
Kiara berjalan mengelilingi area Kantor Pengadilan. Ia membayangkan seakan-akan dirinya sedang berpatroli.
Ia melihat Bari yang berjalan di depannya. "Mau ke mana kamu?" Kiara menghalangi jalan Bari. Bari menatapnya tajam.
"Cih, galak banget. Pantas Weni tidak mau menerimamu." Gerutu Kiara. Bari hanya mengernyit. "Kamu mau aku kasih tau cara agar Weni mau menerimamu?" Kiara sok misterius.
Meski Bari tak merespon, Kiara tahu bahwa dari wajahnya ia terlihat mulai antusias dan penasaran.
"Aku kasih tau nih caranya. Ingat baik-baik, yah." Camkan Kiara. "Kalau kamu mau Weni menerimamu, mulai sekarang jangan galak-galak lagi dengan seorang gadis. Apa lagi dengan Weni." Kiara memberi saran.
"Masa sih begitu?" Bari masih menolak untuk percaya. "Lagi pula, mana ada aku galak dengan Nona Weni." Bantahnya.
Kiara menghela napas sejenak. "Kamu memang tidak galak padanya. Tapi kamu juga belum cukup lembut padanya. Gimana dia mau luluh?" balas Kiara.
Bari terlihat mencerna kalimat Kiara. "Gini aja deh. Kalau kamu tidak mau mendengarkan saranku, itu urusanmu. Yang penting jangan salahkan siapapun kalau sampai kapanpun Weni tidak mau menerimamu." Nasihat Kiara sembari menepuk pundak Bari. Ia berjalan meninggalkan Bari yang terlihat merenungkan saran dan nasihat darinya.
Sementara Kiara yang masih melanjutkan aksi patrolinya tak sengaja melihat Hansa yang berjalan melewatinya.
"Hei!" Kiara mencegah Hansa yang terlihat malas meladeninya. "Kenapa?" satu kata yang keluar dari mulut Hansa dengan nada biasanya saat pria itu bertemu dirinya.
"Mm ... aku bosan, nih. Temani aku jalan-jalan." Pinta Kiara seenaknya. Hansa menatapnya datar. "Nona Kiara, saya masih ada kerjaan. Tolong jangan ganggu saya. Saya permisi." Pamitnya.
"Eits, tunggu dulu!" Kiara menahan lengan Hansa yang langsung menepisnya. "Nona Kiara, jangan bertingkah seenaknya. Jangan sampai saya kasar terhadap Nona." Ancam Hansa dingin.
"Ehem, Tuan Hansa yang terhormat, menemaniku juga bagian dari tugasmu." Bantah Kiara keras kepala. Hansa menghela napas panjang. Ia mengusap wajah kesal. Lama-lama ia bisa stres kalau setiap hari dihadapkan dengan sifat keras kepala gadis yang selalu mencari masalah dengannya ini.
"Kenapa? Tuan Nick sendiri yang bilang. Kamu harus melayaniku dengan baik karena aku adalah tamu di sini." Lagi-lagi ia membawa nama Master Nick untuk mengancam Hansa.
"Ya udah kalau kamu nggak mau. Aku akan lapor ke Tuan Nick kalau kamu tidak melayani tamu dengan baik." Ancam Kiara. Hansa bahkan sudah kehabisan kata-kata untuk membantah gadis pencari masalah ini.
"Bagaimana cara menghadapi gadis batu sepertinya?" batin Hansa.
"Oke. Saya bawa kamu berkeliling di sekitar Kantor Pengadilan aja, ya. Kita nggak sampai keluar gerbang." Setuju Hansa akhirnya.
Kiara mengangguk puas. "Ikut katamu saja."
Mereka berjalan beriringan. Senyum puas masih tergambar di wajah Kiara. Puas karena bisa membalas perbuatan pria itu padanya tempo hari.
__ADS_1
Hansa memutar pergelangan tangan Kiara dan menguncinya. Sekarang, posisi tubuh Kiara membelakangi Hansa dengan jarak yang sangat dekat.
Kiara memberontak berusaha melepaskan diri. "Saya tetap nggak akan biarin kamu bergabung ke Anggota Tim Penyelidik." Tegas Hansa.
"Lepasin! apa hakmu mengaturku?" sentak Kiara. "Dengar, ya. Saya nggak bisa biarin kamu dalam bahaya." Ucap Hansa tepat di belakang telinga Kiara.
"Nona Kiara sedang melakukan apa tadi?" tanya Hansa tiba-tiba, membuyarkan lamunan Kiara.
"Oh, aku tadi sedang latihan berpatroli. Gimanapun juga, aku kan akan jadi Anggota Tim Penyelidik. Jadi, aku harus berlatih melakukan apa yang biasanya dilakukan Tim Penyelidik." Tutur Kiara percaya diri.
Hansa tersenyum meledek. "Hei Nona, biasanya orang berpatroli itu, satu daerah dipantau. Bukan hanya di dalam Kantor Pengadilan." Tegur Hansa.
