Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kembalinya Kiara


__ADS_3

Selesai menjalankan hukuman, Kiara dipanggil oleh Menteri Waze ke ruangannya.


"Salam, Guru. Ada apa Guru memanggilku?" tanya Kiara. Menteri Waze berbalik dan melihatnya dari ujung kepala hingga kaki.


"Kiara, kamu mau kasih tau semua orang kalau kamu itu murid saya?" sambar Menteri Waze.


"Tidak, Guru." Jawab Kiara cepat.


"Terus? kamu tau kan, kamu adalah murid rahasiaku. Saya melatihmu menjadi detektif bukan untuk kau pamer. Tapi untuk menjadi mata-mataku." Omel Menteri Waze dengan suara khas lembut namun menusuk.


"Maafkan kelalaian saya, Guru. Anda bisa menghukumku." Kiara segera berlutut mengaku salah.


Menteri Waze menghela napas panjang. "Bangunlah!" pintanya membantu Kiara berdiri. "Terimakasih, Guru." Ucap Kiara.


"Kamu nggak akan saya hukum kali ini. Karena mata-mata juga tidak harus selalu bertindak saat bulan padam." Kiara mengangguk mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Waze.


"Kamu boleh pergi." Pinta Menteri Waze. Kiara membungkuk patuh. Ia keluar dari ruangan itu dan langsung menuju kamarnya.


Mansion Menteri Waze, Kantor Pengadilan. Dia memang mempunyai dua karakter berbeda di dua tempat itu. Lebih tepatnya, ia menekan karakter aslinya hanya jika sedang berada di Mansion Menteri Waze.



"*Guru, aku juga mau diajarkan seperti kakak-kakakku. Kakak-kakak seperguruanku hebat semua. Aku juga mau seperti mereka. Aku nggak mau dimanja terus." Ujar seorang gadis kecil*.



*Haw Fayes membelai rambut gadis kecil itu penuh kasih. "Kalau untuk sekarang, sepertinya guru udah nggak bisa. Kamu tau sendiri, ilmu bela diri guru baru-baru ini hilang karena racun pelunak tulang." Jelas Haw Fayes*.



"*Tapi, Guru masih punya ilmu sampingan. Yang akan Guru pakai sekali-kali aja. Ilmu itu nggak pernah Guru ajarkan kepada siapapun termasuk kakak-kakakmu." Si gadis kecil semakin antusias*.



"*Aku mau belajar ilmu itu. Ajarin aku, Guru." Pinta si gadis kecil tak sabar. Haw Fayes hanya tersenyum menatap gadis kecil kesayangannya yang terlihat sangat antusias itu*.


__ADS_1


"*Nggak bisa. Ilmu itu terlalu kuat. Guru khawatir kamu nggak mampu mengontrolnya." Tolak Haw Fayes. Wajah si gadis kecil berubah murung. Ia tentu kecewa*.



"*Jangan mentang-mentang aku seorang gadis, semua hal nggak boleh aku lakuin. Aku ini gadis yang kuat, Guru. Setidaknya, berikan aku satu kekuatan supaya ke depannya, aku bisa jaga diri*.



*Aku kan nggak mungkin selamanya akan bebanin kalian. Kakak-kakak udah bisa jaga diri dengan kemampuan bela diri mereka. Aku mana bisa jaga diri dengan bela diri yang minim dibanding kakak-kakakku." Gadis kecil cemberut*.


*Haw Fayes menghembuskan napas berfikir sejenak. Si gadis kecil terus memaksa. "Baik*.



*Guru akan kasih ilmu itu ke kamu. Tapi ingat, kamu nggak akan bisa menggunakan ilmu itu terlalu sering. Karena ilmu itu terlalu kuat. Kamu juga nggak bisa mengontrol ilmu itu sebenarnya." Amanatnya. Ia memang tak bisa menghadapi sifat keras kepala gadis kecil kesayagannya itu*.



"Hah ... hah ... hah ... ." Kiara terbangun dari mimpinya. Ia menghapus buliran keringat yang membasahi dahinya.


"Mimpi itu lagi. Padahal aku udah lama nggak pernah mimpi tentang mendiang Guru." Kiara bangkit mengambil secangkir air untuk diteguknya.


Setelah beberapa saat merenung, ia keluar dari kamar untuk menemui Menteri Waze.


"Selamat pagi, Guru." Sapanya pada Menteri Waze yang kelihatan sedang menunggu kedatangannya.


"Kamu sudah bangun?" basa-basi Menteri Waze. Kiara mengiyakan. Menteri Waze terlihat memainkan jenggotnya seperti ingin membuat keputusan.


