
"Ini udah lewat beberapa bulan. Yang Mulia Kaisar sampai sekarang belum mengumumkan keberangkatannya ke kota D? kapan pernikahannya dilaksanakan?" gumam Kiara saat tengah menghabiskan waktu bersantainya bersama Hansa.
Hansa hanya terdiam tanpa merespon. "Aku dengar, sepertinya mereka sedang bertengkar?" lanjut Kiara lagi. Kini ia memelankan suaranya hingga nyaris terdengar seperti berbisik.
"Siapa yang bertengkar?" tanya Hansa yang sedari tadi hanya diam. "Tuan Putri dan Tuan Fian." Sahutnya cepat.
Hansa menoleh dan menggelengkan kepala. "Nggak boleh membicarakan Tuan Putri. Apalagi sampai membahas masalah pribadinya." Ia memperingatkan agar kekasihnya itu lebih berhati-hati kalau berbicara.
"Oh." Sahut Kiara pelan sembari mengangguk patuh. "Aku cuma lagi malas aja. Belakangan ini banyak kasus yang terbengkalai alias terlupakan. Kenapa Yang Mulia Kaisar nggak tegas kalau soal kasus?" keluhnya.
Hansa menutup mulutnya dan kembali memperingatkan gadis itu untuk menjaga bicaranya.
Kiara menggigit tangan Hansa yang membekap mulutnya pelan. "Aw!" Hansa menjauhkan tangannya dari Kiara. Ia menunjuk wajah gadis itu untuk lagi-lagi memperingatkannya. ""Kalau kamu ngomong sembarangan lagi, aku akan memasukkanmu ke penjara." Ancamnya bercanda namun dengan wajah serius.
"Iya, aku janji nggak akan bicara sembarangan lagi." Pasrahnya. Ia terkekeh sejenak. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Sampai Kiara memecah keheningan.
"Ngomong-ngomong, Dewi ke-enam itu sangat cantik, ya. Nggak mungkin kamu cuma menganggapnya teman dulu kecil, kan?" candanya.
Hansa terdiam tak merespon apa pun. Dalam hati ia sangat tidak membenarkan ucapan Kiara barusan. Namun juga tidak menyalahkan ucapan gadis itu karena ia memang tidak bisa menyangkal.
"Kenapa wajahmu serius gitu? aku cuma bercanda kok." Kiara terkekeh melihat wajah Hansa yang sedari tadi hanya diam. Meski ia sudah berusaha mencairkan suasana.
Istana sedang disibukkan dengan keberangkatan Hyra menuju kota D, kota di mana Menteri Waze berasal. Sekaligus tempat di mana pernikahan akan berlangsung.
Selama persiapan itu, Hyra hanya menghabiskan waktunya dengan wajah yang selalu ditekuk. Ia tidak akan murung lagi hanya jika Deon bersedia menemaninya jalan-jalan.
Ia tidak lagi merasa sedih karena kenyataan bahwa Fian menikahinya hanya untuk memanfaatkannya. Ia juga tidak patah hati lagi. Hanya saja, ia merasa sedih karena harus menikah dengan pria yang hanya ingin memanfaatkannya.
Ia memang belum memberitahu Kaisar mengenai hal yang ia dengar dari diskusi Fian dan Menteri Waze. Karena menurutnya percuma memberitahu Ayahandanya. Karena Ayahandanya pasti akan tetap melangsungkan pernikahannya. Bagaimana pun, keputusan antar dua belah pihak tidak bisa ditarik kembali.
Hyra duduk dengan wajah murungnya. Jujur, ia merasa tidak pernah lagi memikirkan Fian semenjak peristiwa itu. Bahkan ia akui tak lagi ada nama Fian di hatinya. Ia selalu menghindar jika pria itu meminta bertemu dengannya.
"Tuan Putri, ada apa dengan Anda? apa ada masalah?" tanya Eva, pelayan pribadinya. Hyra menggeleng pelan sambil matanya terus menatap kosong pada meja yang menjadi tumpuannya.
"Maaf, Tuan Putri. Ada yang mau bertemu dengan Anda." Lapor Eva pelan karena tak mau mengganggu mood atasannya.
Hyra menggeleng cepat. "Aku lagi nggak mau menerima tamu." Tolaknya. Eva menurut meski sedikit terkejut. Pasalnya Hyra tidak pernah menolak siapa pun yang ingin bertamu karena ia adalah seorang Tuan Putri yang sangat ramah pada semua orang. Namun saat ini ia sedang dalam suasana hati yang benar-benar buruk. Bahkan ia merasa ini adalah yang terburuk.
"Baik, Tuan Putri. Saya akan sampaikan pada Pengawal Deon untuk bertamu lain kali." Eva hendak pergi ketika Hyra dengan cepat mendongak.
__ADS_1
"Pengawal Deon? suruh dia masuk!" pinta Hyra dengan mata berbinar penuh semangat. Eva mengangguk dan tersenyum sekilas. Ia tahu Deon selalu menjadi obat bagi mood Hyra yang akhir-akhir ini sedang tidak baik.
Hyra merapikan pakaiannya seperti yang selalu ia lakukan saat akan bertemu dan mengobrol dengan Deon.
