Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Meminta maaf


__ADS_3

Kiara mengerjapkan mata berkali-kali. Ia melirik ke samping tempat tidurnya. Hansa tampak tertidur sembari menggenggam tangannya.


Kiara mengurungkan senyum kala mengingat kejadian semalam. Hansa yang baru membuka mata mendongak menatapnya.


Kiara tersenyum tipis. "Kamu semalaman di sini?" tanyanya memastikan. Hansa mengangguk. "Aku menjagamu semalaman."


Kiara bangun dan mendudukkan diri di ranjang. Hansa kembali meraih tangannya dan menggenggamnya lembut. "Aku minta maaf. Kejadian semalam adalah kesalahanku. Aku janji nggak akan menyembunyikan apa pun darimu lagi."


Kiara tersenyum senang mendengar permintaan maaf Hansa. "Aku juga udah nggak marah kok. Hanya saja mulai sekarang kita harus hati-hati. Mungkin Menteri Waze sudah semakin mencurigaiku." Gumamnya.


Hansa mengangguk mengerti. "Semalam aku sangat takut saat Julian mencekikmu. Aku kira kamu akan ... " ia menghentikan kalimat enggan mengucapkan kata selanjutnya.


"Kamu sudah melakukannya dengan baik. Dengan nggak menyerangnya, kamu telah mempertipis kecurigaannya. Lagian, kamu menyembunyikannya juga demi kebaikanku." Puji Kiara.


"Udahlah. Sana keluar! aku mau siap-siap dulu." Usirnya mendorong lengan Hansa. Hansa bergegas keluar sambil terkekeh.


Setelah selesai memakai pakaian dengan rapi, ia bergegas keluar menemui Hansa yang telah menunggunya di depan kamar. "Ada apa?" ia tahu Hansa menunggunya untuk menyampaikan sesuatu.


"Tuan Nick memerintahkan kita ke ruang diskusi." Hansa menyampaikan perintah Master Nick. Ia menggamit jemari Kiara dan berjalan beriringan menuju ruang diskusi. Begitu sampai di depan pintu ruang diskusi, mereka melepas genggaman tangan untuk menjaga etika. Di sana, Master Nick dan Bari telah menunggu kedatangan mereka.


Bari tertawa kecil. "Biasanya Tuan Hansa adalah orang yang rajin dan selalu hadir paling awal untuk memenuhi perintah Tuan Nick. Kalau sudah punya kekasih, emang beda, ya." Sindir Bari melirik Hansa dan Kiara yang tampak saling menempel. Padahal setaunya, Hansa adalah pria yang selalu mementingkan tata krama dan senantiasa menjaga jarak dengan lawan jenisnya.


Kiara dan Hansa saling melirik mendapat sindiran seperti itu. Mereka berusaha menahan senyum.


"Sudah sudah. Hansa, Kiara, dan Bari. Ada yang mau saya diskusikan bersama kalian." Master Nick menyela gurauan mereka. Hansa, Kiara, dan Bari serentak menghadap Master Nick dan siap mendengar serius apa yang akan disampaikan pria itu.

__ADS_1


"Yang Mulia Kaisar khawatir yang ada di dalam kotak terkunci itu adalah benda dari Istananya yang hilang." Jelas Master Nick.


"Benda apa? Tuan Nick bisa memberitahukanku benda apa? karena aku adalah mata-mata rahasia Menteri Waze, banyak rahasianya yang aku tau. Ya, kecuali tentang dia yang meracuni mendiang Guruku." Sahut Kiara.


Master Nick tampak berpikir beberapa saat. "Aku nggak tau ini pantas atau tidak. Tapi karena kalian adalah penyelidik yang paling aku percaya, aku harus memberitahu kalian." Ia menghela napas sejenak. "Yang Mulia Kaisar kehilangan plat pasukan garuda sudah sejak lama. Kami tau Menteri Waze pasti yang mencuri plat itu. Tapi nggak ada bukti yang bisa membongkar kejahatannya. Dan kami nggak tau di mana dia menaruh plat itu." Lanjutnya menjelaskan panjang lebar.


