
"Siapa bilang? kita masih punya cara kok." Sela Kiara. Semua mata kembali tertuju ke arahnya.
Kiara menunjuk Hansa. "Benar kata Tuan Hansa. Pelakunya lebih dari satu. Alias pelakunya bukan hanya tahanan itu."
"Tahanan itu bisa saja bukan pelaku asli. Memang dia yang mencuri, tapi dia hanya seorang suruhan. Dia dipekerjakan tuannya." Kiara menjeda sejenak.
"Kalau memang begitu, kenapa si tahanan memilih bunuh diri?" Bari menyela.
"Dugaannya ada dua. Dia mati bunuh diri, atau dibunuh?" semua orang di Aula Pengadilan terdiam mencerna dugaan Kiara.
"Tuan, memang benar saat mayat diautopsi, tidak ada tanda-tanda bunuh diri." Lapor Hansa pada Master Nick.
Master Nick memainkan jenggotnya tampak berpikir keras. "Semua dugaan Nona Kiara memang masuk akal. Tapi gimana pun, masih belum jelas dia dibunuh oleh siapa, kapan dibunuhnya, dan dibunuh dengan cara apa." Ucap Master Nick yang kembali memunculkan tanda tanya besar di kepala setiap orang yang saat itu berdiri di Aula Pengadilan.
Kiara terlihat berpikir.
"Nggak mungkin kalau dibunuh. Karena kapan pelakunya masuk? penjara dijaga dengan sangat ketat. Sehingga si pembunuh nggak punya waktu untuk masuk ke dalam Penjara." Bari masih bingung.
"Aku tau." Ucap Kiara tiba-tiba. "Mungkin pelakunya adalah orang dalam. Karena kalau orang luar memang tidak bisa sembarang masuk ke Penjara." Kiara lagi-lagi menyuarakan dugaannya.
"Berarti kemungkinan si pelaku sekaligus orang yang membunuh si tahanan adalah orang yang mengunjungi Penjara." Hansa angkat suara. Ia terlihat setuju dengan Kiara.
"Cerdas!" puji Kiara yang memiliki pikiran yang sama dengan Hansa. Hansa hanya meliriknya sekilas. Ia beralih pada Bari. "Bari, cepat selidiki siapa saja yang berkunjung ke Penjara tadi siang." Hansa memberi perintah.
"Saya laksanakan, Tuan Hansa." Patuh Bari.
"Oke. Untuk sekarang, dugaan dan masukan-masukan yang kalian berikan sementara saya tampung dulu. Nanti kalau buktinya sudah jelas, baru saya akan kumpulkan kalian kembali. Dan untuk Nona Kiara, sementara boleh menginap di kamar tamu untuk malam ini. Supaya kejadian seperti tahanan tadi siang tidak terulang lagi. Takutnya Nona Kiara dijadikan incaran selanjutnya. Sekian. Saya pamit." Putus Master Nick berdiri dari kursi singgasananya.
Kiara tersenyum senang. "Yess, tinggal beberapa langkah lagi untuk aku bisa jadi penghuni Kantor Pengadilan. Atau mungkin bisa jadi Anggota Tim Penyelidik." Syukurnya dalam hati.
Ia hendak membalikkan tubuh. Namun, matanya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya juga terasa lemas. Kiara mencoba menarik napas untuk menstabilkan diri.
'Buk'
__ADS_1
Semua orang di Kantor Pengadilan terkejut melihat Kiara yang tiba-tiba ambruk.
Kiara yang telah jatuh pingsan tak lagi mendengar suara-suara di sekitarnya.
"Sepertinya dia lelah. Bagaimana pun dia seorang gadis. Hansa, bantu bawa Nona Kiara ke kamar tamu." Pinta Master Nick sebelum bergegas pergi.
"Apa perlu saya periksa apakah dia pura-pura pingsan atau nggak?" tawar Bari. "Nggak usah. Saya yakin kali ini dia nggak lagi berpura-pura." Hansa mengangkat tubuh mungil Kiara.
"Kalau begitu, apa perlu saya bantu?" tawar Bari lagi. "Saya bisa sendiri. Kamu kerjakan tugasmu saja. Biar Nona ini saya yang urus."
Hansa berjalan menuju kamar tamu dengan menampung Kiara di tangannya.
Ia membaringkan Kiara di ranjang dan menyelimutinya.
"Weni, tolong panggilkan tabib! nona ini sepertinya demam. Tubuhnya panas dan sangat lemah." Pinta Hansa pada seorang gadis yang bertugas menjaga dan membersihkan kamar ini.
"Baik, Tuan Hansa." Patuh Weni bergegas memanggil tabib.
