Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Dewi ke-enam


__ADS_3

Kiara membawa sebuah kotak yang berisi makanan untuk diantarkan pada Hansa. Belakangan ini pria itu sangat sibuk. Bahkan sampai tidak sempat menghabiskan waktu dengannya.


Ia berjalan dengan senyum sumringah. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia seperti mencium aroma yang lembut namun memenuhi seantaro Kantor Pengadilan.


Kiara terdiam memikirkan aroma apa yang bisa sewangi itu. Matanya terbelalak. Ia tahu tanda apa itu. Karena ia pernah merasakan tanda itu sebelumnya.


Benar saja. Angin berembus kencang sampai dedaunan di pohon bergoyang-goyang tertiup angin.


Selang beberapa detik, seorang wanita muncul dari balik gerbang Kantor Pengadilan dengan jurus terbang. Ia terbang memutar di udara dan mendarat beberapa meter di depan Kiara.


Kiara terpaku melihat wanita yang mengibas-ibaskan wajah dengan sebuah kipas di tangannya itu. Kotak makanan yang dibawa Kiara terjatuh di tanah begitu saja. Ia tahu siapa wanita itu.


"De ... Dewi ke-enam?" Kiara yakin ia tidak salah mengenal wanita itu. Ia adalah Dewi ke-enam menurut legenda.



Dewi ke-enam terkekeh lembut melihat Kiara yang menganga. Ia mengibaskan kipas yang membuat rambutnya berkibar-kibar.


"Apa ada yang namanya Tuan Hansa di sini?" tanyanya. Senyum Kiara memudar. Ia mengerutkan kening. "Ada hubungan apa Dewi dengan Ketua Penyelidik?" ia balik bertanya.


"Ternyata benar dia di sini. Mana dia? aku mau bertemu dengannya." Kiara memicingkan mata curiga ketika melihat binar di mata Dewi ke-enam ketika mengetahui Hansa berada di sini.


"Dia ... dia emang ada di sini. Dia adalah Ketua Penyelidik. Kalau mau bertemu dengannya, silakan ikuti aku." Kiara menuntun Dewi ke-enam yang berjalan beriringan dengannya.


Ia merasa tidak boleh mencurigai Hansa sebelum mengetahui apa pun. Mungkin saja, Dewi ke-enam adalah teman kecil Hansa.


Kiara menatap Dewi ke-enam yang berjalan di sampingnya. "Aku pernah bertemu dengan Dewi ke-sembilan saat masih kecil." Tuturnya.


Dewi ke-enam menghentikan langkah begitu mendengar nama Dewi ke-sembilan. "Dewi ke-sembilan? aku nggak pernah bertemu dengannya lagi. Dulu kami berdua dekat banget. Bagimana kabarnya sekarang?" tanyanya dengan sendu di matanya.

__ADS_1


Kiara tersenyum. Ia teringat pertemuannya dengan Dewi ke-sembilan. Saat itu, ia masih sangat kecil. Dan mendiang gurunya juga masih hidup.


Flashback:


Kiara kecil sedang bermain layang-layangan bersama Sima. Mereka berlarian bersama dengan tawa gembira.


Kiara dan Sima menghentikan langkah saat tiba-tiba angin berembus kencang. Seorang wanita berbaju merah mendarat tepat di hadapan keduanya.


Kiara menatap wanita itu heran. Apa wanita itu turun dari langit? entahlah. Waktu itu, ia masih sangat kecil dan polos. Sehingga belum begitu mengerti tentang ilmu bela diri, dan belum banyak membaca sejarah.


Wanita itu tersenyum manis pada Kiara. "Hai, gadis kecil. Di mana gurumu? aku mau bertemu dengannya." Kiara tak mendengar dengan jelas pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita itu, karena matanya sibuk memperhatikan pesona wanita itu.


"Aku dan gurumu berteman. Aku perlu berbicara dengannya sekarang." Jelas wanita yang merupakan Dewi ke-sembilan saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari Kiara.


"Oh, guruku ... ada d-di belakang." Jawab Kiara tergagap. Ia melirik Sima di belakangnya yang menatap wanita itu tanpa mengedipkan mata.