"Kamu ... pergilah ke Kantor Pengadilan. Cari cara untuk jadi anggota di sana." Pinta Menteri Waze tiba-tiba.


Kiara mengerutkan kening terkejut. "Tapi, Guru ... apa aku boleh tau alasan Guru menyuruhku tinggal di sana?" tanya Kiara. Menteri Waze menatapnya sebelum berkata, "Vitamin bisa menyembuhkan perlahan-lahan. Sedangkan racun bisa langsung mematikan."


...----------------...


"Hansa, siapkan satu kamar. Hari ini kita kedatangan tamu." Pinta Master Nick yang sedang berjalan di sekitaran taman ditemani anak asuhnya yang selalu ia andalkan itu. "Baik, Tuan. Tamu? tamu siapa?" Hansa penasaran.


"Aku." Kiara muncul di belakangnya. Hansa membalikkan tubuh. Ia mengerutkan kening begitu melihat Kiara.

__ADS_1


"Hansa, cepat bereskan satu kamar untuk tamu kita ini." Ulang Master Nick. "Nggak perlu. Aku udah minta tolong Weni tadi." Sahut Kiara.


"Kamu ... tamunya? ngapain kamu ke sini lagi?" Kiara menggeleng-gelengkan kepala. "Ckckck, kamu nggak berniat mau ngusir, kan?" ujarnya.


"Hansa, antarkan Nona Kiara ke kamarnya." Pinta Master Nick. "Saya pamit dulu. Kalian silahkan lanjutkan obrolan kalian." Pamit Master Nick. "Saya antarkan, Tuan." Tawar Hansa.


Master Nick menolak. "Heh, kamu ditugaskan untuk mengantarku ke kamar. Lagi pula, aku ini tamu. Masa aku datang jauh-jauh nggak ada yang nyambut. Kamu nggak mau dibilang tidak beretika, kan?" sindir Kiara.


Hansa tak menjawab lagi. Ia sungguh malas berdebat dengan gadis menyebalkan seperti Kiara.


Master Nick hanya tersenyum samar melihat tingkah kedua muda-mudi di depannya. Ia meninggalkan keduanya di taman. Memberikan mereka waktu untuk mengobrol berdua.


"Mari saya antarkan, Nona Kiara." Hansa mempersilahkan dengan wajah yang terlihat malas. Kiara tersenyum jahil. Senang bisa membuat pemuda itu kesal.


Mereka berbincang sambil berjalan. "Kamu ngapain kembali ke sini?" Hansa mengulangi pertanyaannya yang tadi belum sempat dijawab oleh Kiara.


Kiara melipat kedua tangan di dada. "Aku adalah Kiara Fayes. Kalau ada keinginanku yang belum tercapai, aku pasti nggak akan menyerah." Ujar Kiara bersemangat.


Hansa memutar bola mata jengah. "Nona, ku sarankan untuk merelakan keinginanmu itu. Karena sampai kapan pun, saya nggak akan biarin kamu bergabung jadi Anggota Tim Penyelidik." Balas Hansa dingin.


"Kenapa sih, malah kamu yang repot? kalau Tuan Nick mau gimana? apa kamu bisa bantah keputusan Tuan Nick?" Kiara sengaja menggunakan nama Master Nick untuk mengancam Hansa.


"Tetap saya nggak mau." Kekeh Hansa. Mata Kiara melotot kesal. Ia menatap Hansa tajam. Tangannya mulai ia ayunkan untuk menyerang Hansa. Hansa dengan sigap menangkis serangannya.


Kiara terus melayangkan serangan demi serangan yang selalu sigap ditangkis oleh Hansa.


Hansa memutar pergelangan tangan Kiara dan menguncinya. Sekarang, posisi tubuh Kiara membelakangi Hansa dengan jarak yang sangat dekat.


Kiara memberontak berusaha melepaskan diri. "Saya tetap nggak akan biarin kamu bergabung ke Anggota Tim Penyelidik." Tegas Hansa.


"Lepasin! apa hakmu mengaturku?" sentak Kiara. "Dengar, ya. Saya nggak bisa biarin kamu dalam bahaya." Ucap Hansa tepat di belakang telinga Kiara.


Kiara terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Hansa barusan. Hansa melapaskan tangan Kiara dan membungkuk padanya. "Maaf, saya antar sampai di sini aja. Kamarnya di depan sana." Hansa langsung melesat meninggalkan Kiara.


"Hey!"


"Dia orang yang dingin, tapi kadang blak-blakan kalau mau mengancamku."

__ADS_1


Kiara memegang dadanya. Mencoba menormalkan kembali detak jantungnya.


__ADS_2