Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Pertemuan kembali Rubby dan Sera


__ADS_3

Mereka langsung mengarah ke Kantor Pengadilan begitu sampai di kota A selama dua hari perjalanan mereka.


"Kakak pertama, hari ini nggak langsung pulang, kan?" Kiara memasang wajah imutnya untuk kembali membujuk Rubby.


"Kalau kamu capek, hari ini istirahat saja." Jawab Rubby. Ia memarkirkan kudanya dengan benar.


"Saudara Rubby, kalau mau istirahat, silahkan ikuti aku. Aku akan meminta Weni menyiapkan satu kamar untukmu." Hansa mempersilahkan.


"Tidak perlu. Aku tidak akan bermalam di sini." Tolak Rubby. "Lalu, di mana kamu akan tidur?" tanya Hansa.


"Aku akan mencari penginapan di sekitar sini." Ujarnya.


"Aku masuk dulu." Kiara membalikkan tubuh hendak memasuki gerbang Kantor Pengadilan. Ia berhenti sejenak tepat di samping Hansa.


"Kakak pertama memang nggak terbiasa tidur di tempat orang kecuali di penginapan. Apa lagi ini Kantor Pengadilan." Bisiknya memberitahu Hansa.


Hansa menoleh padanya. "Kamu udah nggak marah?" tanyanya yang tak digubris oleh Kiara. Gadis itu berjalan masuk tanpa menghiraukan pertanyaannya. Ia tidak sadar telah berbicara pada Hansa yang tak pernah ditegurnya selama dua hari ini.


Rubby hendak berpamitan untuk mencari penginapan untuk dirinya sendiri. Namun, telinganya mendengar suara seserorang yang tidak asing.


"Tolong ... " rintih sebuah suara. Rubby yang merasa mengenal suara itu dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap sumber suara.


"Tu ... Tuan? ... " gadis pemilik suara itu jatuh di tangkapan Rubby. "Nona Sera?" Rubby terkejut menyentuh tubuh Sera yang dingin. Ia dengan cepat mengangkat tubuh lemah Sera yang tak sadarkan diri.


"Kakak pertama, siapa gadis itu?" Kiara mengurungkan diri melangkah masuk saat mendengar insiden itu. Ia berbalik dan mendekati Rubby yang menampung seorang gadis cantik di tangannya.


"Nanti akan aku jelaskan. Aku pergi dulu." Pamitnya hendak berbalik pergi untuk segera menemukan penginapan.


"Saudara Rubby, kalau kau mengenal gadis itu, sebaiknya bawa masuk saja ke dalam. Kondisinya terlihat parah. Kalau kau mencari penginapan dulu, takutnya kondisi gadis itu akan semakin parah. Nanti biar aku yang menjelaskan pada Master Nick." Usul Hansa.


"Iya, kak. Sebaiknya bawa saja ke dalam." Kiara menyetujui saran Hansa. "Baiklah. Antar aku ke kamar untuk gadis ini." Rubby akhirnya setuju.


Dengan dituntun oleh Hansa, ia menuju sebuah kamar tamu dan membiarkan Sera beristirahat di dalamnya.


Kiara menyusul Hansa keluar dari kamar tersebut. Membiarkan Rubby yang mengurus gadis yang tak mereka kenali itu.


Kiara melipat kedua tangan di dada dengan dahi yang penuh dengan kerutan. "Aku baru melihat kakak pertama kelihatan panik dan khawatir dengan gadis selainku." Gumamnya yang masih didengar oleh Hansa.

__ADS_1


"Mungkin mereka berdua memang sedekat itu." Sahut Hansa asal menyambung.


Kiara yang tersadar langsung menatapnya sinis. "Siapa yang berbicara denganmu?" acuhnya dan langsung melangkah meninggalkan pria itu.


Hansa menatap punggung gadis itu yang melangkah menjauh. Ia hanya menghela napas menghadapi sikap gadis keras kepala itu.


...----------------...


Sore harinya, Sera membuka mata perlahan. Ia melihat sekelilingnya yang terlihat asing.


"Aku di mana?" ia terduduk di ranjangnya.


"Kamu sedang berada di Kantor Pengadilan." Sahut suara seseorang yang memasuki kamarnya dengan membawa sebuah nampan.


Sera sedikit terlonjak. "Siapa kamu?" tanyanya waspada. Gadis yang membawa nampan tersebut memutar bola mata jengah. "Aku Weni. Aku bekerja sebagai koki sekaligus pembersih di sini." Jelas Weni. Ia duduk di tepi ranjang Sera.