"Ya udah, aku pergi menemui gurumu, ya." Dewi ke-sembilan menepuk pucuk kepala Kiara sebelum melangkah menghampiri Haw Fayes. Ada sesuatu yang perlu ia bicarakan dengan pria


Ia pernah bertemu dengan Kaisan dan tahu kepribadian pria tua itu. Dalam sekali lihat, ia bahkan dapat menebak bahwa pria itu sangat ambisius. Jika ia berhasil merebut tahta Kaisar, sejarah Kerajaan ini akan menjadi buruk. Dan itu akan berpengaruh buruk untuknya yang


merupakan seorang legenda.


Flashback off


Dewi ke-enam tersenyum tipis mendengar cerita Kiara. "Aku menguping saat Dewi ke-sembilan dan mendiang guruku berbincang tentang Kaisan." Jelas Kiara.


Dewi ke-sembilan menarik napas panjang. "Itu juga salah satu alasan kenapa para Dewi berpencar dan memilih bersembunyi. Kami takut kalau Kaisan berhasil merebut tahta Kaisar, dia akan memusnahkan orang-orang yang berpengaruh di dunia. Seperti kami, para legenda." Jelas Dewi ke-enam.


"Kamu benar. Saat aku mendengar ceritanya, aku jadi kepikiran bagaimana kalau orang seperti Kaisan itu akan mendapatkan tahta Kaisar. Dia pasti akan memusnahkan pebeladiri yang handal dan para legenda." Sambung Kiara.

__ADS_1


Dewi ke-enam tersenyum. "Dewi ke-sembilan adalah satu-satunya Dewi yang juga mendapat julukan Pendekar. Ia adalah Pendekar ke-empat." Ia mengganti topik tentang Dewi ke-sembilan.


"Harusnya dia adalah salah satu orang yang paling diincar oleh Kaisan. Tapi dia justru menjadi orang yang paling pemberani saat itu. Nggak seperti aku dan yang lainnya, yang masing-masing malah bersembunyi. Di saat itu, dia malah sibuk mencari cara untuk menghentikan rencana jahat Kaisan. Supaya apa yang kami semua takutkan, nggak terjadi." Ia menarik napas sejenak.


"Aku ... akui dia memang wanita paling pemberani." Kagumnya. Kiara mengangguk paham dengan kekaguman Dewi ke-enam untuk Dewi ke-sembilan.


"Kiara!" Kiara menoleh mendengar suara itu. Ia melihat Hansa yang berdiri tak jauh di depannya. Wajah Dewi ke-enam langsung tersenyum cerah. Ia menghampiri Hansa dan memeluk pria itu erat.


"Hansa, aku merindukanmu. Kamu masih ingat aku, kan?" ucapnya. Hansa mengerutkan kening. Ia membalas senyum Dewi ke-enam. "Iya, aku mengingatmu, Dewi ke-enam. Nggak mungkin aku lupa siapa kamu."


Kiiara berdeham. Menyadarkan Hansa. Pria itu langsung menatapnya salah tingkah. Membuat Kiara menjadi curiga.


...----------------...


Deon tak habis pikir. Ada apa dengan Kaisar? mengapa menyuruhnya menghibur Hyra? dulu, setiap Deon berada di dekat Hyra, Kaisar dan Permaisuri selalu menentangnya dan melarang untuk jangan terlalu dekat dengan Hyra. Tapi sekarang Kaisar malah seolah-olah sengaja mendekatkan Deon pada Hyra.


Deon menghampiri kamar Hyra. Ia dapat melihat gadis itu sedang menangis dari pintu kamar yang tidak ditutupnya.


Deon terdiam sejenak. Hatinya ragu harus menghampiri Hyra dan menghiburnya atau tidak. Setelah beberapa menit berdebat dengan pikirannya, ia memutuskan melangkah menjauh dari sana.




Hyra menangis sejadi-jadinya. Ia meratapi nasib karena bertemu dengan pria yang telah menipunya. Yang lebih parahnya lagi, pria itu adalah calon suaminya sendiri.



Hyra menangis dengan sangat lama. Hingga ia menghapus air matanya karena merasa ada yang mengawasinya. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan firasatnya. Namun ia tak melihat siapa pun di ambang pintu.

__ADS_1



"Aneh. Padahal aku merasa ada yang mengawasiku." Ia mengerutkan keningnya. "Untuk beberapa saat tadi, aku merasa nyaman banget. Siapa ya, yang tadi berdiri di pintu kamarku?"


__ADS_2