Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Alasan aku berubah


__ADS_3

Kiara mengetuk-ngetukkan jemari di meja sedari tadi. Malam ini, ia duduk di kursi berhadapan dengan Hansa. Keduanya duduk berseberangan yang dihalangi meja di depannya.


Hansa berhasil membujuk Kiara untuk bertemu dengannya di pasar malam, malam ini. Awalnya Kiara menolak ajakannya, namun Hansa bersikeras memberikan alasan akan ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


Dan di sinilah mereka berdua. Kiara menunggu Hansa membuka suara dengan menatap sayu pada Hansa yang hanya duduk dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda ia akan membuka percakapan.


Kiara mengerutkan kening. Sudahlah. Bersabar dengan pria itu memang tak ada gunanya. "Kamu bilang, ada hal penting yang mau kamu katakan. Cepat katakan! aku masih ada urusan setelah ini."


Hansa mengangkat tangan meminta Kiara bersabar. Ia menyeruput teh pesanannya dan kembali menatap Kiara. "Ini tentang jawaban mengenai perasaanmu padaku."


Jemari Kiara berhenti mengetuk meja. Ia menatap Hansa yang juga menatapnya. Kiara tersenyum miring. "Sudah terlambat. Apa pun jawabnmu, aku tidak peduli lagi." Balasnya dingin.


Hansa menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana kalau saya jawab iya?" tanyanya berhasil menarik perhatian gadis itu sejenak. Hanya sejenak.


Kiara buru-buru bangkit dari kursi. Ia merapikan pakaiannya dan membalikkan tubuh hendak kembali ke Kantor Pengadilan. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Hansa di sana. Ia takut jawaban Hansa akan kembali mengecewakan hatinya. Lagi pula, ia tidak seharusnya peduli soal itu. Dan ia tidak seharusnya pula menuruti ajakan pria itu.


Kiara melangkah dengan acuh ingin segera pergi dari sana.


"Bagaimana kalau saya bilang, saya juga menyukaimu." Ucap Hansa berdiri dari kursinya. Kiara mematung selama beberapa detik. Kaget tapi juga bingung harus merespon apa.


"Simpan kalimat itu untuk gadis lain." Balasnya tanpa menoleh. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda dengan air mata yang ditahannya.


Memang ini yang ingin ia dengarkan dari mulut pria itu. Tapi sudah terlambat. Kalimat itu tidak lagi berarti untuknya dan tidak lagi ia harapkan.


Kiara memasuki gerbang Kantor Pengadilan dan langsung menuju kamarnya. Ia melihat Weni yang berdiri di depan kamarnya terlihat seperti sedang menunggunya.


"Kiara, kamu dari mana saja? aku cariin dari tadi." Gadis itu menghampiri Kiara. Kiara tersenyum miring.


"Harusnya aku yang bertanya, kamu dari mana saja dengan kakak ke-empatku? tiba-tiba saja menghilang." Balas Kiara. Ia tertawa kecil melihat pipi Weni yang memerah.


"Aku boleh bertanya?" izin Kiara. Weni mengangguk antusias. "Ada hubungan apa antara kamu dan kakakku?" senyum Weni memudar. Ia pikir, Kiara akan mengganti topik pembicaraan. Nyatanya, gadis itu malah semakin mengejarnya untuk membuatnya mengaku.


"Aku ... aku dan dia tidak punya hubungan apa pun. Kami tidak seperti yang kalian pikirkan." Elak Weni menolak menatap mata Kiara karena berusaha menutupi kegugupannya.


"Oh begitu." Kiara mengangguk dengan senyum jahil.

__ADS_1


"Kami berdua jadian. Kenapa memangnya?" Sima datang entah dari mana dan mengiyakan pertanyaan Kiara sembari merangkul pundak Weni.


Kiara terkekeh. "Sudah ku duga. Weni, kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun lagi dariku."


Weni menatap Sima tajam dan mencubit lengan pria itu karena mulutnya yang tidak bisa menjaga rahasia.


Sima mengusap lengannya yang perih akibat cubitan kekasihnya itu. "Aduh ... kenapa, sih? biarkan saja mereka tau. Lagi pula, memang benar kan kita sudah jadian?" Sima malah ikut menggoda Weni.


"Siapa yang mau pacaran dengan pria menyebalkan sepertimu?" omel Weni cemberut. Meski pipinya semakin memerah saja dijahili seperti itu.


Kiara yang sedari tadi hanya tertawa saja, kini beralih pada Sima. "Kalian pergi ke mana tadi?" tanyanya.


