
Hansa berjalan melewati Bari dan Weni. Tak berniat merespon pertanyaan mereka. "Tuan Hansa aneh banget." Gumam Weni. "Sst ... nggak boleh ngomongin Tuan Hansa." Larang Bari. Weni menundukkan kepala dengan wajah bersalah dan segera menutup mulut.
Sementara, Kiara sudah menghabiskan waktu di kamar mandi tanpa melakukan apa pun lagi. "Ya Tuhan, gimana aku harus bersikap saat bertemu dia nanti?" pikirnya. Ia berkali-kali menampar diri sendiri untuk menyadarkan dirinya dari rasa malu.
Kiara mengintip dari pintu. Memastikan bahwa tak ada pria yang saat ini sedang tak ingin ia temui berdiri di sekitar sana.
"Oke, nggak ada dia." Kiara langsung berlari cepat meninggalkan taman sekitaran itu agar tak berpapasan dengan Hansa.
Ia berhenti di depan ruang diskusi. "Aku belum pernah masuk ke sini." Kiara mengintip lewat jendela yang lagi-lagi ia lubangi kainnya.
"Ada Master Nick. Ini kesempatanku untuk merayu Master Nick agar beliau mau merekrutku jadi Anggota Tim Penyelidik."
Kiara mengangkat kedua tangan hendak membuka pintu. Namun, tangannya menggantung di udara kala mendengar perbincangan Master Nick dan seseorang di dalamnya.
"Menteri Waze tadi datang ke sini. Dia bilang, mau bertemu muridnya. Tak disangka, gadis sembrono seperti itu ternyata punya hubungan yang penting dengan Menteri Sekretariat, Waze."
Kedua sudut bibir Kiara terangkat saat mendengar Master Nick menyebut nama 'Menteri Waze'. Ia merapikan bajunya dengan perasaan bangga sebelum membuka pintu ruang diskusi.
"Hansa, tolong panggilkan nona Kiara ke sini. Aku perlu berbicara dengannya." Pinta Master Nick.
"Baik, Tuan." Hansa hendak undur diri untuk memenuhi perintah Master Nick.
"Nggak perlu. Aku udah di sini." Kiara berjalan menghampiri Master Nick dengan senyum lebar. Tapi, senyumnya seketika pudar saat melihat pria yang berdiri di depan Master Nick.
"Tolong, jangan pikirin masalah tadi dulu. Sekarang fokus dulu dengan tujuanmu datang ke sini." Batinnya, menolak mengingat kejadian memalukan pagi tadi.
"Tuan Nick, apa yang mau Anda bicarakan?" Kiara mencoba berbicara menggunakan bahasa formal.
"Karena nona Kiara sudah ada di sini, saya pamit dulu." Pamit Hansa. "Tunggu! kamu di sini saja. Lagi nggak ada tugas, kan?" Master Nick meminta Hansa menemaninya.
"Baik, Tuan. Hansa memang sedang tidak ada tugas siang ini." Hansa menurut. Master Nick beralih menatap Kiara serius.
"Tadi Menteri Waze mengunjungi Kantor Pengadilan." Master Nick memulai percakapan.
"Kapan? kok aku nggak tau? dia nggak mencariku?" tanya Kiara bertubi-tubi. "Dia memang mencarimu. Tapi kami bilang, kamu sedang sakit dan butuh istirahat." Tutur Master Nick.
"Lalu?" Kiara tak sabar. Master Nick menghela napas sejenak. "Dia menitipkan ini untukmu." Master Nick memberikan secarik kertas pada Kiara.
"Urusanku sudah selesai. Saya pamit dulu. Nona Kiara baca saja pesan dari Menteri Waze pelan-pelan. Setelah itu, baru boleh pulang." Pamit Master Nick. "Ayo, Hansa!" ia mengajak Hansa keluar dan meninggalkan Kiara seorang diri di ruangan itu.
