Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Berawal dari surat rahasia, berakhir jadi air mata


__ADS_3

Kiara memutuskan untuk menulis surat pada Sima. Tentu ia khawatir pada kakaknya itu. Ya, meski ini baru lewat dua hari. Tapi ia juga tidak tahan akan kondisinya yang ia rasa semakin memburuk.


Kiara melihat sekali lagu tulisan tangannya yang akan ia kirimkan untuk Sima lewat merpati ajaib. Ini adalah hari di mana merpati itu biasanya berada di sekitar kota ini. Jadi ia sengaja mengambil waktu untuk mengirim surat hari ini.


'Apa semuanya bisa ditangani?'


Ia memang tak mau terlalu memperjelas isi surat itu. Terutama ia tidak ingin memperjelaa identitas dari pengirim surat. Karena itu hal yang terbiasa ia lakukan jika berkomunikasi lewat surat dengan kakak ke-empatnya.


Kiara membuka jendela dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikannya.


Detik selanjutnya, ia bersiul beberapa kali tanda memanggil merpati ajaib itu. Tak butuh waktu lama, merpati itu datang dan hinggap di jendela di samping tangannya.


Kiara menyelipkan surat itu di kaki merpati ajaib itu dan mengelusnya sejenak. "Pergilah, cepat! bantu aku mengirimkan surat ini pada kakak ke-empat. Ingat, jangan sampai ada yang melihatmu." Pintanya dengan suara pelan.


Merpati ajaib itu mengepakkan sayap dan berputar-putar di udara kemudian terbang ke arah yang dituju.


Malam harinya, Kiara menerima surat dari merpati ajaib itu. Ia mengambil surat itu dari kaki hewan itu dan segera membacanya.


Ia tahu bahwa surat yang dikirimkannya memang bukan merupakan kalimat yang penting. Tapi ia tahu kalau kakak ke-empatnya pasti mengerti bahwa ia hanya mengirim surat jika dalam keadaan mendesak.


Sebelum sempat membaca surat itu, Kiara mendengar langkah kaki berjalan menghampirinya. Ia terdiam waspada. "Ada apa?" tanya Kiara yang reflek menyembunyikan surat dari Sima.


"Oh, Tuan Hansa. Ku kira siapa." Kiara mengusap dadanya lega. "Kenapa ke sini?" tanyanya.


"Tadi aku melihat sebuah merpati. Ku tebak, merpati itu pasti datang membawakanmu sebuah surat, kan?" duga Hansa.


"Kenapa kamu bisa tau? dan kenapa kamu seteliti itu tentang merpati yang mengirim surat padaku? tapi ... ya. Kamu benar, sih." Kiara tahu bahwa ia tidak bisa menghindar dari ketelitian pria di hadapannya itu. Oleh karena itu, ia putuskan untuk memberitahu tentang semuanya saja. Lagi pula, Hansa adalah seseorang yang dapat dipercaya.

__ADS_1


"Silahkan duduk dulu." Kiara duduk di kursi di sekitar taman itu dan mempersilahkan Hansa duduk di hadapannya.


"Kalau kamu nggak keberatan, boleh saya lihat suratnya?" izin Hansa.


"Aku belum membacanya, sih. Tapi nggak masalah kalau kamu mau membacanya duluan. Ya, kalau kamu ngerti dengan isi suratnya." Kiara memberikan surat itu dan membiarkan Hansa membacanya duluan.


"Terima kasih. Saya tau nggak sopan membaca surat ini sebelum kamu membacanya. Maka dari itu saya meminta izin." Jelas Hansa dan membaca tulisan di surat itu dengan teliti.


'Hari ini, aku sedang memburu babi dan rusa.'


Setelah membacanya berkali-kali, Hansa tetap tak mengerti. Ia menatap Kiara untuk meminta penjelasan.


Kiara terkekeh. "Kan aku sudah bilang kamu nggak akan mengerti." Ia meraih surat itu dan membaca tulisannya.


"Apa maksud dari surat itu?" tanya Hansa. Kiara membacanya sejenak dan langsung tahu apa kata kunci yang menjadi balasan dari surat yang dikirimnya. Ia menatap Hansa dan tersenyum lucu melihat wajah Hansa yang terlihat sangat penasaran.


