Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Berniat kabur


__ADS_3

Selain Hyra, Liam juga memperhatikan gadis yang berdiri di samping Menteri Waze. Gadis bernama Kiara. Matanya bergantian memperhatikan Hyra dan Kiara. Sampai ia sadar bahwa Hyra juga tak sengaja melihatnya. Liam memilih pergi dari sana sebelum gadis itu tahu siapa dirinya.


Sedangkan Hyra yang tak sengaja melihat seorang pria di antara kerumunan orang mengerutkan keningnya saat pria yang tak sengaja dilihatnya malah berangsur pergi tepat saat matanya menangkap pria itu, seolah pria itu memang sengaja menghindari tatapannya. Aneh sekali. Bukankah dia yang memperhatikan Hyra lebih dulu?


Meskipun pria asing itu telah keluar dari kerumunan tamu undangan perjamuan dan tak lagi tampak keberadaannya di sekitar sana, Hyra masih tak melepaskan tatapannya dari tempat pria itu berdiri. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan tatapannya dari sana.


...----------------...


"Aku tidak menyangka gadis itu akan berada di pihak kita." Menteri Waze memainkan tanaman kesayangannya sambil teringat bagaimana Kiara tak membongkar kejahatannya. Padahal ia tahu dengan jelas bahwa murid sekaligus utusan rahasianya itu telah melihat kalung kristal yang asli di Perpustakaan besarnya. Karena pada saat itu, ia mengutus Julian Rama yang menyelidiki mereka. Dan benar saja. Muridnya itu telah tahu bahwa kalung kristal itu dicuri olehnya.


"Awalnya aku ingin menjadikannya musuh kita juga. Karena aku pikir dia pasti akan segera membongkar semua kejahatanku. Tak disangka, dia masih memihakku." Gumam Menteri Waze.


"Maaf kalau saya lancang, Tuan. Tapi kalau saya boleh bertanya, apa yang membuat Tuan kepikiran untuk mencuri kalung kristal milik Tuan Putri?" Julian tampak penasaran dengan tujuan Tuannya itu. Bukankah dengan rencananya itu justru akan membuatnya dalam bahaya?


Menteri Waze tersenyum samar. "Karena aku ingin mengalihkan perhatian Yang Mulia Kaisar dan si Hakim bodoh itu untuk membakar Kantor Pengadilan. Kalau kita tidak mengalihkan perhatian mereka, kita tidak bisa membakar Kantor Pengadilan dan menghilangkan bukti tentang kotak itu." Ia memberitahu alasannya.


"Tapi kenapa kita harus membiarkan kotak itu terbakar? bukankah kita seharusnya tidak usah khawatir karena kotak itu sudah dikunci?" tanya Julian lagi.


Menteri Waze meletakkan tanaman hiasan di meja dan mendudukkan diri di kursi. "Aku tau Yang Mulia Kaisar punya utusan rahasia. Utusan rahasianya adalah Liam Fayes. Murid ke-duanya Haw Fayes." Ia menghela napas sebelum melanjutkan, "Liam Fayes dijuluki si tangan air karena kemampuan menyamar membuka segala mekanisme kunci bahkan yang sudah diacak-acak." Jelasnya.


"Kalau aku tidak membakar kotak itu, Yang Mulia Kaisar pasti akan meminta Liam untuk membuka kotak itu dan mereka akan tau tak-tik kita." Lanjutnya. Julian mengangguk mengerti.



"Jaga dia dan jangan biarkan dia keluar ke mana pun. Yang Mulia Kaisar telah memberitahu kalau Menteri Waze adalah pelaku dari semua kejahatan. Kiara pasti akan mendukung gurunya, apa pun yang gurunya lakukan." Pinta Master Nick pada Hansa.


__ADS_1


Hansa hanya mengangguk patuh. Sedari tadi ia tidak fokus karena terus memikirkan Kiara. Apa hanya karena Menteri Waze adalah gurunya, sehingga gadis itu tak lagi berpihak pada mereka? atau karena ia mau membalas dendam perihal kematian kakak ke-tiganya?



Kiara tahu bahwa ia dijaga dan tidak boleh keluar dari Kantor Pengadilan. Tapi ia benar-benar harus keluar. Ia harus meyakinkan Menteri Waze bahwa ia berada di pihak gurunya itu.


