar lebih keras berjuang untuk mengalahkan segala rencana jahat Menteri Waze.


Setelahnya, Kiara dan Hansa keluar dari ruang diskusi. Mereka duduk berdampingan. Kiara melirik Hansa yang terlihat hanya diam seperti banyak pikiran."Aku tau kamu memikirkan tentang cara mengalahkan Menteri Waze. Tapi aku yakin kita bisa menyelesaikan itu. Sekarang fokus pada kita berdua saat kita hanya sedang berdua saja. Aku pikir, kita harus sering mengobrol sebelum kamu masuk Istana dan menjadi Menteri Sekretariat." Ia memberi semangat pada Hansa.


Hansa tersenyum. "Kamu benar. Jadi, tolong ceritakan tentang dirimu. Aku belum begitu tau tentang kisahmu." Pintanya sembari menatap Kiara, ingin tahu kisah tentang gadis itu lebih dalam.


Kiara terdiam sebelum memutuskan untuk bercerita. "Aku bertemu Mendiang Guru Haw Fayes di usia enam tahun. Beliau menemukanku di sebuah desa. Di desa itu, cuma aku satu-satunya yang selamat karena waktu itu, peperangan besar sedang terjadi. Jadi, seluruh penghuni di desaku tewas. Mendiang guruku membawaku dan merawatku. Ternyata kakak-kakakku yang lainnya juga merupakan anak-anak terlantar yang dulunya ditemukan oleh Mendiang Guruku. Jadi, begitulah cerita awal kenapa aku bisa menjadi muridnya dan memiliki kakak-kakak seperguruan yang udah ku anggap seperti kakak kandungku." Tuturnya panjang.


Kiara terkekeh. "Sebenarnya aku selalu kagum padamu. Kamu hidup cukup lama bersama Menteri Waze. Tapi kamu nggak pernah terbawa suasana karena hubungan kalian sebagai murid dan guru. Padahal, saat itu kamu belum tau kalau Menteri Waze adalah pembunuh mendiang Pendekar Haw Fayes." Takjub Hansa.


"Sebenarnya, meskipun aku pernah menjadi muridnya selama bertahun-tahun, tapi kami nggak pernah begitu dekat. Dia cuma seorang guru yang otoriter. Berbeda dengan mendiang guruku yang udah ku anggap seperti ayahku sendiri." Akunya.


Hansa mengangguk paham. "Tapi meskipun kamu nggak begitu dekat dengan Menteri Waze, kamu sangat mengenalnya dengan baik. Sepertinya kamu selalu mempelajari karakter orang dengan baik, ya. Aku kagum, loh." Akunya lagi.


Kiara terkekeh. "Ya, aku mempelajari karakternya, kebiasaannya, dan semua tentang Menteri Waze. Tapi ku akui, walaupun aku udah mempelajarinya, Menteri Waze tetap seorang pria misterius dan nggak bisa ditebak. Dia selalu dipenuhi dengan trik." Paparnya.

__ADS_1


"Ah, nggak juga. Buktinya kamu banyak berhasil menebak strateginya yang bahkan nggak ada seorang pun yang bisa menebaknya. Untuk kecerdasanmu, aku akui." Pujinya sembari mengacungkan jempol dengan bangga pada Kiara.


Kiara tersipu oleh pujian Hansa. "Aku nggak sehebat itu kok." Elaknya. "Siapa bilang? aku serius tentang itu. Kamu adalah gadis paling cerdas yang pernah ku temui." Sahut Hansa serius. "Walaupun usiamu masih sangat kecil." Tambahnya sembari terkekeh.


Kiara ikut terkekeh. "Oh iya, Tuan Putri akan segera berangkat ke kota D. Aku harus pergi ke kediaman Menteri Waze untuk memastikan dia udah benar-benar berangkat." Ia memeluk Hansa untuk pamit.


"Nggak mau ditemani?" tawar Hansa. "Nggak perlu. Aku sendiri aja. Menteri Waze nggak akan senang melihatmu." Sahut Kiara.


Hansa setuju dan membiarkan Kiara pergi. Kiara menaiki seekor kuda untuk pergi ke kediaman Menteri Waze. Ia melalui hutan lumut. Ia menghentikan kudanya saat sampai di hutan itu karena merasa ada yang mengawasinya.


"Keluar!" pintanya lantang. Tidak butuh waktu lama, seorang pria dengan wajah tertutupi masker muncul dari sebuah pohon dan melompat ke bawah, tepat di hadapan Kiara. Ia menghadang Kiara dan kudanya.


Kiara turun dari kudanya dengan berusaha tetap tenang. "Kau masih di sini, Julian? Menteri Waze udah pergi lebih dulu ke kota D. Kamu nggak ikut ke sana?" tanyanya berusaha terlihat ramah seolah mereka adalah partner. Meski ia tahu Menteri Waze dan Julian pasti sudah tahu bahwa ia berpihak pada Kerajaan dan Kantor Pengadilan, ia tetap harus berakting. Karena Menteri Waze itu sangat tidak mudah ditebak.


"Aku datang untuk memberitahumu sesuatu, Kiara." Sahut Julian dengan suara dinginnya.


Kiara mengerutkan kening. "Memberitahu apa?"

__ADS_1


__ADS_2