Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Tangisan dan kekecewaan


__ADS_3

Kiara tahu bahwa racun itu berasal dari pedang yang menikam dadanya. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa dalang di balik masalah ini adalah Menteri Waze.


Flashback:


Kiara turun dari kuda. Matanya mengitari hutan lumut tempat yang dimaksud dalam surat itu. Kiara tersenyum penuh arti. Ia tahu bahwa kakak ke-empatnya tidak mungkin mengajaknya bertemu.


Kadang kala, pria itu memang mengirimnya surat. Tapi tidak pernah sekalipun mengajaknya bertemu. Sima memang terlalu takut identitasnya akan diketahui oleh orang lain terutama musuh-musuhnya.


"Kakak ke-empat!" seru Kiara berpura-pura menyapa untuk memancing orang yang menjebaknya menunjukkan diri.


Tujuan Kiara mengikuti permainan ini, karena ia pikir mungkin ia bisa menemukan petunjuk untuk menyelesaikan kasus yang Master Nick percayakan padanya.


Mungkin saja jebakan kali ini ada hubungannya dengan kasus barang berharga milik Kaisar. Mungkin penjebak Kiara kali ini juga merupakan pelaku yang mencuri barang berharga milik Kaisar.


Kiara melihat sekelilingnya waspada. Penipu itu pasti sengaja memilih tempat ini sebagai tempat pertemuan mereka, melihat pijakan hutan lumut yang licin. Jika bergerak dengan tidak berhati-hati, ia bisa saja tepeleset dan memudahkan musuh menyerangnya.


Telinga Kiara mendengar sesuatu. Ia berbalik tangkas dan menghindari serangan dari musuh secara tiba-tiba. Ia hampir saja tergelincir karena serangan tiba-tiba itu. Beruntung kedua kakinya sigap memasang kuda-kuda.


Musuh ternyata tidak berhenti. Ia terus menerjang Kiara yang selalu berusaha menangkis serangannya.


Musuh yang menjebaknya memperbanyak serangan dari bawah agar membuat Kiara terpeleser dan memudahkannya untuk menikam gadis itu.


Kiara berusaha tetap fokus meski kefokusannya terganggu. Setelah beberapa serangan, si musuh mengeluarkan sesuatu dari jubahnya dan langsung menyemburkannya ke wajah Kiara.


Kiara terbersin-bersin. Ia tetap berusaha fokus menghalau serangan demi serangan. "Pengecut! cuih." Kiara meludah.


Ia kembali terbersin-bersin. Sesuatu yang disemburkan ke wajahnya adalah bubuk yang menyebabkan hidungnya tersumbat. Kiara menggosok-gosok hidungnya.


Musuh yang mengenakan jubah hitam mengarahkan pedangnya lurus ke depan. Tepatnya mengarah pada dada Kiara.

__ADS_1


'Jleb'


Tusukan yang tidak begitu dalam. Tepatnya tidak sampai menusuk ke jantung Kiara. Namun, ia tahu betul tusukannya itu sangat bisa menyebabkan kematian. Bukan karena tajamnya mata pedang. Tapi karena bubuk yang ia taburkan di mata pedang yang kini menancap di dada gadis itu.


'Zrett'


Si jubah hitam mencabut kasar pedang itu dari tancapannya. *Saat dilihatnya kedua mata gadis itu tertutup, ia membopong tubuhnya dan mendudukinya di kereta kuda.


Ia dengan cepat menjalankan kereta kuda itu untuk ke tempat yang sudah dirancanakan. Selang beberapa menit melaju, ia melirik kereta kuda yang lewat berlawanan arah di sampinngnya. Ia sempat melirik wajah si pengemudi kereta kuda yang tadi melewatinya. Kecepatannya bertambah kencang melihat wajah si pengemudi kereta kuda itu.


Ia tahu betul siapa orang tadi. Tentu saja. Siapa yang tidak kenal dengan sang Legenda sekaligus Pendekar nomor dua, Rubby Fayes.


Si jubah hitam harus menghindari pria itu sebelum dirinya sendiri yang berada dalam bahaya.


Ia menoleh ke belakang dan betul saja. Kini kereta kuda itu berbalik arah mengejarnya dari belakang. Ia sudah menduga hal itu. Rubby Fayes memang memiliki indra yang berfungsi dengan sangat baik. Lebih baik dari orang lain.


Kepanikannya semakin bertambah saat tahu bahwa ada jalan pintas di belokan yang tadi ia lewati. Ia sudah bisa menebak bahwa si pengemudi kereta yang mengejarnya pasti melewati jalan pintas itu.