"Ta ... tapi kan nggak masalah. Ini juga kan masih baru latihan." Bantah Kiara menutupi rasa malunya.
"Terserah Nona saja." Hansa berjalan melewati Kiara. Kiara menahan lengannya. "Kamu mau ke mana?"
"Hei, aku belum bolehin kamu pergi." Teriak Kiara. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Bagaimana cara menghadapi pria es sepertinya?" batinnya.
Akhirnya, ia memutuskan kembali ke kamar dan menghabiskan waktu dengan duduk melamun di kursi.
'Tok tok tok'
Kiara menoleh ke arah pintu dengan malas. "Siapa?" tanyanya tak bersemangat.
Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan seorang pria. "Ngapain kamu di sini?" Kiara kaget mendapati Bari yang berdiri di ambang pintu dengan kotak makan di tangannya.
"Setidaknya tanya dulu aku lagi ngapain." Omelnya. Bari berjalan dan menaruh kotak makan itu di meja. "Aku udah ketuk pintu tadi." Balasnya.
Kiara menatap kotak makan yang dibawa oleh Bari dengan mata membulat penasaran. Kira-kira makanan apa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Ia memegang perutnya yang tiba-tiba keroncongan. Kebiasaan buruknya. Jika sudah melihat makanan di depan matanya, perutnya otomatis berperang di dalamnya, meminta untuk segera diisi.
"Apa ini?" tanyanya dengan nada yang langsung
berubah pelan. Bari memutar bola matanya. "Lihat aja!" pintanya.
Kiara membuka penutup kotak makan itu dan seketika berbinar saat melihat beberapa jenis kue di dalamnya.
"Ini untukku?" tanyanya tersenyum lebar. Bari mencoba tersenyum ramah. Ia mengangguk mengiyakan.
Kiara melipat kedua tangan di dada. "Tapi kenapa kamu tiba-tiba mengantarkan kue ini padaku? kenapa sikapmu jadi berubah seratus delapan puluh derajat?" tanyanya penasaran sekaligus heran.
Bari memutar bola mata jengah. "Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku jangan galak-galak lagi dengan seorang gadis. Makanya aku antarkan kue ini sebagai percobaan dan praktik awalku." Jelasnya panjang.
"Udah nggak usah banyak tanya. Tinggal makan
doang." Gerutunya.
Kiara memutar bola mata. "Tuan Bari yang terhormat, aku menyuruhmu untuk berbuat ramah dan lembut pada Weni. Bukan padaku. Kamu memang harus menghormatiku sebagai perempuan dan sebagai teman Weni. Tapi kue ini, bukankah seharusnya untuk Weni?"
"Tapi ini kan uji coba dulu. Jadi aku mempraktikkan padamu sebagai teman Weni. Supaya nanti saat aku berhadapan dengannya, sudah nggak ada lagi yang salah dengan diriku." Bantah Bari.
"Kalau mau praktek, praktek langsung ke orangnya lah. Kenapa harus ke aku dulu? kalau kamu begini terus, kamu nggak akan pernah berani menghadapinya." Nasihat Kiara.
Bari tampak berpikir sejanak. "Mm, benar juga, sih. Ya sudah, kue ini nggak jadi untukmu. Tapi akan ku antarkan pada Weni saja." Ia mengambil kembali kotak makan itu dan keluar dari kamar Kiara untuk mencari keberadaan Weni.
"Hey, bukan begitu maksudku. Kuenya untukku saja. Jangan ambil kembali sesuatu yang sudah kamu berikan pada orang lain." Kiara mengejar dan menahan lengan Bari yang berusaha menepisnya.
"Iya iya, aku tarik kembali kata-kataku yang tadi. Kamu boleh uji coba lewatku kok. Hey, balikin kuenya!" teriak Kiara yang masih berusaha merebut kembali kotak makan itu.
"Apaan, sih? lepaskan, tidak!" Bari berusaha menepis tangan Kiara yang menahan kotak makannya.
"Iya. Balikin dulu ... ." Mereka sama-sama terdiam saat melihat Weni yang muncul dan menatap ke arah mereka. Di tangannya, ia membawa kotak makan yang hendak ia antarkan untuk Kiara.
"We ... Weni, jangan salah paham." Sahut Kiara. Weni berjalan melewati keduanya dan melangkah masuk ke kamar Kiara.
"Kamu sih. Apa kata Weni nanti?" omel Bari. "Ih, percaya diri sekali kamu. Kamu pikir dia cemburu denganmu gitu?" balas Kiara.
__ADS_1
Ia kembali mencoba merebut kotak makan itu. "Lepaskan! ini untuk Weni." Bari kembali memberontak. Ia menepis tangan Kiara kasar hingga membuat gadis itu hilang keseimbangan.
Kiara yang hilang keseimbangan, terjatuh di tangkapan seseorang. Ia membulatkan mata menatap orang yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh itu.