Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Sima Fayes 2


__ADS_3

Sima Fayes sampai di sebuah bangunan kuno namun elegan itu. Sebelumnya, ia memang pernah mengirim surat sekitar dua minggu lalu. Kiara, adiknya itu hanya mengatakan lokasi kota di mana ia berada. Tak memberitahu alamat jelasnya.


Namun, ia sudah menelusuri seluruh kota A. Hanya Kantor Pengadilan saja yang belum ia kunjungi. Lagi pula, ia tahu betul karakter adiknya itu. Karena ia memang sudah lama mendengar tentang kematian kakak ke-tiga yang mati di Kantor Pengadilan. Dan ia berpikir, bahwa mungkin saja adiknya itu melakukan segala cara untuk menerobos alias bergabung di Kantor Pengadilan.


Benar-benar adiknya yang keras kepala. Tak kurang darinya.


Ia datang masih dengan mengenakan masker di wajahnya. Dengan langkah santai dan percaya dirinya, ia melangkah hendak memasuki Kantor Pengadilan. Namun, langkahnya dicegah oleh dua Pengawal yang berjaga di gerbang.


"Siapa kau? kalau tidak berkepentingan, dilarang masuk." Ujar Pengawal itu sedikit kasar. Sima menatap kedua Pengawal itu dengan berkacak pinggang.


"Pasti adik ke-lima bisa masuk ke sini dengan cara menyelinap."


"Aku mau bertemu Ketua Penyelidik." Balasnya langsung menyampaikan maksud kedatangannya.


Kedua Pengawal itu memandangnya dari atas sampai bawah. "Tuan Hansa sedang pergi. Lagi pula, siapa kau? orang tak berkepentingan tak akan diperbolehkan bertemu dengan Tuan Hansa."


"Aku bisa saja menyelinap Kantor Pengadilan kalian." Kesalnya.


"Apa ada gadis yang bernama Kiara di sini?" tanyanya berusaha sabar. Kedua Pengawal itu saling berpandangan sejenak.


"Ada urusan apa kau dengan Nona Kiara?" desak mereka. Sima tersenyum licik.


"Ternyata benar dugaanku. Gadis bodoh itu ada di sini."


"Kalau kalian nggak membiarkan aku masuk. Ya sudah, terserah kalian saja." Sima memutar tubuhnya. Ia menuju area belakang untuk menyelinap masuk ke dalam sana.


Benar sekali. Dengan gerakan yang mudah, ia berhasil masuk ke dalamnya.


Sima meregangkan otot sejenak. Matanya menyapu seantaro taman yang menyambut matanya pertama kali. Ia menguap dengan gaya meremehkan.


"Tidak usah sok-sokan memasang Pengawal lah. Hmph, Sima mau dilawan."


Ia berkacak pinggang. Puas dengan kelicikannya. Sima tersadar dan segera berjalan mencari orang yang memang sedang menjadi riwayat pencariannya.

__ADS_1


Sima berjalan ke depan sembari melihat sekelilingnya. Tangannya mengusap-usap dagu dengan lincah.


Sima melihat siluet tubuh dari balik pohon. Ia langsung tahu bahwa orang yang berada di balik pohon itu pastilah orang yang dikenalnya. Lebih tepatnya, orang yang menjadi partnernya dalam mencari Kiara. Namun, karena tak kunjung menemukan gadis itu, mereka memutuskan untuk mencari secara terpisah.


Dan di sinilah mereka kembali dipertemukan. Sima tersenyum licik. Ia melangkah mengendap-endap menghampiri kakak pertamanya yang terlihat tidak menyadari keberadaannya.


Saat semakin dekat, kedua tangannya sudah bersiap hendak mengejutkan Rubby. Namun belum sempat ia berhasil menunaikan niatnya, Rubby menyadari keberadaannya. Rubby menangkap tangan adik jahilnya itu dan memutarnya ke belakang.


"A ... Aw! ampun, kak. Ampun ... ." Ia memekik memohon dilepaskan. Rubby melepas tangan adik jahilnya itu dan beralih menjewer telinganya kencang.


"Aw! apa lagi ini?" rintihnya. "Anak nakal. Ke mana saja kamu?" Rubby melampiaskan kekesalannya. "Pasti bersenang-senang lagi, kan? aku menyuruhmu mencari adik ke-lima. Bukan menyuruhmu bersenang-senang." Omelnya.


"I ... Iya iya. Aku salah. Maafkan aku. Ku mohon lepaskan. Sakit ... ." Lihatlah. Jika sudah berhadapan dengan kakak pertamanya ini, dia pasti menjelma menjadi anak kecil.


