
Kiara mengetuk pintu gerbang Kantor Pengadilan berkali-kali. Tapi tak ada satu pun penghuni di dalamnya yang keluar membukakan gerbang untuknya.
"Oke, kalian yang pancing." Kiara melakukan jurus melompatnya. Ia melayang bebas dan berhasil masuk ke dalam.
Kiara menepuk-nepuk tangan puas. Ia melihat ke sekitar taman. "Kok nggak ada siapa-siapa?"
"Kamar Master Nick yang mana, ya?" ia sibuk bergumam sambil berkeliling taman.
'Duk duk duk'
"Suara apaan, tuh?" Kiara yang penasaran mencari asal suara. Hingga ia sampai di gerbang paling tinggi di Kantor Pengadilan. Gerbang pembatas Aula Pengadilan. Ia melompati gerbang tinggi itu. Tak disangka, gerbang setinggi itu pun, bisa ditaklukkan olehnya.
Kiara bersembunyi di balik tembok untuk melihat keadaan di dalam sana. "Ramai banget. Semua orang lagi pada berkumpul. Jangan-jangan, ada yang mau diadili." Gumamnya.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Mencari-cari seseorang. "Nah, itu dia orangnya." Ia melihat Hansa berdiri paling ujung di antara semua Anggota Tim Penyelidik.
"Awas aja kamu. Hari ini aku akan buat perhitungan sama kamu." Ia meninju dinding di sebelahnya. Tak sabar ingin mencabik-cabik wajah orang yang kini sedang dilihatnya.
"Tapi, yang kemarin itu ..."
*Hansa melatakkan buku di mejanya dan mendekat ke arah Kiara. Kiara berangsur mundur hingga punggungnya menabrak dinding di belakangnya*.
*Hansa masih melangkah mendekatinya, hingga wajah mereka sangat dekat. Kini, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti*.
Kiara mengingat momen kemarin. Di mana Hansa mendekatinya dengan tatapan tajamnya yang siap menembus hati para wanita yang melihatnya.
Kiara menggeleng cepat. "Aku kenapa, sih? malah bayangin hal yang nggak penting." Ia kembali memerhatikan dan berusaha mencerna setiap ucapan dari penghuni di dalamnya.
Matanya kembali menyapu ruangan. "Hah, itu Master Nick? ya ampun. Nggak nyangka aku benar-benar bisa lihat dia. Kemarin aku nggak bisa lihat dengan jelas karena tertutup dengan tubuh Hansa, si bodoh itu." Ia melihat seorang pria yang duduk di atas kursi Pengadilan.
"Gimana caranya aku bisa ngobrol sama dia?" ia mengetuk-ngetuk jari di dagunya berpikir.
__ADS_1
"Lewat Guru Waze aja kali. Tapi, belakangan ini, Guru sibuk banget."
Kiara kembali menyimak diskusi antara si Hakim, Master Nick, dan seluruh Anggota Tim Penyelidik.
"Tuan, kami menemukan kotak ini di kamar tahanan. Tapi nggak ada yang aneh sama kotak ini. Saya menduga bahwa di dalam kotak ini pasti ada sesuatu." Lapor Bari.
"Tunggu apa lagi? cepat buka!" pinta Master Nick. Bari menggeleng pelan. "Sayangnya, kotak ini sama sekali nggak bisa dibuka. Pakai alat apapun hasilnya tetap aja nihil."
Hansa berjalan mengelilingi kotak besar itu. "Apa kalian udah paksa si tahanan buat buka kotak ini?" tanya Hansa.
"Udah Tuan Hansa. Tapi si tahanan nggak mau buka. Dia bilang, dia sendiri nggak tau caranya buka kotak ini." Papar Bari.
"Bisa jadi, dia emang nggak bohong." Duga Hansa. Bari mengerutkan kening. "Maksud Tuan Hansa ..."
"Si pelaku mungkin mengacak-acak mekanisme kuncinya setelah dia menaruh sesuatu di dalamnya. Jadi, dia sendiri pun nggak tau gimana lagi cara membuka kotak ini." Hansa lagi-lagi menduga.
"Terus sekarang gimana? kita kehilangan petunjuk?" Tanya Bari. "Tenang. Sekarang yang penting bukan mendapatkan isinya. Tapi mengetahui isinya dulu." Ujar Hansa menenangkan.
"Berarti, kita harus paksa si tahanan untuk buka mulut mengenai benda yang dia taruh di dalam kotak ini." Sambung Bari. Semangat mereka dalam menyelidiki kasus kembali membara.