"Oh, aku hanya mengajaknya jalan-jalan. Karena kami harus mengadakan kencan pertama kami." Jujur Sima. Weni berusaha menutup mulut kekasihnya itu.


Kiara tersenyum. "Sudahlah, Weni. Buat apa malu-malu? aku juga sudah tau kok." Setelahnya, tatapan Kiara berubah menjadi serius.


"Kakak lain kali jangan seperti itu. Kalau ketahuan Weni keluar tanpa izin bagaimana?" nasihat Kiara.


"Tidak apa-apa lah sekali-kali. Lagi pula, aku sangat berhati-hati kok." Sima meyakinkan Kiara.


Ia terduduk dengan pandangan kosong, sekosong hatinya. Dalam kekosongannya, Kiara kembali teringat ucapan Hansa.



"*Bagaimana kalau saya* *bilang, aku juga menyukaimu*."



Kiara memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Ia menggeleng dan berusaha tersadar.


"Tidak mungkin dia menyukaiku. Kalau memang benar, harusnya ia mengatakan dari awal, kan? kenapa harus menunggu saat aku sudah tidak peduli lagi padanya?"


Batin Kiara meyakinkan hatinya untuk tidak kembali terjatuh pada pria itu.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan paginya, Kiara kembali berpapasan dengan Hansa. Ia segera menghindari pria itu. Namun, pria itu kembali mencekal tangannya.


"Boleh saya tanya sesuatu?" izin Hansa terdengar memaksa. Kiara berdecak.


"Kamu sudah banyak bertanya kemarin. Minggir, aku mau lewat." Tegas Kiara.


"Tapi saya mau tanya lagi, boleh?" benar kan dia memang pemaksa. Kiara menatap pria di depannya tajam. Ia tidak suka pria itu banyak bicara, apa lagi memaksanya seperti itu. Menurutnya, ia punya hak untuk menolak berbicara dengan pria itu. Tapi akhirnya, Kiara mengangguk.


"Janji ini yang terakhir? cepat katakan!" pinta Kiara tak bisa berbohong juga bahwa ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh pria itu.


Hansa melepas tangan Kiara yang masih digenggamnya. "Boleh saya tau kenapa sikapmu berubah? dan apa yang membuatmu tidak lagi menghargai kedekatan kita?"


"Kedekatan apa? apa kita pernah sedekat itu sebelumnya? kita dekat hanya karena kita merupakan partner." Acuh Kiara.


Hansa menghela napas sebelum kembali bertanya, "Apa kamu punya masalah? kalau memang iya, katakan saja. Saya pasti akan berusaha membantu menyelesaikan masalahmu."


"Bukan urusanmu." Kiara akan kembali melangkah, namun Hansa kembali menarik tangannya.


"Setidaknya jelaskan dulu padaku kenapa kamu berubah seperti ini? kamu tidak punya alasan untuk mengabaikanku seperti ini." Hansa sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Menjelaskan apa? menjelaskan tentang kamu yang menyembunyikan semuanya dariku?" Kiara ikut meninggikan suaranya.


Hansa mengerutkan kening tak mengerti dengan apa yang Kiara katakan.


"Harusnya kamu yang menjelaskan padaku tentang Kantor Pengadilan yang menyembunyikan penyebab kematian sebenarnya kakak ke-ketiga."


Hansa terdiam seribu bahasa. Akhirnya, sekarang ia paham apa yang membuat gadis itu berubah.


"Percayalah. Kami punya alasan sendiri." Hansa menundukkan kepala dan berucap dengan suara rendah.


Kiara tersenyum miring. Ia bahkan tak segan-segan mengeluarkan air matanya yang sudah berusaha ia pendam beberapa waktu ini.


"Aku tidak percaya." Ia menarik ingusnya yang nyaris keluar. "Aku mau lihat, bagaimana reaksi kakak pertama kalau tau tentang masalah ini." Ucapnya melanjutkan langkahnya.


Hansa kembali menyusul Kiara dan menahan tangan gadis itu. "Kiara, tidak masalah kalau kamu tidak mempercayaiku. Tapi setidaknya pikirkan tentang Master Nick. Apa kamu tidak percaya padanya?"

__ADS_1


Kiara menelan ludah dan menatap Hansa super dingin. "Master Nick juga seorang pejabat. Ia bebas melakukan apa pun yang ingin ia lakukan, seperti pejabat lainnya."


__ADS_2