Kiara menghembuskan napas kecewa saat mendengar nama benda milik Kaisar yang hilang itu. "Sayangnya, Menteri Waze nggak pernah menyebut plat itu. Dia orang yang penuh kehati-hatian. Dia pasti takut aku akan membongkar kejahatannya suatu saat nanti. Makanya dia nggak pernah memberitahu tentang plat yang dicurinya itu."


Ia melirik Master Nick yang mengerutkan kening berusaha berpikir keras. "Sepertinya, aku nggak bisa bantu dalam hal ini." Sahut Kiara penuh sesal.


"Emang ciri-ciri platnya seperti apa?" sambung Bari yang sedari tadi hanya menyimak.


"Plat itu berbentuk seperti kupu-kupu perak." Jelas Master Nick. Kiara seperti tidak asing dengan ciri-ciri yang disebutkan Master Nick. Ia tampak berpikir sejenak. Berusaha mengingat di mana ia pernah melihat plat itu sebelumnya.


Flashback:


"Ini adalah benda berharga milikku." Ia kembali memasukkan benda itu ke tempat semula dan menaruh kembali kotaknya. Seolah melarang siapa pun melihat dan menyentuhnya.


Flashback off:


Kiara membulatkan mata. "Hansa, kamu tau benda milik Menteri Waze yang kita cari di Perpustakaan itu? benda yang aku bilang Menteri Waze jaga seperti nyawanya." Serunya menyenggol lengan Hansa.


Hansa mengingat benda yang pernah dikatakan Kiara saat mereka berada di kota B.


__ADS_1


"*Yes, berhasil!" Kiara tersenyum lebar sampai menampilkan titik di bawah kedua bibirnya*.


*Mereka mengintip isi dari kotak itu. "Kalung kristal?" Kiara mengangkat benda bersinar itu di udara. Hansa mengerutkan kening. "Ini barangnya?" tanyanya tak yakin*.



"Yang saat kita membuka kotaknya, isinya adalah kalung kristal milik Tuan Putri Hyra itu?" sahut Hansa. Kiara mengangguk membenarkan.


"Terus, di mana plat itu sekarang?" sambung Baru lagi. Kiara menggeleng. Bahunya merosot kecewa. Mereka tahu mereka telah kehilangan jejak. Dan satu-satunya cara adalah mereka harus berusaha mencari plat garuda itu sampai ketemu. Kiara tidak punya waktu untuk memancing Menteri Waze untuk memberitahu letak plat itu karena pria tua itu sedang dan akan sangaat disibukkan oleh pernikahan keponakannya dan Tuan Putri.


Lagi pula, seandainya ia punya waktu pun, ia tidak yakin bisa memancing Menteri Waze untuk memberitahunya karena pria tua itu terlihat menjaga benda itu rapi-rapi.


"Kita nggak benar-benar hilang harapan kok." Sahut Hansa memecah keheningan. "Saat Menteri Waze pergi ke kota D untuk mengurus pernikahan Tuan Putri Hyra, kita bisa pergi ke kediamannya dan mencari plat itu." Ujarnya meyakinkan.


Kiara mendongak. "Tapi bagaimana dengan Julian? meskipun Menteri Waze pergi, dia bisa aja menyuruh Julian untuk terus memata-matai kita." Sahutnya.


"Julian bukan masalah yang begitu berat." Ujar Hansa dengan senyum percaya diri. Kiara juga tahu kemampuan Julian tidak bisa dibandingkan dengan Hansa. Tapi masalahnya, Menteri Waze adalah orang yang licik dan selalu mengandalkan akalnya. Kiara takut pria itu akan memasang beberapa jebakan untuk mengalahkan mereka.


"Julian? maksud kalian Julian Rama?" Master Nick mengerutkan kening. Ia jelas tidak asing dengan nama itu. Hansa beralih dan mengangguk padanya.


"Julian sudah tidak seperti dulu. Julukan Pendekar sudah tidak pantas untuknya." Balasnya.


Master Nick menggeleng-gelengkan kepala.


"Perlakuannya sama sekali tidak menunjukkan seorang ksatria."

__ADS_1


Selesai berdiskusi, Kiara berjalan beriringan dengan Hansa. Ia melirik pria itu dengan senyum simpul. "Kamu masih berutang penjelasan padaku." Tagihnya.


Hansa mengangkat sebelah alis. "Tentang semalam?"


__ADS_2