Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Hamil


__ADS_3

Pagi ini semua orang berkumpul untuk sarapan bersama. Baru beberapa sendok, Sera meletakkan sendok dan memegang perutnya dengan sebelah tangan menutup mulutnya.


"Aku duluan, ya. Aku udah kenyang." Ia beranjak dari kursinya disusul Rubby yang mengikutinya dari belakang.


"Aku juga duluan, deh. Aku akan memeriksa Nona Sera. Sepertinya dia sedang nggak baik-baik aja." Ia juga memutuskan menyusul Sera karena berpikir gadis itu sedang tidak sehat.


Ia mengajak Rubby dan Sera memasuki ruangannya untuk diperiksa. Setelah memeriksa denyut nadi Sera, Sima tampak mengulum senyumnya. "Nona Sera, sejak kapan kamu merasa mual?" tanyanya.


"Belum lama ini." Sahut Sera. "Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit?" tuntut Rubby. "Sera nggak mau membuatmu khawatir. Lagi pula, Sera merasa baik-baik aja." Ia menenangkan kekhawatiran Rubby.


Sima terkekeh. "Kakak pertama, sejak kapan kamu nggak peka terhadap sesuatu?" selanya. Sera menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Sima hanya tersenyum simpul.


"Maksudmu Sera ... " Sera tak melanjutkan kalimatnya. Ia melirik Rubby yang mengarahkan kepala ke arahnya. Sepertinya pria itu juga sudah peka dengan kondisi yang sedang dialami oleh Sera.


Sima bangkit dari duduknya. "Kakak pertama, mulai sekarang kamu harus lebih menjaga dan memperhatikan istrimu. Selamat, ya." Ucapnya seraya menepuk pundak Rubby dengan senyum yang masih diulum. Ia keluar dari ruangannya meninggalkan Rubby dan Sera. Ia berniat menyusul kekasihnya yang pasti sedang menunggunya.


"Gimana keadaan Nona Sera? dia baik-baik aja, kan?" Kiara berlari menghampiri Sima dengan raut wajah khawatir.


"Dia baik, tapi nggak terlalu baik-baik aja, sih." Balas Sima misterius. Kiara mendorong bahunya geregetan. "Aku nanya serius." Kesalnya.


Sima terkekeh. "Dia baik-baik aja kok. Hanya saja ada sedikit masalah yang bukan merupakan masalah." Tuturnya dengan senyum menyebalkan.


Kiara mengerutkan kening. "Masalah apa?" tuntutnya. Sima mengedikkan bahu. "Kamu tanya aja ke mereka." Pintanya. "Udah, ya. Hari ini aku ada janji dengan Weni. Jadi nggak bisa mengobrol lama denganmu." Pamitnya.


Kiara memandangi langkah kakaknya kesal. Weni terus yang ada di pikirannya." Kiara memprotes. Ia mengurungkan niat untuk masuk karena melihat Sera dan kakak pertamanya keluar dari kamar Sima.


Kiara melihat Sera mengelus perutnya dengan senyum gembira. Raut wajahnya seketika berubah. Matanya membulat. "Jangan-jangan kamu ... " ia mengerti sekarang. Sera mengangguk sebelum Kiara melanjutkan kalimatnya. "Berarti aku akan punya keponakan, dong." Kiara tertawa gembira.

__ADS_1


...----------------...


Sera melihat Sima yang sedang berdiri seorang diri seperti sedang menunggu seseorang. Ia memutuskan menghampiri Sima. "Tuan Sima!" serunya pelan.


Sima menengok dan langsung tersenyum begitu melihat Sera. "Kamu udah menikah dengan kakak pertamaku. Panggil aja aku adik ke-empat atau adik Sima." Sarannya.


Sera mengangguk patuh. "Kalau begitu, Sera akan memanggilmu Sima aja. Supaya nggak terlalu formal." Putusnya yang disetujui oleh Sima. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya.


"Aku sedang menunggu Weni." Jawab Sima. Sera tersenyum simpul. "Kok menunggu Weni di sini? kamu kan bisa menyusulnya. Sera tebak, kamu di sini menunggu Sera untuk membicarakan sesuatu, kan?" tebaknya.


Sima terkekeh. "Nona Sera, kamu benar-benar gadis yang cerdas. Bagaimana kamu bisa tau?" Pujinya. Memang benar ada yang mau ia bicarakan dengan gadis itu.


Flashback:


*Sima bangkit dari duduknya. "Kakak pertama, mulai sekarang kamu harus lebih menjaga dan memperhatikan istrimu. Selamat, ya." Ucapnya seraya menepuk pundak Rubby dengan senyum yang masih diulum.


Ia berjalan dan berhenti sejenak dan mengangguk pada Sera dengan tatapan penuh arti. Seperti sedang memberikan kode. Ia tahu Sera adalah gadis yang cerdas. Gadis itu pasti akan mengerti kodenya*.


