Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Persaingan yang menghasilkan keputusan


__ADS_3

Weni memalingkan wajah dari tatapan Sima. "Jangan salah paham. Aku memintamu membawaku ke sana karena kamu bilang kamu suka berpetualang. Jadi pasti kamu tau tempat-temlat yang indah di sana. Makanya aku memintamu membawaku."


"Aku nggak salah paham." Bantah Sima tersenyum kecil dan mengedipkan sebelah mata pada Weni yang langsung memalingkan wajah.


...----------------...


Keesokan harinya, setelah menyiapkan semuanya dan dengan keputusan yang sudah sepenuhnya bulat, Rubby menghampiri kamar seorang gadis dan mengetuknya beberapa kali.


Pintu terbuka setelah beberapa saat. "Tuan Rubby, ada apa?" tanya gadis itu sedikit terkejut didatangi oleh Rubby ke kamarnya.


"Besok kami akan pulang. Seperti janjiku, aku akan mengantarmu pulang bersama kami." Rubby menyampaikan maksud kedatangannya.


"Ta ... tapi ... baiklah. Terima kasih." Ucap Sera pelan. Rubby tak mengatakan apa-apa lagi. Ia membalikkan tubuh dan melangkah setelahnya.


...----------------...


"Kakak pertama, aku mohon." Kiara masih membujuk Rubby. Kali ini bukan membujuk untuk menunda kepulangan mereka. Melainkan membujuk untuk tetap tinggal di sana. Ia merasa banyak hal yang harus ia selesaikan di tempat ini.


"Aku dan adik ke-empat tidak mungkin pulang tanpamu." Tolak Rubby. Namun, semakin Rubby menolak, semakin Kiara bersikeras.


"Kakak pertama, aku sudah besar. Aku nggak mau selalu bersama kalian dan selalu membebani kalian. Lagi pula, jarak kota B tidak terlalu jauh dari sini."


Hansa menghampiri mereka untuk mengantar sampai ke pintu gerbang. Kiara enggan menoleh dan berbicara padanya. Bahkan untuk sekedar menatap saja ia malas.


"Saudara Rubby, ada yang ingin saya bicarakan denganmu sejenak kalau kau tidak keberatan." Hansa meminta waktu Rubby sejenak.


"Adik ke-lima, kamu berbereslah di kamarmu. Kalau sudah mau berangkat baru aku panggil." Pinta Rubby tahu bahwa percakapan itu hanya antara dirinya dan Hansa.


"Apa kau datang untuk membela keinginan Kiara?" Rubby menebak apa yang akan disampaikan oleh Hansa.


"Kau benar." Hansa tak mengelak. "Kalau kau mau membela Kiara, sebaiknya tidak usah dibicarakan. Karena aku tidak akan mengubah keputusanku untuk membawa adik ke-lima pulang." Jelas Rubby penuh penekanan.

__ADS_1


"Aku tidak datang untuk membelanya. Aku datang untuk memberimu saran apa yang terbaik untuknya." Jelas Hansa berusaha tetap tenang, setenang lawan bicaranya itu.


"Apa yang terbaik untuk adik ke-lima hanya aku yang tau. Karena aku kakak pertamanya." Tekan Rubby.


"Justru karena kau adalah kakak pertamanya, kau harus mengikuti keinginannya selama itu baik untuknya." Hansa berusaha menyadarkan Rubby dari niatnya.


"Pernahkah kau berpikir, bahwa keputusanmu itu mungkin yang terbaik untuk Kiara. Tapi itu tidak adil untuknya. Menurutku, dia bebas menikmati kebebasannya dan memiliki keinginannya sendiri. Dan tugas kau sebagai kakak adalah percaya padanya dan keinginannya." Nasihat Hansa.


"Kalau aku biarkan dia di sini, siapa yang akan menjaganya? kalian semua tidak sanggup menjaganya. Karena kalian tidak terbiasa menghadapi keras kepalanya." Ujar Rubby.


Sejenak, Hansa terdiam. Entah kenapa, pikirannya terlempar pada saat Kiara mengungkapkan perasaan padanya.


"Tapi, apa kau sebagai kakak tidak mau melihat adikmu bahagia?" tanya Hansa setelah mengusir ingatan dari kepala yang mengganggunya.


"Menurutmu dan menurutnya, itu bisa disebut bahagia tanpa kalian memikirkan tentang konsekuensi dan bahaya yang akan menimpanya." Tutur kata Rubby.


"Baiklah. Kita berdua sama-sama seorang pria dan sama-sama Pendekar. Dan yang terpenting, kita sama-sama mempertahankan kebahagiaan Kiara." Sahut hansa mengeluarkan pedang dari sarungnya.


