
Kiara mendengar itu. Ia mendengar semua itu dengan jelas. Pantas saja Hansa dan Master Nick dan semua yang ada di Kantor Pengadilan menutup kasus tentang Tama, kakak ke-tiganya.
Kakak ke-tiganya yang malang. Ternyata ia mati bukan karena kesalahannya. Tapi karena difitnah oleh penjahat yang entah siapa.
Pantas saja dulu Hansa selalu melarangnya tinggal di sini. Ternyata pria itu ingin menjauhkannya dari kenyataan yang disembunyikan.
Kiara memejamkan mata. Ia bahkan tidak tahu lagi bagaimana harus menggambarkan kesedihannya. Air matanya sudah terkuras habis untuk semua kekecewaan yang ia alami hari ini.
"Aku tidak bisa pulang. Aku harus menyelesaikan masalah ini. Tidak peduli siapapun yang melarangku. Aku akan menuntut Kantor Pengadilan dan semua yang terkait dalam masalah ini untuk bertanggung jawab." Tekad Kiara.
Sore harinya, Kiara merasa sedikit pusing. Mungkin ini efek karena terlalu lelah. Ia memang jarang beristirahat akhir-akhir ini. Kiara memegangi kepalanya yang sedikit oleng. Ia nyaris kehilangan keseimbangan kalau saja seseorang tidak menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Kiara membuka matanya dan menatap seseorang yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Ia menatap pria itu dengan senyum yang hampir terukir di wajahnya. Kiara menahan senyumnya. Dan kembali menstabilkan tubuh berdiri dengan tegak. Ia juga menstabilkan wajahnya kembali.
"Kiara, kamu tidak apa-apa? kalau capek istirahat saja." Hansa perhatian. Ngomong-ngomong, sudah berapa hari mereka tidak mengobrol. Ini kali pertama Hansa berbicara padanya.
Kiara menggeleng dan hendak melangkah pergi dengan acuh. Hansa menahan lengan gadis itu. "Tunggu!" pintanya.
Kiara melepas lengannya yang masih digenggam oleh Hansa. "Kenapa?" tanyanya malas meladeni pria itu.
"Saya ... cuma mau tanya, bagaimana keadaanmu?" tanya Hansa. Kiara mengerutkan kening. "Seperti yang Anda lihat, Tuan Hansa. Saya ... sangat baik-baik saja. Memangnya saya kenapa?" Jawab Kiara seadanya dan tentunya membingungkan Hansa. Pria itu mengerutkan kening.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Hansa heran. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara berbicara gadis itu padanya.
"Saya berbicara seperti apa?" Kiara pura-pura bingung. "Saya tidak tau. Tapi ... kenapa kamu menyebutku 'Anda'? kamu nggak pernah begini sebelumnya." Hansa menjelaskan kebingungannya.
"Nggak ada yang aneh dari caraku menyebutmu. Dan saya menyebutmu Anda karena usia Anda lebih tua di atas saya." Jawab Kiara asal.
"Tapi sebelumnya ... " Kiara langsung memotong ucapan Hansa sebelum pria itu menyulitkannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Kiara jelas tak tahu cara menjawabnya.
"Udahlah. Saya lelah. Saya duluan, ya." Kiara hendak kabur dari sana. Tapi Hansa kembali mencekal tangannya.
__ADS_1
"Kamu sakit? saya rasa ... kamu sedang tidak enak badan? mau saya panggilkan tabib?" tawar Hansa penuh perhatian.
Kiara menatap bola mata pria itu dalam. Mungkin jika ia belum mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh pria itu dan seluruh penghuni di tempat ini, ia akan sangat senang diberi perhatian seperti itu oleh pria yang dicintainya.
Tapi sekarang berbeda. Dan ia tahu betul bagaimana harus membiasakan diri dalam menyikapi pria itu.
"Saya sudah bilang kalau saya tidak apa-apa, Tuan Hansa. Boleh saya pergi sekarang?" Kiara memperjelas ucapannya.
Hansa melepas tangannya dari tangan gadis itu dengan mata kecewa. Kiara dapat melihatnya dengan jelas. Tapi gadis itu memilih untuk tidak peduli.
"Baiklah. Kamu boleh pergi. Istirahat yang baik." Sahut Hansa pelan. Kiara mengangguk singkat dan langsung melesat dari sana sebelum pria itu kembali menghalangi langkahnya.
