Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kiara sedih


__ADS_3

Hansa mengerutkan kening tak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulut Kiara. Ia tak menyangka gadis itu akan berani mengulangi kalimat yang sama yang pernah diucapkannya.


"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" Hansa heran. Ia heran dengan sikap Kiara yang menurutnya berbeda dari biasanya. Namun ketika ia meminta penjelasan, gadis itu malah menanyakan tentang perasaannya?


Kiara mengedikkan bahu. "Aku ... hanya ingin tau." Jawabnya singkat. Tak sabar menunggu jawaban dari pria itu.


"Aku mohon jawab iya. Kalau kamu jawab iya, aku mungkin bisa memaafkanmu. Kalau kamu bilang nggak, berarti aku nggak bisa meminta dukunganmu lagi. Dan selanjutnya, jalan kita akan berbeda arah."


Kiara sibuk memohon dalam hati.


Ia mendekat perlahan karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Kiara berjinjit dan mengecup pipi Hansa selama beberapa detik.


Kiara menatap mata Hansa dengan tatapan tajam. Pria itu tidak bereaksi apa-apa. Tidak mendorong tubuhnya, juga tidak terlihat antusias.


Kiara memicingkan mata. Ia bingung, hanya orang ini yang tidak bisa ia tebak pikirannya. Mungkin wajah datar Hansa yang membuatnya tak bisa menebak dari raut wajah pria itu tentang apa yang ada di pikirannya.


Kiara menghela napas panjang dan menelan ludah. "Aku tanya sekali lagi. Apa kamu ... mencintaiku? atau setidaknya apa kamu merasakan perasaan yang istimewa untukku?" Kiara berharap jawaban dari pria itu sesuai harapannya.


Namun nyatanya, selama apapun Kiara menunggu, Hansa tidak merespon apapun. Jangankan menolak, biacara pun tidak. Dasar manusia batu!


Kiara menunduk. Raut wajahnya berubah. "Lupakan. Sepertinya salah kalau aku bertanya seperti itu padamu. Maaf ya, aku salah ngomong. Anggap aja aku nggak pernah ngomong apa-apa." Ia berbalik dan membiarkan Hansa mematung.


Hansa hanya memandangi punggung Kiara yang melangkah menjauh dengan tangan yang menyentuh dadanya.


Kiara berjalan dengan kepala menunduk dan tangan terkepal.


"Mulai sekarang, kita tidak lagi berteman. Jalanku dan jalanmu berbeda. Aku tidak akan lagi peduli padamu. Dan kamu juga tidak harus berpura-pura peduli padaku."


Batin Kiara seiring langkahnya.


Ia tak lagi membuang-buang air matanya seperti yang selalu ia lakukan ketika sedang sedih atau kecewa.


"Tuan Hansa!" sapa Bari dari belakang. Hansa menatapnya mengintimidasi.


"Maaf, Tuan Hansa. Aku tadi mendengar percakapan kalian sedikit." Bari mengatupkan telunjuk dan ibu jari menunjukkan sedikitnya percakapan yang ia dengar antara Hansa dan Kiara.


"Aku tidak bermaksud menguping." Serunya buru-buru saat mendapati tatapan tidak suka dari Hansa yang menatapnya dari atas sampai bawah.


"Aku serius tidak bermaksud menguping. Hanya saja ... aku kan punya telinga. Aku juga rajin membersihkan telingaku. Jadi aku bisa mendengar percakapan kalian dengan jelas lah." Jelas Bari mengorek kupingnya dan menyodorkan jari untuk membuktikan tidak ada kotoran yang menempel di telinganya.


"Lagi pula, ini kan tempat terbuka. Jadi aku hanya kebetulan lewat di sini dan tidak sengaja mendengarnya. Kecuali kalau aku mendengar percakapan kalian di ruangan tertutup. Itu baru namanya menguping." Bari tak berhenti menjelaskan untuk menutupi kesalahannya.


"Kalau memang kamu nggak menguping, kenapa tidak langsung pergi dari sini saat mendengar percakapan saya dan Nona Kiara? kenapa malah berdiri di sini untuk menyimak?" interogasi Hansa dengan kedua tangan melipat di dada.


Ia menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan Bari yang menganga tak bisa menjawab.



Weni bangkit dari duduknya dan memasuki ruangan memasak alias dapur dengan malas saat Sima memanggilnya.

__ADS_1



Sima tersenyum lebar sampai nampak gigi-giginya. Pria itu tampak sudah siap memamerkan hasil masakannyan.



Weni melihat menu yang dimasak oleh Sima dengan mata takjub. "Woa ... ayam." Sima tersenyum senang melihat mata gadis itu berbinar.



Raut wajah Weni segera berubah. "Kok begini warnanya? aku belum pernah melihat warna ayam yang begini."



"Itulah yang kamu nggak tau. Ini namanya ayam balik asam. Aku biasa memasak ini untuk Kiara karena dia sangat suka kalau aku masak ayam ini." Tutur Sima dengan senyum rindu pada kampung halamannya di kota C. Tepatnya, kampung halaman kakak-beradik Fayes dan mendiang Gurunya.



"Apa Kiara lebih suka menu ini daripada sup ikan dori?" tanya Weni. Sima langsung menggeleng. "Tentu saja tidak. Dia memang sangat suka ayam. Tapi menurutnya nggak ada makanan yang bisa mengalahkan kelezatan sup ikan dori." Jelas Sima.



"Makanlah!" tawarnya dengan senyum penuh arti. Meski Weni tak berani mencicipinya, namun ia tetap memaksa mencicipi menu itu karena bagaimanapun juga Sima telah bekerja keras memasak ayam itu untuknya.



Weni memasukkan ayam itu perlahan ke mulutnya. Gigitan pertama, ia langsung mematung.