Kiara berjalan sampai di pintu gerbang. Ia melihat ke sana dan kemari. Seulas senyum terlukis di bibirnya. Ia berkacak pinggang. "Mereka mau mengurungku, tapi nggak ada siapa pun di sini. Aku pasti bisa pergi diam-diam dengan mudah." Bangganya.


Kiara memakai jurus terbang melangkahi gerbang tersebut. Kedua kakinya dengan tepat mendarat di aspal di luar gerbang. Ia bertepuk tangan membanggakan keberhasilannya sendiri. Kiara melanjutkan langkahnya. Namun tubuhnya tak sengaja menabrak sesuatu.


"Mau ke mana?" tanya suara datar itu. Kiara mendongak dan menatap wajah pria di depannya masam.


"Kenapa harus ketemu dia, sih? kalau ketemu yang lain aku masih bisa lawan. Tapi dia ... "


Batinnya putus asa.


Hansa melirik pundaknya yang ditepuk gadis itu. Lebih tepatnya, memperhatikan tangan gadis itu yang berada di pundaknya.


"Kenapa Tuan Hansa ada di sini?" tanya Kiara basa-basi.


Hansa melipat kedua tangan di dada. "Harusnya saya yang bertanya kenapa kamu bisa di sini? melompati gerbang itu bukan tindakan yang baik apa lagi dilakukan oleh seorang gadis." Ia membalikkan pertanyaan.


Kiara bingung harus menjawab apa. "Aku ... " tiba-tiba ia menemukan ide cemerlang. "Aku tadi mau mencarimu untuk mengajakmu minum teh sambil mengobrol. Ada yang mau aku katakan padamu."


Hansa mengerutkan kening. "Kamu sudah nggak marah denganku?" tanyanya bingung dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba berubah.


"Nggak. Ngapain marah?" ia tertawa sumbang. Berusaha memanipulasi Hansa yang menatapnya serius. Takut membuat pria itu makin curiga.

__ADS_1


"Saya tidak mudah dibodohi, Kiara. Jangan-jangan kamu mau kabur?" Hansa mendekatkan wajahnya di depan Kiara. Ia memang pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi Kiara tidak bisa berbohong bahwa jantungnya masih berdebar sangat kencang.


Kiara membuang muka takut tergoda dengan pesona pria itu. Tentu ia tak mau setelah berkali-kali pernyataan cintanya ditolak.


"Haha, Tuan Hansa bisa saja. Ini bukan waktunya bercanda. Ada hal mendesak yang harus aku bahas denganmu." Kiara berpura-pura serius seolah-olah apa yang dikatakannya benar.


"Kenapa harus denganku? kenapa tidak dengan orang lain saja?" Hansa memicingkan mata. "Kiara, kamu masih mempercayai saya meskipun kamu tau saya telah membohongimu?" Hansa memancing.


Kiara memejamkan mata dan mengepalkan tangan kuat-kuat. Berusaha menahan emosinya. "Nggak usah banyak tanya. Ayo cepat ikut aku!" ia menarik tangan Hansa dan mengajak pria itu duduk di bangku taman.


Kiara menuangkan teh ke dalam dua cangkir dan memberikan satu cangkirnya pada Hansa. Hansa tak bergeming. Ia hanya menatap gelembung air teh. Ia beralih menatap Kiara.


"Kamu saja yang minum. Saya nggak minum." Tolaknya.


Kiara mengerutkan kening. "Jangan begitu. Ini niat baik dariku. Minumlah tehnya!" ia sedikit memaksa.


Sekali lagi Hansa melirik teh itu dengan raut wajah berbeda dari biasanya. Ia mengambil cangkir itu dan menempelkan ke bibirnya.


Sebelum meneguk tehnya, ia melirik Kiara yang terlihat menunggunya meneguk teh itu, sedangkan gadis itu sendiri tak kunjung meneguk tehnya. Hanya menempel cangkirnya di bibirnya.


Hansa hanya mengerutkan kening. Ia menurunkan cangkirnya sejenak di bawah meja dan melakukan sesuatu yang Kiara tidaak bisa lihat.


Ia kembali menempelkan cangkir di bibirnya dan meneguk teh itu perlahan-lahan sambil tak mengalihkan tatapan tajamnya dari Kiara sedikit pun.


Hansa kembali meletakkan cangkir teh yang telah tandas di meja. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing dan berputar.


Beberapa detik kemudian, kepalanya jatuh menghantam meja.

__ADS_1


__ADS_2