"Saat aku memeriksa kondisimu, aku menemukan kalau kamu pernah terluka parah. Jadi, kamu harus benar-benar menjaga diri dan anak di dalam kandunganmu." Papar Sima.


Sera menautkan alisnya. "Apa lukanya separah itu?" tanyanya khawatir dengan anak yang sedang dikandungnya.


"Lukanya udah sembuh sepenuhnya. Tapi bekasnya masih ada. Makanya kamu harus menjaga tubuhmu. Jangan sampai sakit atau terluka parah lagi." Jelas Sima.


Sera mengangguk. Ia teringat sesuatu. "Iya. Waktu itu, aku emang pernah terluka parah beberapa kali. Sebelumnya dadaku pernah tertusuk pedang. Dan aku juga pernah tercebur ke danau sampai nggak sadarkan diri selama beberapa waktu." Tuturnya.


Sima mengerutkan kening. "Harusnya kamu bisa aja nggak selamat. Pasti kakak pertama telah berkorban untuk menyelamatkanmu." Duganya.

__ADS_1


"Maksudmu?" Sera tidak mengerti.


"Saat kamu dadamu tertusuk pedang, sebenarnya kamu bisa aja nggak selamat. Tapi beruntungnya kakak pertama punya obat yang sangat ampuh untuk menyembuhkan lukamu." Ia menghela napas sebelum melanjutkan penjelasannya. "Dari semenjak itu, harusnya kamu menjaga diri supaya nggak terluka lagi. Tapi kamu malah tercebur ke danau dan membuat kondisimu semakin parah. Harusnya kamu nggak bisa selamat." Jujurnya.


"Tapi kenapa aku bisa selamat, dan malah bisa sembuh sepenuhnya?" heran Sera.


"Mengenai hal itu, kakak pertama pasti berupaya menyembuhkanmu dengan mengorbankan setengah dari bela dirinya." Jawabnya yang malah semakin membingungkan Sera.


"Jadi begini, untuk seseorang yang nggak punya kemampuan dalam menyembuhkan orang, dan kalau orang itu adalah pebeladiri yang hebat, mereka hanya bisa mengorbankan bela dirinya untuk menyembuhkan seseorang." Ia menemukan penjelasan yang bisa menghikangkan kebingungan Sera.


"Jadi maksudmu, Rubby kehilangan setengah bela dirinya demi menyembuhkanku?" sahut Sera yang langsung diangguki oleh Sima. Mata Sera seketika berkaca-kaca. Sima jadi menyesal telah memberitahukan hal itu padanya. Ia tidak tahu kalau kakak pertamanya ternyata menyembunyikannya dari Sera. Tapi bagaimana pun juga, suatu hari nanti gadis itu pasti akan tetap tahu.


"Nona Sera jangan khawatir. Sekalipun kakak pertama telah kehilangan setengah bela dirinya, dia tetap nggak akan tertandingi." Hibur Sima.


"Kalau seandainya itu aku atau pebeladiri yang lain, pasti akan kehilangan seluruh bela diri kami. Atau bahkan kami pasti akan terluka parah karena mentransfer banyak tenaga dalam untuk menyembuhkan orang yang hampir mati." Ia menenangkan Sera yang tampak sedih.


"Terima kasih karena sudah memberutahu Sera. Sera duluan." Ia beranjak dari sana. Sima bisa menebak ke mana gadis itu akan pergi.


Sera sedikit mempercepat langkah menuju kamarnya. Ia membuka pintu dan melihat Rubby yang berdiri menunggunya.


Sera menghampiri Rubby dengan wajah menuntut penjelasan. "Kenapa kamu nggak memberitahuku?" tanyanya pelan karena air matanya nyaris keluar.


Rubby terdiam sejenak. Ia menghela napas berat. "Jadi kamu udah tau?" sahutnya dengan suara rendah.


"Kenapa kamu merahasiakannya dariku? kalau Sima nggak memberitahuku, selamanya kamu akan merahasiakannya?" omel Sera.


"Aku nggak mau membuatmu khawatir." Jawab Rubby lembut. Sera kehabisan kata-kata karena tangisannya pecah. Ia menangsi terisak karena telah membuat Rubby kehilangan sesuatu yang sangat penting. Dan itu semua karena dirinya yang nekat menceburkan diri di danau.

__ADS_1


"Tapi kamu kehilangan setengah bela dirimu." Isaknya sampai terguncang bahunya. Rubby mendekapnya dan membiarkan gadis itu menangis di bahunya.


"Nggak masalah bagiku. Karena kamu adalah bela diriku yang sesungguhnya." Sahut Rubby lembut yang malah semakin membuat Sera menangis. "Jangan menangis. Kamu harus menjaga diri dan anak kita." Pintanya sembari membelai rambut Sera.


__ADS_2