
Selesai memeriksa kondisi Kiara, Sima keluar masih dengan wajah lesu. Ia memandangi Rubby dan yang lainnya bergantian.
"Bagaimana? apa kau berhasil mengetahui racunnya? dan apa obat penawarnya?" tanya Rubby buru-buru. Sere meliriknya sekilas.
"Aku nggak pernah melihat dia sepanik ini. Dia sungguh sangat menyayangi adiknya."
Sima menggeleng. "Beruntungnya, kalian cepat membersihkan luka dari tusukan pedang beracun di dadanya. Jadi, ku pikir, dia masih bisa bertahan lebih dari tiga hari. Tapi aku nggak tau apa dia akan selamat atau tidak."
Rubby dan yang lainnya saling berpandangan. "Maksudmu?" tanya Rubby. Sebab, belum pernah sebelumnya ia mendengar keraguan di nada Sima saat membahas soal racun. "Aku ... Tidak yakin bisa berbuat banyak." Lagi-lagi nada yang tak diharapkan semua orang.
"Tidak mungkin kamu nggak bisa menyelamatkannya. Kamu adalah ahli soal racun dan penawarnya. Apa julukan si daging empuk tidak berguna lagi untukmu?" omel Rubby yang berusaha tetap tenang.
"Memangnya racun apa yang ada di pedang itu sehingga begitu berbahaya?" sela Bari yang sedari tadi hanya ikut menyimak seperti yang lain.
"Itu racun peredam saraf." Jawab Sima pelan seperti menyembunyikan isakannya yang nyaris terdengar.
"Racun peredam saraf? racun apa itu? aku belum pernah mendengarnya." Bari mengerutkan kening.
"Itu racun yang sangat langka." Sahut Sima. "Lalu apa masalahnya? selangka apa pun, pasti tetap ada penawarnya, kan? kita masih bisa mencari penawarnya." Bari tampak yakin yang diangguki oleh yang lainnya, kecuali Rubby. Karena ia tahu betul bahwa masalahnya tidak sesimpel itu jika adik ke-empatnya yang merupakan ahli soal racun saja terlihat kesulitan.
"Masalahnya penawar dari racun itu hanya ada satu di dunia setauku." Kini, ia bicara hampir seperti orang yang hanya berkomat-kamit saking beratnya menyampaikan hal itu.
Semuanya langsung terdiam. "Aku sudah pernah belajar tentang semua racun termasuk racun peredam saraf ini. Dan setauku hanya ada dua orang yang pernah terkena racun itu, termasuk adik ke-lima ini." Jelasnya.
Ia melangkah perlahan dengan kepala menunduk dan tatapan kosong. "Aku adalah si daging empuk. Dan ahli soal racun. Selama ini, tebakanku tidak pernah salah. Dan aku juga pasti tidak akan suka kalau tebakan tentang pengetahuanku ternyata salah." Ia menjeda ucapannya sejenak. Menyandarkan sikunya di dinding di sampingnya.
"Tapi kali ini, aku harap bahwa aku kurang teliti. Dan aku harap pengetahuanku tentang racun peredam saraf itu salah." Lanjutnya berharap pengetahuannya meleset tentang penawar dari racun itu yang hanya ada satu di dunia. Masalahnya, jika betul-betul hanya ada satu di dunia, ke mana ia harus mencari penawar itu?
__ADS_1
Rubby mengarahkan kepala ke arah yang lainnya. Ia memilih tak mengganggu Sima sampai adik ke-empatnya itu tenang sendiri. Sebelum pergi dari sana, ia menepuk pundak Sima dua kali untuk memberinya semangat.
Bari dan Sera mengikuti Rubby dari belakang, kecuali Weni. Ia hanya mengatupkan tangannya bingung ingin berbuat apa. Ia ingin sekali menenangkan Sima yang terlihat sangat rapuh saat itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Apa lagi, ia baru mengenal pria itu.
Bayangan tentang pertemuan pertamanya dengan pria itu membuatnya merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Sima. Apa lagi jika mengingat bagaimana lincahnya pria itu saat pertama Weni melihatnya. Sungguh jauh berbeda dengan Sima yang berada di hadapannya saat ini.
Ia melangkah pelan dan duduk di samping Sima. Sima segera menghapus air matanya dan membalikkan tubuh membelakangi Weni. Tak ingin gadis itu melihatnya menangis.