Rubby menurunkan tangannya dari telinga Sima yang segera mengusap kupingnya yang terasa perih.


"Berhenti bermain-main." Ancam Rubby memberi peringatan. Walau ia tahu diancam sekalipun adiknya itu pasti tetap akan kapok. Benar-benar memusingkan. Ia memiliki dua adik yang hanya membuatnya pusing saja.


Yang satu suka berfoya-foya dan jahil, yang satu lagi suka berbuat onar. Beruntungnya, ia cukup bisa menghadapi dua adik dengan dua tingkah berbeda dan menjelma menjadi satu sifat yaitu, keras kepala.


Belum sempat Rubby menjawab, dari arah depan, terlihat seorang gadis berlari kencang seperti sedang menghindari sesuatu.


Gadis itu berlari dengan pandangan masih ke belakang. Seperti sedang melihat sesuatu yang memburunya.


Weni yang saat itu fokus berlari menghindar dari hewan berbulu yang mengejarnya. Ia memang sangat takut pada hewan ganas satu itu.


Tubuhnya tak sengaja menabrak Sima yang dengan sigap menahan pinggang Weni agar tidak jatuh ke belakang.


"Ma ... Maaf." Ucap Weni. Ucapannya terpotong saat menatap wajah pria yang kini tengah menangkup pinggangnya itu.


Sima juga ikut terpaku menatap wajah gadis yang tak sengaja menabrak tubuhnya itu.


Hingga keduanya terdiam dan terpaku saling bertatapan.

__ADS_1


Rubby mengusir anjing yang mengejar Weni tadi layaknya seorang kakak yang mengerti situasi yang terjadi saat ini.


Ia menarik tangan adiknya yang masih menangkup pinggang Weni. Membuat Sima terpaksa menjauhkan kedua tangannya dari gadis cantik di hadapannya.


"Ma ... Maaf."


"Maaf."


Ucap Weni dan Sima berbarengan. Weni menundukkan kepala malu. "Nona ngapain lari-lari?" tanya Sima basa-basi.


Weni teringat akan anjing ganas milik Menteri Waze yang tadi mengejarnya. Ia segera bersembunyi di balik tubuh Sima. "Anjing itu ... " tangannya terangkat di udara. Ia baru sadar kalau anjing yang tadi mengejarnya sudah tidak lagi memburunya.


Ia kembali terolonjak saat tahu di mana ia berdiri. "Ma ... Maaf." Ucapnya lagi. Sima berbalik dan menahan tawa. "Sudahlah. Mau berapa kali kamu minta maaf?" sangkalnya.


Ia tersenyum menatap gadis lucu di depannya. Tanpa sadar, bibir Weni pun perlahan membentuk senyuman.


Rubby yang sedari tadi hanya berdiam tanpa berkomentar, kembali menjewer adik jahilnya itu. "Berhenti bermain-main. Adik ke-lima sedang koma." Kesalnya langsung memberitahu. Dari pada adiknya itu kembali berbuat ulah.


Sima yang mengusap-usap telinganya itu langsung menghentikan aktifitasnya kala mendengar pernyataan dari kakak pertamanya.


"Apa? a ... adik ke-lima sedang koma? kenapa nggak kasih tau dari tadi." Paniknya. "Di mana dia sekarang?" ia jadi tak sabar sendiri.


Rubby berjalan menuntun Sima ke kamar Kiara yang masih terbaring koma. Weni mengikuti dari belakang.


Saat melihat keadaan adik ke-limanya yang terbaring tak berdaya, Sima tak lagi banyak mengoceh. Bahkan air mata sudah menetes dari ujung matanya.


Tangannya mengepal dan meninju tepi ranjang. "Kenapa bisa begini?" tanyanya pelan. Rubby menghela napas sejenak. "Dia keracunan. Kami semua membutuhkanmu sekarang. Karena hanya kamu yang bisa menyembuhkannya." Jelasnya berusaha tenang.


"Oke. Biarkan aku memeriksa keadaannya dulu." Sima menghapus air matanya dan berdiri tegak. Ia melirik Rubby sejenak.


Rubby melangkah keluar diikuti yang lainnya. Kecuali Bari. Ia hanya menunggu di luar. Karena tak baik selalu masuk ke kamar seorang gadis.


Mereka tahu bahwa Sima harus berkonsentrasi dan tak ingin diganggu.

__ADS_1


Hari sudah lewat dua hari dari tiga hari yang dikira-kira oleh Tabib. Jika Sima juga tidak bisa menyelamatkan Kiara, maka bisa jadi kematian lah yang akan menjadi keputusannya.


__ADS_2