"Kata kuncinya ada di sini." Ia menunjuk dua kata bergantian. "Kemarin aku bertanya apa dia segalanya bisa diatur? dan dia membalas bisa.di surat ini." Papar Kiara.


"Saya tidak melihat ada kata bisa di sini." Hansa masih belum mengerti. Kiara memutar bola mata dan kembali menunjukkan dua kata dari kalimat di kertas itu.


"Babi dan rusa?" Hansa meneliti dua kata tersebut. Ia langsung mengangguk mengerti. "Saya mengerti sekarang. Kata kuncinya ada di suku kata kedua dari masing-masing kata ini, kan?"


Kiara mengangguk tersenyum karena Hansa telah mengerti. "Benar sekali. Babi, kunci katanya ada pada bi. Lalu rusa, kunci katanya ada pada sa. Jadi, balasan dari surat yang ku kirim adalah bisa." Ia melipat kedua tangan di dada berlagak seperti guru yang sedang mengajar muridnya.


Hansa terkekeh sejenak. "Untuk apa dia mengirim balasan singkat itu? dengan kalimat rahasia pula." Ia kembali terkekeh.


Kiara tak memperhatikan pertanyaan dari Hansa maupun ikut terkekeh. Ia malah mematung dengan mata tak berkedip menatap Hansa tanpa sadar.

__ADS_1


Hansa yang menyadari tatapan itu segera berdeham untuk menutupi rasa canggung. "Mm, saya duluan, ya. Sudah larut malam. Kamu juga segera istirahat." Ia beranjak dari kursi dan melangkah dengan sedikit terburu-buru.


"Tuan Hansa. Aku mau tanya sesuatu." Kiara bangkit dari kursi dengan masih menatap Hansa yang memunggunginya.


"Tanya apa? ini sudah larut malam. Cepat istirahatlah." Pinta Hansa dengan suara tertahan. "Apa aku ... membuatmu tak merasa risih?" tanya Kiara mengeluarkan isi hatinya.


"Nona Kiara, apa maksudmu?" tanya Hansa merubah cara bicaranya menjadi formal.


Kiara menunduk berusaha menahan air mata. Ia tidak tahu alasan mengapa ia sangat ingin menangis saat itu juga. Padahal tadi ia barusan tertawa lepas bersama pria itu.


"Aku nggak tau. Aku hanya merasa ... kalau kamu risih dengan keadaanku." Ia tak kuasa menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Tuan Hansa, jujurlah. Waktu aku koma dan kamu tidak berada di sini, itu sebenarnya caramu menghindariku, kan? dan supaya kamu tidak melihatku, kan?"


Hansa memejamkan mata tak berniat menjawab tuduhan itu.


"Kalau kamu tidak suka aku berada di sini, katakan saja." Ucapnya pelan karena merasa tak kuat untuk mengucapkan kalimat itu.


Hansa tersenyum miring meski ia tahu gadis itu takkan bisa melihatnya. "Nona Kiara jangan salahkan saya. Saya pernah memperingatkan dan mengatakannya beberapa kali." Sahutnya.


"Mengatakan apa?" Kiara mengerutkan kening. Berharap balasan selanjutnya dari pria itu tidak begitu menyakitkan.


"Mengatakan bahwa saya tidak suka kamu berada di sini." Setelah mengatakan itu, Hansa melangkah meninggalkan Kiara dengan kehancuran di hatinya.


Jika tadi ia berharap balasan Hansa tidak akan menyakitkan, itu terkabulkan. Hatinya memang tidak sakit, melainkan hancur. Kalimat pedas dari pria itu baru saja menghancurkan hatinya. Bukan hanya menyakitkan.


Menit selanjutnya, ia mengepalkan kedua tangan. "Aku berada di sini, karena kemauanku. Nggak peduli kamu suka atau tidak aku berada di sini." Ucapnya lebih kepada diri sendiri. Atau kepada angin yang menemaninya. Atau bulan yang menyaksikan tangisannya. Atau malam yang menjadi latar suasana.

__ADS_1


__ADS_2