"Enak banget ... " Weni mengacungkan jempol dan kembali melahap paha ayam itu. "Aku belum pernah memakan ayam seenak ini." Ujarnya dengan mulut penuh.



Sima terkekeh dan mengusap dagunya dengan senyum bangga. "Aku sudah bilang kalau aku jago masak. Kamu tidak percaya, sih." Ucapnya berkacak pinggang.



Weni melirik Sima yang sedari tadi menatapnya. Ya ampun, saking lahapnya ia makan, ia sampai lupa bahwa ada pria tampan yang memperhatikan kerakusannya di sampingnya.



"Nih, kamu juga makan." Weni menyodorkan paha ayam di tangannya ke mulut Sima untuk menutup rasa malunya.



Sima tersenyum senang dan menggigit sedikit ayam masakakannya.

__ADS_1



"Aku benar-benar nggak nyangka kalau kamu jago banget masaknya. Dan seenak ini pula." Pujinya.



"Masakanmu juga sangat enak." Puji Sima balik. Tunggu! sejak kapan dia jadi seserius ini dalam hal memuji. Dan sejak kapan pula ia jadi semanis ini? dan yang paling penting, sejak kapan ia memasak khusus untuk seorang gadis selain Kiara?



"Iya. Nggak nyangka, kita berdua punya hobi yang sama. Tapi cara memasak kita berbeda. Aku memasak dengan sangat sibuk dan panik. Sedangkan kamu memasak dengan santai tapi bar-bar." Sima tidak tahu Weni memuji atau meledeknya. Namun yang pasti, apapun yang keluar dari mulut gadis itu adalah hal terindah di di dunia.



Kiara berjalan menuju dapur dan melihat Sima dan Weni sedang asyik bercengkrama sambil tertawa lepas.


Ia menunduk sedih. Awalnya ia berniat mengambil sedikit makanan untuk dicamilnya guna menghilangkan seluruh emosi yang sedang memenuhi perasaannya.


Sima dan Weni sama-sama menoleh. Reflek mereka bergeser dan menjaga jarak berdiri mereka. Kiara tidak terlalu peduli soal itu. Setidaknya, tidak saat hatinya sedang sangat kacau seperti sekarang.


"Kamu kenapa?" Sima mendekati Kiara dan menanyakan keadaannya saat melihat raut wajah berbeda dari adiknya itu.


Kiara menggeleng pelan. "Aku hanya sedang lapar." Kiara mengelak. Tentu saja ia tak mau mengatakan tentang yang sejujurnya. Tentang kekesalannya terhadap Hansa.


"Benaran nggak apa-apa? kok wajahmu kesal begitu?" sambung Weni khawatir. Kiara mengatur raut wajahnya. "Ng ... nggak. Nggak apa-apa. Aku ... nggak apa-apa. Wajahku kan memang selalu seperti ini." Elak Kiara lagi.


"Nggak. Biasanya kamu selalu terlihat ceria." Sambung Sima. Kiara memutar bola mata jengah.


"Apa, sih? kakak lupa salah satu julukanku adalah seribu wajah. Yang berarti, wajah dan sifatku memang selalu berbeda-beda. Aku bisa jadi keras kepala, bisa jadi nekat, bisa jadi kalem, bahkan aku bisa jadi penurut." Kiara menngingatkan tentang salah satu julukannya yang bisa berbeda-beda tergantung siapa yang ia hadapi.


Gadis itu adalah gadis kekanak-kanakan yang nakal dan nekat jika bersama kakak-kakak dan mendiang Gurunya.


Beda lagi jika berhadapan dengan Menteri Waze. Gadis itu menjelma menjadi murid yang selalu menuruti perintah gurunya.


"Nggak. Karakter kamu memang bisa jadi apa aja. Kecuali kalem dan penurut. Dari dulu kamu nggak pernah begitu." Bantah Sima. Weni menyikut lengan pria itu karena tahu bahwa saat ini Kiara sedang tidak baik-baik saja dan tidak bisa diajak bercanda. "Aw! kenapa, sih?" protes Sima mendapatkan sikutan dari Weni.


"Kiara, mending kamu cerita, ada masalah apa? kamu seperti sedang tidak baik-baik saja." Tanya Weni malas meladeni Sima yang masih protes.


"Aku nggak apa-apa. Serius ... " Kiara berusaha menahan suaranya yang hampir terisak. Kerongkongannya bahkan sudah terasa sakit karena menahan tangis.


Tadinya ia memang tak ingin menangis. Namun Sima dan Weni yang terlihat mengerti apa yang sedang terjadi padanya membuatnya teringat akan kekecewaannya terhadap Hansa dan membuatnya ingin menangis.


"Yakin nggak apa-apa?" Weni bertanya sekali lagi. Kiara mengangguk sangat pelan karena air mata sudah semakin menggenang di pelupuknya.


"Kiara, kamu nangis?" Weni menyentuh pipi Kiara dan melihat dengan jelas mata gadis itu yang berkaca-kaca.


Kiara menggeleng dengan air mata yang sudah lolos dari pelupuknya.


"Kiara, kamu kenapa?" Sima memegang kedua bahu adiknya khawatir. "Aku nggak apa-apa, kak ... " isaknya. Ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja walau isakannya semakin kencang.

__ADS_1


"Kamu lagi kesal karena seseorang, ya? lagi sedih? beritahu aku siapa orang yang membuatmu begini?" Sima semakin panik. Weni menyentuh bahu Sima berusaha meredakan amarah pria itu.


"Aku tau. Pasti ini karena Hansa, kan? dia yang membuatmu menangis, kan?" Kiara mengernyit. Ia takut kakak ke-empatnya itu akan berbuat nekat jika tahu bahwa Hansa adalah penyebab ia menangis.


__ADS_2