"Kamu sudah baikan?" tangannya tergerak hendak menyentuh dahi Sera untuk meraba suhu tubuhnya. Namun, Sera dengan cepat menghindar lantaran masih merasa asing dengan dirinya.


Wajar dia bertingkah begitu. Secara, ia sering ditindas oleh orang-orang yang bahkan tak dikenalnya.


Weni kembali memutar bola mata kesal. "Aku hanya ingin meraba suhu tubuhmu. Tenanglah, ini Kantor Pengadilan. Kalau pun aku punya niat jahat, nggak akan aku lakukan di Kantor Pengadilan juga lah." Cerocosnya.


Ia meraba dahi Sera yang masih menatapnya asing. "Suhu tubuhmu sudah lebih baik dibanding pagi tadi." Sahutnya. "Apa kamu sendiri sudah merasa baikan?" tanyanya prihatin.


Meski tak mengenal gadis itu, Sera tahu bahwa gadis itu tulus dan sama sekali tak punya niat jahat padanya.


"Sera ... berterima kasih pada Nona karena telah merawatku. Sera ... sudah merasa baikan." Ucapnya penuh kelembutan.


"Sama-sama. Tapi ngomong-ngomong, harusnya kamu berterima kasih pada Pendekar Rubby. Dia yang telah mengangkut tubuhmu ke sini." Balas Weni memberitahu.


"Pendekar?" Sera mengulang kata itu dan tersenyum. Ia jadi teringat tentang pria yang menyelamatkannya saat ia sedang ditindas oleh komplotan perampok.


"Pendekar yang kamu maksud itu ... dia baik sekali. Sesuai dengan julukannya." Pujinya. Ia memang tidak tahu bahwa Pendekar yang Weni sebut adalah Rubby, alias pria yang pernah menolongnya.


Sera hendak turun dari ranjang. "Kalau begitu, aku harus berterima kasih padanya."


"Eh, jangan sekarang. Sebaiknya kamu beristirahat dulu. Lagi pula, Pendekar Rubby juga sedang sibuk mengasah bela diri." Weni mencegah Sera yang nekat menemui Rubby.

__ADS_1


"Ku beri tahu kau, Pendekar Rubby bukanlah orang yang asyik. Tampangnya saja sedingin es." Ia mencoba memperingatkan Sera.


"Sekali pun dia sedang mengasah bela diri. Atau pun dia memiliki tampang sedingin es, aku tetap harus berterima kasih padanya. Kalau tidak, kapan lagi aku punya kesempatan untuk berterima kasih? setelah ini, aku kan harus pergi. Aku nggak mau merepotkan banyak orang lagi." Kekehnya.


Ia berlari dan hampir menabrak Kiara yang melangkah memasuki kamar tersebut. "Maaf." Sempatnya sebelum lanjut berlari.


Kiara menatap punggung gadis yang hampir menabraknya itu. "Ada apa dengan gadis cantik itu?" tanyanya sembari mendudukkan diri di hadapan Weni.


Weni mengedikkan bahu tak dapat menjelaskan.


...----------------...


Sera berhenti di taman saat melihat seorang pria yang terlihat memainkan sebuah pedang. Ia yakin bahwa pria itu pasti adalah Pendekar yang Weni maksud.


Ia mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat berlari terburu-buru. Matanya sempat menangkap pedang yang dimainkan pria tersebut. Ia memicingkan matanya meneliti pria yang membelakanginya itu.


"Pedang itu ... dan gerakan itu ... terlihat sangat familier." Batinnya.



*Sera menghimpitkan tubuh di samping pintu saat melihat seorang pria gagah tengah berlatih pedang dengan tangannya yang lincah*.



*Sera menggerak-gerakkan tangannya mencoba meniru gerakan pria gagah itu. Ia menggelengkan kepala*.



"*Nggak bisa. Seandainya aku jago bela diri seperti pria itu. Pasti aku bisa melawan semua orang yang menindasku." Ia berkhayal sembari menggerak-gerakkan tangannya*.



Sera kembali mengingat saat dirinya tak sengaja melihat pria penolongnya berlatih pedang.


"Nona Sera sedang apa di sini? apa sudah baikan?" tanya pria tersebut membalikkan tubuhnya. Jangan tanya kenapa dia bisa tahu bahwa itu adalah Sera? ya, tak perlu dijelaskan lagi. Tingkat kepekaannya terhadap sesuatu memang sangat tinggi.


Sera mematung dengan mata membulat menatap wajah pria di hadapannya. "Tu ... Tuan?"

__ADS_1


__ADS_2