Hansa menatap punggung gadis itu dengan segala macam pikiran berkecamuk di kepalanya.
"Ada apa dengan gadis itu?"
...----------------...
"Gadis kecil, kamu merindukanku?" Sima mencolek hidung kecil milik Kiara. "Kakak ke-empat jangan panggil aku gadis kecil. Aku sudah dewasa." Omel Kiara. Kakak ke-empatnya baru saja pulang dari perjalanannya sudah membuatnya naik darah.
"Kakak pertama di mana?" tanya Sima celingak-celinguk. Kiara mengangkat bahu. "Entahlah. Kakak pertama kan suka menghabiskan waktu sendiri."
Sima menghela napas sejenak. "Aku sudah kembali. Berarti ... kamu tau kan selanjutnya?" sahutnya menunduk.
"Selanjutnya apa?" Kiara tak paham. "Kita harus pulang, gadis kecil. Kakak pertama pasti akan mendesak kita pulang." Ujar Sima dengan suara berat.
"Benar juga, sih." Kiara memanyunkan bibir. "Kok kakak ke-empat ngomongnya begitu? apa kakak juga keberatan untuk pulang?" tanya Kiara menyipitkan mata.
Sima menghela napas berat. "Benar. Banyak juga sih kenangan di sini meski baru beberapa hari tinggal di sini. Tapi bagaimanapun juga kita tidak bisa membantah keputusan kakak pertama." Matanya menyapu bangunan yang ia pijak saat itu.
Kiara tersenyum penuh makna. "Kenangan tempatnya atau orangnya?" godanya entah merujuk pada siapa.
__ADS_1
Sima mengerutkan kening. Kiara memainkan mata dengan senyum penuh arti. "Dasar anak kecil." Ia mendorong kening Kiara pelan.
"Ngomong-ngomong Weni di mana? aku belum melihatnya." Kepalanya kembali celingak-celinguk. "Dia sedang berada di dapur. Ngomong-ngomong, kakak ke-empat bahkan belum bertemu dengan kakak pertama. Kenapa langsung mencari Weni?" tanya Kiara yang tak lagi dihiraukan oleh Sima.
"Aku mau melihatnya." Sima berjalan meninggalkan Kiara dengan ocehannya yang malas untuk ia ladeni.
"Aku benar kan. Kenangan dengan orangnya yang dirindukan. Bukan tempatnya." Kiara berdecak pinggang.
Sima memasuki dapur dan melihat Weni yang terlihat sibuk dengan masakannya. Ia melangkah perlahan dan mencolek punggung gadis kecil itu beberapa kali.
"Kiara, diamlah. Jangan ganggu aku. Aku lagi sibuk dengan masakanku." Protes Weni yang tidak tahu bahwa yang mencolek punggungnya adalah Sima. Gadis itu berpikir Kiara lah yang menjahilinya seperti yang biasa gadis itu lakukan padanya.
Sima kembali mencolek punggung Weni sampai gadis itu mau berbalik dan melihatnya. "Kiara!" Weni berbalik siap memarahi Kiara yang ia pikir pelaku yang menjahilinya. Matanya membulat mengetahui pelakunya.
"H ... hai!" sapa Sima sedikit canggung. "Tuan Sima!" Weni menghambur memeluk tubuh Sima tanpa sadar. "Kamu sudah pulang?" ia kegirangan.
Sima menepuk-nepuk pundak gadis itu. "Maaf Nona Weni. Kamu ... memelukku terlalu erat." Sahutnya menahan napas.
Detik selanjutnya, Weni membuka mata dan segera menguraikan pelukannya. "Maaf. Tadi aku ... " ia tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Nona Weni, kamu ... "
"Jangan salah paham. Aku pikir kamu Kiara. Jadi aku memelukmu tanpa sengaja. Maafkan perlakuanku tadi." Ucapnya membalikkan tubuh.
Sima mengerutkan kening. "Kiara?" alasan yang tak logis memang. Mana mungkin ia salah memeluk orang karena ia pikir Sima adalah Kiara. Telinganya dengan jelas mendengar gadis itu menyebut namanya.
Weni menunduk. "Sudahlah. Nggak usah dibahas lagi."
Sima mengedikkan bahu. Ia melangkah dan berdiri di samping Weni. Weni terkejut saat tangan Sima menyentuh dagunya dan membuatnya menoleh.
"Weni, aku mau mengatakan sesuatu."
__ADS_1