Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kasus selanjutnya


__ADS_3

Kiara menerima perintah dari Master Nick untuk menemuinya di ruang diskusi. Tak ingin menunda lagi, ia bergegas menghampiri pria itu di tempat yang telah dijanjikan.


Kiara menutup pintu dari dalam dan memberikan salam hormat pada Master Nick. Ia melirik Hansa yang berdiri di samping Master Nick.


"Kalau saya boleh tau, ada apa Tuan Nick memanggilku ke sini?" tanyanya. Seperti biasa, Master Nick memasang tampang serius dengan jenggot yang tak lupa dimainkan.


"Kantor Pengadilan sedang dihebohkan dengan kasus hilangnya barang beeharga milik Yang Mulia Kaisar. Seperti biasa, Yang Mulia mempercayakan Kantor Pengadilan untuk menangani kasus itu." Papar Master Nick.


Kiara mengerutkan kening. "Aneh. Kasus kemarin saja belum sepenuhnya selesai. Sekarang malah bertambah satu kasus lagi." Sahutnya.


"Makanya itu. Tapi, Yang Mulia telah memberikan titah. Kita juga nggak punya hak untuk mempertanyakan keputusan beliau." Master Nick terlihat sudah mulai pasrah.


Selang beberapa detik keheningan, Kiara mendongak dan menemukan sebuah ide untuknya sendiri.


"Saya bisa menyesaikan kasus ini." Ia mencoba percaya diri. "Saya memang akan mempercayakan kasus ini padamu dan Hansa. Karena saya sudah menyaksikan sendiri kecerdasan dan kejelianmu." Ungkap Master Nick.


"Saya bisa menyelesaikan kasus ini seorang diri." Sahut Kiara. Master Nick menatapnya lurus. "Kamu yakin? kasus ini mungkin akan jauh lebih sulit dari kasus sebelumnya. Bahkan mungkin, kasus ini akan menjadi kasus tersulit yang pernah ditangani oleh Kantor Pengadilan." Pria itu kurang yakin.


"Tuan Nick tenang saja. Saya adalah seorang detektif. Saya pasti bisa menyelesaikan kasus ini sendiri. Tolong Tuan Nick memeberikan aku kesempatan dan kepercayaan kali ini." Ia masih teguh dengan kepercayaan dirinya.


Master Nick terlihat manggut-manggut. Ia tampak berpikir dan menimbangkan usulan tersebut.


"Baik. Tapi saya peringatkan kamu. Yang Mulia Kaisar memberi kita waktu untuk menyelidiki hanya dalam satu minggu. Kamu yakin bisa menyelesaikannya sendiri?" Master Nick setuju namun masih kurang yakin.


Kiara terdiam sejenak. Baiklah. Sepertinya sekarang ia benar-benar harus mengambil resiko. "Saya ... siap." Siapnya.


"Tidak bisa. Kasus ini terlalu berbahaya. Saya nggak akan membiarkan kamu menangani kasus ini sendirian." Hansa menyela setelah lama hanya diam.


"Tuan Nick, apa kita akan membiarkan gadis ini menangani kasus hanya dalam waktu satu minggu? bagaimana pun, dia adalah anggota baru di sini. Satu minggu adalah waktu yang sangat singkat." Protesnya.

__ADS_1


"Tuan Hansa, kamu sudah cukup membantuku. Kali ini aku minta tolong untuk jangan mengusik permintaanku." Balas Kiara.


Hansa hendak kembali memprotes. Namun, Master Nick segera menyela kedua insan itu.


"Nona Kiara, kamu bisa mulai menangani kasus mulai dari sekarang." Putusnya.


Kiara membungkuk hormat. Namun, ia masih berdiri diam di situ. Master Nick berbalik menatapnya. "Kenapa masih di sini? ada yang ingin kamu tanyakan? atau kamu butuh sesuatu untuk menangani kasus ini?" tanya Master Nick yang melihat Kiara tak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Memang ada sesuatu yang saya inginkan." Ungkap Kiara. "Katakan!" pinta Master Nick.


"Saya mau mengajukan syarat." Sahutnya. Master Nick mengerutkan kening. "Syarat?" ulangnya.


Kiara mengangguk singkat. "Jika saberhasil menangani kasus ini sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan, saya mau mengetahui kebenaran tentang kakak ke-tigaku." Ungkapnya berani.