"Kenapa kamu nggak pergi dari sini? aku ingin sendiri." Sahutnya pelan. Tak ingin suara yang keluar malah suara isakannya. Ia tidak tahu kalau Weni masih ada di situ. Ia pikir, gadis itu sudah menyusul Rubby dan yang lainnya pergi.
Tahu begitu, ia tidak akan menangis dulu sampai gadis itu pergi.
Weni tersenyum kecil. "Aku udah lihat juga kok. Apa yang mau disembunyikan?" akunya. Sima kembali menghapus air matanya.
Weni menundukkan kepala. Sebetulnya ia memang merasa tak tega. Tapi ia juga ingin tertawa di saat yang bersamaan.
"Ada pepatah yang mengatakan, jika hati sedang kacau, peluklah orang yang kau sayang." Sima mengangkat kepalanya mendengar Weni mengucapkan itu.
Sima sedikit terkejut. Saat itu, ia merasa bahwa Weni adalah tempat menampung air matanya. Tak tahan lagi, Sima berbalik dan memeluk Weni tiba-tiba. Ia semakin terisak seperti anak kecil.
Weni berusaha menahan keterkejutannya. Ia merasa jantungnya hampir melompat keluar dari tempatnya. Kedua tangan Weni membeku. Tak tahu harus berbuat apa. Tujuannya memang ingin menenangkan Sima yang sedang bersedih. Namun kini ia malah harus menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
Detik selanjutnya, kedua tangan Weni sudah tergerak ingin mengusap punggung Sima yang masih memeluknya layaknya seorang anak yang memeluk ibunya. Dan seolah pelukan itu tak berniat ia lepaskan selamanya.
Namun, sebuah suara terpaksa menghentikan niat mereka dan memaksa mereka menguraikan pelukan hangat mereka.
"Weni, ngapain kamu di sini?" tanya Bari memergoki mereka berdua. Lidah Weni mendadak kelu. Ia melirik Sima yang juga salah tingkah. Bahkan pipi pria itu sudah memerah. Entah karena menangis atau karena salah tingkah.
__ADS_1
"Aku ... " Weni bingung harus bilang apa. Ia dapat melihat wajah tak sedap Bari. Pria itu menarik tangannya dan membuatnya berdiri. "Ngapain di sini? dari tadi dicariin Sera. Ayo pergi! Sera sudah menunggumu, tuh." Bari menarik tangan Weni dan membawanya menjauh dari situ.
Weni sempat melihat tatapan Sima yang entah kenapa bertambah semakin sendu.
...----------------...
"Aku bisa membuatnya terbangun untuk sementara waktu sebelum kita menemukan penawarnya." Terang Sima pada Rubby dan yang lainnya.
"Tapi obat itu hanya akan membuatnya tahan selama beberapa hari. Dia tetap akan membutuhkan penawar dari racun peredam saraf itu." Lanjutnya.
"Kalau begitu, silahkan lakukan. Jangan menunda lagi." Usul Rubby.
"Tapi, aku membutuhkan beberapa tanaman untuk pengobatan alami." Sahut Sima. "Katakan saja pada kami. Kami yang akan mencarinya." Sambung Bari.
Sima memberitahu beberapa tanaman yang dibutuhkannya pada Bari. Sore harinya, pengutus pulang dan berhasil membawa tanaman-tanaman yang diminta. Sima segera memulai aksinya.
Ia membuat resep dari tanaman untuk menyadarkan Kiara. Setelah selesai, seperti biasa, ia keluar dari kamar Kiara untuk memberitahu hasil usahanya pada Rubby dan yang lainnya.
"Racunnya terlalu kuat. Dengan hanya menggunakan tanaman-tanaman itu tidak bisa membuatnya tersadar." Ujar Sima dengan nada kecewanya.
"Apa tidak ada lagi cara lain?" Rubby tak mau menyerah. Sima tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya ada satu tanaman yang aku yakin dapat membantunya menyadarkan diri." Sahutnya.
Semua yang awalnya terdiam kecewa, kembali bersemangat mendengar pernyataan Sima.
"Tanaman apa? cepat katakan!" pinta Rubby tak sabar namun berusaha tetap tenang. Sima tetap menunjukkan raut wajah pasrah. Yang membuat yang lainnya memandang heran.
Jika tanaman yang ia sebut itu berguna untuk menyembuhkan Kiara, lalu mengapa ia masih menunjukkan wajah murungnya?
__ADS_1