
"Julian Rama dan aku adalah anak asuh Tuan Nick sewaktu kecil. Kami tumbuh besar sampai bersama-sama melewati suka dan duka menjadi seorang Pendekar. Hingga sekitar sepuluh tahun lalu, dia merasa muak menjadi Pendekar. Akhirnya, dia pergi begitu aja. Tapi aku nggak tau kalau kepergiannya ternyata untuk berpihak pada orang jahat." Tutur Hansa menceritakan kedekatan dirinya dan Julian di masa lalu.
"Sekarang kalian udah jadi musuh. Kalau seandainya kamu harus membunuhnya, apa kamu akan tega?" tanya Kiara.
Hansa menghela napas panjang. "Hukum tidak mengenal kasih sayang. Sedekat apa pun hubungan kami di masa lalu, kalau memang harus membunuhnya, aku akan membuang jauh-jauh kenangan hubungan kami di masa lalu." Jawabnya.
Kiara manggut-manggut. "Lalu, kalau itu aku bagaimana?" tanyanya lagi. Hansa menatapnya sejenak. "Jangan berdiri di sini. yuk!" ia menggamit jemari Kiara. Terlihat jelas bahwa ia sengaja menghindari pertanyaan Kiara.
"Kok nggak jawab?" Kiara sengaja menagih sambil mengulum senyumnya karena tahu Hansa kesulitan menjawab pertanyaannya.
Hansa menghentikan langkah tiba-tiba. "Bukan aku nggak mau jawab. Tapi aku percaya kamu nggak akan seperti itu. Aku percaya kamu nggak akan berubah dan nggak akan mengecewakanku." Ia menatap Kiara lekat.
Raut wajah Kiara berubah. Pipinya memerah karena salah tingkah. "Apaan, sih? lanjut jalan!" ia memukul lengan Hansa pelan dan melanjutkan langkah meninggalkan Hansa di belakangnya. Berusaha menyembunyikan rona di pipinya.
Hansa tersenyum senang karena jawabannya dapat mencairkan suasana dan dapat membungkam pertanyaan Kiara. Ia mempercepat langkah mensejajarkan langkah dengan Kiara dan mengangkat tubuhnya tiba-tiba.
"Hey, kamu ngapain? turunin aku!" pinta Kiara terkejut sekaligus malu.
"Kemarin aku mengajakmu melanjutkan kencan kita yang gagal. Tapi kamu nggak mau. Sekarang walaupun kamu nggak mau aku tetap akan memaksa." Hansa berjalan cepat dengan mengangkut tubuh Kiara di tangannya.
Kiara hanya tertawa tanpa bisa memprotes. Karena ia pun senang diperlakukan seperti itu.
...----------------...
Hyra berjalan seorang diri di taman di sekitar Istananya. Hari-harinya ia lewati dengan rasa bosan karena tak kunjung mendapat kabar dari Fian. Sudah sejak lama tunangannya itu tidak mengunjunginya. Tapi ia senang karena sebentar lagi pernikahannya dan Fian akan segera dilaksanakan. Dan itu membuatnya tak bisa menahan senyum seiring langkahnya.
Saking senangnya, ia tak lagi memperhatikan langkah sehingga kakinya tersandung sebuah batu. Ia nyaris terjungkal ke depan. Beruntungnya seseorang berhasil menahan keseimbangannya.
__ADS_1
Hyra membulatkan mata dan mematung ketika seseorang menangkap tubuhnya yang nyaris terjatuh. Orang itu menggunakan jubah hitam. Seperti seseorang yang juga pernah menyelamatkannya tempo hari.
Sekarang Hyra dapat melihat dengan jelas mata dari si jubah hitam yang mengenakan masker sehingga ia tak dapat melihat wajah si jubah hitam.
Si jubah hitam mengembalikan posisi Hyra dan bergegas dari sana dengan cepat. "Tuan, tunggu! kamu adalah penyelamatku. Boleh aku tau siapa namamu?" tanya Hyra penasaran. Membuat langkah si jubah hitam terhenti. Si jubah hitam hanya menoleh sekilas kemudian kembali melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaannya.
Hyra mengerutkan kening. "Tuan Putri, Yang Mulia Kaisar meminta bertemu." Lapor seorang pelayan. Hyra mengangguk dan kembali melihat ke arah si jubah hitam melangkah, meski orang itu tak lagi berada di sekitar sana. Ia masih penasaran tengang orang yang menyelamatkannya itu. Tapi ia memilih untuk tidak memikirkannya sekarang karena harus bertemu dengan Ayahanda.
"Ada apa Yanda memanggilku?" tanya Hyra setelah membungkukkan tubuh hormat pada Ayahanda.