Ingin saja Hansa memperingatkannya. "Kita semua tau, kalau kasus tentang kakak ke-tigaku tidak dibeberkan ke masyarakat. Kalian menutupi masalah kakak ke-tigaku. Jadi, kami hanya mengetahui kalau dia dihukum mati. Tanpa mengetahui penyebab kematiannya." Kiara menjelaskan maksud dan keinginannya.


Master Nick menghela napas dan menatapnya gusar. "Kasus itu sudah dari lima tahun ditutup. Siapapun dilarang membahasanya." Balasnya cepat.


"Begini saja, kalau kamu berhasil menangani kasus ini, saya akan melantikmu sebagai Anggota Tim Penyelidik." Usul Master Nick.


Meski merasa tak puas, Kiara tak lagi mencoba membantah.


"Jika ingin mengetahui kasus itu, aku memang harus menuruti keinginan si tua ini. Dan, kalau aku jadi Anggota Tim Penyelidik, aku mungkin lebih mudah mendapatkan informasi tentang kasus kak Tama." Batinnya.


Ia mengangguk dan membungkuk pamit dan bergegas keluar dari ruangan itu. Ruangan tersisa oleh dua insan yang sudah bersiap untuk berargumen.


"Tuan Nick, itu sebabnya saya nggak mau gadis itu tinggal di sini lebih lama. Dan saya selalu menolak kalau dia diangkat menjadi anggota Kantor Pengadilan. Selain nggak mau dia dalam bahaya, saya juga nggak mau dia mengetahui yang sebenarnya tentang kakak ke-tiganya." Hansa mengeluarkan semua isi pikirannya.


"Jangan khawatir. Selama kita bisa menutup mulut, gadis itu nggak akan pernah tau tentang kasus kakak ke-tiganya itu." Master Nick mencoba meredakan kekhawatiran anak asuhnya itu.

__ADS_1


"Tapi entah kenapa saya yakin, kalau suatu saat Kiara akan tau yang sebenarnya. Apa lagi jika dilihat dari sifatnya yang penuh tekad dan selalu nekat." Hansa masih tak bisa menghilangkan kekhawatirannya tentang gadis itu.


"Jika Kiara sampai mengetahui penyebab kita menyembunyikan masalah tentang kasus kakak ke-tiganya, dia mungkin akan sangat membenci kita. Terutama aku." Sahutnya lagi.


~


Kiara menerima surat dari salah seorang penjaga gerbang. Ia masuk ke kamar dan mengunci semua akses keluar yang ada di kamarnya. Takut surat itu merupakan surat yang sangat penting dan tak boleh ada yang mengetahuinya.


Ia membuka surat itu dan membacanya dengan cepat. "Surat dari kakak ke-empat?" gumamnya dan lanjut membaca surat dari kakak ke-empatnya itu.


"Bodoh. Sudah berapa lama kau tidak mengirimkan surat padaku?" dumelnya. Ia lanjut membaca isi surat itu dengan teliti.


'Temui aku di hutan lumut.'


Kiara membaca surat singkat itu. Ia tersenyum miring.


"Ini kesempatanku." Gumamnya. Ia meninggalkan surat itu di atas meja dan menindihnya dengan tempat kuas dan tinta agar surat itu tidak asal terbang.


...----------------...


Rubby mengendarai kereta kuda untuk mngantar Sera pulang. Lihatlah dia. Mata dalam kondisi tak bisa melihat pun, ia masih bisa mengendarai kereta kuda dengan mengandalkan indra selain matanya.


Saat di tengah jalan menuju kota B, tempat tinggal Sera, ia mendengar suara kereta kuda yang jalan melewati dan berlawanan arah dengan kereta kudanya.


Ia secara mendadak memutar balik kereta kudanya. Membuntuti kereta kuda yang tadi melewatinya.


Sera yang duduk di dalam tentu merasa kebingungan. "Tuan Rubby, apa ada sesuatu yang salah? kenapa putar balik?" tanya Sera bingung.


"Ada sesuatu yang nggak beres." Sahut Rubby singkat. Ia mempercepat laju kereta kudanya agar mudah menyusul kereta kuda yang berjarak

__ADS_1


tak jauh di depannya.


Ia yang sudah mengenal seluk-beluk jalan itu, memilih memotong jalan dengan berbelok ke jalan yang berbeda dengan kereta kuda yang sedang dibuntutinya. Tujuannya agar si pengendara kereta kuda tak mengetahui dan mencurigainya.


__ADS_2