Master Nick memainkan jenggotnya. "Bawa tahanan ke sini!" pintanya.
Kiara kegirangan. Tapi raut wajahnya kembali berubah masam.
"Sudahlah. Kakak ke-dua juga nggak tau di mana. Dan nggak tau juga dia masih hidup atau nggak." Kiara bersandar ke dinding putus asa.
"Tapi kakak ke-dua pasti masih hidup. Aku yakin dia nggak akan mati semudah itu." Kiara kembali berbalik untuk terus menyimak. Ia melihat seorang pengawal berlari tergesa-gesa ke tengah Aula.
"Lapor, Tuan!" Pengawal itu berlutut. "Ada apa?" tanya Master Nick bingung melihat Pengawal yang terlihat panik.
"Lapor, Tuan! tahanan sudah mati bunuh diri di Penjara." Seluruh penjuru Aula Pengadilan terkejut mendengar kabar itu. Pasalnya, mereka baru menemukan setitik cahaya untuk menemukan jalan keluar. Eee, cahayanya redup lagi.
Master Nick kembali duduk ke posisi semula. Berusaha tenang.
Kiara pun ikut tercengang. "Hah, si tahanan bunuh diri? nggak salah lagi. Berarti satu-satunya cara adalah harus membuka kotak itu." Gumamnya.
"Ah, nggak masalah. Kalau aku membantu sedikit, mungkin aku boleh bergabung ke Anggota Tim Penyelidik, dan bisa cari tau tentang penyebab kematian kakak ke-tiga." Ia kembali mengintip ke dalam Aula.
__ADS_1
"Tapi, gimana caranya aku bisa masuk ke sana? ayolah Kiara, gunakan otak detektifmu." Ia menekan-nekan otaknya. Berusaha mencari cara untuk bisa masuk ke dalam Aula
"Siapa kamu?" Kiara terkejut. Ia berbalik perlahan untuk melihat siapa orang yang memergokinya.
Ia melihat dua Pengawal yang kini berdiri di depannya menatapnya curiga.
"Kita bawa aja orang ini ke Aula supaya sekalian diadili." Usul salah satu Pengawal ke Pengawal di sebelahnya. Mereka sepakat ingin menangkap Kiara.
"Kalian mau tangkap aku? coba aja kalau bisa." Kiara berlari melewati dua Pengawal itu. Ia malas meladeni mereka dengan jurus bela dirinya. Menurutnya, hanya dua Pengawal tidak cukup bermasalah untuknya.
Kiara melihat ke belakang. Dua Pengawal itu masih mengejarnya. Wajar saja, mereka kalah cepat dari Kiara.
Kiara terus berlari dan sesekali melompat untuk membuat mereka semakin bingung. Ia kembali menoleh ke belakang dan meledek dua Pengawal itu. "Aku bilang juga apa. Kalian nggak akan bisa mengejarku." Ledeknya sembari menjulurkan lidah.
Kakinya tak sengaja menyandung batu di depannya yang membuatnya jatuh ke tanah.
"Aw!" ia meringis. Ke dua Pengawal itu berhenti dan tersenyum puas. Segera mereka mengikat tubuh Kiara menggunakan tali. Takut Kiara bisa kabur lagi.
"Mm, lagi-lagi aku diikat." Keluhnya. Dua Pengawal itu membawanya menuju Aula Pengadilan.
Kiara hanya pasrah. Tak berniat melawan. Karena ia pikir, ini kesempatan bagus untuknya bisa berbincang langsung dengan Master Nick.
"Lapor, Tuan. Gadis aneh ini terciduk mengintip Aula Pengadilan dari tadi." Lapor Pengawal itu.
Hansa dan Bari menatap Kiara yang hanya membuang muka sombong.
"Gadis sombong ini lagi." Keluh Bari dalam hati.
"Tuan, kita harus waspada. Gadis aneh ini mungkin salah satu pelaku kasus pencurian." Duga Bari.
Kiara menatapnya tajam. "Sembarangan kalau ngomong." Kesalnya. "Siapa kamu? berani-beraninya teriak di Aula Pengadilan!" bentak Bari.
"Kamu duluan yang tuduh aku pencuri." Kiara tak mau kalah. "Kalau kamu bukan pencuri, kenapa sejak kemarin kamu terus mengintip Aula Pengadilan?" desak Bari.
"Aku ..." Kiara menatap Master Nick. Takut terpengaruh oleh perkataan Bari yang menyebabkan ia dalam posisi bahaya.
'Duk'
__ADS_1
Master Nick memukul meja dan menatap Kiara dengan tatapan menuntut.