Kaisar memberikan senyuman seperti biasa setiap ia melihat putrinya. "Hyra, Yanda mau memberitahumu sesuatu." Ia membuka pembicaran. "Sini, sayang!" serunya merentangkan kedua tangan menyambut putrinya.
Hyra terkekeh dan berlari memeluk Ayahanda dengan manjanya. "Yanda mau memberitahu apa?" ia mendongak menatap wajah Kaisar yang masih tersenyum. Setelah menanyakan hal itu, wajah Kaisar berubah serius. Kaisar melepas pelukannya perlahan dan menatap Hyra serius.
"Hyra, putriku sayang. Yanda minta maaf karena harus mengirimmu kepada pernikahan ini." Ucapnya penuh kelembutan sembari membelai rambut Hyra. Hyra tersenyum meski merasa bingung. Namun ia memaklumi karena ia pikir, Kaisar mungkin hanya merasa sedih karena harus melepasnya ke pernikahan.
"Hyra, putriku yang polos. Kamu mungkin nggak tau bahaya apa yang akan kamu hadapi di luar sana. Yanda sangat mengkhawatirkanmu." Kaisar mengerutkan kening risau.
"Yanda nggak perlu khawatir. Fian adalah pria yang baik. Dia pasti akan memperlakukan Hyra dengan sangat baik." Hyra berusaha menghilangkan kekhawatiran Kaisar.
Kaisar terdiam sejenak. "Betul, sih. Fian adalah pria yang baik. Tapi masalahnya adalah Menteri Waze itu ..." Sahutnya.
Raut wajah Hyra seketika berubah. Entah kenapa, setiap kali mendengar nama pria itu ia selalu merasa takut. Seperti ada rasa trauma yang ia sendiri tidak tahu karena apa.
"Hyra, kamu kenapa?" tanya Kaisar khawatir memperhatikan wajah putrinya yang berubah pucat.
Hyra menggeleng cepat meski tubuhnya sedikit gemetaran. "Ak-aku nggak apa-apa, Yanda." Jawabnya terbata.
__ADS_1
"Yang Mulia Kaisar, apa ada perintah untukku?" perhatian Kaisar dan Hyra teralihkan pada suara dari ambang pintu.
"Deon, kemari!" pinta Kaisar pada pria itu. Pria yang disapa Deon itu masuk dan membungkukkan tubuh di hadapan Kaisar.
Hyra terpaku menatap pria itu. Ia merasa tidak asing ketika melihat sosok pria mengenakan masker itu. Selama beberapa detik melihatnya, ia baru ingat bahwa pria itu adalah si jubah hitam yang pernah beberapa kali menyelamatkannya.
"Kamu ... kamu adalah orang yang suka mengenakan jubah hitam itu, kan?" tembaknya. Deon bertatap mata dengan Kaisar selama beberapa detik sebelum menjawab.
"Maaf, Tuan Putri. Sepertinya Anda salah orang. Karena ini kali pertama saya melihat Tuan Putri." Sahutnya membungkuk sopan.
Hyra menatapnya dari atas sampai bawah. Ia merasa tidak salah mengenali pria itu. Dari matanya, ia sudah bisa mengetahui bahwa pria itu benar adalah si jubah hitam.
"Sudahlah, Hyra. Mungkin kamu emang salah orang." Kaisar menengahi. Sengaja mengalihkan Hyra agar tak lagi mempersulit Deon.
"Kalau tidak ada perintah, saya memohon undur diri, Yang Mulia." Deon membungkuk dan melangkah keluar dari sana.
Hyra masih menatap punggungnya bahkan setelah ia benar-benar keluar. Hyra kembali berbalik. "Dia siapa, Yanda? kenapa selama ini Hyra nggak pernah melihatnya di Istana?" tanyanya penasaran.
"Dia adalah Utusan Sakti yang baru Yanda lantik." Balas Kaisar. Hyra mengerutkan kening. "Utusan Sakti? apa itu? kok Hyra tidak pernah mendengar tentang itu?" ia melontarkan pertanyaan yang membuat Kaisar bingung menjelaskannya.
"Intinya ... dia adalah Pengawal Yanda yang akan selalu berada di sisi Yanda." Jawabnya seadanya. "Hyra pergilah. Yanda masih ada urusan." Pintanya daripada mendapat banyak pertanyaan yang dilontarkan putrinya itu.
Hyra mengangguk patuh. Ia membungkuk dan keluar dari sana dengan kebingungan yang masih melanda hatinya.
Tiba di depan pintu, ia menghentikan langkah dan menoleh menatap Deon yang berdiri berjaga di depan pintu.
Deon menunduk dan membungkukkan tubuh begitu melihatnya. Hyra hendak membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu. Tapi urung ia lakukan. Ia akhirnya memilih melanjutkan langkahnya.
__ADS_1