Hansa hendak bergegas dari kamar itu, namun Kiara tiba-tiba menggenggam tangannya.
Hansa menatap wajah Kiara seperti sedang menelitinya. "Kamu seorang gadis yang sok kuat, tapi sebenarnya kamu banyak menyimpan masalah, kan?" gumamnya melihat wajah Kiara yang saat ini terlihat lemah.
"Kalau lagi begini, kamu terlihat seperti gadis yang lemah lembut seperti gadis-gadis pada umumnya." Hansa masih menatap wajah Kiara. Tangannya tergerak ingin membelai rambut gadis itu untuk menenangkannya, namun, urung ia lakukan.
Ia berdiri dari tepi ranjang Kiara dan hendak keluar dari kamar itu.
"Hansa!" seru Kiara yang matanya telah terbuka. "Maksudku ... Tuan Hansa." Kiara berusaha bangun untuk duduk. Ia kemudian memandangi ruangan yang sedang ia tempati saat ini. "Kamu udah sadar?" Tanya Hansa karena Kiara yang tiba-tiba telah bangun.
"Ini di mana? aku nggak di Penjara? aku bukan lagi seorang tahanan, ya?" Kiara yang baru bangun malah melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kamu bukan lagi tahanan. Untuk malam ini, kamu tidur di kamar ini. Besok kamu boleh pulang." Jelas Hansa.
"Pulang? aku nggak mau pulang. Aku mau tetap di sini sampai kalian mau memberitahuku tentang kasus kakak ke-tigaku yang terjadi lima tahun lalu." Kiara kembali mengungkit tentang kasus kakak ke-tiganya.
__ADS_1
"Apa lagi yang mau kamu ketahui? saya kan udah bilang kalau kasus itu udah lama ditutup." Hansa memperingatkan Kiara untuk tidak membahas soal kasus itu lagi.
Kiara memaksakan diri turun dari ranjang. "Tuan Hansa, kakakku mati di Pengadilan. Tapi kalian malah menutupi kasusnya dan melarang orang-orang membahasnya. Kalau itu kamu, apa kamu akan tinggal diam?" Hansa tak menjawab pertanyaan Kiara.
"Pokoknya kamu besok harus pulang. Saya nggak akan membiarkan kamu bergabung dengan kami." Ia membuat keputusan.
"Nggak. Aku nggak mau. Lagi pula kenapa sih aku nggak boleh bergabung dengan kalian?" kekeh Kiara.
"Saya nggak mau membiarkan gadis lemah sepertimu dalam bahaya." Balas Hansa yang entah merupakan sebuah perhatian atau hinaan.
"Apa aku selemah itu menurutmu, Tuan Hansa?" Kiara tak terima dibilang lemah. "Kamu adalah seorang gadis. Pekerjaan ini jelas nggak cocok untukmu." Jawab Hansa. Keduanya masih sama-sama kekeh dengan pendapat dan keinginan masing-masing.
'Kret ... '
Pintu tiba-tiba terbuka dan seorang tabib memasuki kamar dengan tergopoh-gopoh, diikuti Weni di belakangnya.
"Nona Kiara, silahkan duduk dulu." Pinta si tabib. Kiara melirik tabib tersebut. "Buat apa? aku nggak sakit." Bingungnya. Sang tabib melirik Hansa.
"Badanmu panas. Kamu sepertinya sakit. Walaupun udah merasa baikan, kamu harus tetap diperiksa dulu." Jelas Hansa.
Kiara akhirnya menurut.
Selesai diperiksa, tabib tersebut melapor pada Hansa. "Tuan, mengenai badannya yang panas, Nona ini memang sedang kelelahan. Tapi ... " si tabib tak melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Hansa meminta si tabib melanjutkan ucapannya.
"Tapi, ketika saya raba urat nadinya tadi seperti ... " si tabib kembali menggantung ucapannya.
"Katakan saja!" pinta Hansa. "Ketika saya meraba urat nadi nona ini, saya merasa seperti ada yang aneh dengan denyut nadinya." Jelas tabib misterius.
"Aneh? aneh gimana maskudnya?" Hansa mengerutkan kening. "Saya kurang tau. Saya sendiri nggak bisa menjelaskan. Tapi saya benar-benar merasa ada yang aneh dengan denyut nadi nona ini." Hansa tak lagi bertanya melihat si tabib yang terlihat kesulitan menjelaskan.
"Kamu boleh pergi. Jangan sebarkan tentang ini." Pinta Hansa. Si tabib membungkuk dan undur diri.
__ADS_1
Hansa melirik Kiara yang tengah melihat ke arahnya.