Kiara mengerutkan kening. "Maksudnya dia mengusirku?" batinnya tak terima. "Emang pesan apa sih yang tertulis di kertas ini?" Kiara membaca tulisan di kertas itu untuk mengetahui isinya.
'Kiara, cepat pulang! jangan mencari keributan di Kantor Pengadilan. Jika kamu tidak mau kembali, guru akan mengirimkan pasukan untuk memaksamu kembali.'
Kiara menghembuskan napas kecewa.
"Dia selalu seperti ini dari dulu. Selalu mengontrol hidupku. Selalu memberiku perintah tanpa bisa dibantah." Kesal Kiara.
Ia berjalan menuju kamarnya dengan wajah ditekuk. Saat membuka pintu kamarnya, hal pertama yang ia lihat adalah nasi dan lauk-pauk yang sudah tersaji di meja makan.
"Wah, kelihatannya enak semua." Lidah Kiara seakan bergoyang melihat makanan di depannya. Ia memegang perutnya yang memang sudah keroncongan.
"Sejak pagi tadi aku belum makan apa-apa. Dari pada pusing mikirin si tua gila yang bersikap seenaknya itu, mending isi perut dulu." Ia mengambil sendok dan mulai melahap satu-persatu makanan di depannya. Benar saja, semua makanan itu tidak ada yang tidak sesuai dengan seleranya.
"Mm ... enak banget ... ." Rakusnya. "Ehem, ada yang bilang enak, nih." Kiara menghentikan aktifitas rakusnya saat mendengar sebuah suara di sampingnya. Ia menoleh melihat si pemilik suara.
"Siapa kamu?" tanyanya melihat gadis muda yang terlihat seumuan dengannya. "Kamu lupa kemarin habis bilang masakanku nggak enak?" Kiara mengerutkan kening mendengar ocehan gadis di sampingnya.
"Siapa yang bilang begitu? jadi ini masakanmu? kalau begitu, aku harus bilang kalau masakanmu ini enak banget. Masakan terenak yang pernah aku rasa. Nggak ada bedanya dengan masakan kakak ke-empatku." Puji Kiara.
Weni memutar bola mata tak percaya dengan pujian Kiara untuknya. "Nona, aku serius. Masakanmu ini enak banget ... ." Kiara mencoba meyakinkan Weni yang hanya mengangkat alisnya. "Oh ya? kamu lupa kemarin kamu bilang kalau masakanku nggak enak?" Weni melipat kedua tangan di dada. Berlagak cuek.
"Ng ... kapan aku bilang begitu? ini pertama kalinya aku makan masakanmu, Nona. Jadi jangan mengada-ada." Kiara merasa dituduh.
__ADS_1
"Cih, berlagak lupa lagi. Jelas-jelas kemarin kamu bilang masakanku nggak seenak dan semewah makanan yang biasanya kamu makan." Ucapan Weni membuat Kiara mengingat kejadian di Aula Pengadilan kemarin.
"*Aku nggak suka makanan yang kalian antar untukku*."
"*Makanannya nggak seenak dan semewah yang biasanya ku makan*."
"Ingat?" Weni memastikan apa Kiara telah mengingat ucapannya kemarin saat ia berada di Aula Pengadilan.
"Hehe, ingat-ingat." Kiara cengengesan. "Tapi, Nona. Aku ngomong gitu cuman karena gengsi aja. Aslinya, aku suka banget kok masakanmu."
Kiara memegang tangan Weni. "Aku nggak bohong kok. Jangan masukin ke hati ya, ucapanku yang kemarin." Bujuk Kiara.
Weni melirik tangannya yang dipegang oleh Kiara. Ia melepasnya dengan masih memasang wajah acuh.
"Oh, aku tau kamu mau apa." Kiara menyodorkan sup ikan talas pada Weni. Weni meliriknya sekilas. "Aku nggak mau itu. Aku maunya yang itu." Weni menunjuk paha ayam.