Deon berjalan dengan langkah tegas dan berwibawa. Membuatnya tampak seperti ksatrianya Hyra. Meski hanya gadis itu yang beranggapan demikian.
Deon membungkuk hormat pada Hyra. "Maaf mengganggu waktu istirahat, Tuan Putri." Ucapnya sopan namun selalu terdengar nada dingin dalam setiap ucapannya.
Hyra menyambutnya dengan senyuman lebar. "Nggak masalah. Aku senang kamu datang. Duduk dulu." Ia mempersilakan.
"Terima kasih, Tuan Putri. Tapi tidak perlu. Saya ke sini hanya ingin menyampaikan bahwa Yang Mulia Kaisar meminta Anda segera mengunjungi Istana beliau." Ia menyampaikan amanat dari Kaisar.
Ekspresi wajah Hyra berubah. "Pasti mau membahas tentang pernikahanku dengan Fian." Ujarnya dengan nada sendu.
"Saya kurang tau, Tuan Putri." Deon tiba-tiba menyahut meski Hyra tidak bertanya padanya.
"Saya permisi, Tuan Putri." Deon membungkuk dan undur diri. "Tunggu!" suara Hyra menghentikan langkahnya.
Deon kembali berbalik. "Apa Anda memiliki perintah lain, Tuan Putri?"
Hyra tampak ragu sejenak. Namun ia memutuskan untuk bertanya karena penasaran. "Apa kamu ikut mengantar ke pernikahanku?" ia tahu pertanyaan yang konyol untuk ia ajukan pada Deon. Namun ia sangat berharap pria itu mengantarnya ke pernikahan dan selalu ada untuknya, setidaknya sebelum pernikahannya dilaksanakan.
Deon menunduk sejenak. "Mohon maaf, Tuan Putri. Saya akan tetap di sini. Tapi saya akan tetap berdoa semoga Tuan Putri akan selalu bahagia." Ucapnya.
Bahu Hyra melesak dalam. "Kenapa kamu nggak ikut aja? apa kamu nggak mau menemaniku ke pernikahanku? atau Ayahanda tidak mengizinkanmu?" tanyanya berharap Deon merubah keputusannya.
Deon membalikkan tubuhnya. "Tidak ada yang melarangku, Tuan Putri. Saya hanya merasa pesta semegah itu tidak pantas dihadiri oleh pria miskin seperti saya." Balasnya sebelum pergi. Terdengar nada sindiran dalam kalimatnya.
Hyra menghembuskan napas pasrah. Pria itu tidak mau ikut bersamanya. Maka ia pun tidak bisa memaksa.
__ADS_1
Padahal ia selalu ingin berada di sisi Deon untuk mengungkap sesuatu yang janggal setiap kali ia bertemu pria itu. Ia merasa pernah mengenal pria itu sebelum ini. Dan selalu ada ingatan yang ingin menerobos keluar setiap ia menatap mata Deon, Bagai memori yang hilang.
Apalagi setelah mendapat respon mencurigakan dari Deon saat ia mengaku tidak asing dengannya.
**Flashback**:
*Deon duduk menemani Hyra yang tampak sedang murung. Gadis itu pasti sedang banyak pikiran*.
*Hyra mendongak menatap Deon yang duduk di hadapannya, tak jauh darinya. Ia menghela napas panjang. "Kadang aku merasa ragu dengan pernikahanku. Aku selalu ragu apakah dia orang yang tepat untukku?" ia mulai mengeluhkan isi pikirannya pada Deon, bak seorang pasien yang mengeluh tentang penyakitnya pada dokter atau tabibnya*.
*Deon hanya memilih mendengar tanpa menjawab apa pun. Hingga keduanya terdiam selama beberapa saat*.
"*Pengawal Deon, apa kita pernah kenal sebelumnya? aku merasa nggak asing kalau melihat wajahmu?" tanya Hyra tiba-tiba*.
*Deon terdiam mendengar pertanyaan itu. Hyra berdiri dan mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat dengan wajah Deon. Ia menatap pria itu lekat*.
"*Tuan Putri, Anda ... " Deon hendak menjauhkan wajahnya dari Hyra. Namun Hyra dengan cepat mencegahnya. "Diam dan jangan bergerak! ini perintah." Tegasnya tetap dengan suara lembutnya*.
*Deon bingung ingin berbuat apa. Ia hanya bisa pasrah dan membalas tatapan Hyra dalam*.
"*Aku yakin aku pernah kenal denganmu sebelum ini. Mungkin saat aku masih kecil." Ucap Hyra. Deon terdiam sejenak*.

"*Tuan Putri pasti bercanda. Kita nggak pernah kenal sebelumnya." Ia akhirnya mengalihkan wajaahnya dari Hyra dan menatap objek lain*.
*Hyra tersadar dan segera menegapkan tubuhnya. "Ah, Maaf, Pengawal Deon. Sepertinya aku sedang banyak pikiran. Aku duluan, ya." Ujarnya sebelum beranjak dari sana. Lebih baik segera pergi daripada kecanggungan itu berlangsung lebih lama*.
**Flashback off**
__ADS_1