"Meskipun aku bukan siapa-siapanya, tapi aku juga nggak mau Kiara pergi." Bantah Hansa.


"Kau tidak berhak mengatakan itu." Balas Rubby lagi.


Kedua pedang sudah mulai berselisih dan saling bertubrukan, menghasilkan bunyi nyaring. Perdebatan itu semakin memanas. Mereka sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan terjadinya persaingan antara mereka. Mereka hanya tahu bahwa masing-masing dari mereka hanya mempertahankan pendapat yang berasal dari ego mereka sendiri.


Hansa beradu pedang bersama Rubby. Pedangnya hanya berhasil mengenai dan menggugurkan setengah helai dari rambut Rubby.


Rubby langsung membalasnya dengan satu tendangan di dada yang membuat lawannya terpental ke belakang tapi tidak sampai terjungkal. Untungnya, Hansa dengan cepat mengembalikan keseimbangan tubuhnya.


Rubby tersenyum culas. "Kau tau kalau kau bukan lawanku." Sahutnya dingin.


Hansa memasukkan kembali pedangnya pada selongsong. Ia tahu bahwa Rubby memang benar. Ia bukanlah lawan Rubby yang merupakan Pendekar nomor dua sekaligus kakak tertua dari kakak-beradik Fayes.

__ADS_1


"Saudara Rubby, kau sendiri yang bilang bahwa Kiara sudah dewasa. Kau tidak mau lagi mengatur keputusannya." Ia mengingatkan apa yang diucapkan Rubby tempo hari.


"Dan kau sendiri juga yang bilang, sebagai kakak pertamanya, harapan terbesarmu adalah bisa melihatnya bahagia. Jadi, mari kita biarkan dia dengan keinginannya." Lanjutnya.


"Dengan begitu, kita impas." Ia menyodorkan sebelah tangan untuk bersalaman dengan Rubby.


"Kakak pertama!" seru Kiara membuat kedua pria itu menoleh bersamaan. "Aku sudah siap. Aku akan ikut denganmu." Ujarnya dengan suara yang dipaksakan semangat.


"Aku juga sudah selesai berberes." Sambung Sima yang baru datang ditemani Weni yang berdiri di belakangnya.


Rubby menghampiri Kiara dan menyentil keningnya pelan. "Kalau kamu mau tinggal di sini, aku akan membiarkanmu tinggal." Sahut Rubby pelan. Rupanya, ia lebih memilih kebahagiaan adiknya dari pada keputusannya yang ia pikir merupakan keputusan terbaik untuk Kiara.


Kiara mematung dengan mata terbelalak untuk beberapa detik. "M ... maksud kakak pertama ... kakak pertama mengizinkanku tinggal di sini?" Kiara tergagap.


Rubby tak menjawab, melainkan beralih pada Hansa. "Jaga adik ke-limaku dengan baik." Pesannya lebih terdengar seperti memberi perintah.


Hansa mengangguk dan menepuk pundak Rubby. Kedua tangannya kemudian saling bertumpu. "Saya janji akan menjaga Kiara seperti menjaga diriku sendiri." Ucap Hansa sembari menatap Kiara di sampingnya.


Meski Kiara sempat tertegun, namun ia berhasil terlihat biasa-biasa saja.


Rubby mengangguk kemudian beralih pada Sima. "Adik ke-empat, aku mau untuk tetap di sini dan mengawasi adik ke-lima agar tidak berbuat sesuatu yang berbahaya untuknya." Pinta Rubby. Ia tahu, bahwa ada sesuatu yang membuat adik ke-empatnya juga mau menghabiskan waktu di sini.


Kiara tertawa kecil. "Kakak pertama nggak perlu repot-repot menyuruhnya mengawasiku, dia adalah komplotanku jika ingin berbuat nakal." Ujarnya menjulurkan lidah pada Sima yang langsung mencubit lengannya dan menyuruhnya diam.


"Kakak pertama mau ke mana memangnya?" tanya Sima.


"Aku akan mengantar Nona Sera. Aku juga akan mencari tempat tinggal di kota B." Jawabnya. "Kakak pertama tidak tinggal bersama kami di sini?" tanya Kiara dan Sima dengan wajah sedih.


Rubby menggeleng. "Aku tidak nyaman tinggal di sini." Ujarnya terus terang. Karena memang tidak ada alasan yang membuatnya harus tinggal di tempat itu.


Setelah berpamitan pada adik-adiknya, Rubby membantu Sera menaiki kuda. Kali ini, ia lebih memilih kuda sebagai kendaraannya.

__ADS_1


"Kakak pertama tenang saja. Kami akan sering- sering mengunjungimu." Sima dan Kiara melambai-lambaikan tangan pada Rubby yang telah melajukan kudanya.


__ADS_2