Kiara memutar bola mata. "Dikasih hati, minta jantung." Gumamnya. "Nih." Ia memberikan sepotong paha ayam pada Weni yang langsung melahapnya dengan rakus.
Kiara menatapnya heran. "Ayam memang sangat enak. Tapi nggak seenak sup ikan. Apa lagi sup ikan dori. Beuhh." Kiara memberitahu menu kesukaannya.
"Enakan paha ayam." Bantah Weni yang masih sibuk dengan paha ayamnya. "Iya, aku tau. Aku juga suka paha ayam. Tapi menurutku lebih enak sup ikan dori." Kekeh Kiara.
"Enakan paha ayam."
"Enakan sup ikan dori."
"Enakan sup ekor ikan."
"Ekor."
Mereka masih kekeh tentang makanan favorit mereka.
Bari yang kebetulan lewat di depan kamar itu, mendengar perdebatan kedua gadis di dalamnya. Ia menengok ke sekitar. Memastikan tidak ada yang melihatnya. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah pintu dan menempelkan telinganya untuk memastikan suasana di dalam.
"Ekor."
"Ekor."
Bari mengernyit mendengar suara dua gadis di dalamnya.
Yang ada di pikiran Bari:
"Weni, bagian tubuh manusia mana yang paling kamu sukai?" tanya Kiara.
"Aku suka bagian paha." Jawab Weni pasti. "Mm, itu nggak benar. Karena aku lebih suka bagian ekor." Bantah Kiara.
"Itu nggak benar. Karena aku lebih suka paha." Kekeh Weni.
"Ekor." Kiara tak mau kalah.
"Ekor."
"Emang manusia punya ekor? punya, sih. Tapi kan nggak muncul seperti punya hewan." Gumam Bari sesuai dengan pikirannya.
'*Puk*'
__ADS_1
Bari menoleh dengan terkejut kala seseorang menepuk pundaknya. "Ngapain kamu mengintip kamar seorang gadis?" tanya Hansa memergoki dirinya.
"Tuan jangan salah paham. Aku nggak ngintip. Tapi aku lagi mendengar ... " Hansa mendorong Bari ke samping.
Ia hendak mengetuk pintu untuk menyampaikan berita pada Kiara. Namun, kupingnya bersiaga mendengar perdebatan dua gadis di dalamnya.
Mau tak mau, sepasang kuping berdosanya terpaksa menajamkan pendengaran.
"Ekor."
"Hah?" Hansa mengernyit mendengar perdebatan itu.
Yang ada di pikiran Hansa:
"Weni, kamu suka kucing?" tanya Kiara.
"Iya, aku suka banget kucing. Apa lagi bagian pahanya. Lucu dan mungil banget ... ." Gemas Weni.
"Menurutku lebih lucu ekornya. Apalagi, kalau ekornya gerak-gerak. Iih, lucu banget ... ." Mata Kiara berbinar.
"Lebih lucu pahanya."
"Lebih lucu ekornya."
"Ekor."
Hansa mengerutkan kening. "Emang kucing punya paha?" batinnya.
"Ada sih, tapi ..." ia tak melanjutkan ucapannya. Dan memilih memandang Bari.
"Emang manusia punya ekor?"
"Emang kucing punya paha?"
Tanya mereka bersamaan. Mereka saling mengeluarkan kebingungan mereka. Dan terkejut saat mereka bertanya secara bersamaan.
"Mereka lagi bicarain soal anggota tubuh manusia, kan?" duga Bari.
"Bukannya mereka bicarain soal anggota tubuh kucing, ya?" bantah Hansa.
"Menurut saya, mereka sedang membicarakan tentang anggota tubuh manusia." Bari kekeh dengan perkiraannya.
"Menurutku, mereka sedang membicarakan tentang anggota tubuh kucing." Hansa tak mau kalah.
__ADS_1
"Manusia."
"Kucing."