Flashback off


Kiara menutup mulutnya menahan air mata. Ia tidak menyangka bahwa selama ini ia tinggal dan tumbuh dewasa bersama pria jahat yang telah menyebabkan kematian mendiang Gurunya. Dan yang lebih parahnya, pria jahat itu sekarang bahkan ingin membunuhnya.


Kiara tak mau berlama-lama di sana. Ia kembali keluar lewat jalur yang sama dan meloloskan diri dari sana.


Sesampainya di Kantor Pengadilan, Kiara memasuki kamarnya dan air matanya runtuh seketika. Ia menghampiri meja dan mengambil kuas dan tinta. Setelah menulis di atas secarik kertas, ia bersiul memanggil merpati ajaib. Ia memang berniat menyuruh kakak ke-empatnya pulang. Karena ia sudah menemukan rumput liar yang merupakan penawar dari racun di tubuhnya.


Setelah menulis surat, Kiara membuka bungkusan kertas berbentuk segitiga dan menelannya. Air matanya kembali terjatuh.


"Guru, maafkan aku. Aku berhasil menemukan penawarnya dan pelaku yang meracunimu. Aku tau itu mungkin nggak ada gunanya. Karena aku terlambat menemukan pelakunya." Sejenak, ia menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Aku memang murid yang paling Guru sayangi dan manjakan. Tapi aku nggak pernah sekalipun berguna untuk Guru. Aku nggak pernah melakukan apapun untukmu." Keluhnya pada diri sendiri.


Selama beberapa menit, ia menghabiskan waktu untuk menangis dan mengeluh di kamarnya.


Setelah ia melewati masa sedihnya, Kiara keluar hendak menemui Weni atau Hansa atau siapapun yang bisa ia ajak bercerita dan siapapun yang bisa menghiburnya.


Kiara sangat berharap bisa berpapasan dengan Hansa. Karena ia biasa menceritakan rahasianya dan isi hatinya pada pria itu. Tapi ia masih takut kecanggungan yang memenuhi suasana mereka jika mereka bertemu dan mengobrol.


Kiara berjalan melewati ruangan pribadi Master Nick. Langkahnya terhenti saat telinganya samar-sama mendengar suara dua orang yang sedang berbincang-bincang serius.


Kiara mengerutkan kening. Ia tahu betul siapa dua orang yang sedang berbincang di dalam ruangan itu.


"Master Nick dan Tuan Hansa? kenapa mereka berbincang di ruangan pribadi Master Nick bukan di ruang diskusi? dan tumben mereka tidak mengajakku berdiskusi?" heran Kiara.


Ia mengedikkan bahu. "Mungkin itu hanya sekedar perbincangan antara mereka berdua. Perbincangan antara Tuan dan anak asuhnya. Makanya mereka berbincang di ruangan pribadi Master Nick dan mereka tidak mengajakku." Ia berpikir positif dan kembali melanjutkan langkah.


Tapi langkahnya kembali terhenti saat telinganya menangkap sesuatu yang menjadi bahan perbincangan kedua insan di dalamnya.


"Itu alasan Hansa tidak mau membiarkan Kiara tinggal di sini. Tapi kenapa Tuan membiarkan dia tinggal di sini?"


"Nona Kiara adalah gadis yang cerdas meskipun kadang sedikit gegabah. Tapi aku tau kita membutuhkan orang seperti dirinya di sini."


"Kamu awasi saja dia, Hansa. Jangan sampai Nona Kiara tau tentang kakak ke-tiganya yang mati karena difitnah."


"Hansa akan berusaha menjaga rahasia itu dengan baik, Tuan. Tapi ... berapa lama kita berniat menyembunyikan rahasia itu dari Kiara? kalau dia tau, dia pasti akan kecewa."


"Itu sebabnya aku nggak mau dia tau. Membayangkan saat aku harus mengeksekusi kakak ke-tiganya terus membuatku merasa bersalah. Karena pada saat aku mengeksekusinya, aku jelas-jelas tau bahwa dia difitnah. Kejadian saat itu, sama sekali bukan salahnya."


"Hansa masih berpikir, kalau Kiara tau kakak ke-tiganya meninggal karena difitnah, Hansa tidak dapat membayangkan sekecewa apa dia."

__ADS_1


Kiara menutup mulutnya terkejut menatap pintu ruangan yang tertutup itu. Kakinya perlahan melangkah mundur.


Ini tidak adil. Apakah hari ini ia harus menghadapi kenyataan yang mengecewakan berkali-kali?


__ADS_2